
Di pinggiran hutan Desa Medangwantu.
Ganendra terlihat serius melatih dirinya. Di bawah air terjun yang mengalir deras. Pemuda itu bersemedi. Memusatkan pikirannya supaya dapat mengalirkan tenaga dalam ke setiap bagian tubuh yang diinginkan. Merasakan energi yang ada di sekitarnya.
Kebersamaan dengan sahabat-sahabatnya. Membuat Ganendra sedikit demi sedikit menyadari. Ikatan persaudaraan untuk pertama kalinya. Dia ingat bagaimana di awal dahulu. Soma dan Sadana melindunginya. Meski mereka tidak berhubungan dekat.
Mata Ganendra terbuka dan langsung keluar dari air terjun. Melesat dengan kecepatan bagai kilat lalu meninju sebuah batu.
Blar!!!
Hancur berkeping-keping batu yang dihantam tenaga dalam dari Ganendra. Saat itu seseorang bergerak dengan lincah melompat ke udara dan mengayunkan pukulan ke arah Ganendra. Ganendra belum siap hingga pukulan orang itu mengenai dadanya.
Duak!
Seketika Ganendra jatuh ke dalam air. Suara tawa renyah terdengar dari seseorang. Ganendra gelagapan keluar dari air. Wajahnya masam dan memukul air.
"Hei! Putri congkak! kau curang. Aku belum siap." protes Ganendra sembari berjalan ke luar dari air.
"Katakan saja, memang kau masih lemah." balas seseorang yang tak lain Putri Nalini.
Mereka lantas duduk di tepi sungai. Menikmati kicauan burung yang terdengar merdu.
"Rasanya sangat damai." ucap Putri Nalini.
Tangannya di angkat ke atas seolah ingin menyentuh langit. Ganendra hanya tersenyum dan membaringkan tubuhnya di atas batu.
"Apa duniamu sedamai ini?" tanya Putri Nalini.
"Hemm.. Jika kau tinggal di desa sama seperti ini. Rasanya memang tenang dan membuat damai. Tetapi berbeda jika tinggal di ibu kota. Kau akan mendengar hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang."
"Maksudmu seperti benda yang berjalan dengan roda?"
Ganendra menganggukkan kepala, "ya, itu dinamakan mobil jika rodanya ada empat dan motor untuk yang rodanya dua."
Putri Nalini tersenyum, setidaknya dia pernah melihat sekilas dunia dari mana Ganendra berasal. Meski itu hanya ilusi. Dunia ilusi yang diciptakan Ditya Wahmuka dari pikiran terdalam Ganendra.
"Duniamu memang berisik. Tetapi aku suka pemandangannya ketika malam, banyak cahaya terang, tidak ada Ditya di sana. Bisa bebas berkeliaran."
"Hemm kau benar. Wanita sepertimu akan sibuk bersolek atau berbelanja.
Putri Nalini diam sejenak. Lalu menatap Ganendra.
" Kau pasti merindukan ibumu?"
Pertanyaan Putri Nalini membuat Ganendra terbangun. Menatap langit yang jauh di sana.
Ganendra berharap ibunya baik-baik saja. Semoga Kalimakara menepati janji menjaga ibunya.
"Tentu saja aku merindukan ibuku. Dia satu-satunya keluarga di dunia ini." seraut wajah sedih tergambar di wajah tampan Ganendra.
"Apa kau pernah merindukan seseorang?" tanya Ganendra balik.
Mendengar pertanyaan Ganendra. Putri Nalini terdiam sejenak. Dia teringat dengan Dananjaya kekasihnya dahulu yang sekarang telah menjadi Ditya Kalandaru. Seraut kesedihan terpancar dari matanya.
Putri Nalini bangkit berdiri. Menoleh pada Ganendra.
"Memangnya siapa kau? Aku harus memberitahu mu?"
"Hei! Dasar Putri Congkak!" ucap Ganendra kesal.
Putri Nalini melempar senyum mengejek. Lalu masuk ke sungai dan berlatih. Ganendra tersenyum dan menantang Sang Putri latih tanding.
Tanpa mereka ketahui sepasang mata merah darah dengan taring menonjol. Menggeram melihat kebersamaan antara Ganendra dan Putri Nalini. Seseorang itu adalah Ditya Kalandaru. Dia tidak menyukai ada pria lain yang berani dekat-dekat dengan kekasihnya. Wanita yang akan menjadi wadah kelahiran Ditya.
Ditya Kalandaru mengheningkan cipta. Memanggil nama seseorang hingga tiga kali. Hingga tak lama berselang sebuah sinar hitam melayang di udara. Suara raungan terdengar nyaring. Sinar hitam itu berubah menjadi sesosok Ditya wanita dengan rambut panjang riap-riapan. Kukunya tajam dan berwarna hitam.
"Hemmm Ditya Kalandaru. Kenapa memanggilku?"
Ditya Kalandaru tersenyum menyeriangi.
Sampai beberapa saat kemudian…
"Tolong! Tolong!" dari arah Desa Medangwantu terdengar jeritan penduduk desa.
__ADS_1
Para Ditya meneror penduduk desa di sana.
Roaar!!!
Mereka meraung membabi buta. Ganendra dan Putri Nalini bergegas kembali karena mendengar banyak teriakan. Erangan kesakitan bercampur baur dengan ketakutan. Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada segera mengamankan warga desa. Sedangkan Sadana dan para Ksatria Saka dari Medangwantu yang menghadapi Ditya.
Roaaar!!!
Ditya meraung sambil mengayunkan cakarnya. Parama yang berada di Desa Medangwantu bersiaga membantu. Pria paruh baya itu menggunakan pedang apinya. Meliuk-liukkan tubuh sembari menebas Ditya. Sadana menggunakan kapak anginnya yang terbang mencari mangsa.
Srat!
Srat!
Soma melompat ke udara. Menggunakan tangan kiri melepaskan anak panah. Anak panah Soma menembus dada para Ditya. Soma yang sekarang tingkatannya menjadi tingkat Sapta. Unjuk kebolehan mengeluarkan yantra miliknya.
"Yantra Agni Astra!"
Soma berdiri dengan gagah. Ujung anak panahnya di selimuti api. Lantas dengan cepat melepaskan anak panah yang ketika meluncur menjadi berkali lipat.
Srat!
Srat!
Beberapa Ditya tergeletak di tanah tak berdaya. Balin menggunakan kepalanya menghantam Ditya. Sembari lari ke sana kemari karena ketakutan. Ganendra datang bersama Putri Nalini. Mereka bergantian memukul dan menendang para Ditya. Sampai mata Ganendra melihat Kemuning, seorang anak perempuan yang akrab dengannya. Tengah lari dari kejaran Ditya.
Ganendra bergerak dengan cepat menggunakan kemampuan Ksatria Saka tingkat ketiga.
Sat!
Set!
Langsung menarik tubuh bocah kecil itu dalam gendongannya.
"Kakang Ganendra?!" pekik Kemuning dengan girang.
"Aku menyelamatkanmu. Kau jadi berhutang padaku ya."
Ganendra tersenyum. Saat itu, salah satu Ditya mengayunkan cakarnya. Putri Nalini yang tak jauh dari sana segera melompat dan menendang Ditya hingga terjerembab. Soma datang dan melepaskan anak panah pada Ditya yang terjerembab karena tendangan Putri Nalini. Soma menoleh dan mengulas senyum pada Putri Nalini. Akan tetapi Sang Putri malah menghampiri Ganendra. Lagi-lagi Soma hanya tertunduk lesu.
"Sebaiknya kita segera membawa Kemuning ke tempat yang aman." ajak Putri Nalini.
"Bagaimana dengan penduduk desa lain?" tanya Ganendra.
Sadana menghampiri dan menjawab pertanyaan Ganendra.
"Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada sedang membawa ke tempat yang aman. Kita harus membunuh semua Ditya yang tersisa."
Ganendra mengangguk dan bersiaga. Hingga terdengar suara tawa membahana. Dua sinar hitam melayang di udara. Kemudian mendarat di tanah dan berubah menjadi Ditya Kalandaru dan seorang Ditya perempuan bernama Sarpakenanga.
"Huahahaha! Aku akan membunuh kalian semua!" ucap Ditya Kalandaru.
Sadana, Parama, dan Soma maju.
"Ganendra, cepat bawa Kemuning ke tempat yang aman." ucap Sadana.
Parama menimpali,
"Gusti Putri, sebaiknya ke tempat yang aman."
"Aku adalah Putri Nalini, Putri Sri Mahadana penguasa wilayah ini. Aku tak akan kemana-mana dan menjadi seorang pengecut. Mari kita hadapi sama-sama."
Soma menatap Putri Nalini penuh arti.
"Aku akan membawa Kemuning ke tempat yang aman dahulu." ucap Ganendra.
Ganendra melangkah sembari menggendong gadis kecil itu. Akan tetapi langkahnya terhenti karena Ditya Sarpakenanga menghadang.
"Roaaar!! Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini."
Ganendra mundur selangkah. Sadana yang melihat itu bergerak dengan cepat menghadapi Ditya Sarpakenanga bersama Putri Nalini. Parama dan Soma menghadapi Ditya Kalandaru.
Parama bergerak maju, mengayunkan pedangnya. Ditya Kalandaru menahan dengan gada miliknya. Matanya menatap dengan bengis. Soma melompat ke udara dan melepaskan anak panahnya.
__ADS_1
"Yantra Welut Putih." ucap Ditya Kalandaru. Tubuhnya seperti transparan dan panah yang dilepaskan Soma hanya menembus tubuh kosong Sang Ditya. Membuat Soma tercekat.
"Roaaar!!" geram Ditya Kalandaru lalu menendang Parama dengan keras hingga terjungkal.
Di sisi lain, Sadana bergerak dengan cepat. Melemparkan kapaknya ke arah Ditya Sarpakenanga. Dia terkekeh dan meliukkan tubuhnya ke belakang. Lalu memberikan tendangan memutar pada kapal Sadana. Kapak itu melesat kembali pada pemiliknya.
Giliran Putri Nalini menyerang. Dia melompat dan mengarahkan tendangannya pada Ditya Sarpakenanga. Lagi-lagi Ditya Sarpakenanga terkekeh dan dengan cepat menangkap kaki Sang Putri. Membuat Putri Nalini terpengarah. Ditya Sarpakenanga dengan keras memutar tubuh Sang Putri dan menghempaskannya dengan keras.
Ganendra yang melihat itu bergerak dengan cepat. Setelah sebelumnya menurunkan Kemuning dari gendongannya. Lalu melesat bagai kilat menangkap tubuh Sang Putri sebelum menghantam tanah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ganendra.
Putri Nalini mengangguk.
"Khukhukhu... Wah ada pemuda tampan. Tetapi sayang sekali kau bukan seleraku. Tangan kananmu membuat citramu rusak."
"Pih! Kau pikir secantik itukah dirimu? Hingga menghina orang lain?" Ganendra melesat maju dengan mengayunkan pukulannya.
Ditya Sarpakenanga melompat ke udara dan memberikan tendangan memutar. Membuat Ganendra tersungkur.
"Huahahaha!" Ditya Kalandaru dan Sarpakenanga berdiri berdampingan.
"Kalian Ksatria Saka lemah! Tidak akan bisa mengalahkan kami huahahaha!" Ditya Kalandaru berucap sembari membusungkan dada.
Soma dan Parama kewalahan menghadapi yantra Welut putih milik Ditya Kalandaru.
"Kita hadapi saja bersama-sama." ajak Ganendra.
Teman-temannya mengangguk. Lalu bersamaan merengsak ke depan. Menyerang kedua Ditya. Keduanya hanya terkekeh. Ditya Kalandaru menggunakan Gada Lukitasari mengayunkan ke arah semua orang hingga mereka terhempas.
Bruaaak!!
Semuanya terjungkal dengan menahan sakit di dada.
"Sarpakenanga! Giliranmu! Robek mereka dengan racun andalanmu." perintah Ditya Kalandaru.
Sarpakenanga merengsak maju dengan kuku tajam siap merobek siapa saja. Ganendra dan yang lainnya masih tergeletak.
"Mati kau! pemuda tampan tetapi sayangnya bukan seleraku!" teriak Sarpakenanga. Mengarahkan serangannya pada Ganendra.
"Ganendra awas!!!" teriak teman-temannya.
Mata Ganendra terpengah.
Srat!
Kuku beracun milik Sarpakenanga menembus tubuh hingga darah berceceran. Ganendra terkejut setengah mati. Kemuning gadis kecil itu dengan berani menggunakan tubuhnya sebagai tameng.
Kemuning seketika roboh ke tanah dengan tubuh bersimbah darah. Racun Sarpakenanga langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Membuat tubuh Kemuning membiru.
"Kemuning!!!" pekik Ganendra menahan tubuh gadis pemberani itu dipelukannya.
"Ka... Kang Ganendra." ucapnya lirih.
"Kemuning, kenapa kau melakukan ini? Kenapa?" tanya Ganendra dengan mata berkaca-kaca. Dia tak menyangka gadis itu merelakan tubuhnya. Melindungi Ganendra.
Seulas senyum terlukis di wajah Kemuning.
"Ka.. Kang... Karena aku menganggapmu sebagai keluarga ku dan sesama keluarga harus saling melindungi."
Sesaat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Kemuning meregang nyawa.
"Kemuning!!! Arhhhhhhtggg!!!" teriak Ganendra dengan keras.
Tangannya menggenggam erat tangan Kemuning. Semua orang terkejut. Sarpakenanga dan Ditya Kalandaru melancarkan serangan ke arah mereka. Namun terdengar suara lantang dari Buyut Wengkeng.
"Yantra Bawanamarta"
Seketika langit menjadi gelap gulita. Membuat Ditya Kalandaru menghentikan serangannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini." ajak Ditya Kalandaru.
Merekapun melesat pergi dan menghilang. Meninggalkan Ganendra yang meraung merasakan kesedihan yang mendobrak sanubarinya.
__ADS_1