Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 11


__ADS_3

Bi Ina terkejut melihat dua orang yang terkenal di negara ini sedang berdiri dihadapannya. Mereka adalah Bram Alexander dan Maya Alexander, pemilik Alexander Group. Bi Ina terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka dan matanya menatap kedua orang itu dengan tatapan kagum sekaligus tidak percaya.


"Apakah dia masih tidur, Bi?" Tanya Maya yang sudah tak sabar..


"Eh... maaf nyonya. Tuan Muda dan Nyonya Muda masih tidur.


"Nyonya Muda?" Sahut Bram dan Maya serempak dengan membulatkan kedua bola mata mereka masing-masing.


"Siapa yang kau maksud, Bi?" Tanya Bram


"Nonya Nita, Tuan."


"Nita siapa, Bi? Sejak kapan wanita itu menjadi Nyonya Mudamu?" Sahut Maya yang mulai tersulut emosi.


"Saya bekerja di apartemen ini baru sekitar 5 hari, Nyonya. Sejak pertama kali saya masuk ke apartemen Tuan Rayn, Nyonya Nita sudah tinggal disini." Jawab Bi Ina dengan lirih.


"Sial"


"Sabar sayang, nanti kita minta penjelasan dari mereka berdua."


"Apa lagi yang kau tahu tentang Nita, Bi?" Sambung Maya saat menenangkan suaminya.


"Mmm..." Gumam Bi Ina.


"Jawab saja, Bi." Desak Maya.


"Iy... iya nyonya. Nyonya Muda... maksud saya Nyonya Nita, dia sedang mengandung." Jawab Bi Ina


"......"


Rayn yang baru tertidur beberapa menit lalu, sayup-sayup mendengar keributan dari arah luar. Terdengar mereka mendebatkan dan menyebut namanya dan Nita. Rayn masih memejamkan matanya, dia seperti mengenal suara orang itu.


Ceklek,


Bram yang sudah marah kepada Rayn, membuka lebar pintu kamar anak semata wayangnya. Pintu kamar itu memang tidak dikunci semalam. Terlihat dua orang saling berpelukan tertidur pulas di atas ranjang.


"Bangun Rayn!" Teriak Bram yang semakin murka melihat Rayn dan Nita berpelukan di atas ranjang.


Rayn membuka matanya perlahan dengan mimik muka yang tetap tenang. Sedangkan Nita, dia langsung terduduk karena terkejut mendengar teriakan Bram.


"Bangun kau!" Teriak Bram lagi.


"Jelaskan pada kami, Rayn. Siapa dia?" Sahut Maya saat menatap ke arah Nita.


Nita hanya bisa menundukkan wajahnya, dia sangat takut. Rayn bangkit dari ranjang empuk itu. Dia menggosok-gosok kedua matanya. Raut wajah Rayn berubah menjadi hangat saat menatap kedua orang tuanya. Rayn memang orang yang dingin, cuek, dan sedikit angkuh. Namun, sikapnya itu hanya ia tunjukkan pada orang luar. Sedangkan saat bersama papa dan mamanya sikapnya menjadi lebih hangat. Sikap dinginnya merupakan bawaan dari papanya, jadi mau bagaimanapun hangat sikapnya, masih tetap cuek ya.


"Mama sama papa kenapa ada disini?" Ucap Rayn dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


"Tidak usah basa-basi. Jelaskan, Rayn!" Sahut Bram dengan wajah merahnya yang terbakar amarah.


"Dia adalah Nita, Anita Pramudya. Dia itu calon istriku, Pa." Jawab Rayn berusaha menutupi kebenaran.


Deegg,


"Apa dia bilang, Aku? Calon istri? Apa dia sudah tidak waras?" Batin Nita.


"Calon istri?" Jawab Maya, matanya sudah berkaca-kaca. Kecewa, senang, terkejut, dan sedih bercampur memenuhi rongga dadanya. Dia bertanya-tanya siapakah ayah Dari anak yang dikandung Nita. Apakah benar Rayn yang melakukannya?


"Apakah benar apa yang dikatakan Rayn, Nak?" Tanya Bram pada Nita. Kedua bola mata Rayn dan Nita bertemu, mereka berdebat melalui tatapan mata mereka.


"*Cepat jawab iya!"


"Enak saja, aku tidak mau."


"Dasar bocah ingusan, pikirkan tentang anak kita." tatapan Rayn berpindah ke perut yang masih rata milik Nita.


"Ternyata kau peduli pada anak ini, Tuan."


"Cepat jawab iya*!"


"Jawab, Nita. Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dari kami. Kalau memang Rayn yang bersalah, aku akan memarahinya." Maya menghentikan perdebatan suara hati Rayn dan Nita.


Deegg,


"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Sahut Bram.


"Satu bulan lebih seminggu." Jawab detail Rayn.


"Baru satu bulan, ya? Kenapa kau begitu yakin menjadikannya calon istrimu, Rayn?" Ucap Maya yang sudah melangkah mendekat ke arah Nita. Dia duduk tetap di sebelah Nita.


"Iya aku yakin, Ma. Aku harus menikahinya." Jawab Rayn.


"Apa kau sudah berbuat yang seharusnya tidak kau lakukan?" Bram memojokkan Rayn, ia ingin putranya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Raut wajah Rayn terlihat sedikit cemas.


"Kami hanya tidur bersama, lagi pula dia calon istriku. Tidak ada yang salah, Pa."


"Walaupun dia calon istrimu, tidaklah benar jika kalian tidur bersama sebelum menikah. Sikap apa ini, Rayn? Cepat jelaskan kejadian sebenarnya kalau kau masih ingin menjadi keluarga Alexander!" Bram semakin tersulut amarahnya.


Sebagai seorang laki-laki, Bram selalu mengajarkan kepada anaknya untuk menghormati wanita. Tetapi apa yang dilakukan Rayn sangatlah tidak benar, dia tidak bisa tidur dengan wanita sebelum mereka memiliki ikatan yang sah. Dan sekarang gadis muda bernama Nita itu sedang mengandung. Bram semakin yakin kalau Nita mengandung anak Rayn.


"Jelaskan yang sebenarnya, Nak. Aku tau kau gadis baik-baik." Ucap Maya saat dia mengelus bahu Nita.


Lidah Nita kelu, Rayn pasti akan menghabisinya kalau dia mengatakan yang sebenarnya. Nita memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan. Kamar ini hening sejenak, hanya detak jantung masing-masing yang didengar. Mereka berpacu dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


"Jangan takut, Nita. Dia tidak akan berani melakukan hal buruk padamu." Sambung Maya.

__ADS_1


Maya adalah wanita yang lembut dan penyayang. Dia selalu menjadi penengah bagi anak dan suaminya. Seperti saat ini, jiwa keibuannya jelas terlihat. Dia menjadi penengah mereka saat ini. Sebagai wanita, Maya paham apa yang Nita pikirkan.


"Se...sebenarnya tadi pagi-pagi sekali setelah saya shalat subuh, saya muntah-muntah, Nyonya. Rayn hanya membantu dan merawat saya. Mungkin karena masih pagi buta Rayn masih mengantuk, jadi dia tertidur di ranjang saya. Sebelumnya kami tidur di kamar terpisah." Nita menjelaskan sebagian kebenaran yang mereka sembunyikan.


"Baiklah, tapi bisakah kau jelaskan kenapa kau muntah pagi-pagi?" Bram semakin memojokkan Nita dan putranya.


"Sa... saya hanya sedang masuk angin, Tuan." Nita menunduk takut.


"Jangan takut, Nita. Aku tau kau sedang hamil. Tadi kami memaksa Bi Ina untuk mengatakan apa yang dia ketahui tentangmu. Dan Bi Ina bilang kau sedang hamil." Sahut Maya saat dia bangkit dari ranjang Dan kini telah berdiri mendekati Bram.


"Jelaskan kebenarannya pada kami, Nita." Sambung Maya saat dia berdiri tepat disamping Bram.


Hening,


"Haruskah aku memberitahu mereka kalau janin ini adalah calon bayi Tuan Rayn." batin Nita


"Iy... iya nyonya. Saya sedang hamil. Sudah memasuki usia 3 minggu."


"Siapa ayah dari bayimu?" Tanya Bram sedikit memaksa karena sudah tidak sabar mendengar penjelasan Nita.


"Rayn."


"....."


Plak, plak,


Suasana kamar menjadi semakin panas Dan sesak. Bram menampar kedua pipi Rayn hingga Rayn tersungkur di lantai. Rayn bangkit, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Ini adalah tamparan pertama Bram. Walaupun dirinya tegas dan disiplin dalam membesarkan Rayn selama ini, tetapi dia tidak pernah memukulnya.


"Anak kurang ajar... Kau mencoreng nama baik keluarga Alexander. Untuk apa aku mengajarimu untuk menghormati wanita jika saat ini kau malah menghancurkan kehormatan sekaligus masa depannya."


"Sudah sayang, sudah cukup. Kita beri kesempatan pada Nita untuk menjelaskan semuanya. Amarahmu tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini." Maya menahan Bram yang sudah mengangkat tangannya ke udara hendak memukul Rayn lagi. Dia sangat sedih melihat kedua orang yang ia sayangi bertengkar.


"Nita ceritakan semuanya, jangan sembunyikan kebenaran sekecil apapun itu. Kita selesaikan masalah ini." Maya menatap Nita. Seketika tubuh Nita bergetar, dia menangis.


"Ba... baik nyonya. Akan saya ceritakan semua kebenaran dan kejadian pada malam itu."


............................................


Hai readers....


Terimakasih sudah membaca novelku ini.


Jangan lupa like dan vote novelku ya...


Dan nantikan episode-episode selanjutnya,


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2