Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Serangan Di Istana Ayodya


__ADS_3

Di pasewakan istana Ayodya.


Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada menghadap Raja Sri Mahadana.



“Hormat hamba pada paduka Raja Sri Mahadana.” ucap kedua buyut dengan mengatupkan kedua tangan di dada.



“Kuterima sembahmu buyut.” balas Sri Mahadana yang duduk di singgasana.



Di sana Bimantara beserta Ksatria Saka dari kerajaan Ayodya turut serta.



“Aku sudah mendengar berita. Beberapa pekan terakhir. Perjuangan Ksatria Saka patut diberikan penghargaan. Jika ada kesempatan, aku Raja Sri Mahadana mengundang Ksatria Saka dari Medangwantu untuk datang ke istana.” ucap Sri Mahadana penuh wibawa.



“Terimakasih banyak atas kemurahan hati Sri Baginda Raja.” kata Buyut Wengkeng dan Bawada bersamaan.



“Aku juga meminta maaf. Jika putriku Nalini merepotkan kalian. Dia anak yang keras kepala. Aku harap kalian bisa menjaganya dengan baik.”



“Akan kami laksanakan Baginda Raja.” Buyut Wengkeng dan Bawada menjawab bersamaan.



“Lantas ada tujuan apa kalian datang ke istana?” tanya Raja Sri Mahadana.



Buyut Wengkeng, mengatupkan ke dua tangan sejajar dengan kepala.



“Ampun beribu ampun Yang Mulia. Kedatangan hamba berdua ke istana karena hendak membicarakan bagaimana menyerang sarang para Ditya. Kehadiran Ditya meneror berbagai wilayah di Swastamita. Kita harus bergerak cepat.”



Sri Mahadana mengelus jenggotnya.



“Benar yang kau katakan Ki. Aku akan membantu mengerahkan Ksatria Saka untuk menumpas para Ditya. Setelah ini, aku akan mengirimkan pesan pada raja-raja lain di Swastamita untuk ikut serta dalam penyerangan.”



“Terimakasih yang tak terhingga hamba sampaikan pada Yang Mulia.” ucap Buyut Wengkeng dan Bawada bersamaan sembari mengatupkan kedua tangan.



“Bimantara, segera bantu kedua buyut ini.” titah Sri Mahadana.



“Sendika dhawuh Gusti.” jawab Bimantara.



Sri Mahadana berharap, kegelapan dan teror Ditya yang membuat suasana ketakutan di Swastamita segera bisa ditumpas. Kepentingan dan keselamatan rakyat lebih utama. Supaya mereka dapat hidup damai.



“Buyut Wengkeng, aku dengar di desa Medangwantu ada seorang pemuda yang berasal dari dunia lain. Pemuda itu berhasil mengalahkan Ditya Kalandaru. Rekrut dan bawa dia ke istana.” perintah Sri Mahadana.



“Ampun beribu ampun Gusti. Pemuda itu bernama Ganendra. Ganendra memang memiliki potensi yang luar biasa. Tetapi untuk saat ini, dia harus banyak berlatih dengan Ksatria Saka di desa. Supaya kemampuannya bisa berkembang. Jadi untuk saat ini, hamba tidak bisa memenuhi perintah Yang Mulia.”



“Hemm…baiklah jika memang seperti itu. Aku akan menunggu kedatangannya ke istana. Jika membutuhkan bantuan, katakan saja.”



“Terimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia Raja.” tepat di penghujung kalimat Buyut Wengkeng.



Beberapa sinar hitam bermunculan. Wujud sinar hitam berubah menjadi para Ditya yang dipimpin Ditya Gorawangsa.



Roaar!!!

__ADS_1



Bimantara dan yang lain bersiaga. Begitu pula dengan Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada.



“Gusti, sebaiknya segera menuju tempat yang aman. Biar hamba yang mengatasi para Ditya.” ucap Bimantara.



“Aku serahkan padamu.” balas Sri Mahadana.



Sang Raja yang dikawal beberapa Ksatria Saka dan prajurit istana yang sudah terlatih segera menuju tempat yang aman.



“Bwahahaha!!! Para Ditya bawahanku akan memporak-porandakan istana Ayodya. Jika aku berhasil, maka kerajaan-kerajaan Swastamita akan dengan mudah tunduk di bawah kaki Ditya Gorawangsa.” ucap Ditya Gorawangsa begitu congkaknya.



“Jangan sombong kau. Kami Ksatria Saka tidak akan membiarkan makhluk kegelapan seperti kalian menguasai Swastamita.” ucap Bimantara lantang.



Dia bersiap menerjang ke arah kawanan Ditya. Dibantu Buyut Wengkeng dan Bawada. Gerakan Bimantara cepat bagai kilat. Pukulannya menghantam beberapa Ditya yang menyerang.



Roaar!!!



Sebuah cakar mengarah pada Bimantara. Namun dengan sigap dia mengunuskan pedangnya.



Srat!



Srat!



Tangan Ditya yang hendak mencakarnya terputus. Suara erangan kesakitan keluar dari mulut Sang Ditya. Tanpa ampun lagi Bimantara segera menghabisi dengan menebas kepala Ditya. Darah hitam menyembur keluar dari monster bertaring itu.




Duak!



Duak!



Duak!



Membuat beberapa Ditya terjerembab. Diakhiri dengan pukulan dahsyat dari Buyut Bawada.



Blar!



Blar!



Kepala beberapa Ditya pecah berhamburan. Buyut Wengkeng, Buyut Bawada dan Bimantara memang telah mencapai tingkatan Kadewatan tinggi. Jadi tidak bisa dianggap remeh begitu saja.



Ditya Gorawangsa yang mengamati dari kejauhan hanya terkekeh. Terkesan meremahkan ketiganya.



“Akan kuhabisi ketiganya sekaligus ha!ha!ha!” ucap Ditya Gorawangsa.



Bimantara yang melihat Ditya Gorawangsa, berlari secepat kilat menyerang. Pedangnya mengarah pada Ditya Gorawangsa. Sang Ditya menangkis dengan tangan kosong. Lantas memberikan serangan balasan pada Bimantara.


__ADS_1


Bimantara mundur selangkah. Serangan Ditya Gorawangsa tidak berhenti. Dia terus memberikan pukulan bertubi-tubi ke arah Bimantara. Gerakan Sang Ditya begitu bertenaga. Membuat Bimantara kewalahan. Hingga sebuah pukulan mengenai dadanya.



Duak!



Membuat Bimantara mundur beberapa langkah dengan dada terasa nyeri. Buyut Wengkeng yang melihat itu segera bergabung menyerang Ditya Gorawangsa. Keduanya beradu pukulan maupun tendangan. Cakar Ditya Gorawangsa terus mengayun. Buyut Wengkeng menangkis dengan kedua tangannya.



Keduanya bertarung sekuat tenaga. Bimantara menghunuskan pedangnya kembali. Bersiap membantu Buyut Wengkeng.



“Yantra Candrasa Bantala!” teriak Bimantara.



Kemudian dia menancapkan pedangnya di tanah. Membuat tanah yang dipijak bergetar hebat. Beberapa tanah terangkat dan menggumpal berbentuk seperti lingkaran. Gumpalan tanah itu terbang mengarah pada Ditya Gorawangsa. Sang Ditya bersiaga. Dia memukul atau menendang gumpalan tanah hingga hancur berkeping-keping.



Ditya Gorawangsa menggeram marah. Dia tidak ingin membuang waktu. Rapalan mantra segera dia ucapkan.



“Yantra Pengasrepan!”



Yantra yang dapat membuat seseorang merasakan hawa dingin mengarah pada Bimantara. Buyut Wengkeng bersiaga menghadang di depan Bimantara.



“Yantra Bawanamarta.”



Tepat di saat itu, keadaan menjadi gelap gulita. Serangan yantra pengasrepan melenceng dari target. Namun karena Buyut Wengkeng menghadang, yantra pengasrepan sempat mengenai tangannya. Tangan kiri Buyut Wengkeng terasa membeku. Sebelum yantra pengasrepan menjalar ke seluruh tubuh. Sang Buyut bergegas memotong pergelangan tangannya sendiri.



Crat!



“Arghhht!!!” erang Buyut Wengkeng kesakitan.



Darah segar mengucur dari tangan Ki Buyut. Perlahan yantra yang membuat gelap sedikit memudar karena Buyut Wengkeng terluka. Bimantara yang merasa dilindungi Buyut Wengkeng segera merapal yantra memanggil binatang suci. Tidak lama berselang saat tangan Bimantara terangkat ke atas. Dari balik awan muncul kuda sembrani berwarna putih. Meringkih dan menyerang Ditya Gorawangsa. Sang Ditya bertarung menghadapi kuda sembrani.



Buyut Bawada yang masih sibuk menghadapi Ditya bawahan Ditya Gorawangsa segera menuntaskan dengan menghabisi semuanya. Dibantu Ksatria Saka lain. Lalu menghampiri Buyut Wengkeng. Membalut lukanya dengan kain. Menggunakan kekuatan Kadewatannya untuk menghentikan pendarahan. Rintih kesakitan keluar dari mulut Buyut Wengkeng.



“Ki tahanlah.” ucap Buyut Bawada.



Di sisi lain, Bimantara melompat ke punggung kuda sembrani. Pedangnya terayun ke sana kemari menusuk ke arah Ditya Gorawangsa. Tetapi Ditya Gorawangsa tidak bisa dipandang sebelah mata.



“Ki Buyut, bantulah Bimantara. Aku sudah tidak apa-apa.” ucap Buyut Wengkeng.



Meski merasa khawatir, Buyut Bawada menuruti ucapan Buyut Wengkeng.



“Para Ksatria Saka Panca pemanah, arahkan panah kalian pada Ditya Gorawangsa!” perintah Buyut Bawada.



Ksatria saka Panca yang ahli dalam senjata panah bersiaga. Melepaskan panahnya pada Ditya Gorawangsa. Panah itu melesat menyerang Sang Ditya. Disusul serangan Buyut Bawada.



“Yantra Satya Gandiwa!” ucap Buyut Bawada.



Sebuah anak panah berukuran besar melesat menyerang Ditya Gorawangsa. Sang Ditya terpengarah. Serangan mereka terlalu banyak. Sekejap mata, tubuhnya berubah menjadi sinar hitam. Menghindari serbuan anak panah. Lantas melayang dan menghilang begitu saja.


__ADS_1


Buyut Wengkeng dan yang lain dapat bernafas lega. Serangan Ditya Gorawangsa berhasil di padamkan. Meski harus membuat Buyut Wengkeng kehilangan pergelangan tangannya.


__ADS_2