
Ganendra dan kawan-kawannya sedang dikejar waktu. Jangan sampai kesempatan ini terlewat begitu saja. Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada kembali menggunakan kekuatan Kadewatan. Mengawetkan tubuh Sang Putri. Keduanya juga tidak berani mengambil resiko melapor pada Raja Sri Mahadana mengenai keadaan Putri Nalini. Sang Raja bisa murka dan akan berakibat lebih fatal lagi. Buyut Wengkeng hanya bisa mempercayakan semuanya pada Ganendra.
Ganendra yang di dampingi Parama maupun Sadana menaiki Burung Mliwis yang dipanggil oleh Buyut Bawada secara cipta. Burung Mliwis itu siap mengantarkan mencari Kanha.
“Kakang Parama, menurutmu di mana Yang Maha Sakti berada?” tanya Sadana.
“Entahlah, tidak ada yang mengetahui di mana keberadaannya. Mungkin Mliwis suci dapat menemukannya.”
Ganendra diam saja. Pikirannya hanya dipenuhi bagaimana cara menyelamatkan Putri Nalini. Burung Mliwis merupakan binatang suci yang hidup di alam Kadewatan. Bisa mengetahui di mana keberadaan dewa lainnya karena bisa merasakan energi. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Burung Mliwis lantas membawa ketiga pemuda itu ke sebuah gunung. Seusai mengantarkan, Burung Mliwis terbang dan menghilang dibalik awan.
“Apa ini gunung yang pernah kita kunjungi tempo hari?” tanya Ganendra.
Parama menggeleng, “aku rasa ini bukan Gunung Wayang.”
Sadana melihat sekitar pegunungan. Lalu menyahut.
“Mungkinkah gunung ini dinamakan Gunung Meru?”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Parama.
“Hanya ada satu gunung yang tertutup awan dan menjulang tinggi. Gunung itu tak lain Gunung Meru.”
“Apa kalian yakin, burung itu mengantarkan kita ke tempat yang benar?” tanya Ganendra yang masih merasa ragu.
“Burung Mliwis adalah binatang suci. Memiliki kelebihan bisa merasakan energi Yang Maha Sakti.” jawab Parama yakin.
“Aku heran, kenapa kalian terus memanggil Kanha pemuda penggembala itu sebagai Yang Maha Sakti?” tanya Ganendra.
Sadana yang menjawab, “kau akan mengetahui jika sudah bertemu lagi dengannya.”
Ketiganya lantas melanjutkan perjalanan. Menaiki bukit. Menerobos lebatnya hutan. Menyingkap semak belukar. Mencari keberadaan Kanha. Beberapa saat berjalan. Samar-samar terdengar suara seruling dengan nada khas.
“Tunggu, kalian mendengar suara seruling?” tanya Sadana.
Ganendra maupun Parama mendengarkan dengan seksama. Ya, mereka mendengar seseorang memainkan seruling. Setelah beberapa saat, mereka mengetahui di mana arah suara seruling itu berasal. Ketiganya bergegas menuju sumber suara.
Di puncak gunung yang dipenuhi rerumputan hijau dengan kabut putih seperti awan terlihat beberapa sapi dengan asyik menyantap rumput. Suara seruling kembali terdengar mengalun.
Ganendra melihat sekelilingnya. Matanya kemudian terantuk pada sosok pemuda belia yang sedang duduk di salah satu ranting dahan. Meniup serulingnya dengan alunan nada yang khas.
“Kita bertemu lagi?” tanya Kanha dengan senyum renyah.
Seusai Ganendra dan yang lain menghampirinya.
“Kali ini aku tidak ingin basa-basi lagi. Aku ingin meminta Bunga Wijayakusuma padamu.”
“Eh…lagi?” tanya Kanha sembari melompat dan turun dari pohon.
__ADS_1
“Aku mohon.” ucap Ganendra memelas.
“Kalau begitu berlutut padaku.” Kanha meminta Ganendra berlutut.
Tanpa berpikir panjang, Ganendra melakukan apa yang diinginkan Kanha. Selama hidupnya Ganendra tidak pernah memohon ataupun berlutut sekalipun. Kerasnya hidup di dunia modern yang harus dia jalani. Memaksanya untuk tidak meminta belas kasihan pada orang lain, sebab dia sudah paham. Tidak ada gunanya meminta belas kasih yang lain. Tidak akan banyak membantu. Tetapi cerita kali ini berbeda.
Kanha tertawa melihat Ganendra dengan gampangnya berlutut.
“Kau pasti tidak pernah berlutut dihadapan orang lain. Ini luar biasa.” ledek Kanha dengan senyum lebar.
“Aku tidak perduli kau mengatakan apa. Aku akan melakukan apapun yang kau katakan.” Ganendra mengatakan dengan membuang rasa malunya.
“Kau berikan saja pertanyaan untukku. Aku akan menjawabnya dengan cepat.” lanjut Ganendra.
“Bagaimana kalau aku tidak memberikan Bunga Wijayakusuma. Meski kau sudah berlutut?” Kanha lagi-lagi meledek Ganendra.
“Kau mempermainkanku hah?!” teriak Ganendra hendak memukul Kanha.
Tetapi buru-buru Sadana dan Parama menahan Ganendra. Habis sudah kesabarannya.
“Jika aku menuruti perintahmu. Kau mengatakan akan memberikanku Bunga Wijayakusuma.” Ganendra mulai kesal.
“Aku tidak mengatakan seperti itu.” jawab Kanha dengan enteng.
Membuat Ganendra naik pitam. Dia hendak menyerang Kanha. Lagi-lagi Sadana menahan Ganendra.
“Hemmm … baiklah… aku akan mempertimbangkannya. Tetapi kali ini, aku akan menantang Ganendra bertarung. Kita lihat seberapa besar kesombongannya untuk bisa mengalahkanku.” tantang Kanha.
“Aku akan meladenimu.” jawab Ganendra dengan cepat.
Sadana maju selangkah, “biarkan saja aku yang menghadapinya. Kau masih ditingkatan Ksatria Saka tingkat ketiga. Akan sulit bagimu untuk menang melawannya.”
“Benar apa yang dikatakan Sadana. Aku juga bisa mewakilimu bertarung.” timpal Parama.
“Tidak, biarkan aku yang menyelesaikan ini semua. Nalini kehilangan nyawa karena ingin menyelamatkanku. Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja.” ucap Ganendra penuh keyakinan.
Tekad Ganendra sudah bulat. Tidak ada yang bisa mencegahnya.
“Wah, ini sangat menarik. Mari bertarung melawanku.” ucap Kanha sembari menyelipkan seruling di ikat pinggang miliknya.
Meski Sadana maupun Parama tidak yakin Ganendra bisa mengalahkan Kanha. Mereka tidak bisa mencegah kawannya itu.
Ganendra bersiap dengan memasang kuda-kuda. Menyalurkan tenaga dalam di bagian tangan maupun kakinya. Kanha hanya tersenyum sembari melipat tangannya ke belakang.
“Hyaaa!!!” Ganendra berteriak dengan lantang.
Lantas berlari secepat kilat. Memberikan pukulan ke arah Kanha. Kanha tersenyum dan menahan pukulan Ganendra hanya dengan tangan kanannya saja. Meski untuk sesaat terkesiap. Ganendra harus tetap berkonsentrasi menghadapi Kanha.
__ADS_1
Ganendra kembali memberikan serangan. Sikunya dia arahkan pada Kanha. Kanha hanya merunduk sembari memutar tubuh. Ganendra mengerahkan tenaga dalam ke kakinya. Terus menyerang Kanha. Lagi-lagi Kanha terlihat santai menghadapi serangan Ganendra. Dia menahan tendangan memutar kaki Ganendra.
Lantas mendorong tubuh pemuda itu hingga jatuh terjerembab. Rasa nyeri tak dihiraukan Ganendra. Lagi-lagi dia bangkit dan bergerak secepat kilat. Berputar-putar mengelilingi Kanha. Berharap penggembala sapi itu merasa pusing. Tetapi saat Ganendra kembali melayangkan pukulan. Kanha menahan dengan satu tangannya. Lantas memutar tubuh Ganendra berkali-kali seperti gasing.
“Woooo!!!” teriak Ganendra yang terus berputar-putar sendiri.
Pemandangan disekelilingnya juga ikut berputar. Kanha tersenyum dan menyentuh dada Ganendra dengan telapak tangannya dan…
Blar!
Blar!
Tubuh Ganendra melayang dan terpental hingga beberapa hasta. Menubruk pepohonan hingga terbelah. Lantas terjerembab ke tanah. Tak ayal darah segar dia muntahkan. Rasa sakit mulai merayap di sekujur tubuh. Rupanya Kanha adalah lawan yang tidak bisa diremehkan. Kekuatannya begitu besar.
Sadana dan Parama tak bisa ikut campur dalam pertarungan ini. Bukan sikap seorang Ksatria jika ikut menyerang seseorang yang sedang melakukan duel satu lawan satu.
Ganendra mengatur nafas.
“Aku tidak akan menyerah!” ucapnya lantang.
Lalu bangkit berdiri sekuat tenaga. Berlari bagai kilat. Melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.
“Hyaaaa!!!” tendangan memutar diarahkan pada Kanha.
Kanha dengan tangan tangan kirinya saja menahan tendangan Ganendra. Ganendra lantas memutar tubuh dan dengan cepat memberikan pukulan.
Duak!
Tepat mengenai dada Kanha. Membuat Kanha terhuyung beberapa langkah ke belakang. Senyum lebar terlihat dari wajahnya.
“Ah, rasanya menyenangkan.” ucapnya riang.
Ganendra tak memberi kelonggaran bagi Kanha. Lantas kembali memukul bertubi-tubi ke arah Kanha. Tetapi sebelum pukulan itu tepat mengenai Kanha. Tiba-tiba waktu berhenti dan Ganendra melihat seluruh alam semesta berputar mengitari Kanha. Tubuh Kanha mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Lantas tanpa Ganendra sadari, tubuhnya melayang dan terpental menubruk beberapa pepohonan.
Mengakibatkan beberapa pohon tumbang. Tubuhnya terasa remuk. Dia berusaha bangkit. Tetapi tubuhnya tak lagi dapat bergerak. Sebelum dia bangkit. Kanha sudah menginjaknya. Membuat Ganendra semakin kesulitan.
“Lepas…lepaskan!” ronta Ganendra.
“Hemmm tidak terlalu buruk untuk seorang Ksatria Saka tingkat rendah. Meski kau terkesan membual. Tetapi sebenarnya kau memiliki potensi.” ucap Kanha.
Ganendra masih meronta.
“Selama ini tidak ada yang berhasil membuatku mundur beberapa langkah. Ini pertama kalinya. Tetapi sayang sekali, kau sudah kalah. Kembalilah lain waktu. Mungkin aku akan mempertimbangkan memberikanmu Bunga Wijayakusuma.” ucap Kanha sembari melepas injakannya di dada Ganendra.
Mendengar perkataan Kanha. Tangan Ganendra mengepal kuat. Dia tidak bisa kembali lain waktu. Dia harus mendapatkan Bunga Wijayakusuma secepat mungkin. Tetapi saat ini tubuhnya sudah kehilangan banyak tenaga.
Kanha hanya tersenyum dan melangkah pergi...
__ADS_1