Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 42


__ADS_3

HAI READERS...


LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.


HAPPY READING 😘


........................


Hari ini adalah hari ketujuh Alex dirawat di rumah sakit. Selama tujuh hari Analah yang menjaga dan mengurus Alex. Dari mulai menyuapi Alex, mengantarkan ke kamar mandi, mengupas buah, hingga membawanya jalan-jalan keluar. Hanya saja, untuk membantu membersihkan tubuh Alex, Ana tidak mau ikut campur. Ia akan menyerahkan sepenuhnya kepada perawat laki-laki.


Tapi sekarang sudah pukul 5 sore tapi perawat belum juga datang untuk membantu Alex membersihkan tubuhnya. Ana memanggil perawat menggunakan bel, mereka mengatakan sore ini tidak ada perawat laki-laki yang bertugas. Karena mayoritas perawat di rumah sakit ini adalah perempuan. Jadi maklum kalau tidak setiap hari ada perawat laki-laki yang bertugas.


"Apa Yoga nggak bisa dateng?" Tanya Alex dengan wajah cemas.


"Gua udah telpon dia tadi, dia masih ada pekerjaan di kantor." Jawab Ana yang kesal.


"Udah lengket banget ini badan!" Keluh Alex.


"Lo diem dulu bisa nggak?" Seru Ana yang sudah bingung bertambah bingung karena Alex yang selalu mengeluh.


"Lo aja yang bantu gua!" Ucap Alex yang membuat Ana mematung di tempatnya.


"What!!!!" Seru Ana.


"Gile nih orang! Masak gua harus bantuin dia bersihin badannya sih! Mata gua yang suci bisa ternoda kalau gini caranya! Batin Ana.


"Udah cepetan!" Seru Alex.


"Tapi..."


"Gua bersihin sendiri bagian itu!" Ucap Alex yang membuat Ana bernapas lega.


Ana bergegas memanggil perawat menggunakan bel. Ia menyuruh perawat itu membawakan dua baskom kecil dan handuk kecil.


Lima menit kemudian seorang perawat membawa 2 baskom dan handuk kecil. Ana segera mengisi baskom itu dengan air hangat dari kamar mandi dan meletakkan di meja dekat Alex. Alex menganggukkan kepalanya, ia sudah siap. Ana menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Maaf," Ucap Ana saat mulai membuka kancing baju Alex.


Deg,


Jantung Alex berdetak tidak karuan, posisi wajah Ana sangat sekat dengannya.


"Auuww.." Pekik Alex karena Ana tidak sengaja menyenggol bahu Alex.


"Maaf, maaf! Sakit banget, ya?" Ana panik mendengar teriakan Alex.


"Jangan senggol-senggol bahu gua!" Alex meringis kesakitan.

__ADS_1


"Oke oke," Jawab Ana yang kembali melepas baju Alex perlahan.


Posisi Ana sangat dekat dengan Alex sekarang, hingga Alex dapat mencium harumnya body lotion Ana. Ia menjadi gugup dengan posisinya dengan Ana sekarang. Apalagi bajunya sudah dilepas Ana. Ana terdiam sejenak, ia terpesona melihat dada bidang Alex dan perut kotak-kotaknya. see


Ana perlahan mengelap tubuh Alex dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Ana merasa canggung karena mengelap dada dan perut Alex, sedangkan Alex merasa gugup dan tegang karena Ana begitu dekat dengannya. Ditambah aroma tubuh Ana yang wangi.


"Gua bersihin sendiri bagian bawah!" Ucap Alex mengambil alih handuk dari tangan Ana.


Dengan cepat Ana langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain, sehingga ia membelakangi Alex. Alex bersusah payah melepaskan celananya.


"Lo tarik celana gua!" Perintah Alex.


"Tapi jangan liat kesini!" Lanjutnya saat Ana akan membalikkan tubuhnya.


"Oke oke!" Jawab singkat Ana.


Dalam tiga hitungan celana Alex berhasil dilepas oleh Ana tanpa halangan apapun. Alex membersihkan tubuh bagian bawahnya dengan perlahan. Karena bahunya terasa nyeri saat ia terlalu banyak menggerakkan tubuhnya. Ana tidak berani membalikkan badannya ataupun menoleh.


Sekarang Ana harus berjuang lagi untuk memakaikan baju Alex. Keringat Ana mengalir deras di tubuhnya. Tidak hanya capek, tapi ini termasuk keringat dingin karena gugup.


"Akhirnya!" Ucap Ana yang membereskan peralatan.


"Makasih!" Sahut Alex tiba-tiba.


"Iya," Jawab Ana malu-malu, pertama kalinya Alex menatap Ana dengan lembut.


"Gua nggak mau makan apel!" Sahut Alex yang melihat Ana sedang mengupas buah apel merah.


"Gua yang mau makan!" Jawab Ana terkekeh.


"Dasar!" Alex mengacak rambut Ana.


Deg,


Alex tidak bersikap sedingin dulu. Ana menatap kedua bola mata coklat milik Alex. Pandangan mereka terkunci.


............................


Pukul 1 pagi Rayn bangun dari mimpi indahnya. Ia menatap lekat Nita yang tertidur di lengannya. Mereka berdua tertidur setelah menyelesaikan olahraga malam mereka. Rayn turun dari ranjang, berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia bergegas membersihkan tubuhnya karena ia akan menemui Ben.


Lima belas menit cukup untuk menyegarkan badannya. Ia hanya menggunakan celana jeans selutut dan kaos hitam polos. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang bawah tanah.


Kriieeettt,


Rayn membuka pintu besi tua yang karatan itu, lalu menutupnya rapat-rapat. Terlihat Ben duduk tidak jauh dari seorang pria berperawakan tinggi besar diikat di kursi kayu.


"Bagaimana?" Tanya Rayn pada Ben, ia melemparkan senyuman smirk pada pria itu.

__ADS_1


"Masih tetap tutup mulut, tuan!" Jawab Ben.


Rayn berjalan perlahan mendekati pria itu. Rayn menatap tajam kedua bola mata pria itu. Pria itu justru menatap balik Rayn.


Bug,


Rayn meninju perut pria yang sudah membuka topeng pria itu. Pria itu meringis kesakitan, tapi tetap menatap tajam Rayn.


"Siapa yang menyuruhmu?" Teriak Rayn.


"Orang dari masa masa lalumu!" Jawab pria itu.


Rayn terdiam mencoba memikirkan siapa yang pria itu maksud. Rayn tidak punya mantan pacar, lalu siapa orang dari masa lalu itu. Apakah dia salah satu wanita yang mengejarnya? Atau mungkin Clara?


"Tidak usah basa-basi! Cepat beritahu siapa yang menyuruhmu!" Sahut Ben.


"Kalian bunuh saja aku!" Teriak pria itu.


"Berapa banyak mereka membayarmu hah?" Teriak Rayn.


"Bukan urusanmu!" Jawab pria itu.


"Noo! Tentu ini menjadi urusanku! Kau dibayar untuk mencelakai istriku yang sedang mengandung anak kami!" Rayn menatap tajam pria itu.


"Sampai aku mati aku tidak akan buka mulut! Bunuh aku kalau kau mau!" Pria itu tersenyum sinis.


"Baiklah! Tapi aku akan menunggumu buka mulut meskipun sampai kau membusuk di sini!" Sahut Rayn yang berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu Tuan Rayn Alexander!" Seru pria itu.


"Kau selamatkan anak dan istriku! Aku akan berada di pihakmu!" Seru Pria itu.


"Apa maksudmu?" Tanya Rayn menyelidik.


"Sebelumnya aku menolak tawaran mereka untuk membunuh istrimu! Tapi mereka menyekap anak dan istriku, mereka akan membebaskan mereka hanya jika aku berhasil membunuh istrimu. Sekarang kau berhasil menangkapku, jadi jika aku hidup pun tidak ada gunanya karena aku akan kehilangan anak dan istriku!" Pria itu menunduk, tidak ada kebohongan yang ia sembunyikan.


"Ben akan membebaskan anak dan istrimu, dengan syarat kau harus memberitahu siapa orang yang menyuruhmu!"


"Baik, tuan!" Ucap pria itu.


"Sekarang katakan padaku, siapa orang yang menyuruhmu? Mengapa dia mengincar keluargaku?" Tanya Rayn yang sudah duduk di kursi depan pria itu.


"Dia adalah....."


....................


Jangan lupa like dan vote ya❤️

__ADS_1


__ADS_2