
"Kita memang sama bodoh, Tuan." Batin Yoga yang ikut terkekeh mendengar ucapan Rayn.
"Kau boleh pergi." Ucap Rayn datar. Dia sudah bejalan meninggalkan Yoga.
"Baik, Tuan." Jawab Yoga. Sudah menjadi resikonya jika kejadiannya seperti ini. Dia harus mematuhi perintah bosnya.
Rayn melihat kembali isi kantong belanja itu dan mengeluarkannya satu persatu di atas meja makan. Terdapat plastik bening, Rayn tahu plastik bening itu berisi daging ayam. Ia memasukkan tangannya lagi ke dalam kantong itu. Rayn mengambil sebotol kecap dan seikat tusuk sate. Terakhir Rayn mengambil sebungkus kacang tanah dan Sebungkus bumbu-bumbuan. Ia terdiam, dia tidak tahu apapun mengenai bumbu dapur.
"Sial." Umpat Rayn.
"Mana mungkin dia bisa membuat sate ayam, bumbu dapur saja tidak tahu. Apa dia tahu jahe dan lengkuas? hahaha." Batin Nita.
Nita berusaha menahan tawanya sekuat tenaga saat melihat ekspresi Rayn. Dalam hati Nita sangatlah bangga, karena ia berhasil membuat pria angkuh itu mati kutu dengan permintaannya.
Rayn mengambil handphone dari saku celananya. Dia seperti sedang mengetik sesuatu, kemudian dia mengambil bahan-bahan itu ke dapur. Seumur hidupnya dia belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dapur ini.
"Kalau bukan untuk anakku, aku tidak akan sudi memakai ini." Gumam Rayn lirih saat memakai celemek berwarna pink itu.
"Kau lucu sekali, Tuan hahaha." Nita tak sanggup lagi menahan tawanya.
"Diamlah kau, jangan bangga dulu. Aku mau memasak hanya demi anakku." Rayn mengalihkan pandangannya. Dia mengeluarkan daging ayam dari plastik bening yang membungkusnya. Sedangkan Nita, dia memilih untuk masuk ke kamarnya. Ucapan Rayn seperti pisau yang menusuk dalam dadanya. Nita kecewa saat mengingat kembali ucapan Rayn. Rayn menatap punggung Nita pergi menjauh dari dapur.
"Apakah ucapanku ada yang salah?"
"Ah sudahlah, akan kuselesaikan sate ayam ini dulu." Sambung Rayn yang melanjutkan aksinya.
Rayn memotong daging ayam itu berbentuk dadu kecil-kecil. Setelah di rasa cukup, dia menusukkan daging itu ke tusukan sate. Langkah selanjutnya adalah langkah terberat bagi Rayn, yaitu membuat bumbu. Dia kembali melihat video tutorial yang sudah ia unduh beberapa menit lalu. Rayn menghaluskan bumbu-bumbu sesuai petunjuk, ia tambahkan sedikit kecap. dia melumuri daging yang sudah ditusuk dengan bumbu buatannya. Kemudian, dia meletakkan sate-sate ke atas alat pemanggang.
..........................................
Di kamar Nita,
Nita memutuskan untuk tidur sebentar, sembari menunggu Rayn selesai membuat sate ayam untuknya. Tapi, ucapan Rayn tadi selalu terngiang di kepalanya. Kenapa dia sangat kecewa saat tahu bahwa Rayn rela memasak hanya demi anakknya? Kenapa Nita berharap Rayn memasak juga untuknya?
"Ada apa denganku? Mungkin pengaruh hormonku. Aku sedang hamil, jadi karena itu moodku cepat berubah." Gumam Nita.
Dreeeettt....dreeettt.....
Handphone Nita bergetar, Nita mengambil handphonenya. Tertera nama 'Bibi' di Layar handphonenya. Nita menarik napasnya dalam-dalam,
"Hallo, Bibi."
"Hallo, Nita. Apakah kau tidak punya waktu untuk menelpon paman dan bibimu?"
"Maafkan Nita, Bi. Sebenarnya ada hal penting yang ingin Nita sampaikan kepada paman dan bibi."
"Katakan saja, Nak. Ada apa?"
__ADS_1
"Aku akan segera menikah, Bi. Minggu depan Nita mohon paman dan bibi datang ke kota." Lirih Nita.
"Apa??? Menikah??? Dengan siapa, Nak? Kenapa kamu tidak cerita sama bibi."
"Maafkan Nita, Bi. Nita akan ceritakan semuanya. Apa paman ada di rumah, Bi?"
"Pamanmu sudah berangkat ke toko, Nak. Nanti bibi akan menyuruhnya pulang saat jam makan siang."
"Baik, Bi. Nanti Nita telepon lagi."
"Jaga dirimu baik-baik, Nak."
"Iya, Bi." Nita mengakhiri pecakapannya dengan bibi. Dia akan menceritakan semuanya siang ini. Nita menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Kepalanya dipenuhi pikirkan-pikiran buruk yang melintas.
Tok...tok...tok
"Buka pintunya!" Perintah Rayn dari luar kamar. Nita tersadar dari lamunannya, dia melangkah mendekati pintu tanpa menjawab Rayn.
Ceklek,
Nita membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Rayn melihat wajah Nita yang terlihat sangat sedih.
"Ada apa dengannya." Batin Rayn.
Rayn mengeluarkan kedua tangan yang dia sembunyikan saat gagang pintu itu diputar dari dalam.
Ryan duduk di sofa dan disusul oleh Nita. Nita menatap Rayn dengan tatapan takjub, pria angkuh yang sedang duduk di hadapannya ini ternyata pandai memasak. Aroma sate ayam buatan Rayn benar-benar menggoda hidung Nita.
"Cepatlah makan sate ini, aku sudah bekerja keras untuk membuatnya." Ucap Rayn dengan nada ketusnya.
Tanpa diperintah dua kali, Nita langsung melahap satu tusuk sate. Matanya terpejam menikmati sate buatan Rayn.
"Enak." Nita mengacungkan kedua jempolnya dan memasang senyum manisnya. Rayn terkekeh.
"Andai kau tahu, hahahaha." Batin Rayn.
Flashback On
Setelah membolak-balik satenya beberapa kali, Rayn mengangkat sate itu dan meletakkannya di atas piring. Rayn memandangi sate yang nampak sedikit gosong. Dia mengambil satu tusuk sate, ditiupnya sate itu sambil mencium aromanya. Rayn melahap sate itu,
"Shit." Umpat Rayn sesaat setelah memuntahkan sate itu.
"Kenapa rasanya menjijikan seperti ini." Sambung Rayn.
Rayn melepas celemek dan melemparkannya ke sembarang arah, dapurnya kacau. Semua bahan berserakan, peralatan memasak tergeletak dimana-mana.
"Dapurku sudah seperti kapal pecah, tapi kenapa sate ini tidak enak?"
__ADS_1
"Bi Ina..."
"Iya, Tuan." Jawab Bi Ina yang datang dengan menenteng sapu dilengannya.
"Belikan satu porsi sate ayam yang enak dekat sini." Perintah Rayn.
"Bukankah tuan sudah membuat sate ayam untuk Nyonya Muda?" Sahut Bi Ina.
"Jangan banyak tanya! Sate itu sudah kubuang, dan jangan bocorkan rahasiaku ini!"
"Baik, Tuan." Bi Ina tersenyum dan melangkah menuju pintu depan.
Rayn menghembuskan napasnya dengan lega. Akhirnya dia dapat memenuhi permintaan Nita walaupun sedikit berbohong. Tetapi ini lebih baik, daripada anaknya harus memakan satenya yang tidak layak untuk dimakan. Dia hanya tinggal menunggu Bi Ina datang, lalu mengantarkan sate itu ke kamar Nita.
Flashback Off
"Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Rayn.
"Saya sudah kenyang, Tuan." Jawab Nita.
"Kau baru makan 2 tusuk. Cepat habiskan!"
"Saya pengen tuan yang menghabiskannya." Entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nita. Nita langsung menutupi mulutnya.
"Apakah ini permintaan dia lagi?" Rayn bertanya kepada Nita sambil melirikkan matanya ke arah perut Nita.
Nita mengangguk dengan wajahnya yang masih menunduk karena takut. Tanpa menjawab lagi seperti di dapur tadi, Rayn melahap sate yang ada dihadapannya. Sedangkan Nita, dia kembali tehanyut dalam lamunannya.
"Hey!" Rayn melambaikan tangannya di depan wajah Nita, tetapi dia tidak merespon.
"Hey!" Rayn menepuk pundak Nita. Nita terkejut.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Nita.
"Kau kenapa? Katakan saja. Aku tidak mau kau memikirkan sesuatu yang bisa membuat kau stress dan membahayakan anakku." Ucap Rayn. Dada Nita terasa sesak lagi, air matanya terasa hampir menetes. Nita berharap Rayn juga mengkhawatirkannya. Dia juga ingin Rayn menerimanya seperti Rayn yang sudah menerima dan menyayangi bayi ini. Nita mengambil napas dalam-dalam, dia menenangkan gejolak di dadanya.
"Bibiku menelpon, dan siang ini aku memutuskan untuk menceritakan semua kejadiannya. Tapi saya takut tuan, mereka pasti akan kecewa." Nita menunduk.
"Nanti aku juga akan berbicara kepada mereka. Sekarang istirahatlah atau tonton drama konyol kesukaanmu itu. Aku akan mengecek emailku di sini." Jawab Rayn. Dia mengeluarkan laptopnya dari dalam laci dekat sofa yang ia duduki. Sedangkan Nita, dia membuka handphonenya untuk menonton drama korea kesukaannya yang sudah ia unduh tempo hari. Mereka melakukan aktivitas mereka di kamar yang sama, hanya Rayn duduk di sofa yang letaknya di seberang sofa yang Nita duduki. Nita berbaring di atas sofa itu dan meluruskan kakinya.
................................
Hai readers...
Terimakasih sudah membaca novelku ini, jangan lupa like dan dukung terus novel ini ya..
Nantikan episode-episode selanjutnya yang semakin seru...
__ADS_1
Thank yo😍