
Tombak Naga Baruna, terlihat kokoh dengan ukiran berbentuk naga di pegangannya. Ujungnya tajam dan runcing. Warnanya berkilau keperakan. Terlihat kokoh saat digenggam. Berkat tekad dan usahanya, Ganendra mendapatkan anugerah senjata Dewa.
“Tombak yang sangat bagus dan kokoh. Kau harus menggunakannya sebaik mungkin.” ucap Sadana sembari mengamati Tombak Naga Baruna milik Ganendra.
“Apa artinya sekarang tingkatanku telah naik?” tanya Ganendra yang kali ini berlatih ditemani Sadana.
Sadana menggeleng, “kau memiliki senjata, bukan berarti tingkatanmu naik begitu saja. Bisa dikatakan tingkatanmu naik jika sudah menguasai penggunaan senjatamu sendiri.”
“Apa semua Ksatria Saka yang sudah memiliki senjata adalah pemberian Dewa?”
Sadana kembali menggeleng, “tidak semua mendapatkan senjata dari Dewa. Terkadang Ksatria sendiri yang memilih senjatanya berdasarkan energi dalam tubuh.”
“Misalnya saja Kakang Parama, energi dalam tubuhnya memiliki kecenderungan bersatu dengan senjata pedang. Lantas mencari yantra yang sesuai dengan energi pedangnya.” lanjut Sadana.
“Bagaimana denganmu dan Soma? Apa seperti itu juga?” tanya Ganendra.
“Aku mendapatkan senjata sesuai dengan energi dalam tubuhku sendiri. Sedangkan yantra angin yang aku miliki adalah pemberian Dewa Angin. Sama halnya dengan Soma, dia memiliki energi yang sama dengan panah. Yantra api yang dimilikinya, pemberian Dewa Api. Semua tergantung capaian kemampuan dari Ksatria Saka itu sendiri.” terang Sadana.
“Jadi kedepannya nanti. Aku juga akan mendapatkan yantra?”
Sadana mengangguk, “tetapi dengan syarat kau mencapai tingkatan ketujuh atau Sapta.”
Ganendra kembali bertanya, “menurutmu yantra apa yang sesuai dengan tombak naga ini?”
“Kau harus mencari tau sendiri, karena semua tergantung capaian kemampuanmu. Bisa saja karena kau malas berlatih dan capaianmu hanya berhenti di situ saja. Maka kau tidak akan mendapatkan yantra.”
Ganendra mulai memahami mengenai tingkatan menjadi Ksatria Saka.
“Sekarang yang terpenting, bagaimana kau bisa mempergunakan tombak ini dengan tangan kirimu. Kau berbeda dengan yang lainnya. Jadi perlu usaha lebih keras dibandingkan yang lain.” Sadana kembali menjelaskan.
Ganendra menganggukkan kepala tanda mengerti. Kini Sadana mengajari cara memainkan tombak.
“Aku juga tidak begitu paham cara memainkan tombak yang benar. Tetapi dahulu semua Ksatria juga dilatih memainkan senjara yang lain. Kecuali energi dalam tubuhnya sudah memilih senjata yang sesuai dengan empunya.”
“Baiklah kita mulai pelajarannya.” kata Ganendra.
Sosoknya yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Ganendra kini ingin berlatih menjadi seorang Ksatria Saka sejati. Untuk memenuhi mimpinya membawa cahaya ke Swastamita serta mewujudkan keinginan Kemuning. Supaya di Swastamita tidak ada Ditya yang meneror.
Suara Sadana kembali terdengar, “pertama hal yang harus kau lakukan adalah menemukan titik keseimbangan tombak. Titik keseimbangan biasanya ditemukan 2/3 jalan menuju titik tersebut. Tempatkan bagian tengah tombak di telapak tanganmu. Pindahkan sampai kau menemukan titik keseimbangan. Kau akan mencapai titik keseimbangan saat tombak tidak goyah dan seimbang tanpa mencengkeram tombak.” terang Sadana panjang lebar.
Ganendra mencoba melakukannya. Dia mengalami kesulitan karena menggunakan tangan kirinya. Meski sebenarnya sejak berumur belasan dia terbiasa menggunakan tangan kidal. Tetapi menggunakan tombak, ini adalah pengalaman pertamanya. Dia berusaha mencari titik keseimbangan tombak.
“Lakukan dengan kesabaran. Tidak perlu tergesa-gesa.” ucap Sadana.
__ADS_1
Ganendra masih berusaha mencari keseimbangan memegang tombak miliknya.
“Seandainya kau sudah bisa menemukan titik keseimbangan genggam tombak. Gunakan pegangan penuh pada titik penyeimbang tombak. Gunakan jari-jarimu untuk memegang batang tombak. Sementara ibu jarimu berada di sepanjang bagian bawah. Kau juga bisa menggunakan ibu jari untuk memegang porosnya.”
“Perlahan saja.” gerutu Ganendra.
“Aku sudah menjelaskan dengan perlahan.” balas Sadana.
Sadana memberikan contoh pada Ganendra dengan menggunakan tombak lain. Bagaimana mencari titik keseimbangan dan kemudian menggenggamnya.
“Jika kau sudah berhasil melakukan dua langkah dasar tadi. Kau bisa menggunakan teknik lemparan tombak. Teknik ini bagus untuk bertempur jarak jauh.” kata Sadana.
Ganendra mendengarkan dengan seksama sembari menggaruk kepalanya.
“Aku akan mencontohkan teknik melempar tombak.”
Sadana memposisikan dirinya. Kemudian melanjutkan bicara.
“Setelah kau menetapkan titik keseimbangan dan pegangan yang nyaman. Kau siap untuk melempar. Pegang tombak ke telinga mu sehingga sejajar dengan tanah. Ini akan memungkinkanmu untuk menyelaraskan pandangan dengan ujung tombak.”
“Lalu langkah kedua siapkan pijakanmu. Ambil satu langkah menuju target untuk mendapatkan momentum lemparanmu. Hadap sedikit ke samping dari sasaran dengan tombak dipegang di tangan mana yang mendominasi.”
Ganendra mengamati dengan seksama apa yang diajarkan Sadana.
Swing!!!
Crat!
Tombak yang dilempar Sadana tepat menancap di sebatang pohon.
“Kau cukup mahir menggunakan tombak.” puji Ganendra.
“Tidak semahir aku menggunakan kapak.”
Lantas Sadana meminta Ganendra mempraktekkan apa yang diajarkan Sadana. Meski kelihatan masih kaku. Tetapi Ganendra berusaha mencoba.
“Kau juga bisa menggunakan teknik memutar tombak atau meliukkan tombak. Bahkan menculik musuhmu. Tetapi dengan catatan kau harus mahir dahulu di langkah pertama.”
Keduanya lantas berlatih hingga menjelang senja. Sang Rawi samar-samar kembali ke peraduannya.
Di tempat latihan lain.
__ADS_1
Parama sedang berlatih menggunakan pedangnya. Dia juga ingin mencapai tingkatan Nawa. Bisa memanggil binatang suci Kadewatan. Disaat Parama sedang berlatih, sesosok misterius mengawasi sembari terkekeh.
Angin dingin berhembus perlahan. Parama bersikap waspada, karena dia dapat merasakan energi kegelapan yang besar.
“Aku tau apa yang tersembunyi dalam hatimu khukhu….”
Parama menoleh dan menyipitkan mata. Mencari sumber suara dari mana berasal. Tepat dari balik pepohonan. Parama melihat sosok misterius mengenakan jubah hitam.
“Siapa kau?” tanya Parama sembari menghunuskan pedang. Bersiap bertarung.
Sosok misterius membuka penutup kepala. Sosok itu tak lain Ditya Gorawangsa.
“Kau?!” tanpa rasa takut Parama bersiap menghadapi Sang Ditya.
“Khukhu…aku datang kesini tidak untuk bertarung denganmu. Tetapi ingin menawarkanmu sebuah kesepakatan.”
“Aku tidak akan sudi! Bersepakat dengan kegelapan sepertimu.” balas Parama.
“Yantra Candrasa Apyu!” lanjut Parama lagi.
Pedangnya diselimuti api yang berkobar.
“Khukhu…sudah aku katakan, kedatanganku bukan untuk bertarung. Aku bisa mengabulkan keinginanmu.” bujuk Ditya Gorawangsa.
“Aku tidak tertarik dengan kekuatan macam apapun.” tolak Parama mentah-mentah.
“Bwahahaha!!! Aku tidak yakin kau akan menolak ini.”
Jemari tangan Ditya Gorawangsa menjetik dan dalam sekejap dua sosok terlihat di hadapan Parama. Seketika mata Parama terbelalak. Untuk sesaat dia terkesiap.
“Aku bisa mengabulkan keinginanmu. Membawa mereka kembali di sisimu.”
“A…apa yang kau inginkan?” tanya Parama dengan mata berkaca-kaca.
“Khukhukhu….mendekatlah.” perintah Ditya Gorawangsa.
Parama mendekat dan mendengar setiap kalimat yang diucapkan Sang Ditya. Beberapa saat setelahnya mata Parama terpengarah.
“Hemmm….bukankah kesepakatan ini sepadan?”
Tangan Parama hanya mengepal. Dia menunduk dan tak memberi reaksi apapun.
“Aku yakin tawaranku sangat menarik.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Ditya Gorawangsa menghilang dalam pekatnya malam. Meninggalkan Parama dalam keadaan bimbang.