
Ganendra bertekad, apapun akan dia lakukan untuk menyembuhkan Sadana. Menyelamatkan Putri Nalini dari Ditya Kalandaru. Cara apapun dia tempuh termasuk pergi menemui Ditya Gorawangsa ditemani Balin. Ganendra berkoar-koar hendak menantang Sang Ditya. Ditya Gorawangsa yang mendengar tantangan Ganendra, segera keluar dari tempat persembunyiannya.
“Khukhukhu….berani sekali kau datang menantangku? Apa kau ingin mengantarkan nyawa?”
Balin yang mendengar suara Ditya Gorawangsa langsung bersembunyi di balik pohon. Dia merasa ketakutan.
Berbeda dengan Ganendra. Tanpa rasa takut, dia menghadapi Sang Ditya, “aku datang kemari untuk memintamu mencabut Yantra Pengasrepan pada temanku.”
Mendengar permintaan Ganendra. Membuat Ditya Gorawangsa tergelak. Baru kali ini ada manusia yang memiliki nyali seperti Ganendra.
“Hemm biar aku pikirkan….”
“Benarkah? Jika begitu cepatlah cabut yantramu.”
Ditya Gorawangsa semakin terkekeh.
“Apa menurutmu aturan dunia semudah itu? kau meminta dan kau mendapatkannya? Huahahaha!!!”
Ganendra berusaha menahan emosinya. Bagaimanapun caranya dia harus menyelamatkan Sadana dan Putri Nalini.
“Aku mengerti. Ada harga yang harus aku bayar. Apa aku perlu berlutut padamu? atau kau menginginkan nyawaku? Akan aku berikan.”
“Bwahahaha!!! Kau sungguh punya nyali Ksatria Saka rendahan.”
“Katakan saja apa yang harus aku lakukan. Silahkan hina aku sesukamu.” balas Ganendra menatap Ditya Gorawangsa tajam.
“Kau anak muda yang menarik. Baiklah…. Aku akan mencabut Yantra Pengasrepan. Tetapi lakukan satu hal untukku.”
“Katakan, apapun itu akan aku lakukan.”
Ditya Gorawangsa terkekeh dan menyeriangi dengan licik.
Flashback
Mendung pekat kembali menggelayut di benak Ganendra. Masalah demi masalah dia hadapi. Tatapan matanya nanar menatap ke arah Sadana. Tubuh Sadana masih menggigil. Dia tak dapat merespon apapun. Kondisinya sekarat saat ini. Semua orang merasa terpukul karena kegagalan mendapatkan Bunga Wijayakusuma. Sekaligus kehilangan Putri Nalini.
Ganendra hanya bisa meluapkan amarahnya dengan memukul batu. Terkadang memukul pohon. Tidak diindahkan luka dan rasa sakit di jemari tangannya. Benar apa yang dikatakan orang-orang, dia adalah orang yang tidak berguna sama sekali.
Kini pukulan tangannya kembali melayang. Hendak memukul sebuah pohon. Tetapi seseorang dengan sigap menahannya.
“Kakang Gane, hentikan….” suara isak tangis seseorang membuat Ganendra berhenti.
Dia menoleh ke arah sumber suara. Rupanya suara itu berasal dari gadis kecil bernama Kemuning. Ganendra menatap Si kecil Kemuning. Kemudian berjongkok supaya tingginya sejajar dengan gadis itu.
“Kenapa kau di sini?” tanya Ganendra sembari mengelus rambut gadis yatim piatu itu.
Kemuning telah kehilangan orang tuanya. Akibat serangan Ditya yang menewaskan mereka.
“Kakang pasti sedih bukan?” tanya Kemuning diiringi isak tangis.
__ADS_1
Ganendra mengulas senyum tipis.
“Aku hanya marah karena merasa tidak berguna.” jawab Ganendra dengan raut wajah sedih.
Kemuning memegangi tangan Ganendra. Meniup lukanya supaya tidak perih.
“Kakang, apa kau tahu apa makna dibalik namamu?”
Ganendra menggelengkan kepala.
“Di Siwaratri, Ganendra memiliki arti pasukan dewa. Ayah dan ibumu memberikan nama itu pasti bukan tanpa alasan. Aku yakin kakang akan menjadi Ksatria Saka hebat nantinya. Bukan masalah berguna tidak berguna. Tetapi bagaimana kamu tumbuh menjadi kuat dan dapat mengatasi ini. Berani bertarung melawan para Ditya. Bukankah itu arti namamu sebagai pasukan dewa?”
Mendengar ucapan Kemuning. Membuat Ganendra terpengarah. Gadis kecil ini memiliki pemikiran yang bijak. Entah bagaimana, tekad kembali tumbuh dalam dirinya. Keinginan menyelamatkan teman-temannya, karena mungkin itu lah arti nama yang diberikan orang tuanya dahulu. Menjadi pasukan dewa yang memberantas angkara murka.
“Wah, gadis kecil. Kau sungguh bijaksana.” tiba-tiba Balin datang dengan senyum lebar.
Mengacungkan kedua jempolnya pada Kemuning.
“Tetapi, sekarang aku tidak tahu. Bagaimana cara mengatasi masalah ini.” ucap Ganendra tertunduk lesu.
Balin berpikir sejenak. Seolah otaknya yang kecil juga ikut berpikir. Sedetik kemudian…
“Aha!!! Aku tahu jalan keluarnya.” ucap Balin dengan senyum lebar.
“Katakan, apa itu?”
“Kita temui saja Ditya Gorawangsa dan memintanya mencabut Yantra Pengasrepan.”
“Hei! Apa kau sudah gila. Menurutmu Ditya jelek itu akan tersenyum. Lalu dengan mudah mencabut yantranya?”
Balin mengelus kepalanya yang sakit. Kemuning malah tertawa mendengar usulan Balin.
“Tetapi, saat ini hanya itu jalan keluarnya. Kita tidak mungkin menantang Ditya Kalandaru. Setidaknya jika kita menemui Ditya Gorawangsa. Kita bisa melakukan kesepakatan apapun itu.”
Mendengar ‘kata kesepakatan’ membuat Ganendra tersadar.
“Benar juga. Ditya Gorawangsa tidak seperti Ditya lain yang hanya mengacau lalu memangsa manusia. Pasti dia memiliki otak untuk berpikir.”
Balin menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kita temui Ditya Gorawangsa. Tapi bagaimana cara mencarinya? Sedangkan kita tidak mengetahui di mana keberadaannya.”
Balin kembali berpikir sejenak.
“Mungkin kita bisa pergi ke hutan, gunung, atau goa. Lalu kau teriak saja, memanggil nama dan menantangnya bertarung. Mungkin saja dia akan mendengar.”
Meski usulan dari Balin terdengar tidak masuk akal. Tetapi segala cara harus dilakukan. Ganendra kemudian mengajak Balin mencari keberadaan Ditya Gorawangsa.
Flashback End
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Ganendra pada Ditya Gorawangsa.
“Khukhukhu….itu mudah. Bawakan aku pecahana prasasti batu yang sama dengan prasasti di Luweng Braholo.”
Ganendra diam sejenak.
Jadi Ditya Gorawangsa ingin mencari tahu mengenai Tirta Amerta? tanya Ganendra dalam hati.
Ganendra kembali teringat. Prasasti batu yang dia baca di Luweng Braholo memang belum lengkap. Ada bagian prasasti yang hilang.
“Tetapi bagaimana, aku mengetahui di mana keberadaan prasasti batu itu. Jika aku tidak bisa melacak jejaknya?”
Ditya Gorawangsa kembali terkekeh.
“Kau hanya perlu mencurinya dari seseorang.”
“Mencuri adalah keahlianku. Tetapi siapa dan dimana sasarannya?” tanya Ganendra yang menyombongkan diri. Mengingat dia dahulu adalah seorang penipu ulung.
“Pecahan prasasti batu itu dibawa seseorang yang bernama Kalimakara. Kau pasti sudah tidak asing dengan nama itu bukan? Dia berada di Punthuk Songo.” Ditya Gorawangsa kembali terkekeh.
Ganendra semakin terkejut.
"Ada apa ini sebenarnya. Kenapa Ditya Gorawangsa tidak mau mengambilnya sendiri. Apa Kalimakara sekuat itu?" Ganendra hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Baiklah, aku akan mengambil prasasti batu itu. Tetapi tepatilah janjimu.”
“Huahahahaha!!! Ditya Gorawangsa adalah raja para Ditya. Aku akan menepati janji. Jika kau berhasil membawakanku prasasti batu.”
Suara tawa menggema terdengar membahana. Kemudian menghilang bersama sinar hitam yang mengelilingi tubuh Ditya Gorawangsa. Balin keluar dari balik pepohonan. Setelah mengetahui Ditya Gorawangsa sudah pergi.
“Ganendra, bagaimana ini? siapa itu Kalimakara?”
Ganendra diam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.
“Masalahnya sekarang, di mana itu Punthuk Songo?” tanya Ganendra pada Balin.
“Ehmmm, dahulu aku pernah mendengar dari sesepuh desa. Punthuk Songo terletak di hutan tergelap di Swastamita. Tempat berkumpulnya aura kegelapan. Tempat yang tidak bisa dijamah sembarangan. Apalagi oleh manusia. Bisa mati dimakan Sang Kegelapan.”
Ganendra lantas diam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Kemudian, dia mengajak Balin melanjutkan perjalanan.
“Ganendra, apa kau sungguh yakin akan ke Punthuk Songo? Ohhh astaga, aku salah memberikanmu saran. Jika seperti ini sama saja mengantar nyawa.” Balin mulai merengek.
“Siapa yang mengatakan aku akan ke Punthuk Songo?”
Seulas senyum tersungging di sudut bibirnya. Lalu melanjutkan perjalanan. Balin yang mengekor di belakang Ganendra bertanya-tanya. Kemanakah mereka pergi? Jika bukan ke Punthuk Songo.
“Hei…Ganendra, sebenarnya kita akan kemana?”
“Ikut saja…”
__ADS_1
Ganendra terus berjalan menuju suatu tempat. Tetapi yang jelas arah tujuannya bukan ke Punthuk Songo. Dia menyadari, Kalimakara adalah orang yang tangguh. Tidak mungkin dia melawan atau mencuri sesuatu dari pria bertopeng kelana itu. Jadi, satu-satunya cara adalah…..