Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Terjebak Ilusi


__ADS_3

Tak terasa waktu silih berganti. Sudah terhitung tiga hari mereka berada di Wiyata Mandala. Tempat menggembleng para Ksatria Saka. Ganendra masih belum bisa memusatkan tenaga dalam di tangannya. Tenaga dalam itu justru malah membuatnya seperti senjata makan tuan. Bukan bendanya yang hancur melainkan dia sendiri yang terpental. Hal itu tidak hanya dia alami. Tetapi Balin dan Putri Nalini juga merasakan hal yang sama.



Suara genderang terdengar silih berganti. Para Ksatria berkumpul di tengah lapangan terbuka. Bimantara berada di sebuah panggung bersama Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada. Buyut Wengkeng maju selangkah.



“Para Ksatria Saka, pada hari ini. Kalian akan dikelompokkan dengan Ksatria Saka lain. Mulai dari Eka, Tri, Panca dan Sapta bercampur menjadi satu kelompok. Mengingat jumlah Ksatria Nawa sangat sedikit dan mereka bertugas di wilayahnya masing-masing. Jadi hanya akan ada tingkatan sampai Sapta yang berada di sini.”



Buyut Wengkeng mengambil sebuah gulungan lontar yang berisi nama-nama yang bergabung dalam satu kelompok. Suara riuh terdengar tatkala nama-nama kelompok dibacakan. Nama-nama ksatria mulai disebutkan dan sudah mendapatkan beberapa kelompok. Kini Kelompok berikutnya dibacakan.



“Kelompok selanjutnya, dipimpin oleh Sadana terdiri dari Parama, Balin, Putri Nalini dan yang terakhir Ganendra.”



Mendengar nama kelompok selesai dibacakan. Ganendra langsung beradu pandang dengan Putri Nalini. Mereka saling melempar tatapan tidak suka. Sedangkan Balin terlihat girang. Dia memukul-mukul Ganendra saking senangnya. Bisa satu kelompok dengan Ganendra.



“Silahkan kalian berkumpul dengan kelompoknya. Sekaligus melakukan latih tanding dengan kelompok lainnya.” suara Buyut Wengkeng kembali terdengar sembari menyebutkan nama pemimpin di tiap kelompok.



Kelompok Ganendra dipimpin oleh Sadana. Sadana lantas bergegas mencari Ganendra ditengah ratusan para Ksatria.



“Setidaknya aku sudah mengenal kalian.” ucap Sadana saat bertemu Ganendra dan Balin.



“Satu kelompok denganmu tidak terlalu buruk. Tetapi apakah kita tidak bisa mendepak wanita itu.” tunjuk Ganendra pada Putri Nalini yang sedari tadi berdiri sembari melipat tangan dengan wajah masam.



Sadana menghampiri Sang Putri. Mengatupkan kedua tangan di dada.



“Salam hormat hamba, pada Gusti Putri Nalini.”



Putri Nalini tersenyum.



“Hemmm apakah kau pemimpin kelompok payah ini? Bisakah kau mendepak pria mesum yang di sana?” tanya Putri Nalini sambil menunjuk Ganendra.



“Dasar wanita tidak tahu terimakasih. Tempo hari aku sudah menyelamatkanmu. Kau bahkan mendorongku ke sarang para Ditya. Lantas hadiah yang kau janjikan mana?” tanya Ganendra dengan wajah kesal.



Sadana berusaha menengahi, “Ganendra bersikaplah sopan terhadap Gusti Putri.”



Lantas bergantian bicara dengan Putri Nalini.



“Gusti Putri, hamba rasa Gusti salah paham mengenai Ganendra. Dia bukanlah seorang pria mesum. Meski perangainya buruk. Mohon Gusti berlapang dada dan menjernihkan kesalahpahaman ini.”



Ganendra hanya melipat tangan menatap tidak suka. Begitu juga dengan Putri Nalini.



“Baiklah, karena kau pemimpin di kelompok ini dan meminta dengan sopan. Aku tidak akan mempermasalahkan pemuda menyebalkan ini menjadi bagian dari kelompok. Kita lihat saja kemampuannya. Jika menjadi beban, sebaiknya tendang keluar.” ucap Putri Nalini.



“Apa katamu???! Jangan sok berkuasa.” balas Ganendra.



Dia ingin mengeluarkan sumpah serapah pada Putri Nalini. Tetapi terhenti karena kakinya di injak Sadana. Ganendra melompat-lompat karena merasakan sakit di kakinya.



“Terimakasih banyak Gusti Putri. Gusti memang seorang putri yang bijaksana.”



Mendengar pujian Sadana membuat Putri Nalini tertawa lebar. Hingga suara Balin terdengar.



“Maaf jika mengganggu perbincangan ini. Tetapi bagaimana dengan anggota kelompok satunya?”



Ganendra, Sadana dan Putri Nalini hampir lupa dengan satu orang yang disebutkan. Tidak lama kemudian, seorang pria dengan langkah tenang menghampiri kelompok Ganendra.



“Akulah kelompok terakhir di sini.” ucap seseorang dengan suara berat.



Tepat di depannya, Ganendra melihat seorang pria dengan tubuh berotot. Mimik wajah datar. Rambutnya panjang tergerai sebahu dan diikat sedikit dibagian atasnya. Ekspresi wajahnya terlihat keras. Ganendra memperkirakan usianya sekitar 40an. Tidak bisa dibilang muda lagi. Sadana sebagai pemimpin menghampiri pria tersebut.



“Selamat datang di kelompok kami. Namaku Sadana dari Desa Medangwantu.”



Lalu melanjutkan memperkenalkan anggota kelompok yang lain.


__ADS_1


“Wanita yang berdiri di sebelah sana adalah Putri Nalini. Putri Yang Mulia Raja Sri Mahadana dari Kerajaan Ayodya.”



Lanjut Sadana lagi, “pria yang bertubuh tambun itu bernama Balin dari Desa Karanglengki. Sedang pria….”



Sebelum melanjutkan kalimatnya, Ganendra sudah memperkenalkan dirinya.



“Yooo… namaku Ganendra. Bisa dikatakan aku bukan berasal dari dunia ini.”



Pria yang merupakan anggota terakhir langsung berucap.



“Parama.”



*Sosok Parama


Ganendra langsung melongo. Parama tipe seseorang yang tidak banyak bicara.



“Sebaiknya kita segera masuk hutan dan bertanding dengan Ksatria lain.” ucap Parama sembari berjalan menuju hutan.



Putri Nalini langsung berkomentar, “sungguh pria dengan aura yang aneh.”



Sedangkan Ganendra dan Balin saling menepuk bahu Sadana.



“Siapa yang sebenarnya memimpin di sini?” tanya Ganendra dan Balin bersamaan.



Sadana hanya nyengir kuda. Nasibnya sungguh malang. Kenapa harus mendapatkan kelompok macam mereka. Tidak lama kemudian, Sadana dan yang lain berjalan menyusul Parama. Memasuki hutan karena latih tanding diadakan di dalam hutan.



Parama berjalan di depan dengan mata seperti elang yang tajam. Menatap setiap sisi hutan. Sedangkan Sadana berjalan bersama Ganendra dan Balin. Di tengah Putri Nalini berjalan sendirian dengan melihat sekeliling.



“Aku rasa pria yang di depan sana sangat aneh.” kata Ganendra.



Balin membenarkan ucapan Ganendra.




Tanpa mereka sadari sebuah bayangan hitam yang bersembunyi di balik pepohonan tersenyum menyeriangi. Ganendra dan yang lain tidak menyadari. Mereka barusan melewati sebuah ukiran di tanah berbentuk aksara yang mengeluarkan asap hitam.



Semakin lama, langkah kelompok Sadana memasuki hutan bagian dalam. Tetapi sampai saat ini mereka tidak bertemu Ksatria lain yang menjadi lawan tanding. Semakin masuk ke dalam perasaan aneh mulai mereka rasakan. Udara semakin lembab. Hawa dingin tiba-tiba menyergap. Sadana menyadari ada sesuatu yang aneh.



“Berhati-hatilah kalian, sepertinya ada yang aneh dengan hutan ini.”



Tiba-tiba sebelum menyadari apa yang terjadi. Sebuah rauangan keras terdengar tidak asing.



**Roaaar*rr*!!!



Benar saja, di sana banyak Ditya bermunculan dari balik pepohonan. Sadana memerintahkan yang lain untuk bersiaga.



“Hiiiii mereka menjijikkan.” ucap Putri Nalini bersembunyi di balik punggung Sadana.



Balin merapat dengan Ganendra. Mereka bersiap melawan. Tetapi tiba-tiba….



Srat!



Srat!!



Hanya dalam hitungan detik, para Ditya terkapar tak berdaya. Rupanya Parama dengan gerakan cepat menebas semua Ditya dengan pedangnya. Semua orang terbelalak tak percaya. Parama begitu hebat. Hanya dalam sekali serangan langsung menumbangkan para Ditya.



“Waah, orang bernama Parama itu berapa ya tingkatannya?” tanya Balin yang penasaran.



“Tingkat ke tujuh.” jawab Parama yang sepertinya mendengar ucapan Balin.



Berarti tingkatannya sama dengan Sadana. Sadana yang sedari tadi mengamati. Merasa bahwa Parama lebih kuat darinya. Meski berada di tingkatan yang sama. Putri Nalini yang melihat Parama sekuat ini langsung mendekati.


__ADS_1


“Kau sungguh hebat. Jika kau bisa mengajari dan melindungiku. Aku akan memberikanmu banyak kepingan emas.”



Tetapi Parama hanya diam dan memilih meninggalkan tempat itu. Melihat dirinya diabaikan membuat Putri Nalini kesal.



“Sepertinya dia jauh lebih kuat darimu.” ucap Ganendra sembari menyenggol bahu Sadana.



“Justru itu bagus.” balas Sadana lantas berjalan mengikuti Parama.



“Wah, sepertinya ini akan sangat menarik. Benar kan Balin?” tanya Ganendra sambil melangkah pergi menyusul yang lain.



“Tentu saja.” balas Balin dan melangkah dengan riang.



Saat mereka berjalan menyusuri hutan. Lagi-lagi terdengar suara rauangan para Ditya. Mereka bersiaga.



Roaaar!!!



Para Ditya kembali bermunculan. Kini giliran Sadana yang tampil. Gerakannya cepat seperti kilat. Kapaknya berputar di udara.



Srat!


Srat!!


Kapak milik Sadana melayang mencari mangsa. Salah satu Ditya terpenggal kepalanya dan terbentur ke pohon. Kapak Sadana membantai habis semua Ditya. Balin bersorak kegirangan mengakui kehebatan Sadana. Sadana tersenyum dan menatap Parama. Akan tetapi Parama tidak menunjukkan ekspresi apapun dan memilih meneruskan perjalanan.



Ganendra langsung menghampiri Sadana.



“Uhhh, sepertinya dia bukan orang yang bisa ditebak. Kau mendapatkan saingan berat.”



“Tidak masalah bagiku. Justru akan menyenangkan. Melihat banyak Ksatria Saka tangguh. Kau juga harus bisa menaikkan tingkatanmu.”



Ganendra mendecih, “aku pasti akan segera menyusul tingkatanmu.”



Balin mengekor di belakang mereka. Lantas berjalan bersama Ganendra dan Sadana.



“Hei!!! Dasar kalian! Kenapa mengabaikanku! Aku ini seorang putri raja. Dasar para pria menyebalkan!” pekik Putri Nalini sembari berlari menyusul yang lain.



Parama yang berjalan di depan menghentikan langkahnya. Merasakan raungan suara Ditya. Benar saja, tak lama kemudian para Ditya muncul kembali.



“Biar aku saja.” ucap Ganendra . Lantas melangkah ke depan.



Berusaha berkonsetrasi dan mempraktekkan apa yang sudah dia pelajari. Menyalurkan tenaga dalam di tangan kiri. Salah satu Ditya melayangkan cakarnya. Ganendra sigap menghindar dan memukul kepala Sang Ditya.



Blaar!!!



Bukan kepala Sang Ditya yang pecah melainkan tubuh Ganendra terpental menubruk pohon. Suara tawa ejekan keluar dari mulut Putri Nalini. Tanpa banyak berkata Parama segera menghunuskan pedang dan dengan gerakan secepat kilat. Dia menghabisi semua Ditya. Salah satu Ditya bahkan sampai tertancap di pohon karena lemparan pedang Parama yang bertenaga. Tubuh Ditya pun menghilang. Parama segera mencabut pedangnya yang tertancap. Akan tetapi matanya seketika terbelalak. Menatap sesuatu.



Sadana dan Balin sedang membantu Ganendra yang masih kesakitan karena tubuhnya membentur pohon. Hingga terdengar suara Parama dengan keras.



“Berhati-hatilah semua! Sepertinya kita hanya berputar di tempat yang sama.”



Semua orang terkejut. Lalu mendekat ke arah Parama. Sadana memperhatikan pohon yang dilihat oleh Parama. Di pohon tersebut terdapat sebuah goresan yang cocok dengan kapak miliknya.



“Ti…tidak…mungkin.” ucap Sadana.



“Ada apa sebenarnya?” tanya Ganendra.



“Kita berputar di tempat yang sama. Lihatlah bekas kapak di pohon ini. Bukankah tadi kepala Ditya yang aku lawan sempat tertancap dengan kapak milikku di sebuah pohon.”



Ganendra dan Balin terperanjat. Melihat hutan disekitarnya tampak aneh. Hingga terdengar suara Putri Nalini.



“Tolong! Tolong aku!!!” pekiknya keras.


__ADS_1


Ganendra dan yang lain sempat melihat Putri Nalini diculik bayangan hitam dan melesat dengan cepat menghilang dalam kegelapan.


__ADS_2