
Ganendra merasakan sekelilingnya tampak gelap gulita. Hanya merasakan hawa panas di sekujur tubuh. Dia menahan rasa sakit itu sendirian. Jauh dilubuk hati, dia teringat dengan ibunya. Merindukan sosok ibu yang pernah membelainya sewaktu kecil dahulu. Bagaimana kabar ibunya sekarang? Apakah Kalimakara menjaga ibunya dengan baik? Pertanyaan itu terus bermunculan dibenaknya.
Hingga samar-samar terdengar suara seseorang memanggil namanya. Suara yang cukup dikenalnya.
“Ganendra, kau bisa mendengar suaraku?”
Meski tubuhnya merasakan sakit. Matanya begitu berat untuk terbuka. Ganendra berusaha keras untuk bangun. Seberkas cahaya menerangi tubuhnya. Membuat hawa panas disekujur tubuh terasa berkurang. Perlahan dia membuka mata. Meskipun pandangannya masih samar, dia dapat melihat siapa yang sedang menatapnya. Ya… Buyut Wengkeng yang selalu dipanggil Pak Tua oleh Ganendra.
“Kau rupanya Pak Tua? Jika bisa melihatmu berarti aku masih hidup.” kata Ganendra dengan santainya.
Buyut Wengkeng terkekeh.
“Kau tetap tidak memiliki sopan santun terhadap orang tua.”
Ganendra hanya tersenyum simpul. Di sampingnya seseorang menangis sesenggukan. Orang itu tak lain adalah Balin. Dia merasa sangat bersalah Ganendra terkena cacar akibat melindunginya.
*Balin
“Maaf…maafkan aku huaaaaa….” tangis Balin meledak.
Meski perawakan tubuh Balin tambun tetapi hatinya setipis kapas alias cengeng. Ganendra hanya nyengir.
“Tidak perlu menangis sekeras itu. Aku belum mati.”
“Huaaaa…tapi kenapa kau menyelamatkanku? Hatimu sungguh baik.”
Ganendra menepuk bahu Balin sambil setengah berbisik.
“Aku melindungimu karena kau menjanjikan sesuatu padaku.”
“He?????” Balin langsung berteriak dengan wajah cemberut.
Ganendra tertawa lebar. Membuat seseorang bangun dari tidurnya.
“Kau masih bisa tertawa lebar saat terkena cacar seperti itu?” tanya seseorang yang tak lain Sadana.
Ganendra melihat Sadana berbaring tak jauh darinya. Di sebuah bilik yang sama. Seluruh tubuh Sadana sama sepertinya dipenuhi bintik-bintik.
“Eh, bagaimana bisa kau?” tanya Ganendra.
“Apa kau berhadapan dengan monster itu?” Ganendra lanjut bertanya.
Sadana hanya diam dan memilih berbaring. Buyut Wengkeng berdehem sebentar dan menceritakan awal mula berada di Desa Karanglengki.
“Setelah kau menghilang bersama Ditya sewaktu di istana Ayodya. Soma dan Sadana merasa bersalah. Mereka terus mencarimu kemana-mana.”
“Eh???” Ganendra menatap Sadana yang pura-pura tidur.
Buyut Wengkeng melanjutkan ceritanya.
“Hingga kami mendengar kabar bahwa di Desa Karanglengki mendapat teror Ditya. Hampir seluruh warga desa terkena cacar ganas. Tidak ada yang berani datang ke sini. Tetapi Sadana dan Soma bersikeras ingin kemari. Mereka berpikir mungkin saja kau berada di sini. Berharap kau selamat dari cengkraman para Ditya.”
__ADS_1
Mendengar cerita Buyut Wengkeng. Ganendra mengulas senyum tipis disudut bibirnya. Buyut Wengkeng melanjutkan cerita.
“Mengingat banyak desa yang semakin banyak mendapat teror. Aku dan Sadana beserta beberapa Ksatria Saka mencoba membantu desa lain. Kebetulan, kami melewati hutan sewaktu hendak kemari dan malah menemukanmu terkapar di sana bersama Balin yang terus menangis. Melihat kau terkena wisa beracun, membuat Sadana segera menghisap racun dalam tubuhmu. Tetapi akibatnya dia ikut tertular.”
Sadana memejamkan mata meski hanya pura-pura. Wajahnya terlihat bersemu merah. Kenapa Buyut Wengkeng harus sedetail itu menceritakan pada Ganendra. Sadana merasa wibawanya jatuh begitu saja. Tanpa dia ketahui seulas senyum tersungging di sudut bibir Ganendra.
“Lalu, kenapa Ksatria yang lain ikut tertular? Apa mereka bertarung dengan monster itu?” tanya Ganendra.
Ksatria Saka yang hanya berjumlah tiga orang memilih memejamkan mata. Lagi-lagi pura-pura tidur. Buyut Wengkeng mengulas senyum tipis sembari mengelus jenggotnya.
“Setelah mengetahui Sadana terkena dampak wisa beracun. Salah satu dari mereka menghisapnya. Lalu di susul yang lain saling menghisap racun. Satu sama lain tidak rela kawan-kawannya terkena wisa.” jawab Buyut Wengkeng.
Sedetik kemudian, terdengar suara tawa Ganendra meledak. Selama ini belum pernah sekalipun dia tertawa selebar ini. Membuat yang lain keheranan.
“Kenapa kau malah tertawa lebar seperti itu? apa kau tidak tahu. Sisa waktu yang kita miliki hanya dua hari saja. Mengingat kita tidak sadarkan diri selama sehari. Jika tidak segera menemukan obatnya. Kita semua akan mati.” Sadana seketika membuka mata. Menatap Ganendra dengan tatapan putus asa.
Seketika Ganendra menghentikan tawanya. Hingga terdengar suara rintihan kesakitan dari Ksatria Saka yang lain. Hawa panas mulai menyerang tubuh mereka seperti ulat yang menggeliat dalam tubuh. Buyut Wengkeng menggunakan kekuataan Kadewatannya untuk menahan racunnya supaya tidak terlalu memberikan rasa sakit. Ganendra diam sesaat. Tidak lama kemudian, suara rintihan terdengar mulut Sadana.
“Pak Tua, apa kau mengetahui obat dari cacar ini?” tanya Ganendra pada Buyut Wengkeng.
“Mengenai pengobatan, aku tidak begitu memahami. Hanya teringat sesuatu mengenai tanaman yang ampuh untuk mengobati sesuatu. Tetapi apakah bisa untuk mengobati cacar ini, akupun tidak mengetahui.”
“Ahhh sungguh Pak Tua yang payah.” gumam Ganendra kesal.
Lalu merebahkan tubuhnya kembali. Balin yang duduk di samping Ganendra tertunduk lesu. Hawa panas mulai dirasakan Ganendra sedikit demi sedikit. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya. Hingga malam tiba, mereka belum menemukan jalan keluarnya. Ganendra hanya bisa berbaring dan memejamkan mata.
*Apakah kali ini dia sungguh akan mati*?
Pertanyaan seperti itu terus terngiang di kepalanya.
...****************...
Di dalam keadaan yang mendesak seperti ini. Ingatan Ganendra melayang saat dia berusia 10 tahun. Ganendra juga terkena penyakit cacar. Ibunya dengan telaten merawat dan mengolesinya dengan suatu tanaman. Tiba-tiba matanya terbelalak.
“Aku ingat! Tanaman itu!” pekiknya sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
Balin membantu Ganendra duduk.
“Temani aku pergi ke hutan. Mencari tanaman itu.” pinta Ganendra pada Balin.
“Apa kau yakin?” tanya Buyut Wengkeng.
Ganendra mengangguk, “kita tidak memiliki banyak waktu. Jadi tidak ada salahnya kita coba.”
Lantas Balin memapah Ganendra berjalan ke luar bilik. Ditemani Buyut Wengkeng. Takut jika sampai Ditya tempo hari kembali menyerang.
Sesaat setelah sampai di hutan. Mata Ganendra melihat sekeliling. Mengamati tanaman yang dia cari.
“Katakan bagaimana rupa tanaman itu?” tanya Buyut Wengkeng.
Meski dengan menahan hawa panas yang semakin menjalar di tubuhnya. Ganendra memberi arahan pada Buyut Wengkeng. Waktu mereka tinggal sehari saja menemukan obatnya. Air bercampur nanah mulai meletup keluar dari tubuh Ganendra. Dia menahan rasa sakit yang terus menjalar.
“Pak Tua, carilah tanaman berdaun banyak menyirip genap. Anak daun berjumlah genap di ujung tangkai dengan jumlah helaian 8-16. Tepi daun bergerigi, bergigi, beringgit, helaian daun tipis seperti kulit mudah layu.”
__ADS_1
Buyut Wengkeng berusaha mencari ke sana kemari di sekitaran hutan. Balin juga ikut membantu mencari tanaman seperti yang disebutkan Ganendra. Mereka harus bergegas karena waktu yang dimiliki tidaklah banyak.
“Arghhtttt!!!” suara erangan Ganendra terdengar keras.
Rasa sakitnya tidak tertahan lagi. Balin mulai panik. Buyut Wengkeng menggunakan kekuatan Kadewatannya yang tersisa untuk menahan rasa sakit yang dirasakan Ganendra.
“Balin! Cepatlah!” perintah Buyut Wengkeng sembari menyalurkan kekuatannya di tubuh Ganendra.
Akibat menggunakan kekuatan Kadewatannya secara terus-menerus energi Buyut Wengkeng juga ikut terkuras. Mereka dikejar waktu.
Balin dilanda kepanikan. Dia mengambil sehelai daun dan memperlihatkannya pada Ganendra. Pemuda itu hanya menggeleng. Balin kembali mencari disekitaran hutan. Menunjukkan pada Ganendra. Namun Ganendra terus menggeleng.
“Lalu yang mana???” tanya Balin hampir putus asa.
Balin terus mencari ke sana kemari. Tak diindahkan duri melukai tangan dan kakinya.
“Jangan-jangan, tanaman itu langka huaaaa…..” Balin malah menangis keras.
“Aku percaya padamu…..” ucap Ganendra lirih. Tubuhnya sudah lemas.
Mendengar perkataan Ganendra, Balin merasa bersemangat. Dia terus mencari dan memetik beberapa tanaman yang mirip sesuai dengan arahan Ganendra. Lantas menyodorkan di depan Ganendra.
Keringat dingin membasahi tubuh Ganendra. Matanya semakin kabur. Tetapi dia berusaha keras bertahan. Dia tidak ingin Sadana dan yang lain mati begitu saja. Sesaat kemudian, dia berusaha mengangkat tangannya. Menunjuk sebuah tanaman.
“Cam…campurkan daun itu ke dalam air. Tumbuk campuran tadi dan o…oleskan ke ruam cacar yang menjalar di tubuh.” ucap Ganendra tersengal-sengal.
“Apa benar tanaman ini yang kau maksud?” tanya Buyut Wengkeng.
Akan tetapi Ganendra sudah tak dapat menahan rasa sakit ditubuhnya. Kepalanya lunglai dan seketika matanya terpejam. Suara Balin dan Buyut Wengkeng yang terus memanggilnya tak bisa dia dengar. Ganendra melayang-layang ke dalam ruang hampa.
Apa kali ini aku akan benar-benar mati? Bu….jika aku mati, bagaimana denganmu…?
Kemudian semua menjadi gelap.
...****************...
Seberkas sinar Sang Rawi perlahan menembus celah bilik yang dindingnya terbuat dari anyaman rotan. Sinarnya menerpa wajah seorang pemuda yang memejamkan mata rapat-rapat. Di alam bawah sadarnya, suara ibunya yang lembut memanggil berulang kali.
Ganendra….Ganendra…
Ganendra merasakan dia berada di tempat yang tenang dan nyaman. Seolah tertidur dipangkuan ibunya. Tangan lembut ibunya mengelus kepalanya penuh kasih sayang.
Apakah dia benar-benar sudah mati? tanya Ganendra dalam hati.
Hingga suara lantang terus memanggil namanya berulang kali. Seketika Ganendra terpengarah dan langsung membuka mata. Bangkit dari tidurnya. Nafasnya naik turun tak terkendali. Tepat di depannya Balin dan Buyut Wengkeng tersenyum menatapnya. Mereka sepertinya berhasil menemukan obat cacar. Saat Ganendra siuman, pertama kali yang dia tanyakan keadaan Sadana dan yang lain.
Balin memapah Ganendra keluar bilik. Menyaksikan suasana desa yang sibuk menumbuk tanaman untuk mengobati warga Desa Karanglengki. Sebagian dari mereka sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Sadana dan Ksatria Saka lain ikut membantu. Melihat itu semua Ganendra tersenyum bahagia.
“Tanaman itu, bernama Daun Mimba. Bukan tanaman langka seperti yang kau katakan Balin.” ucap Ganendra.
Balin hanya tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kali ini, Ganendra berhasil melewati rintangan yang hampir merenggut nyawanya.
“Kembalilah ke Medangwantu dan bergabunglah dengan Ksatria Saka.” ajak Buyut Wengkeng.
__ADS_1
Buyut Wengkeng, melihat potensi tersembunyi yang ada dalam diri Ganendra. Pemuda yang tidak kenal pantang menyerah. Pemuda yang tanpa disadarinya. Telah membuat orang lain perlahan tak lagi meremehkannya.