
Tak disangka, Ganendra maupun Putri Nalini harus berhadapan dengan dua kubu kegelapan. Ditya Kardusana dan Ditya Nopati menghalangi pihak Ditya Kalandaru yang hendak menghabisi Ganendra. Hanya dua Ditya kembar yang boleh membunuh Ganendra.
“Kalian jangan ikut campur! Biarkan kami yang menghabisi manusia ini!” ucap Ditya Kardusana.
Parama yang menyahut, “tugas ini sudah diserahkan pada kami.”
“Grrr!!! Dasar manusia hina! Ku bunuh kau, jika ingin menghalangi rencana kami.” ucap Ditya Nopati menggeram.
Dua kubu kegelapan saling serang. Parama menangkis pukulan Ditya Nopati. Ditya Kalandaru berhadapan dengan Ditya Kardusana. Gada Lukitasari milik Ditya Kalandaru mengayun ke arah Ditya Kardusana. Kardusana menangkis serangan dengan tangan kanannya. Tenaganya yang besar tak bisa diremehkan.
Ditya Kardusana melancarkan serangan balasan dengan sebuah tendangan. Tepat mengenai tengkuk Ditya Kalandaru. Ditya Kalandaru menggeram karena terkena serangan Ditya Kardusana.
Tak berselang lama, Ditya Nopati menghampiri Ditya Kardusana. Mereka bekerja sama menyerang Parama dan Ditya Kalandaru. Kedua kubu saling membalas serangan. Ditya kembar bersatu padu dalam bertempur. Terlihat kompak dalam setiap serangan.
Ditya Nopati mengarahkan pukulan bertenaga ke arah Parama. Disusul tendangan Ditya Kardusana.
*Duak*!
*Duak*!
Tak ayal, tubuh Parama terjerembab menghantam tanah dengan keras. Ditya Kalandaru giliran maju, mengayunkan Gada Lukitasari miliknya. Dua Ditya kembar melompat di udara. Lantas secara bersamaan memberikan pukulan tepat mengenai punggung Ditya Kalandaru.
Ganendra dan Putri Nalini yang sedari tadi diabaikan musuhnya. Berusaha bangkit berdiri.
“Kita tidak mungkin melawan mereka dalam keadaan seperti ini. Sebaiknya kita mundur.” ajak Ganendra pada Putri Nalini.
“Kau benar, kita ambil kesempatan ini. Saat kedua belah pihak sedang sibuk bertarung.”
Putri Nalini lantas memapah Ganendra. Berjalan meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi disaat bersamaan, Ditya Kardusana memergoki mereka hendak kabur kembali. Dia tidak bisa membiarkan hal itu.
“Jangan lari! Akan aku hancurkan tubuh kalian hingga hancur berkeping-keping!”
Ditya Kardusana bergegas memberikan tendangan bertenaga pada Ditya Kalandaru disusul tendangan Ditya Nopati.
*Duak*!
*Duak*!
*Blam*!
__ADS_1
Ditya Kalandaru tersungkur dengan keras menghantam tanah. Menimbulkan bunyi berdebam keras. Setelah itu, Ditya kembar segera mengejar Ganendra dan Putri Nalini. Ganendra yang terluka dibagian dada akibat tebasan pedang Parama. Tak bisa lari dengan kencang.
Hingga sebuah tendangan tepat mengenai Ganendra dan Putri Nalini.
*Duak*!
*Dak*!
Keduanya terjerembab ke tanah bersamaan. Rasa nyeri semakin merayap ditubuh Ganendra maupun Putri Nalini.
“Huahahahaha!!!! Dasar tidak berguna. Mati saja kau!!!” teriak dua Ditya kembar bersamaan.
Lantas memberikan pukulan dan tendangan ke arah Ganendra. Ganendra tak tinggal diam, dia melesat bagai kilat. Menghindari serangan dua Ditya kembar sembari melancarkan serangan tombak Naga Baruna. Namun sayangnya, Ditya Nopati menahan tombak Ganendra.
Ganendra mulai kehabisan tenaga. Hingga tak mampu beradu kekuatan dengan Ditya Nopati. Tanpa dinyana, sebuah pukulan bertenaga dari Ditya Kardusana menghantam tubuhnya dengan keras.
*Duaaak*!!!
Tubuh Ganendra terpental hingga melayang ke udara dan kemudian menghantam pepohonan dengan sangat keras.
*Blam*!
“Ganendra!” pekik Putri Nalini yang berlari ke arahnya.
Ganendra kesulitan untuk bangkit lagi karena sekujur tubuhnya terasa sakit. Dia dihajar habis-habisan oleh dua Ditya kembar. Putri Nalini jelas bukan tandingan keduanya.
“Bwahahaha!!! Dasar manusia-manusia lemah! Bisa-bisanya mengalahkan Sarpakenanga. Sungguh tak masuk akal.” ucap Ditya Nopati.
Ditya Kardusana ikut tertawa terbahak-bahak.
“Ba…Bagaimana ini?” tanya Putri Nalini yang terlihat panik.
“Lebih baik kau pergi dari sini. Selamatkan dirimu. Aku yang akan menghadang kedua Ditya bodoh itu.” ucap Ganendra berusaha bangkit sembari berpegangan pada tombaknya.
Putri Nalini memegangi lengan Ganendra yang berusaha berdiri.
“Dasar pria bodoh! Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian. Lebih baik kita mati bersama.” balas Putri Nalini.
“Bwahahaha! Kalua begitu, kita tidak akan segan membunuh kalian. Akan kami antarkan kalian ke neraka bersama.” ucap Ditya Kardusana.
__ADS_1
Lantas dua Ditya kembar mengerahkan energinya masing-masing. Siap melancarkan serangan ke arah Ganendra maupun Putri Nalini.
“Matilah kalian!” teriak dua Ditya kembar bersamaan.
Pukulan dengan sinar hitam yang mengelilingi tangan Ditya kembar mengarah tepat pada Ganendra dan Sang Putri. Keduanya hanya bisa pasrah jika serangan itu mengenai tubuh mereka.
*Roaar*!!!
Tepat saat serangan itu hampir mengenai Ganendra maupun Putri Nalini. Tiba-tiba ratusan anak panah melesat ke arah Ditya kembar. Tak ayal, Ditya Kardusana dan Nopati segera menghindar ataupun menangkis panah yang banyak jumlahnya.
Mata Ganendra segera melihat dari mana anak panah itu berasal. Tepat dari arah belakang, beberapa prajurit terus-terusan melancarkan serangan anak panah. Dibantu Ksatria Saka yang melesat menyerang Ditya kembar.
“Putri Nalini, kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah kerumunan prajurit.
Sang Putri langsung menatap siapa yang memanggil namanya. Seorang pria paruh baya yang mengenakan hiasan kepala berlapis emas sedang menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.
“Paman Parwa?!” pekik Putri Nalini dengan wajah penuh binar keceriaan.
Seseorang yang dipanggil paman oleh Putri Nalini merupakan penguasa Kerajaan Purawan, Raja Parwa. Raja Parwa adalah adik dari Raja Sri Mahadana.
“Paman, datang tepat waktu.” ucap Putri Nalini.
“Paman bergegas datang karena mendengar bahwa terjadi serangan beberapa Ditya di wilayah Purawan. Paman tidak bisa membiarkan Ditya ini memasuki Kota Raja. Tak disangka kau berada di sini.”
Di sisi lain dua Ditya kembar dikeroyok Ksatria Saka dari Kerajaan Purawan. Mereka adalah Ksatria Saka pilih tanding. Kemampuannya tak bisa di remehkan.
“Situasinya tidak memungkinkan. Sebaiknya kita pergi dari sini.” ajak Ditya Kardusana pada Ditya Nopati.
Ditya Nopati mengangguk setuju. Lantas keduanya berubah menjadi sinar hitam. Melayang di udara dan kemudian menghilang.
Ganendra maupun Putri Nalini dapat bernafas lega. Mereka selamat dari serangan Ditya kembar yang sangat tangguh. Tanpa keduanya sadari, tak jauh dari sana. Parama dan Ditya Kalandaru hanya diam dan mengawasi.
Situasi ini tidak memungkinkan mereka untuk menyerang Ganendra. Banyak Ksatria Saka dari Kerajaan Purawan yang akan menghalangi mereka.
“Kita mundur terlebih dahulu.” ucap Parama.
Ditya Kalandaru mengangguk. Merekapun menghilang di balik pepohonan. Menyisakan Ganendra bersama Raja Purawan dan prajuritnya. Sang Raja berbaik hati mengajak Ganendra dan Putri Nalini ke Kerajaan Purawan. Merawat luka mereka yang cukup parah.
Keberuntungan kali ini berpihak pada Ganendra. Lawan yang dia hadapi semakin tangguh. Banyak musuh bermunculan hendak menghabisinya. Jauh di dalam lubuk hati pemuda itu. Dia ingin menjadi lebih kuat supaya bisa mengalahkan musuh-musuhnya dan membawa terang di Swastamita.
__ADS_1
Tak terasa, pagi telah berganti dengan malam. Sang Rawi kembali keperaduannya. Membawa tenang malam di Kerajaan Purawan. Jauh di depan sana, petualangan panjang masih menanti Ganendra Abhirawa.