
Ganendra dan Parama yang telah berhasil mendapatkan Bunga Wijayakusuma bergegas kembali ke Medangwantu. Di tengah perjalanan. Tanpa terduga, Ditya Kalandaru datang menghadang bersama Ditya yang lain.
“Ha! Ha! Ha! Aku sudah lama menanti kalian.” ucap Ditya Kalandaru terkekeh.
Ditya yang berdiri di depannya meraung-raung dengan gigi taring menonjol keluar. Mereka mengayunkan cakarnya. Bersiap merobek apa saja yang ada di depannya.
Ganendra dan Parama mundur selangkah. Mereka berpikir itu adalah Ditya Gorawangsa. Akan tetapi dari suara dan postur tubuh berbeda. Ditya Kalandaru tidak mengenakan mahkota. Namun tubuhnya seperti manusia. Hanya wajah menyerupai Ditya dengan taring menonjol keluar.
“Jangan menghalangi kami. Siapapun kau dasar monster jelek!” balas Ganendra tanpa rasa takut.
“Huahahaha!!! Jadi kau manusia yang berasal dari dunia lain? Baguslah….aku sudah menantimu. Ingin menjajal kemampuanmu.” jawab Ditya Kalandaru dengan tawa menggema.
“Ganendra, waspadalah. Meski auranya sedikit berbeda dengan Ditya Gorawangsa. Kita tidak bisa meremehkannya.” kata Parama yang bersiaga dengan pedangnya.
Ganendra mengangguk mengerti. Dia memusatkan tenaga dalam ke tangan kirinya. Mengepalkan dengan erat. Disaat bersamaan para Ditya menyerang.
“Badama!!!” perintah Ditya Kalandaru.
Serentak para Ditya maju menyerang Ganendra dan Parama. Ganendra bergerak cepat, menghindari serangan Ditya yang ada di depannya. Kepalanya merunduk lalu memutar ke belakang dan memukul keras kepala Ditya yang lain. Raungan keras keluar dari Ditya yang jatuh terjerembab.
Di belakang Ganendra, Parama bergerak bagai kilat. Mengayunkan pedangnya dengan cepat.
Sat!
Set!
Srat!
Dua….tiga…lima… Ditya berjatuhan dengan anggota tubuh terpotong. Darah hitam menyembur dari tubuh mereka. Di sisi lain, Ganendra di keroyok beberapa Ditya. Bersenjatakan gada di tangan. Gada Sang Ditya terayun. Ganendra salto di udara menghindari serangan. Tetapi saat mendarat, Ditya lain sudah siap menyambut dengan cakarnya.
Srat!
Lengan Ganendra terkena cakaran.
“Sial! Monster jelek, awas kau!” gerutunya berlari ke arah Ditya yang melukai.
Mengayunkan tangan kirinya dengan keras.
Blam!
Kepala Sang Ditya hancur. Ditya lain mengeroyok Ganendra. Pemuda itu berlari dan memanjat pohon di sekitar sana. Lantas bersalto di udara. Ditya yang mengeroyoknya hanya menyerang ruang kosong. Ditya Kalandaru masih mengamati pertarungan Ganendra dengan para Ditya.
Ganendra kembali bergerak. Meliuk-liukkan tubuh. Menghindari serangan, lalu melancarkan balasan. Menendang ataupun memukul lawannya. Parama bersiaga membantu Ganendra.
“Yantra Candrasa Apyu.” ucap Parama mengeluarkan yantra Kadewatannya.
Cahaya api menyelimuti pedang miliknya. Lalu dengan gerakan cepat bagai kilat. Menebas para Ditya dalam sekali serangan. Membuat para Ditya jatuh berguguran.
“Hei! Kakang Parama, sisakan aku satu monster.” ujar Ganendra sambil melompat ke udara dan memukul dada salah satu Ditya yang tersisa.
Pukulan Ganendra cukup keras. Hingga membuat Ditya tersungkur dan tewas. Semua Ditya dapat dikalahkan. Membuat Ditya Kalandaru yang menyaksikan menggeram.
__ADS_1
“Dasar para Ditya rendahan tidak berguna!” geramnya marah.
Lalu dengan perasaan kesal menghempas jubah yang dikenakan. Bersiap menghadapi Ganendra maupun Parama.
“Wah! Wah! Jangan kesal seperti itu. Sebaiknya kau juga menyingkir saja, karena kami sedang buru-buru.” ucap Ganendra sambil melangkahkan kaki menjauh dari Sang Ditya.
Ditya Kalandaru menggeram merasa diremehkan.
“Yantra Gada Lukitasari!” ucapnya sembari mendengus kesal.
Di secara gaib, ditangannya muncul gada berukuran besar. Gada yang pegangannya seperti tongkat dan di ujungnya berupa sebuah bola besar.
“Akan ku remukkan kepalamu wahai pemuda sombong.” Ditya Kalandaru berucap dengan nada marah.
“Coba saja lakukan.” balas Ganendra tanpa rasa takut.
Dia bersiap dengan mengerahkan tenaga dalam di tangan kirinya.
“Berhati-hatilah.” ucap Parama.
“Aku mengerti.” balas Ganendra.
Tanpa membuang waktu keduanya bergegas maju menyerang secara bersama. Ganendra lari ke depan dan melompat ke udara. Bersiap mengayunkan pukulannya. Parama bergerak cepat bersiap dengan pedangnya.
Ditya Kalandaru menahan pukulan Ganendra dengan gada. Lantas dengan cepat mengayunkannya. Membuat tubuh Ganendra terhempas dengan keras ke tanah.
Parama mengayunkan pedangnya. Ditya Kalandaru menahan dengan gada. Mereka saling menatap dan berputar. Ganendra menahan dadanya yang sakit. Lantas bergegas bangkit.
Blar!!
Tepat sasaran, tendangannya mengenai dada Sang Ditya hingga mundur selangkah.
“Cukup menarik.” ucap Ditya Kalandaru.
Mereka kembali berbalas serangan. Namun pimpinan Ditya ini tak bisa diremehkan begitu saja. Gadanya yang besar mengayun ke sana kemari. Ganendra melompat dari satu sisi ke sisi lain untuk menghindari serangan. Parama bersiap dengan pedangnya.
“Yantra Candrasa Apyu.” teriak Parama.
Pedangnya kembali diselimuti cahaya api yang berkobar. Dia bergerak bagai kilat dan menyerang Ditya Kalandaru. Sang Ditya segera mengheningkan cipta. Mengucapkan rapalan yantra.
“Yantra Welut Putih.”
Tepat saat pedang api milik Parama hendak menebas Ditya Kalandaru. Tubuhnya tiba-tiba transparan. Membuat serangan Parama hanya menerjang ruang kosong. Parama dan Ganendra terpengarah. Ditya Kalandaru terkekeh dan dengan cepat melayangkan gadanya. Tepat mengenai Parama. Tak ayal tubuh Parama melayang di udara. Terjerembab ke tanah dengan keras. Darah segar keluar dari mulutnya.
Ganendra menghampiri Parama. Membantunya untuk bangkit.
“Kurang ajar! Aku akan membalasnya.” ucap Ganendra kesal.
“Hahahahaha!!!” Ditya Kalandaru terkekeh.
Ganendra hendak melangkah. Tetapi buru-buru Parama menahannya.
__ADS_1
“Kita tidak mungkin mengalahkannya untuk saat ini. Sebaiknya kita segera pergi.”
“Ta…tapi…”
“Menyembuhkan Sadana lebih penting.” ucap Parama.
Meski merasa kesal. Ganendra dapat mengerti. Prioritas utama mereka secepatnya menyembuhkan Sadana. Keduanya lantas bergerak melarikan diri dari Ditya Kalandaru. Sang Ditya tak tinggal diam, dengan Yantra Welut Putihnya bergerak cepat. Mengejar Ganendra.
Lantas dengan gerakan bagai kilat mengayunkan gadanya.
Duak!!
Gada Ditya Kalandaru tepat mengenai punggung Ganendra maupun Sadana. Keduanya tersungkur dengan keras. Rintihan kesakitan keluar dari mulut ke duanya. Sebelum bisa bangkit. Ditya Kalandaru menginjak dada Ganendra. Meletakkan ujung gadanya di tubuh Parama.
Keduanya berusaha meronta supaya bisa lepas.
“Dasar monster sialan! Lepaskan aku!” teriak Ganendra meronta.
“Huahahahah! Hanya manusia lemah rupanya. Kau tidak ada apa-apanya.” ejek Ditya Kalandaru.
“Terserah saja kau bilang apa. Tetapi lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Aku akan meladenimu lain kali saja.” pinta Ganendra.
“Bwahahaha!!! Tidak semudah itu aku melepaskanmu.!
Tangan Ditya Kalandaru lalu mengambil Bunga Wijayakusuma dari kantong yang disematkan di pinggang Ganendra.
“Hei!! Jangan menyentuh bunga itu.” teriak Ganendra sembari memukul-mukul Ditya Kalandaru.
Akan tetapi kaki Ditya Kalandaru tak bergeser sejengkal pun dari dada Ganendra. Begitu juga dengan Parama yang berusaha mengerahkan kekuatannya. Yantra Welut Putih memang sakti. Siapapun pemilik yantra ini akan lolos dari setiap serangan. Tetapi sebaliknya, siapapun yang tertangkap tidak akan lolos dari pemilik Yantra Welut Putih.
“Bwahahaha!! Setali tiga uang. Aku mendapatkan keberuntungan kali ini!”
“Berikan itu padaku!!!” teriak Ganendra berusaha meraih Bunga Wijayakusuma yang berada di tangan Ditya Kalandaru.
“Hemm …memberikannya padamu? Tidak akan semudah itu. Aku tahu kau ingin menggunakan bunga sakti ini untuk menyembuhkan temanmu bukan?”
“Jika kau tahu kenapa bertanya? Dasar monster jelek.” balas Ganendra kesal.
“Aku akan mengembalikannya padamu. Tetapi dengan satu syarat.”
“Katakan cepat apa syaratnya?” tanya Ganendra tak sabaran.
“Kita lakukan pertukaran. Aku akan mengembalikan Bunga Wijayakusuma padamu. Tetapi serahkan Putri Nalini padaku.”
Mendengar persyaratan yang diajukan. Membuat Ganendra dan Parama terpengarah.
“Aku tidak akan sudi!” ucap Ganendra.
“Huahahah! Kau tidak punya pilihan lain. Serahkan Putri Nalini atau kau tidak akan mendapatkan bunga ini.” ucap Ditya Kalandaru.
Lantas seberkas sinar hitam menyelimutinya. Membawa tubuh Ditya Kalandaru menghilang dari pandangan Ganendra. Ganendra maupun Parama hanya bisa tertegun. Entah apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1