Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Pralaya


__ADS_3

Bertepatan saat gerhana bulan berakhir. Para Ditya tidak lagi sekuat seperti sebelumnya. Inilah kesempatan Sadana menghabisi semuanya.


“Ganendra! Balin! Bantu aku!” teriaknya.


Ganendra dan Balin mengangguk. Lantas menyerang beberapa Ditya dengan pukulan maupun tendangan. Mereka jatuh bergeletakan dan di akhiri dengan kekuatan Sadana.


“Yantra Bajra Maruta!”


Angin tornado berhembus kencang. Dipadukan dengan kapak milik Sadana. Berputar-putar mencabik-cabik tubuh para Ditya. Tanpa ampun tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian. Terkena kapak yang berpadu dengan angin tornado milik Sadana. Semua Ditya tewas seketika. Keadaan Medangwantu kembali aman.



“Eh, kau terluka.” tunjuk Balin pada Ganendra. Lalu buru-buru memberikan bubuk obat.



Sadana dan Buyut Wengkeng datang menghampiri.



“Aku tidak bisa tinggal diam. Entah apa yang aku lakukan berguna atau tidak. Aku akan pergi ke Pancapratala.” ucap Ganendra hendak melangkah pergi.



Sadana menahan lengan Ganendra.


“Jangan pergi sendiri. Kita tunggu Parama dan Soma.”


“Itu benar.” timpal Balin.



“Aku merasakan firasat buruk. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” kata Ganendra bergegas pergi.



“Duh…Duh bagaimana ini?” tanya Balin kebingungan.



“Sadana dan Balin, pergilah temani Ganendra. Jika Parama dan Soma kembali akan ku minta mereka menyusul kalian.” ucap Buyut Wengkeng.



“Baik Ki.” balas Sadana. Lantas menyusul Ganendra bersama Balin.



*Di Pancapratala*.



Roaaar!!!



Suara raungan menggema di penjuru ruangan. Menggetarkan dinding-dinding tanah. Raungan itu berasal dari Ditya Kalandaru. Di pelukannya Putri Nalini tergeletak tanpa nyawa.


“Nalini! Nalini! Nalini! Kenapa kau memilih kematian seperti ini? kenapa kau tidak ingin memuluskan rencanaku? Kenapa?!!!” teriak Ditya Kalandaru dengan amarah menggelora.


Perlahan tato berbentuk gelang rantai di pergelangan tangan Putri Nalini memudar dan kemudian menghilang. Pertanda Sang Putri telah terlepas dari Yantra Pengikat Perjanjian. Ditya Kalandaru tak bisa menahan gejolak amarahnya. Rencana yang disusunnya hancur berantakan.



“Jika ini pilihanmu. Maka silahkan mendekap dalam keabadian.” ucap Ditya Kalandaru.



Membiarkan tubuh Putri Nalini yang sudah tanpa nyawa tergeletak begitu saja. Beberapa saat kemudian, tubuh Ditya Kalandaru berubah menjadi sinar hitam. Melayang di udara dan kemudian menghilang.



Teror Sang Ditya berhasil di atasi. Di ufuk timur fajar mulai terlihat menyingsing. Ganendra yang ditemani Sadana dan Balin telah tiba di Pancapratala. Di sana hanya ada beberapa Ditya yang berjaga.

__ADS_1


Ganendra bergerak dengan cepat. Melompat ke sana kemari. Tak diindahkan luka ditubuhnya. Dia memberikan tendangan memutar disertai pukulan tajam tepat mengarah ke kepala Ditya. Mereka terjungkal ke tanah. Lantas diakhiri dengan kapak Sadana.


Balin tak kalah sangar. Dia menggunakan kepalanya untuk menubruk lawan. Membuat lawannya terpental. Kemudian di sambut ijakan kaki Ganendra yang bertenaga. Di sisi lain, kapak Sadana melayang mencari mangsa. Menebas setiap Ditya yang berusaha menghalangi.


Beberapa Ditya mengeroyok Ganendra bersamaan. Tetapi dengan gerakan cepat, Ganendra melompat ke udara dan memberikan tendangan memutar.


Duak!


Duak!


Para Ditya berakhir tersungkur ke tanah. Sadana siap menebas kembali dengan kapaknya. Tidak ada Ditya yang tersisa. Ganendra dan Sadana saling berpandangan dan mengangguk. Lantas masuk ke dalam. Balin hanya mengekor di belakang. Takut kalau-kalau Ditya Kalandaru muncul menghadang.


Ganendra tidak perduli jika saat ini harus berhadapan dengan Ditya Kalandaru. Dia akan melawan mati-matian dan menyelamatkan Putri Nalini. Meski semua orang mengatakan tidak ada jalan melepas yantra pengikat perjanjian pada Sang Putri.Dia tetap akan mencari jalan keluar. Tidak perduli kesulitan apapun yang di lewati. Harus mempertaruhkan nyawa pun akan direlakan Ganendra.


Mereka berpencar dan berkeliling ruangan. Mencari keberadaan Putri Nalini.



“Nalini! Nalini!” panggil Ganendra berulang kali.



Di sisi lain, Balin dan Sadana juga ikut mencari.



“Gusti Putri! Gusti Putri!” teriak keduanya bersamaan.



Untuk sesaat Ganendra ingat. Ada sebuah ruangan yang merupakan kamar milik Ditya Kalandaru. Mungkinkah Sang Putri berada di sana? Ganendra tak mau berpikir panjang lagi. Dia segera berlari ke tempat yang pernah di datangi. Sadana dan Balin yang melihat Ganendra segera mengikuti kemana pemuda itu pergi.


Tepat saat kaki Ganendra melangkah ke kamar tersebut. Matanya terbelalak tatkala melihat Putri Nalini tergeletak.


“Nalini!” pekik Ganendra.


Sembari setengah berlari, Ganendra menghampiri Putri Nalini yang sudah tidak berdaya. Di belakangnya Sadana dan Balin mengikuti. Ganendra langsung mendekap tubuh Sang Putri dalam pelukannya. Matanya nanar melihat pisau yang menancap di dada Sang Putri. Tanpa banyak berpikir dia cabut pisaunya. Darah merah terlihat segar keluar dari luka Putri Nalini.



Sadana bergegas menghampiri. Berusaha menekan luka di dada Sang Putri.


“Nalini! Buka matamu! Sadarlah!” panggil Ganendra sembari berteriak.



Sadana memeriksa nafas Putri Nalini dari hidung. Kemudian merasakan denyut nadi dipergelangan tangan Sang Putri. Sedetik kemudian, wajahnya tertunduk lesu. Tangannya menepuk bahu Ganendra.



Ganendra menatap Sadana. Sadana hanya bisa menggeleng. Tidak ada harapan. Sang Putri telah pralaya. Layaknya prajurit yang gugur di medan perang.



“Jangan membuatku marah disaat seperti ini. Tidak mungkin Nalini sudah mati!” teriak Ganendra tak percaya.



“Nalini! Cepat bangun!”



“Putri Congkak! Cepatlah buka matamu!” ucap Ganendra dengan teriakan keras.



Sembari menepuk-nepuk pipi Putri Nalini yang sudah mulai pucat.


“Gyaaaaa!!!!” teriak Ganendra terdengar putus asa.


Ganendra membopong tubuh Putri Nalini yang sudah tak berdaya dengan langkah lunglai. Dia tak kuasa menahan kesedihan dalam hatinya. Perasaannya tak pernah sehancur ini. Tak pernah merasakan kehilangan hingga membuatnya terasa sangat hampa. Langkahnya terseok-seok kembali ke Medangwantu.


__ADS_1


Di Medangwantu, Buyut Wengkeng beserta yang lain menantikan kedatangan mereka. Soma yang melihat Ganendra datang segera menghampiri.



“Bagaimana dengan Gusti Putri?” tanya Soma kelihatan cemas.



Sadana hanya menepuk bahu Soma sembari menggeleng. Balin malah menangis keras. Mata Soma seketika menatap nanar tubuh Putri Nalini yang tak berdaya dalam gendongan Ganendra.



“Tidak….tidak mungkin…” ucap Soma lirih.


Langkahnya terhuyung. Merasakan tubuhnya lemas seketika.


Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada yang telah kembali ke Medangwantu bergegas menghampiri. Memeriksa keadaan Putri Nalini.


“Ki…bagaimana ini?” tanya Buyut Bawada.



“Cepat bawa ke dalam.” pinta Buyut Wengkeng.



Ganendra bergegas membaringkan tubuh Putri Nalini. Buyut Wengkeng memberikan isyarat pada Buyut Bawada. Mereka mengambil nafas dalam dan mengheningkan cipta. Memusatkan energi Kadewatan di telapak tangannya. Seberkas sinar berwarna putih muncul dari kedua buyut tersebut.



Mereka meletakkannya di luka Sang Putri perlahan luka Putri Nalini tertutup. Akan tetapi nyawanya masih tak bisa dikembalikan.



“Ba…bagaimana Pak Tua? Aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan Nalini.” ucap Ganendra.



“Putri Nalini sepertinya memilih bunuh diri daripada dijadikan wadah. Mungkin masih bisa diselamatkan. Setidaknya dia belum dijadikan wadah kelahiran Ditya.” jawab Buyut Wengkeng.



“Lalu bagaimana caranya?” tanya Ganendra.



“Bunga Wijayakusuma, bisa mengembalikan nyawa Sang Putri.” jawab Buyut Bawada.



“Kalau begitu aku akan mencari Kanha.” ucap Ganendra.



Tetapi Buyut Wengkeng menghadangnya.



“Namun aku ragu, apakah Kanha bersedia memberikan Bunga Wijayakusuma. Mengingat dia sudah pernah memberikannya.”



“Aku tidak perduli dan tetap akan mencarinya.” kata Ganendra penuh tekad.



Selama masih ada harapan. Dia akan bertekad memenuhi harapan itu. Sadana dan Parama berdiri bersamaan.



“Aku akan ikut denganmu.” ucap keduanya.


__ADS_1


Tidak lama berselang, ketiga Ksatria Saka itu pergi mencari keberadan Kanha.


__ADS_2