
Awan putih berarak perlahan dengan latar belakang warna biru yang cerah. Di Mandala Wiyata Ksatria Saka sedang duduk bersila dan mendengarkan pengarahan dari Buyut Wengkeng.
Putri Nalini duduk di barisan depan seusai mengenakan pakaian yang sesusai layaknya seorang ksatria. Rambutnya dikucir ekor kuda. Kulitnya terlihat putih bersih. Namun sayangnya dia seorang putri yang congkak. Terlihat jelas dari dagunya yang sedikit terangkat.
Ganendra yang datang terlambat memilih duduk di belakang berdampingan dengan Balin. Di depan sana, Buyut Wengkeng tersenyum hangat.
“Selamat untuk kalian para Ksatria Saka yang tempo hari sudah melalui tes kemampuan awal. Ingatlah, perjalanan kalian masih sangat jauh untuk mencapai tingkatan paling tinggi. Kalian harus ditempa dengan wawasan maupun memperdalam kekuatan Kadewatan yang dimiliki.”
Ganendra yang berada di deret belakang malah menguap dan tidak begitu memperhatikan. Balin sebaliknya, terlihat serius dan mendengarkan dengan seksama. Buyut Wengkeng kembali memberikan pengarahan.
“Untuk mencapai tingkatan paling tinggi setara dengan para dewa. Kalian harus belajar dari pepatah sabar iku ingaran mustikaning laku. Memiliki makna bahwa sabar itu dapat diartikan inti dari perjalanan hidup. Jika dalam melatih kemampuan diri. Kalian tidak memiliki kesabaran sama saja dengan terpaku di tempat. Tidak akan memahami inti dari proses sebuah perjalanan hidup. Maka pesanku, belajarlah dengan sabar dan tekun.”
Setelah selesai mengucapkan pengarahannya. Para Ksatria Saka yang baru, diajak berkeliling oleh Bimantara. Mengajak ke tempat pelatihan para Ksatria Saka yang sudah mencapai tingkatan Tri, Panca ataupun Sapta.
Di sana, terlihat mereka sedang berlatih tanding. Seperti biasanya Sadana paling menonjol diantara semua Ksatria. Kekuatannya tak bisa di remehkan begitu saja. Kekuatan Kadewatannya berkembang pesat.
Ganendra yang melihat itu hanya mendengus. Tidak merasa berdecak kagum seperti yang lainnya. Balin malah sampai menganga menyaksikan kehebatan Sadana.
“Aku pasti akan sehebat itu dalam waktu singkat.” ucap seseorang yang tak lain Putri Nalini.
“Gusti Putri, aku yakin Gusti akan dengan mudah mencapai tingkatan tertinggi.” timpal seorang pria dengan wajah persegi dan rambut yang diikat.
Pancaran wajahnya menunjukkan seorang penjilat. Ganendra yang mendengar perbincangan mereka hanya melempar tawa mengejek.
Bimantara lantas membawa Ksatria Saka ke tempat pelatihan selanjutnya. Di sana Buyut Bawada sudah menunggu. Bimantara berdiri di depan semua orang.
“Akan aku tunjukkan bagaimana kehebatan seorang Ksatria Saka yang sudah mencapai tingkatan Nawa, tingkat ke sembilan.” ucap Bimantara.
Lantas dia maju selangkah. Mengheningkan cipta berkonsentrasi pada kekuatan Kadewatannya. Beberapa detik kemudian, sebuah aksara tertulis di telapak tangan kanannya.
“Yantra Dhyana Deva!!!” ucap Bimantara dengan lantang.
*aksara berbentuk lingkaran yang tertulis di telapak tangan Bimantara
Tiba-tiba aksara yang tertulis di telapak tangan Bimantara melayang ke udara. Membuka sebuah pintu dengan sinar putih yang menyilaukan. Ganendra yang tadinya tidak memperhatikan, mau tidak mau pandangannya tidak berkedip. Menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dia lihat selama berada di Swastamita.
Pintu itu terbuka dan sebuah sinar putih mencuat mendarat tepat di depan Bimantara. Beberapa detik kemudian, sinar putih menjelma menjadi kuda sembrani. Ringkihannya terdengar nyaring. Semua berdecak kagum menyaksikan kekuatan Kadewatan yang dimiliki Bimantara.
“Inilah kekuatan Ksatria Saka di tingkatan ke sembilan dapat memanggil binatang suci tunggangan dewa.” ucap Bimantara.
__ADS_1
Kuda sembrani kembali meringkih sambil menjejakkan kakinya ke tanah silih berganti. Warna kulitnya putih bersih dan memiliki sayap serta tanduk di kepalanya. Balin yang melihat itu membelalakkan mata. Dia sungguh ingin menjadi Ksatria Saka sehebat Bimantara.
“Kuda sembrani ini bisa dinaiki oleh seseorang yang dapat memanggilnya. Kalian bisa mengajaknya untuk berperang melawan Ditya. Maka capailah tingkatan ke sembilan sebagai Ksatria Saka Nawa. Supaya bisa seperti ini.” lanjut Bimantara.
Lantas menaiki punggung kudu sembrani. Kuda sembrani meringkih dan kemudian melesat terbang ke udara. Bimantara yang ahli dalam memainkan jemparing mempertontonkan keahliannya. Lagi-lagi dengan kekuatan Kadewatannya, dia dapat memanggil senjata melalui cipta.
“Yantra Satya Gandiwa.”
Seberkas cahaya putih tepat berada di depannya. Lama-lama cahaya itu berubah menjadi sebuah senjata berupa panah dinamakan Gandiwa. Bimantara terbang bersama kuda sembrani sembari memanah ke segala penjuru arah. Busurnya tak pernah habis dan bisa memanah tiga ekor burung sekaligus dalam waktu bersamaan.
Semua orang berdecak kagum dan memberikan tepukan riuh. Ganendra yang tadinya menatap penuh kekaguman mendadak ekspresinya berubah masam.
“Tukang pamer.” ucap Ganendra perlahan dengan nada sinis.
“Bilang saja kau iri.” timpal Balin.
“Aku juga akan sehebat itu.” balas Ganendra.
Balin hanya menjulurkan lidahnya. Tanda saling mengejek. Tidak lama kemudian terdengar suara Buyut Bawada.
“Aku yakin kalian ingin mencapai tingkatan seperti Ksatria Bimantara. Maka dari itu hal pertama yang harus kalian lakukan mengasah kemampuan dengan bertarung menggunakan tangan kosong sesuai tingkatan yang telah dicapai.
“Kalian para Ksatria Saka tingkat Eka tidak perlu berkecil hati. Semua Ksatria yang sekarang tingkatannya mencapai tingkatan Nawa juga pernah merasakan menjadi Ksatria Saka tingkat Eka.”
“Ki Buyut, kenapa harus melalui tingkatan yang disebut Eka? Bukankah akan lebih baik ke tingkat yang lebih tinggi dengan cepat.” Putri Nalini mengajukan pertanyaan.
Buyut Bawada tersenyum tipis.
“Gusti Putri dan Ksatria Saka lain, Eka berarti satu atau setunggal memiliki makna wujud manusia. Manusia merupakan salah satu makhluk hidup pertama yang diciptakan dengan diberi kesempurnaan berupa akal dan pikiran untuk berpikir. Jadi ditingkat Eka kalian harus mendayagunakan akal dan pikiran menjadi sebuah kekuatan.”
“Ki Buyut, bukankah ketika manusia memiliki akal dan pikiran bisa langsung mencapai tingkatan yang paling tinggi? Kenapa harus mendayagunakan akal dan pikiran menjadi sebuah kekuatan terlebih dahulu?” kali ini sepertinya Ganendra mulai tertarik.
Buyut Bawada lagi-lagi tersenyum tipis.
“Harus aku akui, untuk pertama kalinya sebagai seorang guru. Aku melihat beberapa murid di tingkat Eka memiliki pertanyaan yang luar biasa. Baiklah akan aku jelaskan dengan senang hati.”
Buyut Bawada berhenti sejenak. Lantas melanjutkan ucapannya.
“Jika kalian ingin mendaki ke suatu tempat yang tinggi. Tidak serta merta akan dengan cepat tiba di tujuan. Tentu kalian memerlukan sebuah anak tangga. Menuju tempat tinggi supaya lebih mudah. Tetapi kalian ingat, anak tangga selalu ada tangga pertama, ketiga dan seterusnya. Bukan langsung tangga yang terakhir. Makna dibalik anak tangga adalah untuk mencapai tingkatan tertinggi sekalipun diperlukan sebuah proses.”
Setelah menyelesaikan penjelasannya. Buyut Bawada berkonsentrasi penuh. Memusatkan pikirannya dan menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanannya. Lantas memukul sebuah pohon dengan tenaga penuh.
__ADS_1
Blar!!!
Blarr!!
Blar!!!
Tidak hanya satu, dua, atau tiga pohon. Melainkan 10 pohon tumbang bersamaan. Ksatria Saka Eka yang menyaksikan kekuatan Buyut Bawada bertepuk tangan dengan riuh. Meskipun sudah terbilang tak lagi muda. Ternyata kekuatan Ki Buyut luar biasa.
“Itulah yang dinamakan mendayagunakan akal dan pikiran menjadi sebuah kekuatan.”
Ganendra tersenyum simpul. Entah bagaimana, dia mulai tertarik dengan hal ini. Sepertinya dia berada di tempat yang tepat.
“Baiklah kita mulai dasar pelatihan Ksatria Eka bertarung dengan tangan kosong. Memusatkan tenaga dalam kalian untuk bertarung menggunakan tangan kosong.” ucap Buyut Bawada memberi pengarahan.
Balin dan Putri Nalini terlihat bersemangat. Ganendra terlihat diam dan memikirkan sesuatu.
Jadi, saat tempo hari melawan Ditya. Pukulanku tidak bisa membuat mereka terluka karena belum menyalurkan tenaga dalam. Sepertinya aku harus mencoba hal menarik seperti ini. batin Ganendra dalam hati.
Suara Buyut Bawada kembali terdengar.
“Bagi pemula seperti kalian, hal pertama yang dilakukan untuk mengeluarkan tenaga dalam dilakukan dengan samadhi dan olah nafas. Mengatur pikiran dan batin dengan samadhi atau meditasi akan membuat seseorang menjadi mudah dan tenang. Dapat diartikan bahwa tenaga dalam membuat seseorang peka terhadap energi di sekitarnya.”
Para Ksatria Saka Eka mulai melakukan apa yang sudah diarahkan Buyut Bawada. Mereka mengatur nafas, mengatur pikiran dan batin. Mata Ganendra sesekali melirik ke arah yang lain. Mereka semua begitu serius. Termasuk Balin yang kelihatan berusaha keras memusatkan pikiran.
“Setelah memusatkan pikiran. Salurkan tenaga dalam di tangan. Lantas pukul apa saja yang ada di sekitar kalian.” perintah Buyut Bawada.
Semua Ksatria lantas bersiap. Setelah yakin, mereka memukul batu atau pohon yang ada di sekitar sana. Ada yang berhasil, namun banyak yang gagal. Balin malah salah menyalurkan tenaga dalamnya ke kepala. Dia malah memecahkan batu dengan kepala. Putri Nalini dengan penuh percaya diri memukul sebuah batang kayu dan ……
“Aughhh!” malah tangannya yang merasa kesakitan.
Dia lantas dengan kesal menginjak batang pohon dengan kakinya dan blaaar!!!!
Batang pohon terbelah. Rupanya Putri Nalini belum bisa memusatkan di mana tenaga dalam dia salurkan. Kini giliran Ganendra. Dia memusatkan tenaga dalam ke tangan kirinya. Lalu sekuat tenaga memukul sebuah batu. Sedetik kemudian….Blar!!!
Bukan batu yang pecah melainkan tubuh Ganendra yang terpental dan menubruk sebuah tenda.
“Apa-apaan ini?!!!” teriak Ganendra kesal. Dia pikir melakukan hal ini sangat mudah. Ternyata salah.
Ganendra belum bisa menjernihkan pikiran dan berkonsentrasi. Akibatnya tenaga dalam itu menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Putri Nalini malah tertawa lebar melihat kegagalan Ganendra. Ganendra kesal dan malah berdebat dengan Sang Putri.
Tak terasa sinar Sang Rawi mulai redup. Menandakan Sang Surya kembali ke peraduannya. Tanpa Ksatria Saka ketahui, dari kegelapan tampak bayang-bayang misterius tertawa menyeriangi.
__ADS_1