Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Wabah Cacar


__ADS_3

Sang Rawi kembali menampakkan cahaya. Menyingkap kegelapan di malam pekat. Suasana Desa Karanglengki masih diselimuti duka. Ganendra hanya tidur beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman bambu. Pagi itu, Balin segera membangunkannya. Membawakan kendi berisi air minum. Ganendra menggeliat perlahan. Lantas mengucek matanya.


“Nah ini, minumlah dahulu.”


Ganendra segera meminum air yang disuguhkan. Satu teguk dua teguk hingga air dalam kendi habis tak bersisa. Tangan kirinya mengusap bekas air yang berceceran di dagunya. Rasanya cukup segar. Balin hanya menatap Ganendra, sesekali melirik ke arah tangan kanan pemuda itu.


“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Ganendra.


Membuat Balin mengalihkan pandangan.


“Ah, aku baru ingat sepertinya kau belum makan. Aku membawakan ini untukmu.” jawab Balin sambal meletakkan umbi rebus dan sayur dari pelepah pisang yang dikukus.


Ganendra segera menyantap umbi rebus dengan lahap. Selama berada di Swastamita, Ganendra hanya makan umbi-umbian rebus. Jarang sekali makan daging. Penduduk desa jarang yang pergi ke ladang ataupun bertani. Mereka takut akan serangan Ditya yang tiba-tiba. Hal ini membuat bahan pangan juga sedikit demi sedikit menyusut. Orang-orang benar-benar dilanda ketakutan karena teror para Ditya.


Tangan kiri Ganendra mengambil pelepah pisang yang ada di depannya. Mengamati dengan seksama.


“Apa makanan ini bisa dimakan?”


Balin menjawab dengan cepat, “tentu saja bisa dimakan. Ini sangat bagus untuk kesehatan. Cobalah.”


Pemuda berbadan tambun dan berkepala plontos itu melahap sesuap pelepah pisang. Mimik wajahnya sangat menikmati. Ganendra sedikit ragu. Tetapi cacing di perutnya meronta minta diberi makan. Tanpa berpikir Panjang, Ganendra segera menyuapkan ke mulutnya. Meski dia belum terbiasa dengan rasa pelepah pisang. Ganendra tetap memakannya. Bagaimanapun juga dia butuh asupan makanan untuk bertahan hidup.


“Setelah kau habiskan makananya. Kita akan menemui sesepuh desa.” ajak Balin.


Tidak lama berselang, Balin dan Ganendra menghadap sesepuh desa.


“Ki, mohon beri kami petunjuk. Bagaimana mengobati penduduk desa dari wabah cacar?” tanya Balin.


Sesepuh desa yang terlihat sudah tua renta hanya mengelus jenggotnya yang berwarna putih panjang. Menjuntai hingga ke lehernya. Suara helaan nafas berat terdengar beberapa kali.


“Wabah cacar ini, bukan wabah biasa. Seorang Ditya sakti mandraguna yang membuat semua ini terjadi. Bahkan mendiang Buyut Prabawa belum sempat memberi tahu bagaimana mengobati wabah cacar ini.”


Wajah tuanya memperlihatkan raut kesedihan. Apalagi Balin semakin merasa pupus harapan untuk menyembuhkan warga desa yang lain. Tiba-tiba suara Ganendra memecah keheningan.


“Aku mengenal seseorang yang cukup berpengalaman. Mungkin Pak Tua itu bisa membantu.”


“Pak Tua? Siapa dia?” tanya sesepuh desa dan Balin bersamaan.


“Buyut Wengkeng dari Desa Medangwantu.”


“Ah, maksudmu Buyut Wengkeng pemilik Padepokan Satvva?” tanya sesepuh desa.


Ganendra mengangguk dengan cepat.


“Tetapi, jarak Desa Medangwantu cukup jauh dari sini. Bisa sehari atau bahkan memakan waktu hingga dua hari perjalanan ke sana.” ucap Balin tidak bersemangat.


“Kau harus tetap ke sana.” perintah sesepuh desa.


“Tetapi bagaimana dengan penduduk desa? Apakah mereka mampu bertahan lebih lama?” tanya Balin seolah tidak yakin dengan keputusan ini.


“Aku akan berusaha menggunakan kekuatan Kadewatanku untuk membuat warga desa yang terkena cacar bisa bertahan sedikit lebih lama.”


Mendengar jalan keluar yang diberikan sesepuh desa. Pada akhirnya Balin menyetujui pergi ke Desa Medangwantu bersama Ganendra. Mereka harus melewati hutan yang pernah Ganendra datangi sesaat setelah keluar dari Pancapratala. Terpaksa mereka melakukan perjalanan tanpa di kawal Ksatria Saka dari Karanglengki.


Para Ksatria itu hampir semua terkena wabah cacar. Sedangkan Ksatria yang masih sehat harus menjaga desa. Balin berharap dalam perjalanannya tidak bertemu dengan Ditya.

__ADS_1


Disaat Ganendra dan Balin sedang berjalan menyusuri hutan. Sepasang mata mengawasi dari balik pepohonan. Senyum menyeriangi terlihat jelas dari mimik wajahnya. Taring panjang nan tajam terlihat menonjol keluar.


“Hemmm, manusia inikah yang dibawa Kalimakara dari dunia lain? Tindakan yang bodoh membawa manusia tidak berguna seperti ini.”


Balin yang berjalan di samping Ganendra terlihat ketakutan. Dia merasakan seperti ada yang mengawasi.


“Apa kau tidak merasakan ada hal yang aneh?” tanya Balin yang semakin mendekat ke arah Ganendra.


Dia mencengkeram kain selendang dipinggang Ganendra.


“Apa yang kau lakukan? Sana menjauhlah.” pinta Ganendra yang merasa kurang nyaman saat Balin menempel padanya.


“Aku takut, di sini suasananya jadi berbeda. Aku tidak mendengar suara binatang hutan sama sekali. Bukankah ini buruk?”


Ganendra melepas tangan Balin yang mencengkeram kain selendang dipinggangnya.


“Bukankah justru bagus. Jika tidak ada binatang hutan. Perjalanan kita akan diberi kelancaran.”


Setelah Ganendra mengucapkan kalimat terakhirnya. Mata Balin membelalak, wajahnya dihinggapi ketakutan yang mendalam. Ganendra melambaikan tangan di depan Balin. Pemuda tambun itu tidak berkedip sama sekali. Malah dikain yang dia kenakan terlihat ada air yang merembes dari kantong kemenyannya. Semakin lama semakin deras. Tubuhnya bergetar hebat.


“Di…Di…” Balin berkata terbata sembari menunjuk sesuatu di belakang Ganendra.


“Apa?” tanya Ganendra sembari menoleh ke belakang.


Tepat saat itu, sosok tinggi besar dengan rambut panjang awut-awutan. Berdahi nonong dan bertelanjang dada sedang menatap ke arah mereka. Kain penutup dipakai hanya untuk menutupi bagian bawah. Di bagian dadanya ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Dilehernya disematkan kalung berbentuk ular.


Ganendra terkaget, dia mundur selangkah dan menjaga jarak dari Ditya yang ada di depannya.



“Hemmm…” suara Sang Ditya menggeram.


“Waaa!!! Apa kita akan menjadi mangsanya?” Balin berteriak ketakutan.


Ganendra sedikit mengulas senyum.


“Hei… monster…bisakah sekali ini saja kau membiarkan kami lewat?” tanya Ganendra dengan wajah nyengir.


“Khukhukhu….. kau boleh lewat. Jika bisa membunuhku.”


Ganendra menghela nafas, sepertinya dia harus menghadapi Ditya yang ada di depannya. Ganendra bersikap waspada.


“Balin, jika sesuatu hal buruk terjadi. Kau harus lari apapun yang terjadi.” ucap Ganendra.


Balin merasa kebingungan. Dia hendak menanyakan pada Ganendra apa maksud ucapannya. Tetapi Ganendra sudah berlari ke arah Sang Ditya. Meski kemungkinan kecil dia akan mengalahkan Ditya yang ada di depannya. Ganendra memiliki keyakinan, jika dia terus bertahan pasti ada jalan keluar.


Ganendra berlari dengan cepat sambil membawa sebatang kayu. Lalu dengan sekuat tenaga mengayunkan sebatang kayu itu. Memukul kepala Sang Ditya.


Brak!!!


Bukan kepala Sang Ditya yang pecah. Melainkan kayu yang dibawa Ganendra hancur berkeping-keping. Sang Ditya tersenyum menyeriangi. Lantas menjentikkan jemarinya di kepala Ganendra.


Blaaar!!!


Tubuh Ganendra terpental beberapa hasta. Menabrak pepohonan di hutan. Darah segar keluar dari mulutnya. Balin terpekik ketakutan. Menyaksikan Ganendra terpental sejauh itu. Dia segera menghampiri Ganendra.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa?” tanya Balin khawatir.


Pih!


Ganendra memuntahkan darah. Nafasnya naik turun. Dia menatap Ditya yang ada di depannya. Melihat jejak tubuhnya yang terpental hingga sejauh ini hanya dengan jentikan kecil dari jemari tangan Sang Ditya.


Monster itu, berbeda dari monster yang lain. Dia pasti bukan sembarang monster. Ganendra hanya bisa membatin. Jika seperti ini, tidak ada gunanya melawan.


“Balin, dalam hitungan ketiga. Ikuti perintahku.”


Balin mengernyitkan keningnya.


“Satu…dua…tiga! Lari!!!” teriak Ganendra.


Dia segera memegang tangan Balin dan mengajaknya lari dari sana. Lari adalah salah satu cara yang bisa Ganendra pikirkan saat ini karena akan percuma saja melawan. Bisa-bisa hanya mengantar nyawa.


Balin mengerti dan langsung mengikuti Ganendra lari menjauh dari Sang Ditya. Tetapi apakah semudah itu. Jawabannya belum tentu. Ditya yang dihadapi Ganendra menjejakkan kakinya ke tanah. Kemudian melompat sangat tinggi. Melayang di udara dan mendarat tepat di hadapan Ganendra.


Ganendra dan Balin tersentak kaget. Mereka lantas memutar arah dan berlari menjauh. Sang Ditya hanya terkekeh. Lalu dengan cepat menginjakkan kakinya ke tanah. Tanah yang dipijak Ganendra dan Balin bergetar hebat. Membuat mereka terpental menubruk pepohonan. Keduanya meringis kesakitan. Sang Ditya bergerak cepat seperti kilat. Langsung mencekik leher Balin. Mengangkat tubuh pemuda tambun hanya dengan satu tangannya saja. Balin tak bisa bernafas.


Ganendra yang melihat Balin dalam kesulitan segera bangkit berdiri. Lalu dengan cepat menendang bagian bawah Sang Ditya.


Roaaar!!!!


Suara Sang Ditya menggelegar di seluruh hutan. Membuat burung-burung beterbangan. Kedua tangannya memegangi kantong kemenyan miliknya yang terasa linu. Cengkramannya di leher Balin terlepas. Ganendra tersenyum penuh kemenangan.


“Ah, rupanya sekuat apapun kau. Kelemahan pria selalu di tempat yang sama.” ejek Ganendra.


“Kurang ajar!!! Ku bunuh kau!!!” Sang Ditya menggeram hebat.


Ganendra langsung mengajak lari Balin. Tetapi sia-sia saja. Gerakan Sang Ditya sangat cepat dan memukul keduanya hingga tersungkur ke tanah. Sang Ditya hendak menginjak kepala Balin. Akan tetapi Ganendra memegangi kaki Sang Ditya sekuat tenaga.


“Cepat lari!!! Lari sejauh mungkin!!!” ucap Ganendra.


Balin yang merasa ketakutan segera bangkit berdiri.


“Aku tak akan lari dan meninggalkanmu sendirian.”


“Jika ku katakan lari. Maka larilah!!! Selamatkan warga desamu.” pinta Ganendra sambil memegang kaki Sang Ditya sekuat tenaga. Berharap dapat menahannya.


Balin terlihat menangis. Dia masih tidak beranjak dari tempatnya. Tidak ingin meninggalkan Ganendra.


“Manusia bodoh!” teriak Sang Ditya.


“Wisa Sarpageni!!!”


Dari kalung di lehernya yang berbentuk ular tiba-tiba mengeluarkan asap berwarna hijau. Mengarah pada Balin. Tetapi dengan gerakan cepat Ganendra menggunakan tubuhnya untuk melindungi Balin. Balin terperanjat bukan main.


Ganendra ambruk ke tanah dengan sekujur tubuh dipenuhi cacar. Tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Hawa panas seolah menyerang tubuhnya. Balin memegangi Ganendra dan menangis sejadi-jadinya.


“Kenapa? Kenapa kau melindungiku?” tanya Balin diantara isak tangisnya.


Ganendra hanya mengulas senyum di sudut bibirnya.


Jadi begini yang dirasakan Ksatria itu. ucap Ganendra dalam hati.

__ADS_1


Dia teringat, kali terakhir salah satu Ksatria Saka dari Medangwantu mengorbankan nyawanya demi membantu Ganendra dan salah satu rekannya lolos dari Desa Medangwangi. Mata Ganendra lama kelamaan tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Samar-samar isak tangis Balin terdengar menjauh dan kemudian menghilang.


__ADS_2