
Seusai teror yang menyelimuti istana Ayodya. Gumpalan asap hitam yang berisi para Ditya melayang-layang menuju sebuah tempat lembab dan gelap yang dinamakan Pancapratala. Pancapratala terletak di bawah tanah lapisan kelima. Tempat bersemayamnya para Ditya yang dipimpin Ditya Kalandaru.
Gumpalan asap hitam kemudian mendarat di tanah yang lembab. Suara raungan para Ditya menggema di dinding-dinding. Hanya cahaya temaram yang menerangi Pancapratala. Ganendra yang belum menyadari apa yang terjadi, tubuhnya terjerembab ke tanah.
"Arghttt!!"
Suara erangan kesakitan membuat para Ditya menyadari. Ada orang asing yang masuk ke sarang mereka.
Roaaar!!!
Mereka meraung dengan mulut terbuka lebar. Taring tajam menyembul keluar. Ganendra menatap sekelilingnya yang hanya dipenuhi para Ditya. Dia kebingungan kenapa bisa berada di sana.
"Di.. Di mana ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Sepanjang matanya memandang hanya ada dinding terbuat dari tanah yang lembab dan dingin. Hanya ada beberapa titik-titik cahaya yang tidak terlalu terang.
"Maaangsaaaa...." ucap beberapa Ditya yang melihat Ganendra sebagai makanan.
Ganendra mulai ketakutan. Banyak Ditya berada di depannya. Menatap dengan tatapan buas dan kelaparan. Pemuda itu berusaha mengingat kenapa dia bisa bersama para Ditya. Tiba-tiba ingatannya melayang saat Putri Nalini mendorongnya begitu saja ke arah kumpulan para Ditya. Hingga dia harus berakhir di tempat aneh seperti ini.
"Gyaaah, dasar wanita itu!!! Bisa-bisanya mendorong ku bersama para monster sialan ini!" teriaknya kesal.
Suara Ganendra membuat para Ditya kembali meraung.
"Lapaaar... Makanaaaan..." ucap para Ditya.
"Hei! Hei! Aku bukan makanan kalian. Aku tidak sudi jadi mangsa." kata Ganendra.
Rasa takut mulai menyergapnya. Dia berada di antara Para Ditya yang kelaparan. Ganendra bersiaga dan bersiap melawan. Benar saja, tak lama kemudian salah satu Ditya menyerang dengan gada di tangan. Mengayun ke arah Ganendra. Ganendra berguling ke sisi lain. Mencari jalan keluar dari tempat itu. Sebelum dia dapat menemukan pintu keluar. Dua Ditya datang mengayunkan cakar. Membuat Ganendra kelabakan dan menundukkan kepala menghindari cakaran Ditya.
"Aku tidak mudah kalian jadikan mangsa." ucap Ganendra yang menemukan keberanian. Dia tidak mau begitu saja jadi makanan para monster bodoh yang menjijikkan.
"Mangsaaaa...." ucap para Ditya berulang kali.
Mereka merengsak ke arah Ganendra. Namun Ganendra kembali menghindar. Percuma saja memberikan pukulan atau tendangan. Dia tidak cukup kuat melakukan itu. Satu-satunya jalan, Ganendra harus bertahan sembari mencari jalan keluar.
Saat matanya berkonsentrasi mencari pintu keluar. Salah satu Ditya berlari ke arahnya lantas menghantam dengan keras tubuh Ganendra. Hingga terpental membentur dinding tanah.
__ADS_1
"Gyaaah!!!" Ganendra mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya yang nyeri.
Ditya kembali meraung dan menerjang ke arah Ganendra. Rasa takut tak lagi menyergapnya. Hanya ada keinginan untuk bertahan hidup. Ganendra bersiaga dan dengan sigap menghindari tubrukan Sang Ditya. Berguling ke sisi kanan yang kosong. Ditya lain bergantian menyerang Ganendra. Dia menghindari serangan cakar yang mengarah padanya. Menerobos melewati celah kaki Ditya. Lalu berlari ke tempat lain yang kosong sambil mencari pintu keluar.
Akan tetapi di manapun matanya berusaha mencari. Dinding-dinding itu seolah tertutup rapat.
"Bagaimana bisa tidak ada pintu keluar sama sekali. Sebenarnya tempat apa ini?" Ganendra hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sebelum menemukan jawaban yang dicari. Sebuah gada tepat mengenai tubuhnya. Tubuh Ganendra melayang hingga beberapa hasta dan jatuh terjerembab ke tanah. Darah segar keluar dari mulutnya. Nafas Ganendra naik turun. Dia harus bertahan. Itulah satu-satunya cara saat ini. Namun sebelum Ganendra sempat berdiri. Salah satu Ditya mencengkeram tangan kanannya. Mengangkat tubuh Ganendra hingga tergantung. Salah satu Ditya meraung dan memukul tubuh Ganendra.
Duak!!!
Craaat!
Ganendra kembali memuntahkan darah.
"Makaaanann..." para Ditya yang bergerombol terlihat kelaparan.
Mereka merengsak ke arah Ganendra hendak memakan pemuda yang tak berdaya itu. Tetapi salah satu Ditya melihat tangan kanan Ganendra yang terlihat lucu karena mengecil dan tidak bisa bergerak seperti anggota tubuh lainnya.
Ditya lain melihat Ganendra yang lunglai. Tidak seperti Ksatria Saka lain yang pernah mereka temui. Ditya lain saling berbisik. Mereka menganggukkan kepala seolah setuju. Selama ini mereka belum bersenang-senang selain hanya bertarung atau memangsa manusia. Para Ditya sepakat dan menjadikan Ganendra bulan-bulanan.
"Sialan!!! Kenapa aku dijadikan mainan oleh mereka." erang Ganendra ditengah rasa sakitnya.
Tubuh Ganendra diletakkan kembali ke tanah. Dia berusaha bangkit berdiri dengan susah payah. Para Ditya melihat tangan kanan Ganendra terlihat lucu bagi mereka. Tawa seringai keluar dari mulut kumpulan Ditya. Membuat Ganendra kesal. Dia bangkit berdiri. Mengarahkan tangan kirinya ke arah para Ditya.
"Hei! Monster sialan! Aku tidak akan rela kalian jadikan mainan!"
Tepat seusai mengutarakan isi hatinya sebuah gada melayang mengenai tubuh Ganendra hingga terpental beberapa hasta. Rasa sakit semakin bertambah ditubuhnya. Tetapi belum sempat Ganendra bangkit, salah satu Ditya menginjak kakinya. Membuat Ganendra berteriak-teriak kesakitan. Kemudian tubuhnya yang tak berdaya di lempar ke dinding. Membuat darah mengalir dari kepalanya. Nafas Ganendra terengah-engah. Pandangan matanya mulai kabur.
Aku tidak ingin mati. Aku harus bertahan. Ibu sedang menungguku... ucap Ganendra dalam hati.
Tepat di depannya sebuah gada siap menghantam tubuhnya yang tak berdaya.
Srat!
Srat!
__ADS_1
Tangan yang memegang gada milik Ditya menggelinding ke tanah. Bersamaan dengan kepalanya yang terpisah dari badan. Darah hitam muncrat ke segala penjuru arah. Membuat Ditya lain menggeram mencari dalang dibalik pembunuhan itu. Tak jauh dari sana. Sesosok yang mengenakan topeng kelana berdiri dengan menghunuskan pedangnya.
"Yantra Candrasa Brama"
Dalam sekejap mata, pedang yang dibawa sosok bertopeng kelana diselimuti api yang berkobar. Ditya menggeram bersamaan. Menggetarkan dinding-dinding disekitarnya. Mereka maju menyerang sosok bertopeng secara bersama. Sosok bertopeng terlihat tenang. Lantas dengan gerakan melebihi kilat menebas semua Ditya dengan pedang apinya dalam sekali serangan. Tubuh Ditya bergeletakan bercampur dengan darah hitam. Terbakar api dari pedang sosok bertopeng kelana.
Sosok bertopeng yang tak lain Kalimakara membopong tubuh Ganendra. Lantas mengheningkan cipta sesaat. Hingga tubuh keduanya diselimuti sinar hitam. Sampai menghilang dan keluar dari Pancapratala.
Kalimakara membawa Ganendra ke sebuah pinggiran hutan. Menggunakan kekuatannya untuk menutup luka Ganendra. Pemuda itu mulai membuka mata kembali.
"Kau membawaku ke tempat yang hampir merenggut nyawa." protes Ganendra perlahan sembari menahan sakitnya.
Kalimakara berdiri dan menatap Ganendra.
"Kesepakatan telah dibuat. Jadi kau harus bisa melewati rintangan ini."
Ganendra hanya tersenyum tipis.
"Asal tidak lupa apa yang pernah kau janjikan."
"Aku tidak akan lupa mengenai hal itu. Aku berikan sedikit informasi tentang Tirta Amerta."
Kalimakara berhenti sejenak. Lalu melanjutkan kembali.
"Tirta Amerta dijaga oleh seorang Raksas bernama Asura Naraka. Dia dikenal sebagai Raksas yang tak kenal ampun terhadap siapa saja. Akan membantai orang yang mencoba mendekati Tirta Amerta. Satu-satunya cara mengalahkan Asura Naraka adalah menjadi Ksatria Saka tingkat ke sembilan yang disebut Ksatria Saka Nawa."
Ganendra terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.
"Jika memang begitu. Kenapa bukan kau sendiri saja yang mengambilnya? Bukankah kau sangat kuat?" tanya Ganendra.
Kalimakara menatap Ganendra, "hanya Ksatria Saka yang mengetahui tempat Asura Naraka dan Tirta Amerta."
Setelah menjawab pertanyaan Ganendra. Kalimakara bergerak dengan cepat dan menghilang ditengah kegelapan. Meninggalkan Ganendra dengan seribu satu pertanyaan.
*Kalimakara menghilang di tengah kegelapan
__ADS_1