Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Kembali Bertarung


__ADS_3

Di Desa Kahuripan, wilayah Kerajaan Ayodya.


"Tolong! Tolong!" teriak para penduduk desa yang tengah di serang para Ditya.


Ksatria Saka dari Desa Kahuripan kewalahan menghadapi serangan Ditya yang dipimpin Ditya Sarpakenanga. Beberapa penduduk tewas terkena racun dari kuku Sarpakenanga.


Buyut Wrahasta, melihat situasi desanya porak poranda. Ksatria Saka dari Desa Kahuripanpun ikut kewalahan. Buyut Wrahasta bergegas mengheningkan cipta. Meminta bantuan para buyut yang lainnya.


Di Desa Medangwantu.


Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada menerima permintaan tolong dari Buyut Wrahasta melalui cipta mereka. Kebetulan Ganendra dan Ksatria Saka dari Medangwantu berkumpul.


"Ksatria Saka, saat ini Desa Kahuripan sedang di serang oleh Ditya sepertinya serangan dipimpin Sarpakenanga." ucap Buyut Wengkeng.


Ganendra bangkit berdiri, "biarkan aku ke sana Pak Tua."


Sadana angkat bicara, "kau tidak boleh pergi."


"Itu benar, kau di sini saja pria mesum." timpal Putri Nalini.


Ganendra menatap keduanya.


"Hei! Ke... Kenapa kalian jadi kompak memojokkanku?"


Soma menepuk bahu Ganendra.


"Kita semua hanya mengkhawatirkanmu."


Parama dan Balin mengangguk. Menyetujui ucapan Soma. Sedangkan Ganendra diam saja. Dia memahami ke khawatiran sahabat-sahabatnya.


"Aku tidak akan bertindak gegabah. Ijinkan aku ikut."


Semua orang tetap tidak memperbolehkan.


"Biarkan aku ikut. Ditya jelek Sarpakenanga itu, aku pernah menghadapi. Lebih baik kita susun strategi."


Buyut Wengkeng dan Buyut Bawada mengangguk. Apa yang dikatakan Ganendra benar. Untuk menghadapi Ditya, tidak hanya menggunakan kekuatan. Tetapi berganti dengan strategi.


...****************...


Ksatria Saka dari Medangwantu yang dipimpin Sadana bergerak dengan cepat. Alhasil Ganendra diijinkan ikut. Asal tidak melakukan tindakan gegabah. Bagi Ganendra, tujuan utama dia adalah membalas kematian Kemuning.


Kemuning, tunggu aku membalaskan kematian mu. ucap Ganendra dalam hati.


Saat sampai di Desa Kahuripan. Semua porak poranda. Tumpukan mayat bergelimpangan. Bau anyir darah merah maupun hitam saling bercampur. Sadana meminta yang lain berhati-hati. Tak jauh dari sana. Terdengar beberapa pertempuran.


"Kalian! Bersiaplah!" perintah Sadana.


Parama mengangguk. Begitu juga dengan Ganendra. Putri Nalini dan Balin masih menemani Soma. Mempersiapkan dirinya. Entah apa yang sedang mereka persiapkan.


Ganendra kini sudah bisa menguasai kemarahannya. Buyut Wengkeng sudah menceritakan bagaimana dia sampai terkena racun Sarpakenanga. Hingga Putri Nalini memberikan penawar. Tetapi hingga sekarang Putri Nalini enggan menceritakan darimana dia mendapatkan penawar racunnya.


Roaar!!!

__ADS_1


Para Ditya masih bertempur dengan Buyut Wrahasta. Ki Buyut bertahan mati-matian meski Ksatria Saka dari Desa Kahuripan semuanya sudah tewas. Sadana dan Parama segera melompat. Menyerang para Ditya dan membantu Buyut Wrahasta.


Parama melompat dan memberikan tendangan memutar pada salah satu Ditya. Hingga terjungkal lantas menusuk dengan pedangnya tanpa ampun.


"Ki Buyut baik-baik saja?" tanya Sadana.


Meski mengalami luka cakar di bagian tubuh. Buyut Wrahasta masih bisa bertahan dan tidak mengalami luka fatal. Ganendra yang juga berada di sana segera menghampiri dan memberikan Buyut Wrahasta minum.


"Aku akan membunuh para monster jelek itu!" ucap Ganendra kesal.


Sadana buru-buru menghentikan Ganendra. Memegangi tangan pemuda itu.


"Kau sudah berjanji untuk tidak gegabah. Jadi ingatlah rencana yang telah kita susun."


Ganendra hanya bisa menggigit bibir. Dia ingat sebelum berangkat ke desa Kahuripan, Ganendra berjanji untuk tidak bertindak buru-buru. Jika ingin membalas kematian Kemuning harus menyusun strategi karena Sarpakenanga tidak mudah dikalahkan.


Disaat mereka berbincang. Beberapa Ditya berdatangan menyerang. Sadana bersiaga, mengayunkan kapak.


Srat!


Srat!


Darah hitam ke luar dari tubuh Ditya yang dibantai Sadana.


"Ganendra lindungi Buyut Wrahasta." perintah Sadana.


"Kau selalu memerintah." gerutu Ganendra.


Tetapi dia bersikap waspada dengan sekelilingnya. Di depan sana Sadana dan Parama bahu membahu menyerang para Ditya. Parama dan Sadana saling memunggungi. Pedang dan kapak siap menebas para Ditya.


Kapak Sadana berayun, menebas salah satu Ditya. Di susul tebasan maut milik pedang Parama. Mereka berputar dan saling menyerang para Ditya.


"Yantra Kapak Bajra." ucap Sadana.


"Yantra Candrasa Apyu." ucap Parama.


Kapak Sadana berputar-putar ke udara. Membentuk cakram yang tajam. Kemudian melesat membantai para Ditya. Begitu juga pedang api Parama, dengan cepat menebas semuanya dalam satu serangan saja.


Tubuh para Ditya bergeletakan dengan tubuh bersimbah darah hitam. Sarpakenanga yang sejak tadi hanya diam seketika begitu marah. Wajahnya merah padam tatkala Ditya yang dia pimpin tewas semua.


"Kalian Ksatria Saka kurang ajar! Akan ku cabik tubuh kalian." ucap Sarpakenanga penuh amarah.


Sadana dan Parama bersiap menghadapi. Keduanya mengeroyok Sarpakenanga.


"Hya!!!"


Sarpakenanga menahan pedang Parama dan Kapak milik Sadana. Kemudian mereka berputar mengadu kekuatan. Sarpakenanga dengan kekuatan penuh mendorong mereka. Lantas memberikan tendangan keras.


Duak!


Duak!


Sadana maupun Parama terjungkal. Ganendra yang melihat hal itu bergegas maju dan menyerang Sarpakenanga. Ganendra mengarahkan pukulan tangan kirinya pada Sarpakenanga. Tetapi berhasil di tahan Sarpakenanga. Lantas memelintirnya. Membuat Ganendra berteriak kesakitan.

__ADS_1


"Aaghttt!" erang Ganendra.


Saat itu Soma datang dan berjalan dengan gagah. Merentangkan busurnya. Membidik sasaran ke arah Sarpakenanga.


Srat!


Srat!


Sarpakenanga yang melihat sebuah anak panah meluncur tepat ke arahnya. Segera melepaskan Ganendra. Kemudian melompat ke udara dan menendang anak panah Soma. Soma bergerak bagai kilat dan menyerang Sarpakenanga. Sang Ditya wanita ini menahan pukulan Soma. Saat itu mata Sarpakenanga beradu pandang dengan Soma.


Di matanya Soma terlihat tampan dan gagah. Sebuah senyum liar terlihat di wajah Sarpakenanga.


"Ehmm... Pria tampan kesukaanku..." ucap Sarpakenanga dengan senyum seringai penuh hasrat sembari menatap Soma.


Tanpa berkata lagi, Sarpakenanga menjatuhkan diri dalam pelukan Soma. Membuat Soma terpengarah.


"Pria tampan, maukah kau penuhi hasrat ku ini?" Sarpakenanga mengerlingkan matanya.


Menggoda pria muda itu. Supaya mau melayani hasratnya. Soma hanya diam dan membelalakan mata. Tangannya membelai wajah Soma yang menurutnya tampan. Pria kesukaannya.


Lalu dengan gerakan cepat. Membawa Soma menjauh dari Desa Kahuripan. Soma berusaha menenangkan diri. Apa yang dilakukan Sarpakenanga membuat Soma merasa sangat bergidik. Melihat bagaimana taring Sarpakenanga yang runcing. Menonjol keluar dan menakutkan. Mata besar yang hampir keluar. Membuat Soma tidak tahan. Tangannya hanya mengepal tatkala tangan Sarpakenanga yang berkuku tajam membelai dadanya penuh hasrat.


Ganendra bersikap waspada. Di sisi lain Sadana bersiap. Diam-diam mereka bergegas mengikuti ke mana Soma pergi. Sarpakenanga tengah dimabuk ketampanan Soma.


"Ba... Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?" tanya Soma.


Sarpakenanga tertawa menyeringai.


"Aku akan memaksa dengan membunuhmu terlebih dahulu khukhu..."


Meski Sarpakenanga seorang Ditya. Tetapi berbeda dengan Ditya lainnya. Selain memangsa manusia juga memiliki hafa nafsu layaknya manusia. Di saat Sarpakenanga lengah dan hendak menjamah Soma. Kapak Sadana melayang dengan cepat.


Srat!


Srat!


Roaaar!!!


Kapak Sadana tepat mengenai punggung Sarpakenanga. Tepat menancap di sana. Sarpakenanga meraung kesakitan. Wajahnya merah padam. Dia menatap Sadana dengan beringas. Tepat saat itu, Soma melepas anak panah.


Srat!


Anak panah Soma menusuk jantung Sarpakenanga. Disusul Parama yang bergerak dengan cepat menebas kuku beracun milik Sarpakenanga. Sang Ditya meraung-raung kesakitan. Darah hitam ke luar dari tubuhnya.


Muncrat ke segala arah. Ganendra yang dipenuhi dendam pada Sarpakenanga bergerak bagai kilat. Lalu mengerahkan tenaga dalam di tangan kirinya. Memukul kepala Sarpakenanga dengan keras.


Blar!!


Kepala Ditya Sarpakenanga hancur berkeping-keping. Tubuhnya yang tanpa kepala roboh ke tanah. Melihat Sarpakenanga sudah tewas. Tak lantas membuat Ganendra puas. Dia terus memukul tubuh kosong itu membabi buta. Melampiaskan amarahnya.


"Kemuning!!!" teriak Ganendra dengan mata berkaca-kaca.


"Gyaaah!!!"

__ADS_1


Putri Nalini dan yang lain membiarkan Ganendra menumpahkan amarah. Sekaligus kesedihannya.


__ADS_2