Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Kemarahan Kalimakara


__ADS_3

Pertarungan Ditya Kalandaru melawan Ditya Gorawangsa berlangsung sengit. Keduanya saling berbalas serangan. Ditya Gorawangsa merapal Yantra Pengasrepan. Di sisi lain, Ditya Kalandaru menangkis dengan Yantra Welut Putih. Kekuatan mereka hampir setara.


Tanah di sekitarnya bergetar. Tatkala keduanya beradu kesaktian. Pohon-pohon tumbang, angin rebut karena keduanya mengeluarkan yantra andalannya.


“Aku akan menebas kepalamu! Roaaar!!!” raung Ditya Gorawangsa.


“Jangan harap! Aku lah yang akan ******* jantungmu!”


Keduanya bersiap dengan serangan berikutnya. Mereka melompat ke udara. Ditya Kalandaru maupun Ditya Gorawangsa bersiap dengan pukulan penuh tenaga.


“Hyaaa!!!”


Sebelum adu kekuatan tangan mereka bertemu. Sekelebat bayangan melesat melebih kilat. Kedua tangannya langsung menghantam ke dua Ditya.


Blar!!!


Kedua Ditya meraung kesakitan dan tersungkur ke tanah. Mereka meringis kesakitan dan bergegas bangkit berdiri.


“Kurang ajar! Siapa yang berani memukul seorang Ditya Gorawangsa!”


Ditya Kalandaru ikut menyahut, “aku akan membunuh siapa yang berani menghantamku seperti ini!”


Tidak berselang lama, dari balik kabut hitam. Seseorang mengenakan topeng kelana berwarna merah berdiri di sana. Dari balik topengnya, kemarahan terlukis dari wajahnya.


“Kalimakara?!!!” geram Ditya Kalandaru dan Gorawangsa bersamaan.


Keduanya lantas malah menyerang Kalimakara yang dianggap juga ingin menang sendiri. Ditya Kalandaru maju menggunakan gada Lukitasari miliknya. Ditya Gorawangsa menggunakan Yantra Pengasrepan. Tetapi sebelum keduanya sempat melancarkan serangan. Kalimakara mendahului dengan menggunakan yantra serangan miliknya.


"Yantra Angrok!"


Sekejap mata tubuh, tubuh kedua Ditya diselimuti sinar hitam. Tubuh mereka tak dapat digerakkan. Yantra angrok milik Kalimakara mengendalikan tubuh Ditya Kalandaru dan Ditya Gorawangsa. Keduanya meraung-raung, lehernya seolah tercekik.


Dari balik topeng Kalimakara, seulas wajah penuh amarah diiringi tatapan tajam.


"Dasar Ditya bodoh! Bisa-bisanya kalian diperdaya oleh seorang Ksatria Saka tingkat rendah!"


"A.. Ampun!!!" teriak Ditya Kalandaru dan Gorawangsa bersamaan.


"Yantra Candrasa Brama!" teriak Kalimakara.


Pedangnya diselimuti api yang berkobar dan dalam hitungan detik...


Srat!


Srat!


...****************...


Di gerbang Pancapratala.


Beberapa Ditya menghadang Ganendra, Parama, Balin dan juga Soma. Mereka bahu membahu bekerja sama demi menyelamatkan Sadana dan Putri Nalini.

__ADS_1


Roarrr!


"Hyaaa!" teriak Ganendra dan kawan-kawan.


Ganendra merengsak ke depan. Menundukkan kepalanya saat Ditya menyerang. Kemudian memberikan bokem mentah tepat mengenai dada Sang Ditya.


Biar!


Tubuh salah satu Ditya terjungkal. Meski Ganendra hanya menggunakan tangan kirinya. Tetapi dia cukup pandai dalam bertarung. Disusul Balin yang berada di belakang Ganendra. Dia menggunakan kepalanya untuk menghantam tubuh Ditya.


Duak!


Duak!


Soma tak kalah unjuk gigi. Dia melompat ke udara. Mengambil anak panah di punggungnya. Membentangkan busur dan melepaskan anak panah tepat mengenai beberapa Ditya sekaligus. Para Ditya tewas seketika.


Srat!


Srat!


Parama tak kalah garang, dia menyabetkan pedang miliknya. Tak ayal kepala Ditya terlepas dari badan. Darah hitam bercampur dengan tumpukan mayat Ditya lainnya terlihat bergeletakan di depan gerbang Pancapratala.


"Ganendra, cepat cari Gusti Putri Nalini." perintah Parama.


"Ta.. Tapi... Bagaimana dengan kalian?" tanya Ganendra.


"Serahkan pada kami!" balas Soma yang masih sibuk melepaskan anak panahnya.


"Benar... Serahkan pada kami." ucap Balin sambil menggunakan kepalanya menjatuhkan para Ditya.


Ganendra masuk ke dalam Pancapratala. Dia di hadang beberapa Ditya. Ganendra meliuk-liukkan tubuh. Kemudian menghantam dengan tangan kirinya. Satu Ditya roboh. Tetapi masih ada Ditya lain yang menyerangnya. Dua Ditya mengayunkan cakar. Ganendra melompat ke udara dan memberikan tendangan memutar.


Duak!


Duak!


Dua Ditya tadi jatuh terjerembab. Kini setelah mencapai tingkatan Ksatria Eka membuat Ganendra bisa memukul Ditya. Berbeda sebelum dia mencapai tingkatan itu, Ganendra bahkan tak bisa membuat Ditya bergeming.


Beberapa Ditya kembali mengeroyok. Tetapi Soma dengan cepat menolong Ganendra. Menggunakan anak panahnya dengan lihai. Menembus tubuh Ditya.


"Ganendra! Sebaiknya kita berpencar." ucap Soma.


Ganendra mengangguk, mereka berpencar sambil melayangkan serangan ke Ditya yang menghadang.


"Nalini! Nalini! Di mana kau?!" teriak Ganendra.


Dia berjalan dan terus mencari sembari memukul atau menendang Para Ditya yang menghadang.


Di sebuah kamar..


Putri Nalini yang terbaring tak sadarkan diri, mulai membuka mata dengan perlahan. Bahunya terasa sakit akibat pukulan Ditya Kalandaru. Samar-samar dia mendengar suara seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Nalini! Nalini! Di mana kau? Apa kau masih hidup?"


Suara itu tak asing bagi Putri Nalini.


"Ga.. Ganendra..." ucapnya lirih.


Putri Nalini berusaha bangkit. Dia berjalan menuju pintu keluar. Tetapi gerakan tubuhnya masih lunglai. Dia masih belum bisa bergerak bebas.


"Ga.. Ganendra!" Putri Nalini berusaha memanggil Ganendra dengan sekuat tenaga.


Ganendra yang kebetulan tak jauh dari kamar tempat keberadaan Putri Nalini. Dia mendengarkan dengan seksama.


"Nalini?" gumam Ganendra sendirian.


"Nalini?! Di mana kau?!" teriak Ganendra dengan lantang.


Sekali lagi terdengar suara Putri Nalini yang tak jauh dari sana. Ganendra bergegas ke sana setelah sebelumnya memukul salah satu Ditya yang menghadangnya. Saat mengikuti arah sumber suara Putri Nalini. Ganendra masuk ke kamar tersebut.


"Nalini?!" panggil Ganendra.


Dia langsung menghampiri dan membawa Putri Nalini bersandar di bahunya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ganendra kelihatan cemas.


Putri Nalini mengangguk.


"Kita harus segera keluar dari sini." ajak Ganendra sembari memapah Sang Putri.


Tetapi sebelum melangkah, Putri Nalini menunjuk sebuah peti.


"Bu... Bunganya..." ucap Putri Nalini terbata.


Sebelum Putri Nalini tak sadarkan diri. Dia sempat melihat Ditya Kalandaru menyimpan Bunga Wijayakusuma di sebuah peti.


Ganendra tanggap dan bergegas mengambil Bunga Wijayakusuma yang disimpan di peti. Soma yang sudah menewaskan beberapa Ditya segera menyusul.


"Ganendra sebaiknya kita segera keluar. Jangan sampai Ditya Kalandaru kembali."


Ganendra mengangguk dan segera memapah Putri Nalini. Parama dan Balin masih menghadapi para Ditya.


"Kakang Parama, kita sudah menemukan Bunga Wijayakusuma dan Putri Nalini."


Parama dan Balin mengangguk. Mereka bersiap mundur. Tidak lama berselang, sebuah sinar hitam melesat masuk ke Pancapratala. Sinar hitam berubah menjadi Ditya Kalandaru, Ditya Gorawangsa dan di susul Kalimakara. Melihat istananya tinggal yang porak poranda. Membuat Ditya Kalandaru menggeram hebat.


"Kurang ajar!!! Akan ku bunuh kalian semua!!" teriak Ditya Kalandaru.


Telinga kanannya terpotong oleh Kalimakara. Begitu juga dengan Ditya Gorawangsa.


Di satu sisi, Ganendra dan kawan-kawan berhasil keluar Pancapratala tepat waktu. Mereka bergegas kembali ke Medangwantu. Ganendra yang sudah sampai di Medangwantu segera memberikan Bunga Wijayakusuma pada Buyut Wengkeng.


Tubuh Sadana mulai tidak dapat bertahan. Buyut Wengkeng segera mengheningkan cipta. Meminta dewa memberikan anugerah untuk menyembuhkan Sadana. Kemudian meletakkan Bunga Wijayakusuma di tubuh Sadana. Seberkas cahaya putih menyelimuti tubuh Sadana.

__ADS_1


Bunga Wijayakusuma memberikan khasiatnya. Mematahkan yantra pengasrepan Ditya Gorawangsa. Perlahan tetapi pasti. Tubuh Sadana tidak lagi menggigil. Matanya terbuka. Semua orang ikut bergembira. Termasuk Ganendra yang merasa sangat lega. Tidak terjadi apa-apa dengan Sadana.


Akan tetapi di sisi lain Ditya Kalandaru merasakan amarah yang membuncah. Dia bersumpah akan membalas kekalahannya kali ini.


__ADS_2