
Hai readers!
Sebelum lanjut membaca bab ini harus like dan vote dulu ya! Boleh juga menulis komentar sesuka kalian! Tambahkan novel ini dalam novel favorite kalian!
Happy Reading!
..........................
Ana langsung menggandeng tangan Alex membawanya menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ana.
Rayn sejak tadi duduk di depan IGD, ia menolak untuk dibersikan lukanya. Hingga Paman Kevin keluar dari IGD dengan raut wajah membingungkan, membuat Rayn semakin takut.
"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Rayn yang sudah tidak sabaran.
Paman Kevin menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tidak berani menatap Rayn.
"Katakan, paman!" Teriak Rayn, air matanya mengalir deras.
"Istrimu harus segera dioperasi." Jawab Paman Kevin.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rayn.
"Aku sudah berusaha maksimal, tapi anakmu tidak dapat tertolong. Dia sudah meninggal di dalam perut ibunya. Kemungkinan besar perut Nita terbentur dengan cukup keras saat kejadian. Kita harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan ibunya!"
"Paman tolong jangan bercanda!" Seru Rayn.
"Aku tahu ini sangat berat. Tapi ini kenyataannya Rayn!" Jawab Paman Kevin.
Kedua kaki Rayn lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Air matanya deras membasahi pipinya. Dunia seakan runtuh.
"Arrrggghhh!" Teriak Rayn.
Rayn memukul-mukul lantai dengan kedua tangannya.
"Kau bawa dia masuk ke dalam IGD, dia juga butuh perawatan. Aku harus segera menghubungi dokter spesialis kandungan!" Ucap Paman Kevin menepuk bahu Yoga.
"Baik, tuan!" Jawab Yoga.
Yoga menatap Rayn. Rayn yang ia kenal adalah sosok pemimpin yang dingin, tegas, dan arrogan. Ia selalu menghadapi persoalan dengan bijaksana. Tapi hari ini, Yoga melihat sisi lain dari tuannya. Sisi yang tidak pernah Rayn tunjukkan kepada siapapun. Dengan mata kepalanya sendiri, Yoga melihat betaoa sedih dan hancurnya Rayn saat ini.
"Tuan," Ucap Yoga yang berjalan mendekati Rayn, tidak ada respon dari Rayn.
"Luka Tuan butuh perawatan sekarang, mari Saya antar ke dalam!" Seru Yoga.
"Tinggalkan aku sendiri!" Teriak Rayn.
Yoga melangkah mundur, ia juga paham bagaimana perasaan tuannya saat ini. Lalu ia teringat, ia akan menelpon Bram dan Maya untuk memberikan kabar tentang kecelakaan yang dialami Bram dan Rayn. Diambilnya ponsel dari saku celana, ia mencari nama kontak Bram.
__ADS_1
"Halo, ada apa?"
"Tuan... Tuan dan Nyonya muda kecelakaan." Ucap Yoga dengan sedikit takut-takut.
"Apa!! Bagaimana bisa? Sekarang juga kau pecat sopir yang membawa mereka!"
"Maaf tuan! Tapi Tuan muda tadi bersikeras untuk mengemudikan sendiri mobilnya." Jawab Yoga.
"Baiklah. Mereka dirawat di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit milik tuan!"
"Saya dan istri saya akan segera sampai di sana !"
Yoga lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia mondar-mandir di samping Rayn yang duduk di lantai. Tuannya itu terus menolak untuk dibawa ke IGD. Yoga menatap ngeri luka yang cukup dalam di pelipis Rayn.
"Dimana Nita?" Tanya Ana yang baru saja sampai bersama Alex.
"Baru di operasi!" Jawab Yoga sambil melihat Rayn.
"Nita dan janinnya baik-baik saja, kan?" Tanya Ana lagi.
"Janinnya tidak tertolong, dokter harus segera mengeluarkannya." Jawab Yoga dengan nada sendu.
Ana terkejut dan langsung menangis sesenggukan. Ia terduduk lemas di kursi tunggu. Yoga dan Alex duduk tidak jauh dari Ana. Sementara Rayn, ia sudah berjalan mendekat ke ruang operasi. Ia duduk di dekat pintu ruangan itu, air matanya semakin mengalir deras.
"Dijahit ulang!" Jawab Alex dengan santai.
"Kok bisa?" Tanya Yoga yang terkejut mendengar ucapan Alex.
"Abis mindahin sapi!" Jawab Alex yang langsung mendapat tatapan tajam membunuh dari Ana.
"Nggak! maksud gua, terlalu banyak gerak aja!" Alex sedikit gugup, Ana masih saja menatap tajam dirinya.
"ohh.." Jawab singkat Yoga.
Sepuluh menit kemudian, Bram dan Maya sampai di rumah sakit. Bram yang melihat Yoga langsung menggandeng tangan Maya dan menghampiri Yoga.
"Bagaimana keadaan Rayn dan Nita?" Tanya Maya yang sudah tidak sabaran.
"Tuan Rayn terluka di pelipisnya tapi Tuan Rayn tidak mau dirawat lukanya. Sementara Nyonya Nita sedang di operasi. Janinnya tidak bisa diselamatkan," Yoga menunduk.
Maya jatuh pingsan setelah mendengar kabar buruk mengenai menantu dan calon cucunya.
Yoga buru-buru memanggil perawat untuk membawa Maya ke IGD.
"Bagaimana kecelakaan itu terjadi? Bukankah kau mengawal mereka?" Tanya Bram.
__ADS_1
"Saya berserta anak buah saya memang mengawal mobil Tuan Rayn. Tapi di tengah jalan mobil yang tumpangi di hadang mobil misterius. Kami diserang, jadi kami kehilangan jejak mobil Tuan Rayn. Untung saja ada GPS yang saya pasang di mobil itu, jadi saya bisa melacak keberadaan Tuan Rayn. Saat saya tiba di TKP, mobil Tuan Rayn sudar tercebur di sungai. Kami menemukan Nyonya Nita sedang berpegangan pada sebuah batu, dengan tangan yang masih memegangi Tuan Rayn yang pingsan. Nyonya Nita berjuang keras untuk menyelamatkan dirinya dan juga Tuan Rayn. Paman Kevin menjelaskan kemungkinan besar perut Nyonya Nita terbentur dengan keras saat kejadian." Jelas Yoga.
"Baiklah. Saya mau kamu selidiki kejadian ini dengan teliti. Temukan dalangnya, hidup ataupun mati." Seru Bram.
"Saya sudah menghubungi Ben, tuan!" Jawab Yoga.
"Bagus. Dimana Rayn sekarang?" Tanya Bram.
"Tuan Rayn di depan ruang operasi," Jawab Yoga.
Bram bergegas menemui putra sematawayangnya itu. Apalagi setelah tahu Rayn tidak mau dirawat lukanya.
"Rayn," Bram trenyuh dengan keadaan Rayn.
Ia menghampiri Rayn yang duduk di dekat pintu. Rayn terlihat sangat berantakan. Rayn langsung memeluk Bram saat melihatnya.
"Pa, anakku meninggal pa! Nita masih di dalam. Mereka belum selesai juga! Nita akan baik-baik saja kan, pa? " Seru Rayn.
"Sudah, Rayn. Dia itu wanita yang kuat. Dia pasti bisa berjuang di dalam. Sekarang ayo rawat lukamu dulu!" Sahut Bram.
"Tidak, pa. Aku akan tetap di sini. Aku tidak bisa meninggalkan Nita sendirian di sini!" Jawab Rayn yang membuat Bram ikut sedih.
"Dengarkan papa! Nita sudah berjuang mati-matian untuk menyelamatkanmu! Jangan buat dia kecewa saat dia bangun nanti!"
Ada benarnya juga ucapan dari papanya. Nita sudah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.
"Ayo papa antar ke IGD! Nita sangat butuh kehadiranmu saat ini, jadi kau tidak boleh sakit. Kau harus mengobati luka-lukamu!" Lanjut Bram.
Rayn pun mengangguk, dan mengikuti papanya untuk pergi ke IGD. Ia berpikir Nita juga pasti akan sangat sedih saat tahu anaknya sudah meninggal. Rayn harus menyemangati dan menghibur istrinya. Untuk itu dirinya harus sehat dulu.
Di dalam IGD dokter memeriksa keadaan Rayn. Beberapa perawat membersihkan lukanya. Dalam beberapa menit, mereka selesai melakukan tugasnya. Kini Rayn sedang menyantap makanan yang dibawa Yoga.
"Pulanglah ke mansion! Siapkan acara pemakaman anakku!" Perintah Rayn pada Yoga.
Yoga mengangguk tegas lalu pergi menjalankan tugas.
"Rayn?" Seru Maya, ia sudah sadar dan menghampiri Rayn di IGD.
Maya langsung memeluk Rayn dengan erat. Rayn juga membalas pelukan mamanya. Maya tersenyum melihat Rayn yang sudah mandi dan sekarang sedang makan.
"Operasi Nyonya Nita sudah selesai, bos" Sahut Alex yang tiba-tiba masuk.
"Bagaimana keadaan Nita sekarang?" Tanya Rayn.
................................
Jangan lupa like dan vote ya!❤️
__ADS_1