Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Terperangkap


__ADS_3

Suara raungan bercampur baur dengan senjata saling beradu. Rintihan kesakitan terdengar memekakkan telinga. Di malam dengan bulan yang tertelan raja kegelapan. Terjadi teror di istana Kerajaan Ayodya. Para Ditya menyerang dan memangsa tanpa ampun prajurit kerajaan.



Sebenarnya beberapa Ksatria Saka dari wilayah-wilayah di Kerajaan Ayodya, yang sudah mencapai tingkatan Sapta maupun Nawa sudah direkrut menjadi pengawal di istana. Akan tetapi kebanyakan dari mereka sedang ditugaskan membantu desa-desa yang mengalami serangan monster. Dikarenakan beberapa hari terakhir, terjadi serangan beruntun para Ditya di wilayah Kerajaan Ayodya. Bahkan merembet hingga ke kerajaan lainnya.



Kini, keadaan di istana semakin kacau. Hanya ada prajurit dan beberapa Ksatria Saka yang berjaga di istana. Sri Mahadana, yang memegang tampuk kekuasaan menggeram marah sampai menggebrak meja di pasewakan.



“Kurang ajar!!! Para Ditya telah berani memasuki istana Ayodya. Habisi mereka semua!” perintah Raja Sri Mahadana dengan nada dipenuhi kemarahan.



Ksatria Saka yang dipimpin Bimantara mengatupkan kedua tangan di dada.



“Sendika dhawuh Gusti Prabu. Hamba akan menghabisi semua Ditya.” ucapnya menerima perintah.



Kemudian beberapa Ksatria Saka menjaga Raja Mahadana. Sedangkan Bimantara bersama Ksatria Saka lain bergegas menuju sisi selatan istana Ayodya. Di mana laporan mengatakan para Ditya sedang mengacau di sana.



*Di Keputren Kerajaan Ayodya*.



Sebuah sinar hitam melayang-layang di udara. Kemudian mendarat dan muncullah beberapa Ditya. Mereka merupakan jelmaan Ksatria Saka dari Medangwangi. Para Ditya menggeram dengan buas. Prajurit dan Ksatria Saka yang ditugaskan berjaga di Keputren terperanjat dengan kedatangan Ditya. Sedangkan Bimantara dan Ksatria Saka yang lebih kuat dikerahkan ke sisi selatan istana. Rupanya ini merupakan strategi pengalihan.



Para Ditya mengamuk dan menghabisi prajurit yang berjaga. Ksatria Saka yang berjaga di Keputren bertahan mati-matian menghadapi serangan. Namun, mereka kelihatan kewalahan. Hingga beberapa Ditya berhasil menembus pertahanan dan masuk ke dalam. Menyeret salah satu gadis muda yang tak lain putri Raja Sri Mahadana bernama Putri Nalini.



“Lepaskan aku!!! Dasar Ditya menjijikkan!!” teriaknya sembari meronta.



Sang Ditya meraung-raung sembari mencengkeram tangan Putri Nalini. Sang Putri kelihatan ketakutan.



“A… apa… aku akan dijadikan makanan kalian?”


Gurat ketakutan terpancar dari wajahnya.


Salah satu Ksatria Saka yang melihat junjungannya sedang dibawa oleh Ditya bergerak dengan cepat. Lantas menendang Ditya yang memegang tangan Putri Nalini. Sang Ditya ambruk dan sebelum bangkit langsung di tebas pedang olehnya.



“Putri? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Ksatria itu.



Sebelum Putri Nalini sempat menjawab. Tanpa disadari sebuah cakar tajam menusuk punggung Sang Ksatria hingga tembus ke dada. Darah segar muncrat hingga mengenai tubuh Sang Putri. Putri Nalini menjerit ketakutan. Menyaksikan kengerian yang tepat di depan matanya. Beberapa Ditya kembali mencengkeram tangan Sang Putri. Putri Nalini hanya bisa menjerit meminta tolong.



"Ha! Ha! Ha!" terdengar suara tawa memekakkan telinga dari sesosok misterius yang tiba-tiba muncul dari sebuah sinar hitam.


Sosoknya mengenakan jubah hitam dan tudung di kepala. Dia menatap Putri Nalini dengan senyum menyeringai.


"Bawa wanita itu! Jadikan dia sebagai wadah. Wanita yang sempurna untuk melahirkan Ditya yang kuat."



"Ha! Ha! Ha!" tawanya kembali meledak.


Sampai sebuah kapak berputar hampir mengenainya.


Untung saja dengan sigap sosok misterius segera menghindar. Hingga tak lama kemudian di susul beberapa anak panah melesat menembus tubuh para Ditya. Mereka tewas seketika.



"Kurang ajar!! Siapa yang berani melakukan ini?!" tanya sosok misterius dengan wajah penuh amarah.


__ADS_1


Beberapa derap langkah kaki bergerak masuk menuju Keputren. Mereka tak lain Sadana dan Soma di dampingi Buyut Bawada. Meski luka ketiganya belum sembuh betul, mereka tetap pergi ke Ayodya. Menyusul utusan yang dikirim Buyut Wengkeng untuk meminta bantuan. Namun belum kembali. Khawatir terjadi sesuatu. Mereka bergegas ke Ayodya.



Kedatangan Sadana dan yang lain rupanya tepat waktu. Mengingat istana Ayodya sedang diserang kawanan Ditya. Sadana melompat ke udara. Bergerak bagai kilat dan tepat berdiri di depan sosok misterius. Sosok misterius malah terkekeh.



"Aha! Ksatria Saka dari Medangwantu rupanya. Bersiaplah jadi mangsa para Ditya yang kelaparan."



Seusai mengucapkan kalimatnya. Beberapa Ditya langsung mengeroyok Sadana. Meski luka bakar di tubuhnya masih terasa sakit. Tetapi semangat juangnya tak pernah luntur. Sadana ingin menjadi Ksatria Saka terkuat hingga mencapai tingkatan Dasa nantinya.



Dua orang Ditya maju menyerang. Gada ditangan mereka terayun hendak mengenai Sadana. Tubuhnya merespon dengan cepat. Kedua tangannya menahan serangan gada yang dilancarkan Ditya. Lantas mendorong sekuat tenaga hingga dua Ditya terjungkal. Gerakannya yang cepat bagai kilat berpadu dengan lemparan kapaknya. Membuat dua Ditya yang terjungkal langsung terpenggal kepalanya. Darah hitam menyembur keluar. Ditya lain menggeram dan menyerang Sadana bersamaan.



Di sisi lain, Putri Nalini yang diseret paksa Ditya lainnya dihadang oleh Soma. Soma terpaksa menggunakan tangan kirinya untuk memegang anak panah. Sembari melompat ke udara dia melepaskan anak panah tiga sekaligus. Membuat Ditya yang mencengkeram tangan Putri Nalini tewas seketika. Sayangnya dua anak panahnya masih meleset. Dikarenakan tangan kirinya belum lihai betul memainkan panah.



Buyut Bawada tak tinggal diam. Dia bergerak dengan cepat dan memukul beberapa Ditya dengan pukulan mautnya.


Blam!


Blam!


Ditya tergeletak tak berdaya. Putri Nalini yang lepas dari cengkeraman langsung bersembunyi. Soma dan Buyut Bawada masih sibuk mengatasi beberapa Ditya. Begitu juga dengan Sadana. Sosok misterius mengamati sekelilingnya. Putri Nalini yang hendak dibawanya tidak ada di sana. Kawanan Ditya yang dia pimpin mulai kocar-kacir akibat serangan yang dilancarkan Sadana, Soma dan Buyut Bawada. Sosok misterius itu menggeram. Amarah menyelubunginya. Ini tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.



Saat Sadana dan yang lain disibukkan dengan menghadapi kawanan Ditya. Putri Nalini berjalan mengendap-endap. Menjauhi Keputren. Jangan sampai dia ketahuan para Ditya. Tujuannya adalah menemui ramandanya Raja Sri Mahadana. Saat dia mengendap-endap tiba-tiba bertubrukan dengan seseorang. Keduanya berjingkat ketakutan. Takut yang mereka tubruk adalah Ditya.



"Kyaaaa!!! Sana pergi! Jauhi aku dasar Ditya menjijikkan!" pekik Putri Nalini sambil memejamkan mata.



"Hei?! Aku bukan Ditya. Jangan memanggilku sembarangan." balas suara di seberang.




"Apa lihat-lihat?! Apa kau tidak pernah melihat orang yang fisiknya seperti ini?" bentak seseorang yang ada di hadapannya. Orang itu tak lain Ganendra Abhirawa.



Ganendra rupanya ikut rombongan Sadana ke Kerajaan Ayodya.



"Siapa kau?" tanya balik Putri Nalini.



"Tidak perlu mengetahui siapa aku, yang jelas aku bukan Ditya." jawab Ganendra.



Lalu dia melanjutkan kalimatnya.



"Ku dengar di istana Ayodya ada banyak Ksatria Saka yang hebat. Di mana mereka? Aku ingin menanyakan sesuatu."



Putri Nalini memandang sinis pada Ganendra.



"Dasar tidak berguna! Pergi saja sana! Jika kau datang untuk sesuatu yang tidak penting." jawab Putri Nalini ketus.



Suara Putri Nalini yang keras membuat Ditya yang mengejar mengetahui keberadaannya.


Roaaar!!!

__ADS_1


Mereka meraung-raung dan berlari ke arah Putri Nalini. Putri Nalini ketakutan dan bersembunyi di belakang Ganendra.



"Siapapun dirimu, kau harus melindungi ku."



"Kenapa aku harus melindungimu?" tanya Ganendra heran.



Dia belum mengetahui identitas sebenarnya wanita muda yang bersamanya.



"Aku akan memberimu banyak hadiah. Kepingan emas apapun itu aku memiliki semuanya. Tetapi lindungi aku jangan sampai Ditya menjijikkan itu menangkapku."



Mendengar wanita itu akan memberikannya banyak kepingan emas. Ganendra tersenyum lebar. Di dalam benaknya, seperti peribahasa sambil menyelam minum air. Dia membayangkan akan mendapatkan kepingan emas berlipat ganda.



"Baiklah... Serahkan padaku." jawab Ganendra penuh semangat.



Ganendra segera maju menghadapi para Ditya. Cakaran Ditya mengayun ke arah Ganendra. Pemuda itu dengan sigap menundukkan kepala dan berguling ke sisi lain. Ditya lain mengayunkan gada, namun dengan sigap Ganendra menghindar. Lalu memberikan pukulan balasan dengan tangan kirinya. Ditya yang dia pukul tak bergeming sama sekali. Padahal Ganendra sudah memukulnya sekuat tenaga.



Ganendra mengibaskan tangan kirinya yang justru kesakitan. Rupanya tenaga biasa tak akan mempan melukai Sang Ditya. Sebelum sempat mengelak sebuah gada tepat menghantam tubuh Ganendra hingga terjungkal. Erangan kesakitan meluncur dari mulutnya.



"Tolong! Tolong!" teriakan Putri Nalini terdengar kencang.



Beberapa Ditya sudah menangkap dan menyeretnya.



"Sial!!! Dasar monster! Jangan bawa ladang emasku!" teriak Ganendra kesal.



Lalu bangkit berdiri dan menyusul ke arah Putri Nalini. Ganendra berlari dan berdiri di belakang Putri Nalini sambil menarik Sang Putri dari cengkeraman Ditya.



"Kyaaa!! Dasar pria mesum! Apa yang kau lakukan?" pekiknya.



Ganendra tersadar bahwa yang dia pegang tepat di atas dua gunung kembar. Milik Sang Putri. Ganendra tersadar dan buru-buru melepaskan. Dia malah menatap telapak tangan kirinya yang tanpa sengaja menyentuh dada Sang Putri.



"Eh, aku sungguh tidak sengaja." elak Ganendra.



Ditya menyeret kembali Sang Putri. Hingga sebuah anak panah melesat dengan cepat mengenai Ditya yang membawa Putri Nalini. Menembus jantung Sang Ditya hingga terkapar menemui Penguasa Akhirat.



Anak panah yang melesat berasal dari Soma yang sudah menyusul. Ditya lain mengamuk dan menyerang ke arah Soma. Tetapi tiba-tiba sebuah kepulan asap hitam mengerubungi Sang Ditya. Ganendra berusaha menolong Putri Nalini yang terjatuh. Akan tetapi Sang Putri malah mendorong Ganendra ke arah para Ditya. Membuat tubuh Ganendra terperangkap dalam gumpalan sinar hitam.



Soma yang mengetahui hal itu mengulurkan tangannya hendak menolong Ganendra. Akan tetapi semua terlambat. Tiba-tiba gumpalan asap hitam melayang membawa tubuh Ganendra dan Ditya menghilang dalam pekatnya malam.



Disaat bersamaan, di tempat lain. Sadana dan Buyut Bawada yang sedang menghadapi para Ditya, melihat mereka menghilang. Berbarengan dengan sosok misterius yang merupakan pimpinan Ditya.



Pimpinan Ditya menghilang saat melihat rombongan Ksatria Saka dari istana Ayodya yang dipimpin Bimantara berdatangan.


Bimantara melihat gumpalan asap hitam melayang dan menghilang di langit malam. Dia mengamati dengan seksama.

__ADS_1


"Ditya Kalandaru." gumamnya perlahan.


Ganendra ikut menghilang bersama para Ditya.


__ADS_2