Siwaratri : Destroy The Darkness

Siwaratri : Destroy The Darkness
Punthuk Songo


__ADS_3

Di Swastamita terdapat tempat-tempat yang dipenuhi aura kegelapan. Salah satunya adalah tempat bernama Punthuk Songo. Punthuk Songo tempat dimana Sang Kuwung dan Dewa Rawi penguasa cahaya ditelan oleh Sang kegelapan. Tempat dimana kisah gerhana bulan dan matahari bermula.



Ribuan tahun silam, putra seorang Mahadewa yang dikutuk menjadi monster atau Ditya berusaha merebut harta karun berharga yang dinamakan Tirta Amerta. Dia tidak terima, jika hanya dewa yang bisa memiliki Tirta Amerta. Kaum Ditya atau Raksas juga harus memiliki. Diam-diam Putra Mahadewa yang dikutuk datang ke Kahyangan dan mencuri Tirta Amerta. Namun, hal ini diketahui oleh Sang Kuwung, Dewa Bulan penguasa cahaya.



Putra Mahadewa yang dikutuk merasa sangat marah dan menyerang Sang Kuwung. Kemudia menelan bulan dengan bulat-bulat. Hingga terjadi peristiwa gerhana bulan. Menjadikan bulan gelap total. Sang Rawi, dewa Matahari memergoki apa yang dilakukan Putra Mahadewa. Dewa Rawi berusaha menyelamatkan Sang Kuwung. Namun, berakhir sia-sia. Dewa Rawi juga ikut ditelan Putra Mahadewa. Bumi dilanda kegelapan pekat. Kisah ini awal mula adanya gerhana matahari.



Sang Mahadewa mengetahui perbuatan putranya. Dia meminta dewa pemelihara keseimbangan alam yang bernama Dewa Padmanabha menghadapi putranya. Dewa Padmanabha menghadapi Sang Ditya.



Ditya putra Sang Mahadewa yang berhasil mencuri Tirta Amerta segera menelannya. Akan tetapi disaat bersamaan, sebuah senjata cakra milik Dewa Padmanabha menebas kepala Sang Ditya. Tubuhnya jatuh ke bumi dan menjelma menjadi lesung. Tirta Amerta, bulan dan matahari yang sempat ditelan untungnya masih berada ditenggorokan Sang Ditya. Dewa Padmanabha segera mengambil Tirta Amerta menyembunyikannya di suatu tempat. Sedangkan gerhana bulan maupun gerhana matahari sedikit demi sedikit telah berlalu. Bumi kembali bercahaya. Sang Dewa Kuwung penguasa cahaya kembali terang. Begitu pula dengan matahari yang telah kembali pada tempatnya. Kini, tempat terjadinya peristiwa itu dinamakan Punthuk Songo.


...****************...


Diantara kegelapan malam. Kalimakara yang mengenakan topeng kelana sedang duduk di atas singgasana. Tidak lama kemudian, sebuah sinar hitam melayang di udara. Lalu mendarat tepat di hadapan Kalimakara. Sesosok misterius kembali muncul.



Kini terlihat jelas bagaimana penampilannya. Tubuhnya gagah dan tinggi dengan otot yang terlihat di lengan maupun dadanya. Sosok misterius itu bernama Ditya Kalandaru. Dia menatap tajam ke arah Kalimakara.



“Beraninya kau! menghabisi para Ditya di tempatku.” nada suaranya meninggi.



Kalimakara menopang dagu dengan tangannya.



“Semua Ditya itu adalah milikku. Aku bisa membunuh mereka kapan saja.”



“Tapi kenapa kau harus menghabisi mereka saat di Pancapratala? Membuatku kehilangan muka diantara para Ditya lainnya. Sungguh terlalu.”



Kalimakara bersikap tenang dan menyandarkan kepalanya di singgasana.



“Setiap tindakan yang aku lakukan pasti ada tujuannya.”

__ADS_1



Ditya Kalandaru tertawa menyeriangi.



“Jika begitu, apa tujuanmu menyelamatkan manusia yang tidak berguna itu? Apa kau sedang merahasiakan sesuatu dariku?”



“Apapun yang aku lakukan, tidak harus memberi tahumu secara rinci. Akulah penguasa di tempat ini.”



Mendengar jawaban Kalimakara, Ditya Kalandaru tertawa terbahak-bahak hingga menggetarkan dinding bangunan.



“Penguasa? Sepertinya kau sudah lupa diri karena merasa memiliki kekuatan para Ditya. Kau hanyalah batu sandungan disini. Jangan merasa menjadi orang istimewa hanya karena Sang Raksas Agung memilihmu.” Ditya Kalandaru melemparkan ejekan.



Kalimakara dengan tenang membalas ucapan Ditya Kalandaru.



“Oh, sepertinya ada yang melupakan siapa dirinya sebelum menjadi seorang Ditya seperti sekarang ini. Kau hanyalah pria benalu yang diangkat putra oleh Sri Mahadana. Jangan melupakan siapa dirimu.”




“Melihat dirimu yang seperti benalu, pantas saja kau selalu gagal mengalahkan Ksatria Saka. Bahkan menculik putri Sri Mahadana saja kau tidak becus.”



Ditya Kalandaru semakin tidak bisa menguasai emosinya. Tangannya mengepal, lantas mengulurkan tangan dan bergerak cepat ke arah Kalimakara. Tangan Ditya Kalandaru hendak mencekik leher Kalimakara. Tetapi gerakan Kalimakara tak kalah cepat. Dia bergerak bagai kilat dan berdiri membelakangi Ditya Kalandaru.


Tangannya mengepal erat. Cahaya kegelapan mengitari kepalan tangannya. Lantas dengan gerakan cepat dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Ditya Kalandaru.


“Yantra Angrok!!!” ucapnya dengan lantang.


Tiba-tiba Ditya Kalandaru merasakan sebuah cekikan di lehernya. Dia berusaha melepaskan. Namun yang ada cekikannya malah semakin kuat. Kalimakara bergerak bagai kilat dan tepat berada di hadapan Sang Ditya. Tangan kanannya mencekik leher Ditya Kalandaru yang membuatnya marah. Hingga mengangkatnya ke udara. Ditya Kalandaru merasa kesakitan.


“Kaulah yang tidak berguna di sini. Kau hanyalah wujud campuran manusia lemah yang aku berikan kekuatan seorang Ditya. Jadi, jagalah ucapanmu sebelum ku koyak mulut lancangmu. Ku musnahkan kekuatanmu dan menjadikanmu mangsa para Ditya.” ucap Kalimakara tajam.


Ditya Kalandaru mengaduh kesakitan. Hingga tiba-tiba sebuah sinar hitam kembali muncul. Sesosok misterius datang dan bersujud di hadapan Kalimakara.


“Tidak ada gunanya saling bertengkar. Tujuan kita semua sama. Ampunilah dia.”

__ADS_1


Meski masih diselimuti amarah. Kalimakara melepaskan cekikannya di leher Ditya Kalandaru. Nafas Ditya Kalandaru sedikit tersengal-sengal. Kekuatan Kalimakara tak dapat di remehkan.


Sosok misterius yang barusan muncul bangkit berdiri. Menatap Kalimakara dan berujar, “kegagalan yang kita alami berasal dari manusia yang kau bawa dari dimensi lain. Sebenarnya apa tujuanmu membawanya kemari? Jika akan terus menggagalkan rencana kita?”



Kalimakara berjalan dan duduk di singgasananya.



“Aku ingin menjadikannya sebagai Ksatria Saka.”



Ditya Kalandaru dan sosok misterius saling berpandangan.



“Apa kau sudah gila? Sama saja kau menghancurkan kaum Ditya jika menambah Ksatria Saka.” protes Ditya Kalandaru.



“Kalian tidak perlu mencemaskan mengenai itu. Aku sendiri yang akan mengaturnya. Sebaiknya kau melaksanakan rencanamu Ditya Kalandaru.”



Ditya Kalandaru tidak mengerti arah pembicaraan Kalimakara.



“Apa maksud ucapanmu?”



Kalimakara tersenyum dari balik topengnya.



“Bukankah kau menculik Putri Nalini karena ingin menjadikannya wadah bagi kelahiran Ditya yang kuat? Laksanakan saja rencanamu. Di masa lalu, kalian berdua pernah menjadi sepasang kekasih. Jadi akan lebih mudah mendapatkan cintamu kembali. Lalu bawakan aku anak-anakmu yang kuat Ha! Ha! Ha!”



Ditya Kalandaru kembali teringat tentang masa lalunya. Dahulu jauh sebelum menjadi seorang Ditya. Dia adalah putra angkat Raja Sri Mahadana. Bahkan telah menjadi seorang Ksatria Saka yang berbakat. Akan tetapi karena ambisinya terlalu kuat dia memilih bersekutu dengan kegelapan. Mendapatkan kekuatan yang lebih besar dan ingin hidup abadi. Saat itu Kalimakara datang dan memberinya kekuatan besar. Namun dia harus rela wujudnya berubah menjadi seorang Ditya.



Sosok misterius yang tadi muncul menyetujui rencana itu. Lalu keduanya menghilang di telan kegelapan. Meninggalkan Kalimakara sendirian. Sepeninggal kedua sekutunya. Kalimakara berjalan dan menatap langit yang begitu gelap.


__ADS_1


Di masa lalu dia teringat, Sang Raksas Agung memberikan berkahnya. Memberikan kekuatan seperti sekarang ini dan menjadi penguasa kegelapan. Ambisinya menjadi yang terkuat di jagad raya akan terpenuhi. Hanya tinggal menunggu waktu dan mendapatkan Tirta Amerta.


__ADS_2