Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Bertarung Melawan Ditya Kembar


__ADS_3

Roaar!!


Ditya Kardusana dan Ditya Nopati mengayunkan serangan ke arah Ganendra secara bersamaan. Ganendra menahan serangan menggunakan tombak miliknya. Serangan kedua Ditya begitu bertenaga. Membuat Ganendra mundur beberapa hasta.


"Hyaaa!!"



Kedua Ditya memberikan tendangan tepat mengenai perut Ganendra.



*Duak*!!



Ganendra seketika terjungkal ke tanah. Sebelum dia sempat bangkit. Ditya Kardusana melancarkan pukulan. Tepat mengenai wajah Ganendra yang belum siap. Akibatnya luka sobek di sudut bibirnya sudah dapat dipastikan.



Gerakan kedua Ditya begitu cepat. Mereka tak memberi kelonggaran pada Ganendra. Keduanya terus menyerang tanpa henti. Membuat Ganendra mulai kewalahan.



"Sial!!! Mereka menyerang begitu serempak." ucap Ganendra sembari menghindar ke sana kemari.



Sekarang satu-satunya jalan yang bisa dilakukan Ganendra hanyalah menghindari serangan. Jangan sampai terkena pukulan atau tendangan. Pukulan Ditya Kardusana kembali mengarah pada Ganendra. Ganendra menggunakan tombaknya untuk menahan. Disaat bersamaan Ditya Nopati melepaskan tendangan penuh tenaga.



*Duak*!



Lagi-lagi Ganendra terjungkal karena tak bisa menahan serangan. Dia dikeroyok dan hanya menggunakan satu tangan. Serangan kedua Ditya tak memberinya kesempatan untuk menyerang. Dia malah babak belur terkena serangan.



Ganendra menggunakan kekuatan Ksatria Saka tingkat ketiga untuk bergerak bagai kilat. Menghindari serangan dua Ditya. Ganendra menyerang dengan mengayunkan tombaknya ke arah Ditya Nopati. Lantas bersamaan dengan itu melancarkan tendangan ke arah Ditya Kardusana. Ditya Nopati menghalau serangan tombak Ganendra dengan tangannya. Sedangkan tendangan Ganendra langsung di tangkap Ditya Kardusana. Sang Ditya dengan kekuatan penuh melempar tubuh Ganendra. Tubuhnya melayang menubruk pepohonan. Hingga terjerembab ke tanah dengan keras.


"Hoekkk!"


Ganendra muntah darah. Rasa nyeri terasa di dadanya. Nafasnya tersengal-sengal. Tak jauh darinya. Kedua Ditya terlihat berlari ke arah Ganendra. Dia berusaha bangkit berdiri.



*Roaar*!!


Dua Ditya melompat ke udara, sembari mengayunkan pukulannya. Ganendra melesat dengan kekuatan Ksatria Saka tingkat ketiga.


Sat!


Set!


Sat!


Ganendra berguling-guling menghindari serangan. Rasa sakit yang dia rasakan diabaikannya begitu saja. Saat ini, Ganendra harus bertahan sembari mencari jalan keluar. Sebuah tendangan kembali meluncur ke arahnya. Ganendra melompat ke udara menghindari serangan. Bersamaan dengan itu, Ditya Nopati menghantam Ganendra dengan kedua tangannya. Namun kali ini Ganendra menggunakan tombaknya untuk menangkis. Lantas memberikan tendangan memutar.



*Duak*!



*Duak*!



Tendangannya mengenai wajah Ditya Nopati. Sang Ditya jatuh terjerembab ke tanah. Ganendra bergegas melemparkan tombaknya menuju ke arah Ditya Nopati yang masih terbaring.



*Duak*!



Tombak Naga Baruna milik Ganendra ditendang Ditya Kardusana. Dia menghalau serangan yang dilancarkan Ganendra. Pemuda itu bergerak bagai kilat. Lantas menangkap kembali tombaknya.



Dia menggunakan kekuatan gerakan kilatnya untuk melarikan diri dari pertarungan. Ganendra menyadari, dia kewalahan melawan dua Ditya kembar yang bertarung dengan kompak. Acap kali mereka menyerang silih berganti. Tak memberikan ruang bagi Ganendra untuk bernafas.



“Mau lari kemana kau?! Manusia hina!” teriak Ditya Kardusana.



Dia bergegas menyusul diikuti Ditya Nopati. Ganendra bergerak bagai kilat. Melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.



“Aku harus melarikan diri dahulu.” ucap Ganendra.

__ADS_1



Tanpa dia sadari, di belakangnya. Ditya Nopati memegang erat tangan Ditya Kardusana. Lantas memutar-mutar saudara kembarnya itu. Kemudian dengan gerakan penuh tenaga melemparkan Ditya Kardusana ke arah Ganendra.



Ditya Kardusana melesat dengan cepat menubruk tubuh Ganendra yang tidak siap.



*Duak*!



“Gyaah!!!”



Tubuh Ganendra menghantam tanah dengan keras. Dia meringis kesakitan sembari memegangi dadanya. Ditya Kardusana dan Ditya Nopati berdiri tepat di depannya. Keduanya terkekeh.



“Manusia cacat ini, bagaimana bisa mengalahkan istri kita? Lemah!” hina Ditya Nopati.



“Kini saatnya membalas kematian istri kita.” ajak Ditya Kardusana.



Ganendra yang muntah darah. Hanya bisa menyeret tubuhnya yang terasa ngilu karena terkena hantaman tubuh Ditya Kardusana sekaligus menghantam tanah.



“Tamatlah riwayatmu!” teriak Ditya Nopati dan Ditya Kardusana.



Empat kepalan tangan menghantam ke arah Ganendra. Ganendra hanya bisa memejamkan mata.



*Duak*!



*Duak*!



*Blar*!




“Nalini?!” pekik Ganendra.



“Apa aku datang tepat waktu?” tanya Putri Nalini.



“Ba…Bagimana kau bisa?” tanya Ganendra yang tak bisa menutupi rasa keterkejutannya.



Ganendra berpikir, sama seperti yang lainnya. Putri Nalini juga tidak akan mempercayainya. Tetapi apa yang dilihatnya kini, jauh berbeda dengan pikirannya. Putri Nalini justru menyelamatkannya.



Ditya Nopati dan Ditya Kardusana bangkit berdiri.



“Kurang ajar! Berani-beraninya wanita tengik ikut campur urusan kami.” gerutu Ditya Kardusana.



“Pih! Dasar Ditya jelek. Jaga mulutmu. Berani sekali menghina Putri Raja Sri Mahadana.” balas Putri Nalini tak kalah garang.



“Hati-hatilah, menghadapi keduanya.” pesan Ganendra.



Putri Nalini yang berdiri di depan Ganendra tersenyum tipis. Dua Ditya kembar merengsak menyerang ke arah Putri Nalini.



“Siapa yang mengatakan, akan melawan mereka.” jawab Sang Putri.


__ADS_1


*Srat*!



Tepat bersamaan, saat dua Ditya menyerang. Putri Nalini melemparkan abu gosok ke arah mereka. Akibatnya pandangan mata dua Ditya kembar terhalangi. Mereka batuk-batuk karena menghirup abu gosok.



“Uhuk! Uhuk! Wanita licik kurang ajar!!!” teriak Ditya Nopati.



Saat keduanya tersadar. Ganendra dan Putri Nalini sudah melesat jauh. Melarikan diri dari keduanya.



*Roaar*!!!



Hanya raungan keras penuh amarah yang terdengar.



Putri Nalini memapah Ganendra. Bergerak dengan cepat menggunakan kekuatan Ksatria Saka tingkat ketiga. Kini, dia sudah mengusai tingkatan itu. Nafas Ganendra mulai tersengal-sengal dan setelah dirasa aman. Dia ambruk ke tanah. Keduanya sudah keluar dari hutan dan menjauh dari kedua Ditya.



“Ganendra… bagaimana lukamu?” tanya Putri Nalini dilanda kecemasan.


“Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.” Ganendra menjawab sembari menahan sakit ditubuhnya.


“Minumlah dahulu.” ucap Putri Nalini.


Ganendra langsung meminum air yang disodorkan Sang Putri.


“Kenapa kau bisa datang kemari?” tanya Ganendra kemudian.


Putri Nalini diam sejenak. Memilih duduk di samping Ganendra. Tidak lama berselang. Dia lantas membuka suara.



“Sejujurnya aku merasa sangat kecewa. Kau bergabung dengan Ksatria Saka hanya untuk memanfaatkan mereka. Tetapi, aku mengerti kenapa kau melakukannya. Sama seperti dirimu, aku juga seperti itu. Aku bergabung dengan Ksatria Saka hanya untuk mencari keberadaan Kakang Dananjaya. Jadi, tidak ada bedanya aku maupun dirimu. Tetapi aku dapat merasakan ketulusanmu setelah melewati berbagai halangan bersama kami. Kau mengubah haluanmu dan sungguh-sungguh ingin menjadi Ksatria Saka yang sejati.” terang Putri Nalini.


Entah kenapa, saat mendengar ucapan Putri Nalini membuat Ganendra merasa lega. Ada seseorang yang mempercayainya.


“Maka dari itu, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Mulai hari ini hingga seterusnya. Aku akan berada di sisimu.” ucap Putri Nalini. Wajahnya sedikit memerah.



Ucapan Putri Nalini, membuat jantung Ganendra berdegup. Perasaan menggelitik mulai merayap dihatinya. Apalagi saat tangan Putri Nalini menggenggam tangannya. Ganendra sedikit terpengarah. Wajahnya ikut memerah sama seperti Putri Nalini.



“Aku akan membantumu. Jadi mulai sekarang, kita selesaikan janjimu. Supaya bisa terlepas dari yantra pengikat perjanjian.” ucap Putri Nalini mengena di hati Ganendra.



Mereka saling bertatapan dengan dalam. Perasaan berdesir mulai menghinggapi dua muda mudi tersebut. Saat perasaan keduanya mulai terhanyut dalam genderang asmara. Tiba-tiba suara langkah kaki membuyarkan semuanya.



“Ha! Ha! Rupanya sepasang kekasih sedang berkasih-kasihan satu sama lain.” ucap seseorang dengan rambut panjang tergerai.



Wajahnya brewokan dengan tubuh kekar. Di belakangnya beberapa orang pria ikut tertawa. Dilihat dari tampang mereka yang sangar, sepertinya mereka bukan orang baik-baik.



“Siapa kalian?” tanya Putri Nalini.



“Ha!Ha! tenang cah ayu. Jangan takut. Namaku Wrahasta, kami adalah Ksatria Saka dari Kerajaan Purawa.”



“Mau apa kalian?!” tanya Sang Putri beranjak dari duduknya. Dia bersikap waspada melihat gerak-gerik mencurigakan.


Ganendra ikut berdiri meski luka di tubuhnya masih terasa sakit. Warahas melihat tombak Naga Baruna milik Ganendra terlihat sangat menarik. Berbeda dari senjata Ksatria Saka yang pernah dia temui.


Warahas diam-diam memberikan isyarat pada anak buahnya.



“Kami hanya ingin memiliki tombak yang menarik itu.” ucap Warahas dengan seulas senyum licik.



Di saat bersamaan, anak buah Warahas melemparkan semacam bubuk. Bubuk yang dapat membuat seseorang lumpuh sementara waktu dan tak sadarkan diri. Putri Nalini merasa sakit kepala, pandangannya kabur dan tak lama kemudian tergeletak tak berdaya.



“Kurang ajar! Apa yang kalian lakukan pada Nalini?!” teriak Ganendra.

__ADS_1



Akan tetapi saat hendak menyerang. Tubuhnya limbung dan akhirnya tergeletak tanpa daya mengikuti Putri Nalini yang sudah terlebih dahulu tak sadarkan diri. Warahas menatap sembari tertawa menyeriangi.


__ADS_2