
Di sebuah bukit yang terletak di pinggiran Desa Medangwantu. Ganendra terlihat meluapkan emosi. Dia menghancurkan apa saja yang berada di sekitarnya. Dadanya terasa sesak saat mengetahui Putri Nalini mengorbankan diri untuk mendapatkan penawar racunnya. Entah bagaimana kondisi Putri Nalini saat ini. Mungkinkah dia sudah menjadi wadah kelahiran Ditya? Jika memikirkan hal itu, membuat Ganendra tidak tenang.
Diam seperti ini tidak memberikan solusi. Apapun yang terjadi, dia akan ke Pancapratala. Menyelamatkan Sang Putri dari cengkraman Ditya Kalandaru. Ganendra melangkahkan kakinya. Akan tetapi sesosok pria bertopeng kelana menghadang. Pria itu tak lain Kalimakara.
“Aku tidak ada waktu bicara denganmu.” ucap Ganendra hendak melangkah.
Tetapi Kalimakara tetap menghadang Ganendra.
“Ingat saja dengan perjanjian kita. Jangan membuang waktumu untuk hal yang tidak perlu. Apalagi melibatkan hatimu demi wanita itu.”
Ganendra menatap tajam pada Kalimakara.
“Wanita itu memiliki nama dan namanya Nalini.” balas Ganendra.
“Bwahahaha!!!” Kalimakara tertawa terbahak.
“Terserah kau mau tertawa seperti apa. Jangan halangi langkahku.” ucap Ganendra dengan nada dingin.
“Aku membawamu ke sini, bukan untuk menyelamatkan siapapun. Tetapi membawakan Tirta Amerta untukku. Kau sudah merasakan sendiri, bagaimana jika melanggar perjanjian kita.” Dari balik topengnya, Kalimakara menatap tajam Ganendra.
Ganendra menatap sebuah tato berbentuk gelang rantai di tangan kirinya.
“Tidak perlu mengingatkan akan hal itu. Aku akan tetap memenuhi perjanjian kita.”
Kalimakara mengulas senyum seringai.
“Bagus jika kau masih mengingat hal itu. Nyawamu sebagai ganti jika tidak menepati janji. Segera tingkatkan kemampuanmu menjadi Ksatria Saka tingkat Nawa.”
Ganendra mendengus kesal dan menatap Kalimakara.
“Aku akan melakukan seperti yang kau katakan. Tetapi bantu aku terlebih dahulu. Bagaimana menyelamatkan Nalini. Dia juga terikat yantra perjanjian sepertiku.”
Kalimakara kembali mengulas senyum seringai dari balik topengnya.
“Bwahahaha!!! Yantra pengikat perjanjian yang sudah terlanjur di rapalkan. Tidak akan bisa dicabut ataupun di lepas, dengan kata lain tidak ada cara menyelamatkan wanita itu…ah maksudku Putri Nalini. Lagipula kenapa aku harus memberitahumu. Bisa saja kau mengkhianatiku dan melepaskan yantra pengikatmu sendiri.”
“Jangan bohong padaku!!!” teriak Ganendra sembari mencengkeram leher Kalimakara.
__ADS_1
Kalimakara lagi-lagi hanya tertawa.
“Katakan apa caranya? Kau memiliki kekuatan yang besar. Pasti memiliki caranya. Aku tidak akan mengingkari janji meskipun tau cara melepaskan yantra pengikat.”
Lanjut Ganendra lagi, “akan aku lakukan apapun. Termasuk memberikan nyawaku sendiri. Asal kau membantuku.”
Suara Ganendra terdengar putus asa. Kalimakara menghempas tangan Ganendra di lehernya dengan mudah. Lantas menepuk bahu pemuda itu.
“Sebenarnya ada satu cara menyelamatkan Putri Nalini.” ucap Kalimakara.
Ucapan Kalimakara seolah membawa secercah harapan untuk Ganendra.
“Katakan apa itu?” tanya Ganendra dengan wajah penuh binar.
“Satu-satunya jalan adalah membunuh Putri Nalini dengan begitu dia tidak perlu menderita menjadi wadah kelahiran Ditya.” Kalimakara terkekeh.
Duak!!!
Tanpa terduga Ganendra memukul wajah Kalimakara.
“Kurang ajar! Jangan mempermainkan ku sialan!” teriak Ganendra penuh amarah.
“Gyaah!!!” teriak Ganendra yang tidak tau harus bagaimana selanjutnya.
...****************...
Di Pancapratala, tempat tinggal Ditya Kalandaru.
Putri Nalini masih terkurung di dalam kamar. Sang Ditya tidak begitu memperketat penjagaan, karena dia beranggapan bahwa percuma saja menyelamatkan Sang Putri.
Ditya Kalandaru membiarkan Putri Nalini sendirian sembari mempersiapkan dirinya. Menanam bibit di rahim Sang Putri.
Putri Nalini hanya duduk di lantai. Tatapan matanya nanar. Sekarang tidak ada jalan untuknya. Sudah dapat dipastikan dia tidak akan lolos kali ini.
“Pria mesum itu, bagaimana reaksinya sekarang? Saat mengetahui kebenarannya?” tanya Putri Nalini seorang diri.
Dia menatap tanda tato seperti gelang rantai di pergelangan tangan kanannya. Tidak ada yang bisa mematahkan yantra pengikat perjanjian. Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari Sang Putri. Apakah dia menyesal telah menyelamatkan nyawa Ganendra dengan menukar dirinya sendiri? Jawabannya tentu tidak.
__ADS_1
Tidak terbersit sekalipun di benak Putri Nalini penyesalan semacam itu. Dahulu dia memang dikenal sebagai seorang Putri yang dingin dan egois. Tidak perduli bagaimana keadaan di sekitarnya. Tetapi setelah bertemu dengan Ksatria Saka dan Ganendra, arah pandangannya telah berubah.
Perjuangan Ksatria Saka patut diberi penghargaan setinggi-tingginya. Bahu membahu demi memberantas para Ditya hingga rela mengorbankan nyawa. Putri Nalini, mengakui keberanian Kemuning yang membuatnya memiliki tekad yang berkobar untuk memberantas Ditya dari Swastamita. Meski kini, tekadnya harus pupus. Hanya tinggal menunggu hitungan saja dia akan menjadi korban keganasan Ditya. Maka dari itu, Putri Nalini mempercayai Ganendra mampu menjadi Ksatria Saka yang kuat. Memenuhi harapan yang tak bisa dia wujudkan.
Sejujurnya, tujuan Putri Nalini pada awalnya bergabung dengan Ksatria Saka hanya untuk mengetahui keberadaan Dananjaya. Kekasihnya yang menghilang. Seusai bertarung dengan Ditya. Tetapi kini, Sang Putri mengetahui pasti. Bahwa Dananjaya, seorang pria yang pernah dicintainya ternyata rela bersekutu dengan Ditya. Hanya untuk mendapatkan kekuatan.
Penyesalan Putri Nalini satu-satunya hanyalah pernah mencintai seorang Dananjaya. Kini, Sang Putri hanya bisa merenung dan menunggu ajal siap menjemput. Ketika nanti Ditya Kalandaru menanam benih dalam rahimnya.
Di luar kamar, Ditya Kalandaru di mabuk kemenangan. Seolah dunia berada dalam genggamannya. Jika rencananya berhasil. Maka dia akan mendapatkan bayi Ditya yang diberkahi kekuatan tak terhingga.
Tiba-tiba sebuah sinar hitam Nampak melayang di udara. Lantas mendarat tepat di hadapan Ditya Kalandaru. Sinar hitam itu tak lain Ditya Gorawangsa.
“Mau apa kau kemari? Ingin bertarung lagi denganku?” tanya Ditya Kalandaru sembari mendecih.
“Hahahaha! Aku hanya datang memberi selamat padamu. Kau akan mendapatkan Ditya berdarah campuran.”
Ditya Kalandaru tertawa puas mendengar ucapan selamat Ditya Gorawangsa.
“Hahaha! Dengan begitu aku akan membalas perbuatan Kalimakara terhadapku. Mengambil potongan prasasti yang berada di tangannya.”
Ditya Gorawangsa ikut tertawa. Tetapi dibalik tawanya ada rencana licik yang telah dia persiapkan. Hanya menunggu saat yang tepat melakukannya.
...****************...
Di Desa Medangwantu, Sadana dan yang lain berusaha menenangkan Ganendra yang bertingkah seperti orang gila. Mengamuk dan meratakan apa saja yang ada di hadapannya.
“Jika kau seperti ini? kita tidak akan bisa menyelamatkan Putri Nalini.” ucap Sadana menyadarkan Ganendra.
“Menyelamatkan? Bagaimana caranya? Semua orang mengatakan tidak ada jalan keluar kecuali….kecuali….” Ganendra tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Kecuali apa?!” tanya Soma setengah berteriak.
“Kecuali kita membunuh Nalini.” jawab Ganendra dengan nada tanpa daya.
Semua orang tidak tau harus mencari jalan keluar seperti apa. Semuanya seolah buntu. Tertutup rapat tanpa satupun celah untuk menerobos. Hanya Dewa yang Agung mengetahui jalan dari masalah yang di hadapi Ganendra dan sahabat-sahabatnya.
Malam semakin larut. Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Sinar rembulan memilih bersembunyi daripada menyaksikan keputusasaan yang dirasakan Ganendra. Tidak perduli bagaimana mereka mencari jalan keluarnya. Tetap saja tidak ada sesuatu yang berarti.
__ADS_1
Buyut Wengkeng maupun Buyut Bawada bersemedi meminta petunjuk para Dewa. Namun sepertinya Sang Dewa enggan turut campur masalah manusia.