
*Di istana Kerajaan Purawan*.
Ganendra beserta Putri Nalini disambut dengan baik oleh Raja Parwa. Keduanya dirawat lukanya hingga sembuh. Raja Parwa yang terhitung masih paman dari Putri Nalini mendengarkan dengan seksama ihwal mereka bisa datang ke Kerajaan Purawan. Termasuk kisah dibalik kehadiran Ganendra yang datang ke Swastamita.
“Jadi, kau benar berasal dari dunia lain?” tanya Raja Parwa.
Ganendra mengatupkan kedua tangan di dada, “benar Gusti.”
Perlahan, Ganendra mulai mengerti tata kesopanan ketika menghadap raja di Swastamita. Diapun mulai menerapkannya, kecuali dengan Putri Nalini. Dia tidak banyak bersopan santun.
Raja Parwa mengelus jenggotnya yang mulai memutih.
“Raja Kegelapan sepertinya ingin menguasai Swastamita dengan menggunakan Tirta Amerta. Jika dibiarkan, ini akan sangat berbahaya. Pantas saja beberapa waktu yang lalu. Kanda Raja Sri Mahadana mengirimkan pesan supaya para raja di Swastamita mengadakan pertemuan besar.”
“Paman raja, masih banyak Ditya di luar sana yang harus kita musnahkan. Mereka sangat berbahaya. Kami sudah mencoba mengalahkan Ditya Kalandaru. Tetapi, dia kembali dibangkitkan oleh Ditya Gorawangsa. Belum lagi ditambah dengan Ditya kembar yang merepotkan.” sahut Putri Nalini.
Raja Parwa menghela nafas dalam, “sepertinya ini akan berat.”
“Hamba akan berjuang membantu Ksatria Saka memusnahkan para Ditya.” sahut Ganendra sembari mengatupkan kedua tangan di dada.
“Bagus anak muda. Jika setiap pemuda memiliki tekad sepertimu dan bahu membahu. Maka mengalahkan Ditya sekuat apapun tidak akan sulit.” ucap Raja Parwa.
Sang Raja diam sejenak. Hingga dia teringat sesuatu.
“Aku teringat sebuah lontar. Peninggalan raja terdahulu. Kalian, ikutlah denganku.” ajak Raja Parwa.
Ketiga orang tersebut lantas berjalan menuju sebuah tempat yang dijaga beberapa pengawal. Tempat menyimpan senjata ataupun lontar yang ditulis raja di Kerajaan Purawan terdahulu.
Di sebua tempat yang diterangi beberapa obor. Ganendra melihat beberapa lontar disusun rapi di sebuah rak kayu. Di sampingnya Putri Nalini ikut melihat-lihat ruangan terebut. Langkahnya perlahan mengekor ke mana Raja Parwa berjalan. Hingga Sang Raja berhenti di sebuah ruangan khusus. Dia membuka pintu yang terbuat dari tembaga berlapis emas.
Suara decitan pintu dibuka terdengar mengalun perlahan. Tepat di depan sana, terdapat sebuah peti yang nampak berkilau tertimpa cahaya api obor. Raja Parwa membuka peti. Mengambil sesuatu di dalamnya. Lantas menyerahkan pada Ganendra.
“Ini adalah lontar peninggalan raja terdahulu. Konon katanya, salah satu dewa yang menulisnya sendiri.” ucap Raja Parwa.
__ADS_1
Ganendra mengambilnya, mengamati lontar secara perlahan.
“Mungkin saja, kita bisa menemukan sesuatu di sini.” terdengar suara Putri Nalini mengalun perlahan.
Ganendra mengangukkan kepala. Lantas membaca lontar yang sudah berada di tangannya. Aksara yang digunakan sama persis seperti yang tertera pada prasasti di Luweng Braholo yang pernah dia temukan dahulu.
Isi dari lontar yang dibaca Ganendra.
*Niat* *ingsun* *awiwiti*….
*Sebuah* *kisah dahulu kala, saat terjadi perseteruan antara Putra Mahadewa yang dinamakan Raksas Agung melawan para dewa di Kahyangan. Tirta Amerta yang sempat diambil Raksas Agung berhasil direbut kembali Sang Dewa Penyeimbang Alam. Senjata Cakra Sang* *Dewa Padmanaba berhasil menebas kepala Raksas Agung. Kepalanya mengembara tak tentu arah. Menebar angkara murka di Swastamita*.
*Sebab* *itulah, para Dewa membantu melatih manusia untuk melawan angkara murka yang disebarkan oleh Sang Raksas Agung. Manusia yang dilatih dinamakan Ksatria Saka. Hanya* *Ksatria Saka terpilih yang mengetahui keberadaan Tirta Amerta. Air suci keabadian… Tirta Suci Amerta mampu menjadikan seseorang abadi. Hanya Ksatria Saka yang berasal dari dunia lain yang mampu mengambil Tirta Amerta*.
Setelah membaca isi lontar, Ganendra seketika tersiap. Jadi benar dugaannya selama ini. Kalimakara menginginkan Tirta Amerta untuk hidup abadi.
“Bagaimana? Apa ada petunjuk penting?” tanya Raja Parwa dan Putri Nalini bersamaan.
Helaan nafas berat terdengar dari pemuda berparas tampan itu.
Mendengar ucapan Ganendra. Putri Nalini sekaligus Raja Parwa terkesiap dan saling berpandangan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Aku dan Ramandamu akan mengumpulkan kekuatan Ksatria Saka dari berbagai wilayah untuk menyerang Kalimakara secepat mungkin.” ucap Raja Parwa sembari berjalan keluar.
Raja Parwa bergegas mengirimkan pesan pada Raja Sri Mahadana untuk segara mengadakan pertemuan mendesak.
Ganendra bersama Putri Nalini yang masih berada di ruangan. Melihat sebuah kilasan cahaya yang berasal dari lontar dan sesuatu yang ada dibalik pakaian Ganendra. Ganendra segera mengeluarkannya. Rupanya prasasti itu bercahaya membentuk sebuah garis. Jika disatukan dengan lontar.
“I…Ini….” ucap Ganendra dan Putri Nalini terhenyak sesaat.
Sebuah garis yang menunjukkan arah terlihat muncul dari kepingan prasasti dan lontar. Akan tetapi ada satu bagian garis yang terputus.
“Jangan…jangan…i…ini…” ucap Ganendra terkesiap.
__ADS_1
Terlintas dipikirannya, sesuatu yang sepertinya dia ketahui. Keberadaan tirta amerta ditunjukkan oleh garis lintang yang dibentuk oleh serpihan prasasti dan lontar.
“Aku rasa, aku mengerti. Keberadaan Tirta Amerta ditunjukkan oleh garis lintang ini.”
“Tetapi, ada garis yang sepertinya terputus.” ucap Putri Nalini.
“Aku yakin, garis terputus ini jawabannya akan kita temukan di Luweng Braholo. Tempat prasasti utama berada.” jawab Ganendra.
...****************...
Di sisi lain, Ditya Gorawangsa menggeram penuh amarah.
“Kurang ajar! Bagaimana bisa kau menyerahkan serpihan prasasti itu pada Ganendra?!” teriak Ditya Gorawangsa.
Kalimakara yang berdiri di depannya terlihat tenang.
“Khukhu…. Aku yakin sebentar lagi akan mengetahui di mana Tirta Amerta berada. Jadi jangan mengkritik apa yang aku lakukan.”
“Dasar sialan! Apa kau ingin menguasai sendiri tirta amerta itu?!” Ditya Gorawangsa tak terima.
Tiba-tiba dia melesat dengan cepat ke arah Kalimakara. Melayangkan cakarnya dengan cepat hingga membuat topeng kelana yang dikenakan Kalimakara terlepas begitu saja. Menampakkan sekilas wajahnya yang selama ini tertutup oleh topeng.
Seorang pria dengan luka gores dibagian keningnya. Tatapan matanya tajam dan dipenuhi aura kegelapan.
“Ingatlah siapa kau sebenarnya! Kau tidak pantas menjadi bagian dari kaum Ditya. Dasar manusia hina! Kembalilah ke tempatmu! Jika tidak, aku akan menghabisimu tanpa ragu!” ancam Ditya Gorawangsa.
“Khukhukhu….. jika aku mau. Kau lah yang akan aku habisi saat ini juga. Tetapi…. Perseteruan diantara kita hanya akan memperumit keadaan. Saat ini yang terpenting adalah bekerja sama. Aku membutuhkan bantuanmu.” ucap Kalimakara sembari mengenakan topengnya.
“Kau masih sama saja tidak tau malu! Bedebah hina!” balas Ditya Gorawangsa.
Kalimakara mengulas senyum tipis, “untuk mencapai tujuanku. Untuk apa aku harus malu. Kau hanya harus mendesak Ganendra hingga terpojok. Biarkan dia mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya.”
“Apa kau bodoh?! Jika dia lebih kuat bukankah berbahaya?”
Lagi-lagi Kalimakara hanya mengulas senyum, “lakukan saja apa yang aku perintahkan. Untuk saat ini kita membutuhkannya untuk membuka gerbang yang di jaga Putra Dewa Padmanaba. Gerbang di mana tirta amerta berada. Jangan banyak bertanya dan lakukan saja perintahku.” ucap Kalimakara sembari tertawa dengan keras.
__ADS_1
Menggetarkan dinding goa barong, istana milik Ditya Gorawangsa.