Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 16


__ADS_3

Rayn dan Nita mencium tangan Bram dan Maya untuk meminta doa restu. mereka jug meminta doa restu dari Dimas dan Ani. Para tamu khusus satu persatu pergi meninggalkan acara. Hingga kini menyisakan keluarga Alexander sendiri. Acara pernikahan Rayn bukan hanya digelar secara sederhana, melainkan juga tertutup. Hanya keluarga inti dan tamu khusus yang masih ada hubungan keluarga dengan keluarga Alexander yang menghadiri acara.


Bram bisa bernapas lega, pernikahan putranya berjalan dengan lancar. Dia sudah mengerahkan pasukan terbaikknya untuk menjaga keamanan mansion. Bram sangat takut wanita itu akan datang dan merusak acara pernikahan Rayn dan Nita.


Mereka berkumpul di ruang tengah saat acara telah selesai. Bram dan Maya sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, begitu juga dengan Rayn dan Nita. Nita terlihat sedikit pucat, mungkin karena kelelahan. Beruntung acara yang diadakan tadi tidak berlangsung lama. Sedangkan paman dan bibi Nita terlihat membawa koper mereka.


"Paman dan bibi langsung pulang?" Tanya Nita saat Dimas dan Ani berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


"Iya, Nak. Kami akan pulang, toko kita tidak ada yang mengurus. Adikmu juga dirumah sendirian." Jawab Ani. Memang benar apa yang dikatakan Ani. Anak laki-laki mereka, Doni di rumah sendirian. Dia tidak bisa hadir dalam acara Nita karena dia sedang ujian akhir. Sepupu Nita itu duduk di kelas 3 SMP sekarang.


"Kamu sekali-kali ajaklah Rayn ke desa." Sahut Paman sambil melirik ke arah Rayn. Rayn mengangguk dan tersenyum.


"Iy...iya paman." Ucap Nita sedih.


"Paman dan bibi pamit dulu ya, Nita. Jaga dirimu dan calon cucuku ini dengan baik." Ucap Ani yang sedang memeluk Nita.


"Iya, Bi. Nita pasti akan menjaganya dengan baik. Paman dan bibi hati-hati ya, jangan lupa telepon Nita kalau paman dan bibi sudah sampai nanti."


"Pak Bram, Bu Maya, Saya dan istri saya pamit, terima kasih kalian sudah menerima Nita dan anaknya. Rayn, Saya titip Nita." Sahut Dimas saat menjabat tangan Bram dan Maya.


"Iya, Paman. Aku akan menjaga mereka berdua." Jawab Rayn. Dia menyalami dan mencium tangan Dimas dan Ani.


"Kami pasti akan menjaga mereka, Pak Dimas. Sekarang Nita bukanlah menantu kami, tetapi putri kami." Jawab Bram. Dimas dan Ani meninggalkan mansion Alexander diantar oleh sopir suruhan Bram.


Air mata Nita mengalir deras di pipinya, memandangi kepergian Mobil Alphard putih itu. Sekarang dia sudah resmi menjadi menantu keluarga Alexander. Papa dan Mama Rayn juga telah menerima dirinya dan calon cucu mereka dengan suka cita hari ini. Dan akhir-akhir ini Nita seperti mendapatkan sosok ayah dan ibu dari perlakuan Bram dan Maya kepada Nita. Hanya saja Nita belum mendapatkan hati Rayn. Nita sendiri juga masih bingung dengan perasaannya untuk Rayn.


"Rayn, bawa Nita naik ke kamarmu! Beristirahatlah kalian pasti lelah." Ucap Bram dengan disertai senyum seringainya.


"Jika waktu makan malam tiba, mama akan memanggil kalian berdua." Tambah Maya yang celingukan melihat jam di sudut ruangan. Ternyata jam baru menunjukkan pukul 3, masih sore.


"Iya, Ma." Rayn mendengus kesal mendengar mama dan papanya.


"Apa yang akan terjadi di kamar nanti ya tuhan. Rayn hanya bersikap manis saat Tuan Bram dan Nyonya Maya berada di sekitar kita." Batin Nita.


Bram dan Nita sudah menaiki lift menuju kamar mereka, sedangkan Rayn dan Nita mereka masih berada di ruang tengah. Tapi mendadak Nita berdiri dari duduknya, ia hendak pergi menuju dapur.


"Kau mau kemana?" Tanya Rayn saat Nita melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tengah.

__ADS_1


"Saya lapar, Tuan." Jawab singkat Nita.


"Jika kau nanti sudah kenyang, naiklah ke atas. Kamarku ada di lantai 2, mintalah kepada salah satu pelayan mengantarmu. Aku takut kau akan tersesat." Sahut Rayn.


"Iya, Tuan."


"Tersesat? Aku tau mansion ini tak hanya mewah tapi juga luas. Tapi apakah seluas itu hingga aku bisa tersesat? Ini mansion atau hutan hehehe." Batin Nita.


Dua orang pelayan menghentikan Nita saat ia hendak menyalakan kompor. Nita ingin sekali memasak nasi goreng untuk mengganjal perutnya hingga makan malam nanti.


"Nyonya Muda, Apa yang anda lakukan?" Tanya salah satu pelayan itu. Usianya seumuran dengan bibinya. Dia terlihat cemas saat melihat Nita menyalakan kompor.


"Aku akan membuat nasi goreng, aku lapar sekali, Bi." Jawab Nita


"Biarkan kami saja yang membuat nasi gorengnya, Nyonya. Tuan dan Nyonya Besar akan memecat kami jika mereka melihat anda memasak di dapur." Jawab pelayan yang satunya. Dia terlihat muda, usianya mungkin Dua puluh tahunan.


"Aku akan bilang kepada mereka jika akulah yang ingin memasak."


"Maaf Nyonya. Tolong mengerti posisi kami." Jawab pelayan yang sudah tua tadi.


"Baik, Nyonya." Jawab mereka lega.


"Panggil aku Nita saja. Bibi namanya siapa?" Tanya Nita kepada pelayan yang terlihat seumuran dengan bibinya.


"Saya Siti, Nyonya."


"Sudah kubilang panggil aku Nita saja, Bi Siti. Kalau nama kamu siapa?" Tanya Nita kepada pelayan yang terlihat masih muda.


"Saya Amira, Nyonya."


"Baiklah. Bi Siti, dan kau Amira jangan panggil aku dengan sebutan nyonya lagi."


"Tidak bisa nyonya. Kami tidak bisa melakukannya." Jawab Bi Siti.


"Hmmm... Ya sudahlah." Nita mendengus.


Bi Siti dan Amira mulai mengerjakan tugas mereka. Aroma lezat nasi goreng buatan mereka menggoda Nita. Dan, benar saja. Begitu nasi goreng itu disajikann Amira di atas meja makan, Nita langsung melahap nasi goreng itu tanpa sisa.

__ADS_1


"Bagaimana kau sudah kenyang kan, Nak?" Gumam Nita yang mengelus perutnya yang masih terlihat rata itu.


"Sudah, Ma." Jawab Nita sendiri dengan menirukan suara seperti anak kecil.


"Cucu oma sudah kenyang ya..." Sahut Maya saat dia ikut duduk di kursi sebelah Nita. Mata Nita terbelalak, dia terkejut melihat Maya yang duduk di sampingnya.


"Tidak apa Nita. Memang beginilah saat hamil, muntah-muntah di pagi hari.Napsu makan dan porsi makan yang bertambah saat sore dan malam. Waktu mama mengandung Rayn dulu, mama sampai di rawat di rumah sakit karena mama benar-benar lemas. Mama dulu selalu muntah di trimester pertama."


"Untungnya Rayn junior tidak separah papaanya." Maya terkekeh sambil mengelus perut Nita.


"Iya, Ma." Nita mulai terbiasa memanggil Maya dengan panggilan mama.


"Rayn junior." Batin Nita.


"Sekarang istirahatlah di kamar kalian. Kamu sudah tau letak kamar Rayn?"


"Belum, Ma."


"Kamar Rayn ada di lantai dua. Saat pintu lift terbuka nanti, kau berjalanlah ke kiri. Kamar Rayn bersebelahan dengan ruang kerjanya." Maya menjelaskan, Nita hanya menjawab dengan anggukan.


Nita melangkah menuju lift. Nita sudah 2 hari tinggal di mansion ini. Tapi sejak pertama kali dia tinggal di sini, dia belum berkeliling melihat mansion. Dia hanya tinggal di kamar tamu yang ia tiduri kemarin di lantai satu.


Tiiinngg,


Pintu lift terbuka, Nita keluar dari lift. Ternyata apa yang dikatakan Rayn ada benarnya. Terdapat banyak ruang di lantai 2 mansion ini. Nita melangkah ke arah kiri dan menyusuri lorong itu.


.........................................


Hai readers..


Terima kasih sudah membaca novelku ini..


Jangan lupa like dan dukung novelku ini ya,,,,,


Thank you 😍


__ADS_1


__ADS_2