
“Ha! Ha! Ha! Tombak ini kelihatan sangat bagus. Jika kita menjualnya, pasti banyak mendatangkan keuntungan.” ucap pria brewok yang tak lain Warahas.
Warahas dan komplotannya, memang Ksatria Saka yang melenceng dari ajaran utama. Mereka berlatih menjadi Ksatria hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Bahkan sampai tega membunuh sesama Ksatria. Hanya untuk merampas senjata mereka. Terutama, jika senjata itu merupakan pemberian dewa.
“Kakang, sepertinya tombak ini pemberian dewa.” ucap salah satu anak buahnya diiringi tawa yang membuncah.
Tujuan mereka kali ini, ke Kerajaan Purawan.
...****************...
Sang Rawi tak lagi memperlihatkan kekuatannya. Memilih kembali ke peraduan di ufuk barat. Malampun telah tiba, suara derik jangkrik bersahut-sahutan. Di pinggiran hutan, dekat wilayah Kerajaan Purawan.
Ganendra yang terkena asap pelumpuh dari Warahas dan komplotannya. Mulai sadarkan diri. Dia memijat kepalanya yang sedikit berat. Lantas kembali teringat dengan Putri Nalini. Nalini yang tergelak di sampingnya belum sadarkan diri.
“Nalini! Bangun! Apa kau bisa mendengarku?” tanya Ganendra panik dengan menggoyangkan tubuh Sang Putri.
Tidak berselang lama, Sang Putri mengerjapkan mata. Dia menemukan kesadarannya.
“Ganendra?” ucap Putri Nalini lirih.
Ganendra bergegas mengambilkan minum untuk Putri Nalini. Sang Putri menegak minumannya hingga habis.
“Arghtttt! Sialan!! Sepertinya tombak Naga Baruna diambil Warahas dan komplotannya.” ucap Ganendra kemudian.
“Mereka tidak pantas disebut Ksatria Saka.” timpal Putri Nalini kesal.
“Jadi maksudmu? Mereka juga Ksatria Saka?”
Putri Nalini mengangguk, “di Swastamita terdapat banyak Ksatria Saka dari berbagai wilayah kerajaan. Tidak hanya berasal dari Kerajaan Ayodya. Pada awalnya Ksatria Saka memiliki tujuan mulai untuk membumihanguskan para Ditya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu. Beberapa dari mereka melenceng dari tujuan utama. Menjadi perampok atau merampas harta benda rakyat. Mengingat keadaan saat ini, hampir seluruh kerajaan di Swastamita mengalami sulitnya pangan. Akibat ulah Ditya yang tak membiarkan rakyat hidup tenang.” jawab Putri Nalini panjang lebar.
Ganendra memahami apa yang dikatakan Sang Putri. Rakyat tidak bisa pergi ke ladang dengan leluasa karena was-was akan serangan Ditya yang setiap saat bisa datang kapan saja. Memangsa para manusia, sebab itulah mereka tidak bisa bercocok tanam.
Jauh di lubuk hati Ganendra. Dia sangat ingin membebaskan rakyat di Swastamita dari rasa takut akan serangan Ditya. Membawa kedamaian di dunia ini.
“Sebaiknya kita segera mencari Warahas dan mengmbil kembali tombakku.” ajak Ganendra.
Putri Nalini mengangguk, “aku rasa mereka pergi ke Kerajaan Purawan. Di sana banyak Ksatria Saka berkumpul atau memperjual belikan senjata.”
Tidak berselang lama, kedua muda-mudi tersebut berjalan beriringan menuju Kerajaan Purawan.
...****************...
Kini, malam telah berganti. Terdengar suara derap langkah kaki menuju perbatasan wilayah Purawan. Mereka tak lain rombongan Warahas dan komplotannya. Mereka sengaja tidak terlalu lama singgah di Purawan karena tujuan mereka adalah merampok desa-desa yang jarang dijaga Ksatria Saka.
Langkah mereka terhenti, saat seseorang mengenakan topeng kelana menghadang. Orang itu tak lain Kalimakara yang berdiri dengan menghunuskan pedangnya.
“Menyingkirlah dari hadapan kami atau nyawa tak lagi menjadi milikmu!” ancam Warahas.
Kalimakara tersenyum seringai dari balik topengnya.
“Ksatria Saka rendahan seperti kalian sama sekali tak pantas mengancamku.”
“Cari mati! Serang!” perintah Warahas pada anak buahnya.
Beberapa orang merengsak menyerang Kalimakara. Kalimakara menggunakan pedang apinya. Salah satu orang melompat ke udara memberikan tendangan. Kalimakara dengan sigap menangkis dengan tangan kirinya. Lantas menebas tubuh orang itu hingga tewas.
Dua orang maju menyerang, mereka memberikan pukulan maupun tendangan. Kalimakara menepis lantas memberikan tendangan memutar.
*Duak*!
Salah satunya terjerembab ke tanah. Kalimakara dengan cepat menancapkan pedangnya. Darah segar muncrat kemana-mana. Salah satu orang kembali menyerang dari belakang. Namun dengan sigap, Kalimakara memutar pedangnya ke belakang.
*Srat*!
__ADS_1
Pedang itu menembus dada salah satu orang hingga tembus ke punggung. Kalimakara tak kenal ampun. Dia bergerak bagaikan kilat. Membunuh beberapa orang sekaligus hanya dalam satu kali serangan.
Melihat musuh yang ada di hadapannya. Warahas menggeram marah.
“Serang bedebah itu bersamaan!!!”
Semua orang merengsak maju. Namun Kalimakara hanya berdiri dengan tenang.
“Yantra Angrok!” ucap Kalimakara.
Di saat yang sama, semua anak buah Warahas merasa tercekik dengan sinar hitam yang melingkar di lehernya.
“Urgghhttt!!!” rintih mereka kesakitan.
Perlahan, tubuh mereka melayang di udara. Berusaha meronta-ronta. Warahas yang melihat semua anak buahnya terkena yantra musuh, membuatnya terkesiap. Sebelum Warahas sempat berpikir. Kalimakara melayang di udara, bergerak bagai kilat sembari menghunuskan pedangnya.
*Srat*!
*Srat*!
*Srat*!
Potongan kepala menggelinding bersimbah darah, tangan beberapa orang terputus dari badannya. Bahkan kejamnya lagi, tubuh mereka terbelah. Hujan darah membanjiri tempat tersebut. Kalimakara yang sudah mendarat di tanah mengulas senyum seringai.
Pemandangan yang ada di depannya. Membuat Warahas ketar-ketir, seluruh anak buahnya tewas di tangan pria misterius itu. Warahas menyadari, lawan yang dihadapi tidak bisa diremehkan. Dia bergegas melarikan diri. Namun sebelum langkahnya jauh, tiba-tiba terdengar suara raungan.
*Roarrr*!!
*Srat*!
“Manusia rendahan yang mengaku dirinya Ksatria Saka. Lebih baik menjadi santapan para Ditya, itu akan menyenangkan. Daripada membasahi pedangku yang hebat ini.” ucap Kalimakara.
“Si…siapa kau sebenarnya?” tanya Warahas yang dilanda rasa takut.
“Aku? Ha!Ha! Ha! Sebelum kau tewas akan aku beritahu. Aku adalah penguasa kegelapan, pemimpin tertinggi para Ditya.” jawab Kalimakara terkekeh.
“Habisi manusia rendah itu!” perintah Kalimakara.
*Roar*!!!
Beberapa Ditya merengsak menyerang ke arah Warahas. Mau tidak mau, Warahas harus bertahan. Dia yang mencapai tingkatan Ksatria Saka Panca bergerak dengan gesit sembari menggunakan kapaknya. Menghindari serangan Ditya.
Salah satu Ditya melompat sembari mengayunkan cakar. Warahas, berguling dan melemparkan kapaknya.
*Swing*!
*Srat*!
Salah satu Ditya tumbang. Disusul serangan Ditya yang lain, dengan cepat merengsak mengeroyok Warahas. Dia berusaha bertahan, namun sayangnya serbuan Ditya begitu ganas. Mereka langsung menangkap tubuh Warahas. Menarik lengannya hingga putus.
“Gyahhh!!!” Warahas menjerit kesakitan. Darah segar mengalir dari lukanya.
Dia melihat Ditya dengan lahap memakan tangannya yang putus. Matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa. Ditya yang kelaparan meraung-raung. Lantas menyerang Warahas yang sudah banyak kehabisan darah.
*Roar*!!
*Duak*!
__ADS_1
*Duak*!
Beberapa Ditya jatuh terjerembab. Tepat saat itu, Ganendra dan Putri Nalini datang. Kalimakara yang melihat kedatangan Ganendra bersikap tenang. Membiarkan Ditya menyerang mereka.
“Hyaaa!!!” ucap Putri Nalini, dia bergerak bagai kilat dan menendang beberapa Ditya.
Ganendra tak ingin kalah, gerakannya cepat bagai kilat sembari mengayunkan pukulan bertenaga. Membuat para Ditya berguguran dengan kepala pecah. Ganendra yang melihat Warahas memegai tombak miliknya. Dia lantas berguling dan mengambilnya dengan cepat.
“Ini milikku!” ucap Ganendra sembari menyunggingkan senyum.
Lantas melempar tombaknya ke arah Ditya.
*Swing*!
Tombaknya tepat menembus tubuh Ditya. Sang Ditya terkapar kehilangan nyawa. Ganendra berlari dengan cepat sembari mencabut tombaknya. Lantas bergerak bagai kilat dan menyerang Kalimakara.
“Hyaa!!!”
Tombak Naga Baruna Ganendra mengarah tepat pada Kalimakara. Tetapi betapa terkejutnya Ganendra, ujung tombaknya ditahan hanya dengan dua jari. Seulas senyum seringai tersungging dari balik topeng kelana.
Selang beberapa detik, Kalimakara menghempas tubuh Ganendra. Tubuh Ganendra melambung ke udara dan terjerembab dengan keras menghantam tanah.
“Ganendra!” pekik Putri Nalini menghampiri Ganendra yang muntah darah.
“Aku belum ingin bertarung denganmu. Jadi tidak perlu bersusah payah melawanku.” ucap Kalimakara.
Dia lantas mengeluarkan sesuatu dari balik pakainnya.
“Cepat! Penuhi kesepakatan kita.” perintah Kalimakara.
Kalimakara meletakkan sesuatu di tanah.
“Ambillah dan bawakan aku Tirta Amerta.” imbuh Kalimakara.
Ganendra yang merasakan sakit di dadanya berusaha berbicara.
“Aku akan memberikan apa yang kau inginkan. Tetapi bagaimana dengan ibuku? Apa kau menjaganya dengan baik?”
“Khukhukhu!!! Kau tidak perlu khawatir.”
Tidak lama berselang, Kalimakara menjentikkan jarinya. Sebuah gambaran, menunjukkan ibunya baik-baik saja. Dia sedang dirawat seseorang.
“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Ganendra sedikit lega. Melihat ibunya baik-baik saja.
Kalimakara terkekeh, “bukankah kita sudah terikat yantra pengikat perjanjian? Jika tidak saling menepati janji sama saja yantra itu akan menyakiti diriku sendiri.”
“Baiklah… aku mengerti.” ucap Ganendra.
Kini dia menyadari semuanya. Bahwa Kalimakara sesungguhnya berada di pihak kegelapan. Tujuannya membawa Ganendra ke Swastamita hanya untuk memanfaatkan dirinya mendapatkan Tirta Amerta.
Kalimakara terkekeh, lantas dengan gerakan bagai kilat. Dia melesat dan mengayunkan pedangnya.
*Srat*!
Potongan kepala menggelinding begitu saja. Potongan kepala itu milik Warahas. Putri Nalini yang ngeri menyaksikan pembantain itu hanya bisa menjerit. Ganendra segera memeluk Putri Nalini. Supaya tidak melihat lebih jauh lagi.
“Aku benci, orang-orang yang menjadi penghalang dalam rencanaku.”
“Bwahahahaha!!!!” tawa Kalimakara terdengar membahana. Hingga dia menghilang begitu saja.
Ganendra yang dibantu Putri Nalini, berjalan mengambil benda yang ditinggalkan Kalimakara. Benda itu rupanya adalah potongan prasasti terakhir yang berisi mengenai tirta amerta.
__ADS_1