Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Pertarungan Tiada Henti


__ADS_3

Waktu telah berlalu begitu cepat. Sang Penguasa waktu tak pernah lupa memainkan perannya. Memutar roda kehidupan. Entah sudah berapa lama Ganendra berada di Swastamita. Meski rasa rindu pada ibunya begitu menghujani dalam relung hati. Dia belum bisa kembali untuk saat ini. Tujuan utama Ganendra sekarang, membawa terang di Swastamita.



Meski Ganendra hanya memiliki satu lengan kiri, tetapi tekadnya dalam bertarung masih begitu kuat. Dia mulai menyesuaikan diri. Ketika bertarung menggunakan tangan kiri dengan tombaknya.



Kini Sang Rawi telah meninggi. Ganendra dan Putri Nalini yang berpetualang bersama, terlihat berjalan beriringan. Tak menyangka dalam petualangan mereka, harus bertarung dengan dua Ditya kembar yang lincah. Bahkan bertemu Kalimakara yang menunjukkan sisi gelapnya.



Ganendra duduk sembari melihat prasasti yang diberikan Kalimakara. Untuk beberapa saat lamanya dia masih membaca isinya. Namun, sesaat kemudian mata Ganendra tiba-tiba terbelalak.



"I... Ini... " ucap Ganendra terkaget.



"Ada apa?" tanya Putri Nalini yang ikut terkejut.



"Aku rasa, aku mengerti tujuan Kalimakara ingin mendapatkan Tirta Amerta."



"Apa tujuannya?" tanya Sang Putri penasaran.



Saat keduanya tengah berbincang. Tiba-tiba seberkas sinar hitam melayang di udara dan mendarat tepat di depan Ganendra maupun Putri Nalini. Sinar itu berubah menjadi Ditya Kalandaru dan Parama.



Ganendra maupun Putri Nalini sedikit terhenyak. Mata Ganendra saling beradu pandang dengan Parama.



"Bunuh mereka!!!!" ucap Ditya Kalandaru.



Cakarnya lantas terayun bersamaan dengan pedang Parama yang mengarah pada Ganendra.



"Berhati-hatilah." pesan Ganendra pada Putri Nalini.



Sang Putri mengangguk dan siap menghadapi serangan Ditya Kalandaru.



"Hyaa!" Putri Nalini melompat ke udara.



Menghindari cakar Ditya Kalandaru. Sang Ditya segera memberikan serangan pukulan bertubi. Putri Nalini menangkis sembari mundur ke belakang. Lantas memberikan tendangan memutar.



*Duak*!


Tendangannya tepat mengenai kepala Ditya Kalandaru. Sang Ditya pun terhuyung.


Di sisi lain, Ganendra menghadapi Parama. Pedang Parama terayun dengan cepat. Ganendra segera menangkis dengan tombak miliknya. Keduanya saling menahan dan bertatapan dengan tajam.


"Hyaaa!" Ganendra dan Parama saling berputar-putar. Menimbulkan kepulan angin kencang.


Duak!


Duak!


Secara bersamaan, keduanya memberikan sebuah tendangan. Tak ayal adu tendangan tak terelakkan. Parama berhasil menendang Ganendra, begitu juga sebaliknya. Hingga keduanya terhuyung beberapa langkah.


__ADS_1


“Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan padaku!” teriak Ganendra dengan tatapan tajam.



Parama memilih diam dan tak menjawab. Lantas bergerak menyerang. Ganendra bersiap dengan serangan yang dilancarkan padanya. Ganendra melompat ke udara. Kedua kakinya terangkat. Tangan kirinya mengarahkan tombak Naga Baruna ke arah Parama. Parama dengan cepat menangkis serangan Ganendra. Kemudian memberikan serangan balasan berupa pukulan dengan tangan kiri. Ganendra sigap dengan bersalto dan berputar di udara. Keduanya bertarung dengan sangat sengit.



Putri Nalini yang menghadapi Ditya Kalandaru tak merasa gentar. Meski hanya dengan kekuatan Ksatria Saka tingkat ketiga, Putri Nalini masih bisa menahan serangan Ditya Kalandaru.



Ditya Kalandaru melancarkan pukulannya ke arah Sang Putri. Putri Nalini merunduk dengan cepat. Kakinya berusaha menjegal Ditya Kalandaru. Sang Ditya tak kalah sigap, dia segera melompat ke udara serta bersalto.



*Roaar*!!!



Ditya Kalandaru mengheningkan cipta. Mengeluarkan Gada Lukitasari miliknya. Sang Ditya menggeram garang. Matanya menyiratkan keinginan membunuh yang besar. Putri Nalini tak lagi mengenali Ditya Kalandaru sebagai Dananjaya, kekasihnya dahulu. Bagi Sang Putri, Ditya Kalandaru hanyalah musuh yang harus dibasmi.



Ditya Kalandaru mengayunkan Gada Lukitasari ke arah Putri Nalini. Sang Putri mundur sembari bersalto menghindari serangan gada. Putri Nalini tak membiarkan dirinya diserang. Gilirannya untuk maju saat ada kesempatan. Dia mengerahkan tenaga dalam ke kakinya. Lantas dengan Gerakan bagai kilat melancarkan sebuah tendangan.


Ditya Kalandaru tak gentar. Dia menahan serangan Putri Nalini dengan gada miliknya.


“Hyaaa!!!!” Putri Nalini terus mengerahkan tenaganya. Supaya dapat memukul mundur Sang Ditya.



*Roaarrr*!


Ditya Kalandaru menahan sembari meraung-raung. Lantas mengerahkan kekuatan yang besar pada gadanya.


“Gyaaa!!!” teriak Ditya Kalandaru.


Membuat Putri Nalini terhempas. Disusul pukulan gada mengenai tubuhnya.



*Duak*!




“Hoek! Hoek!” Sang Putri muntah darah.



Melihat Putri Nalini terkena serangan Ditya Kalandaru. Ganendra tak bisa membiarkannya. Dia melempar tombaknya dengan kecepatan penuh ke arah Parama.



*Swing*!


Parama bersalto supaya bisa menghindara serangan Ganendra. Namun, tanpa Parama sadari dengan cepat Ganendra melancarkan sebuah tendangan.


Duak!


Tendangan Ganendra tepat mengenai dada Parama. Pria paruh baya itu seketika terjungkal. Ganendra tak menyia-nyiakan waktu. Tatkala gada Ditya Kalandaru hendak menghantam Putri Nalini, Ganendra bergerak bagai kilat. Menendang punggung Ditya Kalandaru dengan keras.


*Duak*!



*Duak*!



Sang Ditya jatuh tersungkur. Dia menggeram penuh amarah.



“Nalini, bagaimana keadanmu?” tanya Ganendra cemas.


__ADS_1


Putri Nalini mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Ini hanya luka kecil. Tidak masalah.”


Tepat dipenghujung kalimat Sang Putri. Parama melesat dengan cepat.



“Yantra Candrasa Apyu!”



Pedangnya berselimut api yang besar. Tanpa ampun menyerang ke arah Ganendra. Ganendra berusaha menahan dengan tombaknya. Namun gagal karena kalah kekuatan dengan Parama.



*Srat*!


“Arghhttt!!!” darah segar keluar dari tubuh Ganendra yang terkena sabetan pedang.


Putri Nalini bergegas menghampiri Ganendra. Memegangi lengan pemuda itu dengan cemas.



“Kakang Parama! Kenapa kau melakukan ini? Kenapa mengkhianati kami seperti ini?” tanya Putri Nalini setengah berteriak.



“Tidak ada alasan khusus.” jawabnya dengan wajah datar.



“Tetapi ini suatu kesalahan! Kau tidak bisa berada di sisi gelap. Berada di sisi gelap hanya akan membuatmu lebih menderita.” Putri Nalini masih berusaha membujuk Parama.



“Kita tidak bisa memaksa seseorang berada di pihak mana Nalini. Aku yakin ada alasan dibalik ini semua. Tetapi apapun itu. Kita tidak bisa membiarkan seorang pengkhianat berbuat sesuka hatinya!” teriak Ganendra sembari mengarahkan tombak ke arah Parama.



Parama bersiap menangkis dengan pedangnya. Disaat itulah Ditya Kalandaru bangkit dan mengayunkan gada miliknya mengenai punggung Ganendra.



*Dak*!


Dak!


Seketika Ganendra tersungkur ke tanah sembari muntah darah. Putri Nalini membantu Ganendra yang sedang kesakitan.


“Bagaimana ini? Mereka terlalu kuat.” ucap Putri Nalini panik.


Ganendra masih mengatur nafasnya. Rasa perih mulai Ganendra rasakan menjalar di tubuhnya.


Tepat di depan Ganendra, Parama menatap tajam begitu pula dengan Ditya Kalandaru. Keduanya bersiap dan mengerahkan kekuatan pada senjatanya masing-masing.


“Gyaaa!!!!” Ditya Kalandaru dan Parama mengarahkan serangan ke arah Ganendra maupun Putri Nalini.


Putri Nalini dan Ganendra hanya menatap tanpa bisa berbuat apa-apa, karena tubuh mereka terluka. Keduanya pasrah menerima serangan.



*Srat*!


Dak!


Pedang dan gada melayang. Disaat kedua senjata tadi kurang beberapa inci dari tubuh Ganendra maupun Putri Nalini. Tiba-tiba tendangan tepat menghantam punggung Ditya Kalandaru dan Parama.


*Duak*!


Duak!


Tak ayal, keduanya langsung tersungkur ke tanah.


“Tidak ada yang boleh membunuh manusia tidak berguna itu! Hanya kami yang boleh membunuhnya.”



Tidak berselang lama, Ditya Kardusana dan Ditya Nopati muncul. Keduanya menggeram penuh amarah. Ditya Kalandaru dan Parama bangkit berdiri. Keduanya terlihat kesal.

__ADS_1


Ganendra dan Putri Nalini terhenyak. Kini, mereka harus menghadapi serangan kubu kegelapan.


__ADS_2