Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Ditya Gorawangsa


__ADS_3

Di Punthuk Songo tempat bersemayamnya kegelapan. Kalimakara menatap sebuah prasasti. Prasasti yang sama seperti di Luweng Braholo. Di dalam prasasti tertulis dengan jelas hanya seorang Ksatria Saka yang mengetahui keberadaan Tirta Amerta. Ksatria terpilih yang bukan berasal dari Swastamita. Di sisi lain prasasti, ada bagian yang sudah tidak utuh lagi. Masih ada satu bagian yang menghilang.


...****************...


Sesaat setelah keluar dari goa bawah tanah. Ganendra dan yang lainnya disambut serangan para Ditya.



“Bersiaplah.” Sadana berada di depan.



Tanpa banyak kata. Ganendra sudah merengsak maju. Cakar salah satu Ditya mengayun. Ganendra merunduk dan berguling di sisi kiri. Kini dia lebih percaya diri. Tenaga dalam di salurkan pada tangan kirinya. Saat Ditya hendak mencakarnya. Ganendra langsung memukulnya dengan keras.



Duak!



Ditya tersungkur ke tanah. Putri Nalini melompat dan menginjak kepala Ditya hingga hancur.



“Aku tidak ingin kalah darimu.” Putri Nalini mengulas senyum ke arah Ganendra.



“Kita lihat saja. Siapa yang terhebat.”



Ganendra bergerak dengan lincah. Menerjang Ditya lain. Gerakan tubuhnya lebih cepat dibanding dahulu. Kini, tingkatannya sudah naik ke tingkat ke tiga.



Di sisi lain, Sadana dikeroyok tiga Ditya sekaligus. Dia bergerak dengan cepat saat ketiga Ditya mengayunkan cakar. Melompat ke udara dan berputar sambil melemparkan kapaknya.



“Kapak Bajra!”



Kapaknya berputar seperti cakram dan menebas semua Ditya hingga tewas. Giliran Parama unjuk gigi. Beberapa Ditya mengeroyoknya, Parama yang memiliki gerakan cepat. Bergerak di antara Ditya sambil menebaskan pedang.



Srat!



Srat!



Para Ditya ambruk berjatuhan. Balin yang juga dikeroyok Ditya. Malah lari ke sana kemari. Mereka saling berkejaran. Terkadang bersembunyi di balik pepohonan.



“Sini…kejar aku jika bisa.”



Roaaar!!!



Para Ditya meraung dan mengarahkan cakarnya ke arah Balin. Balin menunduk sambil menggunakan kepalanya tepat mengenai dada salah satu Ditya. Ditya terjungkal dan disambut pukulan bertenaga Ganendra.



Kumpulan Ditya lain kembali mengejar Balin. Perutnya yang buncit terguncang saat berlari. Sebuah cakar terayun, Balin menghindar ke sisi lain. Lalu berlari ke arah Putri Nalini yang sedang menendang Ditya.



“Aku takut!!! Ditya itu mengejarku!” pekiknya sambil bersembunyi di balik punggung Putri Nalini.



Tetapi saking takutnya. Balin malah mendorong Putri Nalini ke arah kumpulan Ditya. Putri Nalini terhenyak karena belum siap. Ganendra yang berada di dekat sana berlari dengan cepat. Meski belum secepat kilat.



Tangan kirinya menarik lengan Putri Nalini. Tubuh Sang Putri berputar di udara.



Srat!!



Tangan Ganendra terkena cakar salah satu Ditya. Disusul serangan bertubi Ditya lain yang menggunakan gada.



Duak!!!



Tubuh Ganendra terpental. Terjerembab ke tanah dengan keras. Dia memegangi dadanya yang terasa nyeri.



“Ganendra!” teriak Putri Nalini saat mengetahui pemuda itu terluka karena menyelamatkannya.



Dua Ditya hendak memukul Ganendra dengan gada. Putri Nalini melompat dan memberikan tendangan memutar.



Duak!

__ADS_1



Kedua Ditya jatuh terjerembab. Sadana melihat kejadian itu. Lalu bergerak dengan sangat cepat.



Sat!



Set!



Srat!



Kapaknya menebas dua Ditya yang sudah dijatuhkan Putri Nalini. Ganendra dibantu Sang Putri supaya bisa berdiri. Di belakang Sadana, beberapa Ditya meraung dan bergerak bersamaan. Parama bergegas menggunakan pedangnya.



“Yantra Candrasa Apyu!” rapalan mantra pedang apinya terdengar lantang.



Tubuhnya melesat dan bergerak dengan cepat. Pedang yang diselimuti api membara menebas dengan cepat semua Ditya. Tubuh para Ditya bergeletakan. Semua Ditya berhasil di binasakan.



Balin yang sedari tadi bersembunyi. Bergegas menghampiri Ganendra.



“Maafkan aku, tadi tidak sengaja mendorong Gusti Putri.” rengeknya.



“Lain kali berhati-hatilah. Ketakutanmu bisa membahayakan orang lain.” gerutu Putri Nalini.



Ganendra menengahi, “sudahlah, tidak perlu diperpanjang. Balin tidak sengaja melakukannya.”



Sadana ikut menimpali, “yang paling penting semuanya baik-baik saja.”



“Kakang Parama, kau sungguh hebat. Lain kali kita berlatih tanding.” ujar Sadana sambil mengulas senyum pada Parama.



“Aku juga ingin ikut berlatih.” timpal Ganendra yang kelihatan bersemangat kali ini.




“Ada sesuatu.” ucap Parama waspada.



Mendengar perkataan Parama. Semua diam dan ikut waspada. Benar saja, tidak berselang lama sesosok berjubah hitam berjalan menuju arah mereka. Langkahnya memancarkan aura yang kuat. Binatang hutan seolah bersembunyi. Memilih menepi.



“Khukhukhu!!!” suara tawa seringai keluar dari sosok misterius berjubah hitam.



“Para Ksatria Saka. Bersiaplah bermandikan darah.” lanjutnya diiringi tawa menggema.



Ganendra maju selangkah, “pih, apa kau pikir sehebat itu?”



Dia tidak suka diremehkan. Sadana menahan Ganendra untuk jangan gegabah.



“Aura kekuatannya berbeda dari Ditya yang pernah kita hadapi. Sebaiknya kalian semua berhati-hati.”



Balin langsung ketakutan. Bersembunyi di belakang Putri Nalini. Sadana dan Parama bersiaga. Memegangi senjatanya dengan erat. Ganendra tidak perduli siapa sosok di depannya. Sekarang dia lebih kuat. Jadi untuk apa merasa takut.



Sosok misterius terkekeh. Perlahan membuka penutup kepala. Penampilannya berbeda dengan Ditya yang pernah di temui. Bentuk tubuhnya seperti manusia. Di lengannya menggunakan kelat bahu. Mahkota dia sematkan di kepala. Pakaian yang dikenakan menunjukkan statusnya berbeda dari Ditya lain. Tubuhnya tinggi tegap.



*Ditya Gorawangsa


“Namaku Ditya Gorawangsa.” seulas senyum tersungging di sudut bibirnya.



Memperlihatkan taring yang menonjol keluar.



“Aku tidak perduli siapapun namamu. Bagiku kau hanyalah monster.”



Ganendra yang merasa percaya diri merengsak dan langsung menyerang. Mengerahkan kekuatan di tangan kirinya. Siap memukul Ditya Gorawangsa.


__ADS_1


Slap!



Ditya Gorawangsa menahan serangan Ganendra hanya dengan satu tangan. Tubuhnya sama sekali tak bergeming. Ganendra terpengarah. Tepat saat itu, Ditya Gorawangsan menghempaskan tubuh Ganendra. Pemuda itu terpental menubruk beberapa pepohonan dalam satu garis lurus hingga patah.



Darah segar keluar dari mulutnya. Sadana dan yang lain terbelalak menyaksikan kekuatan Ditya Gorawangsa. Parama melesat maju bagai kilat. Pedangnya terayun dengan cepat.



Srat!



Srat!



Seulas senyum seringai diperlihatkan Ditya Gorawangsa. Lagi-lagi dia menahan pedang Parama hanya dengan satu tangan.



“Lemah!”



Tubuh Parama terhempas sama seperti Ganendra. Melayang dan menubruk pepohonan. Putri Nalini dan Balin menatap ngeri. Sadana melompat ke udara melayangkan kapak miliknya.



“Kapak Bajra.”



Kapak berputar seperti cakram. Mengarah sangat cepat ke Ditya Gorawangsa.



“Yantra Candhabhirawa.” ucap Ditya Gorawangsa perlahan.



Disaat kapak bajra milik Sadana meluncur. Dari tubuh Sang Ditya muncul Ditya Bajang. Ditya yang berbentuk seperti anak kecil. Kapak tepat memenggal kepala Ditya Bajang. Sadana terperanjat karena Ditya Gorawangsa menggunakan tameng seorang Ditya kecil.



Putri Nalini dan Balin bergegas menghampiri Parama dan Ganendra. Membantu keduanya berdiri. Angin dingin tiba-tiba berhembus perlahan. Ditya Bajang yang sudah mati tiba-tiba bangkit dan malah bertambah satu lagi.



Ganendra dan yang lain terperanjat.



“Ba…bagaimana bisa?” ucap Ganendra.



Roaaar!!!



Bayi Bajang bergerak bersamaan mengeroyok Sadana. Sadana tak berpikir panjang dan melemparkan kapaknya. Ditya Bajang bergeletakan tak bernyawa. Lagi-lagi angin dingin berhembus. Membangkitkan kembali Ditya Bajang. Kini tidak hanya dua, tetapi ada empat Ditya Bajang.



“Apa-apaan ini?!” teriak Ganendra.


“Huahahahahah!!!! Kalian tidak akan menang melawanku.” ucap Ditya Gorawangsa terbahak-bahak.


Empat Ditya Bajang menyerang Sadana dan yang lain. Putri Nalini bersiap dan menendang salah satu Bajang. Begitu juga Ganendra memukul dengan tangan kirinya. Parama menghunuskan pedang dan membantai sisanya. Namun, Ditya Bajang bukannya mati malah semakin bertambah banyak. Menjadi kelipatan dari sebelumnya.



“Yantra yang dimiliknya sehebat ini.” ucap Parama.



Ganendra tidak perduli dan terus menghabisi Ditya Bajang. Tetapi lagi-lagi Ditya Bajang semakin bertambah banyak. Seolah mereka abadi dan tidak bisa mati.



“Hahahaha!!! Tamat sudah riwayat kalian.” Ditya Gorawangsa terkekeh.



Ditya Bajang menyerang Ganendra dan yang lainnya hingga tergeletak tak berdaya. Ditya Gorawangsa merapalkan yantra miliknya.



“Yantra Pengasrepan.”



Tepat di saat itu, sebuah angin dingin mengarah pada Ganendra dan yang lain. Sadana yang berada di depan berusaha menyerang maju. Namun, dia terkena Yantra Pengasrepan. Hawa dingin tiba-tiba menyerang sekujur tubuh. Sadana mendadak tidak bisa menggerakkan anggota badan. Lantas ambruk ke tanah. Ganendra bergegas menghampiri. Sadana menggigil kedinginan. Tubuhnya lumpuh total.



“Ha! Ha! Ha! Akulah Ditya yang terhebat!” Ditya Gorawangsa menghilang bersamaan dengan suara tawanya.



“Sampai jumpa lagi, para Ksatria lemah.” ucap Sang Ditya kali terakhir dan menghilang.



“Sadana!” panggil Ganendra.



Semua orang mengerubungi Sadana yang menggigil. Tubuhnya merasakan dingin yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2