
Dikejar waktu, itulah yang dirasakan Ganendra. Dia harus menyelamatkan dua orang sekaligus. Entah bagaimana nasib Putri Nalini saat ini. Ganendra berharap, Sang Putri dapat bertahan.
Di Pancapratala, lapisan tanah ke lima.
Putri Nalini, tertidur di dalam sebuah kamar. Tangan tajam dengan cakarnya yang panjang membelai wajahnya lembut. Perlahan Putri Nalini membuka mata. Dia langsung berjingkat manakala melihat Ditya Kalandaru sedang menatapnya dengan instens. Sang Putri mundur dan bersandar di sudut dinding kamar. Dia menatap Ditya Kalandaru dengan tatapan ngeri.
“A…apa yang kau lakukan padaku? Jangan coba-coba menyentuhku!” teriak Putri Nalini.
Dia bersiap menyalurkan tenaga dalam di kakinya. Bersiaga jika sewaktu-waktu Ditya Kalandaru memangsanya.
Ditya Kalandaru, hanya mengulas senyum tipis. Lantas duduk di pinggir ranjang.
“Apa kau sekarang tidak menyukaiku, karena wajahku berubah jelek seperti ini? Nalini…..” ucap Ditya Kalandaru dengan suara perlahan.
Mendengar namanya dipanggil dengan nada suara seperti itu. Serasa tidak asing di telinganya. Lantas Ditya Kalandaru mengeluarkan kelat bahu dari balik ikat pinggangnya. Mata Nalini seketika terbelalak.
Flashback
Dahulu kala, Sri Mahadana mengangkat seorang putra bernama Dananjaya. Dananjaya menunjukkan kecakapannya menjadi seorang Ksatria Saka. Dananjaya dan Putri Nalini tumbuh bersama sejak kecil. Hingga benih cinta tumbuh diantara keduanya.
“Kakang, kelat bahu ini adalah bukti bahwa cintaku hanya untukmu.” kata Putri Nalini sembari bersandar di bahu Dananjaya.
Sebuah kelat bahu terbuat dari emas murni, dihadiahkan pada Dananjaya. Pria muda itu tersenyum dan menggenggam tangan Putri Nalini.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Dananjaya adalah seorang pria ambisius yang menginginkan kekuatan lebih hebat lagi. Saat itulah Kalimakara datang. Menawarkan persekutuan dan berjanji memberikan Dananjaya kekuatan yang diinginkan. Tetapi kekuatan itu hanya bisa didapatkan. Jika Dananjaya mau diubah menjadi seorang Ditya. Dananjaya yang menginginkan kekuatan lebih. Menyetujui hal itu dan pada akhirnya berubah menjadi Ditya Kalandaru.
Flashback End
Putri Nalini menatap tak percaya. Bahwa pria yang pernah dicintainya dahulu, telah berubah menjadi seorang Ditya. Putri Nalini hanya menutup mulutnya.
Hingga terdengar suara Ditya Kalandaru, “tetapi aku tidak perduli pendapatmu tentangku. Sebaiknya kau membantuku dengan menjadi wadah kelahiran Ditya. Jika benihku tertanam dirahimmu. Maka benih Ditya yang bercampur dengan darah seorang putri sepertimu. Maka akan melahirkan Ditya yang unggul Ha!Ha!Ha!”
Putri Nalini tidak lagi mengenali pria yang pernah dicintainya ini. Dahulu, dimatanya seorang Dananjaya adalah pria yang baik.
“Aku tidak akan sudi. Menjadi wadah kelahiran Ditya. Lebih baik kau bunuh saja aku!” teriak Putri Nalini dengan lantang.
“Ha!Ha!Ha! aku tidak membutuhkan persetujuanmu.”
__ADS_1
Suara tawa Ditya Kalandaru bergema di dinding-dinding yang terbuat dari tanah. Hingga terdengar suara keras di telinganya.
“Woi! Ditya jelek! Keluarlah! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan!”
Putri Nalini mengenali suara itu. Suara itu berasal dari…
“Ganendra!” panggil Putri Nalini keras. Dia hendak melangkahkan kakinya.
Tetapi Ditya Kalandaru menahan tangannya.
“Kau tidak akan kemana-mana!”
Slap!
Sebuah pukulan tepat mengenai bahu Putri Nalini. Membuatnya tak sadarkan diri. Ditya Kalandaru lantas menidurkannya di ranjang. Setelah itu terdengar, Sang Ditya menggeram berkali-kali. Sebuah sinar hitam mengelilingi tubuhnya dan membawa Ditya Kalandaru keluar dari Pancapratala.
Di tempat di mana tempo hari Ditya Kalandaru mengajak Ganendra melakukan pertukaran. Balin terlihat ketakutan.
“Ganendra, kenapa kita malah ke sini? Apa kau akan menantang Ditya Kalandaru?”
Disaat bersamaan Ditya Kalandaru muncul di sana. Menggeram dengan suara yang menakutkan.
“Beraninya kau berteriak dan menggangguku! Apa kau ingin mengantarkan nyawa? Ha!Ha!”
“Hemm, sejujurnya tidak. Aku mencarimu karena ada dua hal penting.” ucap Ganendra.
“Katakan dengan segera.”
“Bagaimana dengan Nalini? Kau tidak menjadikannya sebagai makanan bukan?”
Terdengar suara tawa keras dari Ditya Kalandaru.
“Pikiran picik macam apa itu. Akan aku beritahu kabar gembira. Putri Nalini akan ku jadikan wadah kelahiran Ditya. Aku akan menanamkan benih di rahimnya Ha!Ha!”
“Hiiiii…..ba…bagaimana ini?” tanya Balin pada Ganendra tak dapat membayangkan Putri Nalini akan dijadikan wadah.
Ganendra mengepalkan tangannya erat. Dia sungguh kehabisan waktu jika seperti ini.
__ADS_1
“Lalu katakan apa hal kedua?”
Seulas senyum tersungging di sudut bibir Ganendra.
“Apa kau tahu tentang Tirta Amerta? air keabadian milik para dewa. Aku mengetahui ada sebuah prasasti batu yang memberikan rincian di mana tirta amerta.”
Ditya Kalandaru mendengarkan dengan seksama. Memang benar adanya. Jika tirta amerta dapat memberikan keabadian bagi yang meminumnya. Pikiran Ditya Kalandaru mulai melayang. Ditangannya sudah ada Bunga Wijayakusuma dan Putri Nalini. Jika ditambah mendapatkan tirta amerta, maka tidak salah lagi. Dia akan kekal abadi dan memiliki kekuatan melebihi dewa.
“Lalu?” tanya Ditya Kalandaru.
“Aku bertemu dengan Ditya Gorawangsa. Dia memintaku mencari kepingan prasasti batu yang hilang. Aku rasa dia ingin menguasai tirta amerta itu sendirian. Mengingat, dia malah memintaku mencarinya. Bukan kau yang disuruh olehnya.” jawab Ganendra melempar umpan.
Ditya Kalandaru kembali menggeram.
“Apa kau tahu, Kalimakara? Rupanya dia yang menyimpan kepingan prasasti batu yang hilang. Aku rasa dia juga ingin menguasai tirta amerta itu sendirian. Melihat reaksimu, sepertinya hal itu juga dirahasiakan darimu.” lanjut Ganendra menggunakan kelihaiannya sebagai seorang penipu ulung di dunianya.
“Kurang ajar!!! Akan aku habisi kalian!” Ditya Kalandaru menggeram keras.
Lantas berubah menjadi sinar hitam dan pergi entah ke mana. Ganendra segera mengajak Balin mencari jalan masuk ke Pancapratala. Mungkin saja ada di sekitar sana. Mengingat Ditya Kalandaru muncul di sana.
Ditya Kalandaru langsung melesat ke Gowa Barong. Gowa Barong merupakan istana Ditya Gorawangsa.
“Ditya Gorawangsa! Keluarlah! Kau sama saja dengan Kalimakara. Dasar mau menang sendiri!” teriak Ditya Kalandaru dengan keras.
Tidak lama kemudian, Ditya Gorawangsa keluar. Wajahnya tak kalah sangar.
“Kurang ajar! Ditya campuran tak tahu diuntung! Kau juga ingin menang sendiri. Mendapatkan Bunga Wijayakusuma secara diam-diam. Sekarang kau juga ingin mendapatkan Tirta Amerta sendirian?!”
Roaaar!!!!
Keduanya lantas bertarung satu lawan satu. Membuat tanah di sekelilingnya bergetar. Pertarungan dua Ditya yang memiliki kekuatan tak biasa menggoncang hutan di sekitarnya. Tak jauh dari sana Soma dan Parama mengawasi. Keduanya lantas melempar senyum dan menganggukkan kepala.
Tidak lama kemudian, mereka meninggalkan tempat itu. Setelah melihat Ditya Kalandaru dan Ditya Gorawangsa saling bertarung. Strategi yang dilakukan Ganendra terbukti ampuh. Sebelum ke tempat Ditya Kalandaru. Dia kembali ke Medangwantu. Meminta Soma dan Parama menemui Ditya Gorawangsa. Mengatakan yang sama persis dengan apa yang dikatakannya pada Ditya Kalandaru.
Sedikit demi sedikit Ganendra mulai memahami. Semenjak membaca prasasti batu yang ada di Luweng Braholo. Kaum Ditya masih mengejar tirta amerta yang dapat memberikan keabadian hingga sekarang ini. Sebenarnya Ganendra tidak tahu apakah triknya ini akan berhasil. Mengingat dia belum sepenuhnya mengenal Ditya Kalandaru dan Ditya Gorawangsa.
Tetapi apapun caranya akan dia lakukan. Untuk menyelamatkan teman-temannya. Termasuk menggunakan strategi adu domba.
__ADS_1