Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Pengkhianatan


__ADS_3

Bersamaan dengan serangan Ditya Gorawangsa di istana Kerajaan Ayodya. Di desa Medangwantu juga mengalami hal serupa. Beberapa Ditya tiba-tiba bermunculan. Penduduk desa lari tunggang langgang menyelamatkan diri.



*Roaar*!!!



*Srat*!



Salah satu Ditya berhasil menangkap salah satu penduduk desa. Mematahkan tangannya. Kemudian memakan dengan lahap. Tidak hanya satu penduduk, beberapa penduduk telah menjadi korban keganasan para Ditya.



Mendengar serangan beberapa Ditya, Sadana dan Ksatria Saka lain bergegas menghalau serangan. Tak terkecuali Ganendra. Ganendra begitu bersemangat dalam pertarungan. Rasa percaya dirinya mulai tumbuh. Meski masih belum begitu mahir menggunakan tombak dengan tangan kirinya.



“Gusti Putri Nalini…. Balin…..bantu amankan penduduk desa!” perintah Sadana sembari mengayunkan kapak menebas kepala salah satu Ditya.



Putri Nalini dan Balin mengangguk. Mereka memapah penduduk desa yang sedang terluka.



“Aku akan melindungi kalian.” ucap Ganendra pada Nalini dan Balin.



“Berhati-hatilah.” balas Putri Nalini maupun Balin bersamaan.



Tombak milik Ganendra meliuk-liuk mencari sasaran. Akan tetapi serangan tombaknya kerap kali meleset. Menggunakan tombak dengan tangan kiri, masih membuat Ganendra kesulitan. Cakar salah satu Ditya mengayun pada Ganendra. Dia mundur selangkah sembari menahan dengan tombaknya.



Tepat dari arah belakang, dua sosok Ditya meraung dan mengayunkan cakarnya pada Ganendra.



*Srat*!



*Srat*!



*Bruk*!



Ganendra terkesiap ketika melihat dua Ditya ambruk didekatnya.



“Perhatikan arah belakang!” teriak seseorang yang tak lain adalah Soma.



Soma merentangkan busur dan siap melepas anak panah kembali.



“Jangan banyak bicara, habisi saja para Ditya jelek ini!” balas Ganendra sembari menendang Ditya yang sempat dia tahan. Sang Ditya terjerembab dan langsung disambut dengan tusukan tombak Ganendra.



*Crat*!



Darah hitam muncrat keluar dari tubuh Ditya yang meraung kesakitan. Ganendra tersenyum puas dapat menghabisi salah satu Ditya.



“Ganendra! tetap konsentrasi, jangan sampai lengah!” perintah Sadana.



Kakinya menendang salah satu Ditya. Lantas tanpa ampun memegal kepala monster pemakan manusia itu dengan sekali tebas.



“Aku mengerti!” ucap Ganendra yang kembali bergerak dengan kecepatan kilat.



Menyerang beberapa Ditya dengan tendangan. Lalu menusuk dengan tombak Naga Baruna. Dibantu Soma dengan Gandiwa miliknya. Beberapa panah api terlihat melesat mencari mangsa. Menghujam tepat mengenai jantung para Ditya.



Ganendra tak ingin kalah. Dia melompat ke udara, sembari menendang atau melemparkan tombak dengan tangan kirinya.



*Crat*!



Tombak Ganendra tepat menancap di dada salah satu Ditya. Hingga sebuah tendangan keras membuat tubuh Ditya roboh ke tanah dengan sangat keras.



*Bruak*!


__ADS_1


Serangan itu berasal dari Putri Nalini.



“Aku juga tidak ingin ketinggalan membantai mereka semua!” ucap Putri Nalini dengan menyunggingkan seulas senyum.



Ganendra balas tersenyum melihat aksi Putri Nalini. Beberapa Ditya sedang mengepung Putri Nalini maupun Ganendra. Keduanya saling memunggungi dan bersiaga.



“Apa kau siap?” tanya Ganendra pada Putri Nalini.



Putri Nalini mengangguk. Disaat bersamaan, para Ditya menyerang keduanya. Ganendra berkonsentrasi dengan menekuk kaki kanannya. Lantas dengan gerakan penuh tenaga melempar tombak ke arah salah satu Ditya.


Crat!


Tombak Naga Baruna Ganendra menembus tepat mengenai jantung salah satu Ditya. Akan tetapi serangan Ditya tak berhenti disitu saja. Mereka kembali menyerang bersama-sama. Putri Nalini tanggap dan dengan gerakan cepat melingkarkan tangannya di leher Ganendra. Lalu berputar sembari menendang beberapa Ditya sekaligus.


Duak!


Duak!


Duak!


Beberapa Ditya terjungkal ke tanah. Sadana segera datang membantu. Gerakannya begitu cepat, kapaknya seketika menancap di tubuh Ditya. Ganendra melompat ke udara, dan mendarat ditubuh salah satu Ditya. Memukul dengan tangan kiri tepat mengenai kepala Ditya. Serangan tangan kiri Ganendra yang sudah tersalurkan tenaga dalam membuat kepala Ditya hancur berkeping-keping.


“Aku dataaanggg!!!” teriak Balin sembari menggunakan kepalanya menubruk salah satu Ditya.


Ditya mundur beberapa langkah dan disambut panah api milik Soma. Panah Soma tepat mengenai kepala Sang Ditya hingga tembus ke belakang. Sadana melihat sekeliling, beberapa Ditya sudah banyak yang tewas ditangan mereka.


“Kerjasama yang bagus! mari, kita selesaikan ini!” ajak Sadana dengan wajah sumringah.


Di penghujung kalimat Sadana, tiba-tiba sebuah sinar hitam muncul. Melayang di udara dan menyerang Sadana. Membuat tubuh Sadana terhuyung beberapa hasta. Sinar hitam itupun berubah wujud menjadi Ditya Kalandaru.


“Ha!Ha!Ha! grrrrrr!!!” suara khas Ditya Kalandaru kembali terdengar menggelegar.



Melihat sosok Ditya Kalandaru yang seharusnya telah tewas, membuat Ganendra terkesiap. Begitu juga Putri Nalini dan yang lainnya.



“Ti….tidak…mungkin….” ucap Ganendra dengan mata terbelalak.



Ditya Kalandaru tak banyak bicara. Dia segera menyerang Ganendra. Ganendra yang belum siap dengan serangan Sang Ditya sedikit terkejut. Untung Putri Nalini dengan sigap menangkis serangan Ditya Kalandaru.



“Bagaimana…. Bagaimana mungkin Ditya Kalandaru masih hidup?” tanya Ganendra.




Sadana, Soma dan Balin segera bergabung.



“Kakang, bagaimana sekarang?” tanya Soma.



“Tidak ada cara lain. Selain kita bertarung dan kembali menghabisinya. Tidak perduli, dia Ditya Kalandaru yang sebenarnya atau bukan.” Sadana menatap tajam ke arah Ditya Kalandaru yang sedang menggeram.



“Waahhh, apa dia bangkit dari kematian? Ini sungguh merepotkan.” timpal Balin ketakutan. Dia bersembunyi dibalik punggung Sadana.



Ganendra mencabut tombak yang menancap di tubuh Ditya yang dia bunuh.



“Mari kita habisi dia bersama-sama.” ajak Ganendra.



Sadana, Soma dan Balin mengangguk. Putri Nalini hanya diam sembari menatap Ditya Kalandaru. Ganendra menatap Putri Nalini.



“Apa kau merasa ragu?”



Mendengar ucapan Ganendra. Putri Nalini menoleh dan memberi tatapan dalam pada pemuda itu.



“Kenapa aku harus ragu? Dia bukan lagi orang yang aku kenal. Bagiku, Ditya Kalandaru adalah Ditya yang harus dimusnahkan.” jawab Sang Putri.



Tangannya menggenggam tangan kiri Ganendra. Seulas senyum tersungging di sudut bibir Sang Putri. Senyum yang bermakna dan penuh arti bagi Ganendra. Ganendra balas tersenyum dan mengangguk.



*Roaar*!!!



Suara raungan Ditya Kalandaru kembali terdengar. Sadana segera memberi aba-aba pada sahabatnya.


__ADS_1


“Soma! gunakan panah apimu.” perintah Sadana.



Soma mengangguk, dia merentangkan busur dan merapalkan yantra.



“Yantra Gandiwa Brama!”



Beberapa panah api melesat ke arah Ditya Kalandaru. Sadana bersiap dan merapalkan mantra miliknya.



“Yantra Kapak Bajra!”



Kapaknya berputar-putar seperti cakram. Melesat dan menyerang bersamaan dengan panah Soma. Ditya Kalandaru mendesis. Mengucapkan yantra miliknya.



“Yantra Welut Putih…..”



Tubuh Ditya Kalandaru seketika menjadi transparan. Kedua serangan panah Soma maupun kapak milik Sadana hanya menembus tubuh kosong. Sadana dan Soma semakin terperanjat.



“Dia benar-benar, Ditya Kalandaru.” ucap Soma.



“Aku tidak perduli. Bagaimanapun juga akan aku habisi lagi!!!” teriak Ganendra sembari melompat ke udara. Lantas melesat dengan gerakan bagai kilat. Menyerang Ditya Kalandaru.



Tombaknya terayun ke arah Sang Ditya. Ditya Kalandaru dengan mudah menangkis serangan tombak Ganendra. Lantas membalas dengan sebuah tendangan. Ganendra menahan dengan kaki kanannya. Putri Nalini tanggap dan bergerak dengan cepat.



“Hyaaa!!!” pekik Sang Putri dengan memberikan tendangan bertubi.



Namun sayangnya, serangan keduanya tidaklah mempan. Yantra welut putih milik Ditya Kalandaru membuatnya kebal dari serangan apapun. Sang Ditya menggeram lantas memberikan pukulan ke arah keduanya.



*Duak*!!!


Membuat Ganendra dan Putri Nalini terpelanting hingga ambruk ke tanah. Darah segar keluar dari sudut bibir keduanya. Balin ganti yang menyerang dengan menubrukkan kepala. Akan tetapi dengan mudah Ditya Kalandaru menahan dengan salah satu tangannya saja.


“Gyaaaa!!!” Balin berusaha mengerahkan tenaga dalamnya. Namun tetap saja tak membuat Ditya Kalandaru bergeming.


Sadana dan Soma saling berpandangan. Lantas secepat kilat menyerang secara bersamaan.


“Hyaa!!!”


Ditya Kalandaru menggeram, dia segera memukul kepala Balin. Balin seketika ambruk ke tanah. Kedua tangan Ditya Kalandaru menahan pukulan Sadana dan Soma. Ketiganya saling adu tenaga dalam. Mereka berputar-putar. Energi yang ditimbulkan dari bentrokan tenaga dalam semakin terasa.


Roaaarr!!!


Ditya Kalandaru dengan serangan penuh energi menghempas Sadana dan Soma hingga terpental menubruk rumah penduduk desa. Tak ayal keduanya muntah darah. Ganendra tak bisa membiarkan teman-temannya terluka. Dia bergegas mengambil pasir yang tak jauh dari tempatnya berada. Lantas kembali menyerang Ditya Kalandaru. Tubuh transparan Sang Ditya memiliki kelemahan. Tubuhnya akan nampak kembali jika ditaburi pasir atau abu gosok.


Srat!


Pasir dilempar mengenai tubuh Ditya Kalandaru. Yantra welut putih berhasil dipatahkan. Ganendra mengulas senyum keberhasilan.



“Berha….”



*Srat*!!!



Ucapan Ganendra terpotong, saat sebuah serangan tiba-tiba mengarah padanya. Matanya terbelalak saat darah segar menyembur dengan deras dari bahu sebelah kanan.



“Arghtttt!!!” rasa perih yang menyakitkan Ganendra rasakan.



“Ganendra!!!” pekik Putri Nalini penuh kengerian. Disusul teriakan lainnya.



Tangan kanan Ganendra yang cacat tertebas oleh pedang seseorang. Semua orang terperanjat bukan kepalang. Rasa terkejut yang luar biasa, tatkala seseorang yang menebas tangan Ganendra adalah Parama.



Darah segar menetes dari pedang milik Parama. Dia memasang wajah datar saat menatap Ganendra yang kesakitan berlumuran darah. Lalu tanpa ampun dengan gerakan cepat menghunus pedang dan menusuk Ganendra.



*Crat*!



*Crat*!



Tubuh Ganendra terkulai. Tak lama berselang, tubuhnya ambruk ke tanah bermandikan darah…

__ADS_1


__ADS_2