
HAI READERS,
SEBELUM MEMBACA SILAHKAN LIKE, COMMENT, DAN VOTE. DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR UNTUK UP EPISODE-EPISODE BARU.
...................................
Nita menatap bayangan tubuhnya di kaca, ia berputar ke kanan dan kiri mematut dress yang ia pakai. Dress selutut berwana coklat susu dengan hiasan bunga-bunga sangat terlihat pas untuk Nita. Rambut panjangnya ia biarkan terurai, make up tipis menambah kesempurnaan penampilannya pagi ini. Bukan tanpa alasan ia berdandan seperti ini, pagi tadi Rayn memberitahu bahwa dia akan membawa Nita ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungannya.
Sementara Rayn, ia baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya.
"Dimana bajuku sayang?" Tanya Rayn yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Tadi sudah aku siapkan di atas ran..." Ucap Nita terpotong.
Napas Nita tercekat, sulit melanjutkan ucapannya tadi. Nita menelan ludahnya, menatap Rayn yang hanya menggunakan handuk. Ia terpesona melihat Rayn apalagi rambutnya basah. Membuat dia terlihat sangat tampan. Memang bukan pertama kali Nita melihatnya, tapi siapa saja yang melihat Rayn saat ini pasti akan terpesona.
Pletak,
"Aauuuwww... sakit Rayn." Nita tersadar dari lamunannya.
"Tutup mulutmu, air liurmu menetes." Rayn terkekeh.
"Mana ada." Nita gugup mengelap sembarang sudut bibirnya.
"Hahaha..."
"Aaaaaaa" Teriak Rayn saat Nita mencubit lengannya.
"Rasakan, sudah tiga kali kamu menyentil keningku." Nita memonyongkan bibirnya.
Nita kesal baru kemarin Rayn bersikap sangat manis kepadanya, sekarang Rayn mengejeknya bahkan menyentil keningnya.
"Kamu lucu sekali." Rayn mengacak rambut istri kecilnya.
"Sekarang biarkan aku bersiap-siap, aku ingin segera melihat calon anakku." Sambung Rayn.
Mendengar ucapan Rayn, tidak ada kekesalan di wajah Nita tapi pipinya itu lagi-lagi menjadi merah seperti tomat sampai-sampai ia mengalihkan pandangannya. Wajahnya menjadi semakin memerah saat ia melirik ke arah Rayn. Rayn selalu menggoda Nita, ia menggunakan bajunya tidak jauh dari tempat dimana Nita berdiri. Rayn menggelengkan kepalanya sambil terus terkekeh melihat tingkah konyol istri kecilnya.
Nita membalikkan tubuhnya, pandangannya tertuju pada sepatu kets putih di sisi lain ranjang yang ia siapkan tadi. Nita akan memakai sepatunya sekarang, ia akan semakin salah tingkah jika terus-terusan berdiam di tempatnya. Ia duduk di tepi ranjang, posisinya membelakangi Rayn.
"Biar aku pakaikan!" Sahut Rayn yang sudah berjalan ke arahnya, ia sudah mengenakan celana jeansnya.
Rayn menundukkan tubuhnya, memakaikan kedua sepatu di kaki Nita. Jantung Nita hampir meloncat dari tempatnya, seorang Rayn Alexander tengah menyentuh kakinya. Pemandangan yang sangat langka sedang berlangsung di hadapannya. Perlakuan Rayn beberapa hari ini memang sangat manis, hanya saja Nita masih belum mendengar kata cinta dari mulut Rayn. Tapi itu semua tidak mengurangi kebahagiaan Nita.
"Terima kasih." Ucap lirih Nita tapi masih bisa terdengar jelas oleh Rayn.
__ADS_1
"Sama-sama sayang." Rayn tersenyum lembut, ia melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Ia mengenakan kaos polos berwarna putih dipadukan dengan celana panjang jeans yang sudah ia pakai.
"Apa aku sudah terlihat seperti anak muda?" Tanya Rayn yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
Nita seketika tertawa mendengar pertanyaan Rayn. Apakah suaminya yang angkuh ini sudah mengakui dirinya tua? Nita menjawab suaminya dengan anggukan. Sebenarnya tidak terlihat jika umur Rayn sudah 28 tahun.
"Ayo kita berangkat!" Sahut Rayn yang sudah menggandeng erat tangan Nita.
Rayn juga membukakan pintu mobil untuk Nita. Mereka pergi dengan diantar salah satu sopir Rayn. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Rayn menggenggam tangan Nita.
................................
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Nita saat mereka berjalan menuju poli ibu dan anak.
"Aku hanya gugup." Jawab Rayn.
Nita mengangguk, ia dapat melihatnya dari kedua mata Rayn. Jemari Rayn yang ia genggam juga terasa sedikit basah oleh keringat.
Nita menarik tangan Rayn untuk duduk di sebelahnya. Banyak pasang mata menatap Rayn dan Nita.
"*Wah, cantik dan tampan."
"Calon hot daddy nih,"
Rayn menulikan telinganya ia sudah terbiasa mendengar itu semua. Sementara Nita, ia memeluk lengan suaminya membuat ibu-ibu mata keranjang kesal. Suaminya hanya terkekeh mengusap gemas pucuk kepala Nita. Rayn mengambil ponsel dari sakunya, ia juga memasangkan earphone di telinga Nita. Rayn memutarkan lagu agar Nita tidak terus-terusan kesal karena mendengar ocehan-ocehan tidak jelas.
"Nyonya Nita" Panggil salah seorang suster.
Baru dua menit Nita mendengarkan lagu dari ponsel Rayn, namanya sudah dipanggil. Nita heran dia bukan pasien antrian pertama.
"Silahkan masuk, Tuan Rayn." Sapa seorang dokter yang langsung berdiri saat Rayn membuka pintu poli.
"Mari saya periksa, Nyonya." Dokter membimbing Nita untuk berbaring di atas bed.
"Singkirkan tanganmu!" Sahut Rayn saat melihat dokter menyingkap dress Nita.
"Maaf Tuan, saya hanya akan mengoleskan jel di perut Nyonya Nita. Bukankah tuan ingin melihat calon anak tuan."
"Baiklah." Rayn mendengus pasrah. Ia memang sudah tidak sabar melihat calon anaknya. Tapi dia tidak suka ada orang lain yang melihat tubuh istrinya, walaupun seorang dokter wanita sekalipun.
"Permisi nyonya" Dokter mengoleskan gel pada perut Nita yang masih terlihat rata.
"Kenapa kau menekan-nekan perutnya? Istriku pasti kesakitan." Sahut Rayn saat dokter mulai mengusap perut Nita dengan alat ultrasonography.
Padahal Nita tidak terlihat sedang kesakitan, justru ia terkekeh sekaligus heran melihat tingkah Rayn.
__ADS_1
"Karena memang seperti ini caranya tuan." Ucap dokter dengan sabar.
"Seharusnya pekerjaanku tidak selama ini. Gara-gara Tuan Rayn selalu menghentikanku, pekerjaanku bertambah semakin lama." Batin dokter.
"Itu calon anakku?" Tanya Rayn saat melihat gambar di monitor depannya.
"Benar tuan, masih terlihat seperti gumpalan karena usia kandungan Nyonya Nita masih 6 minggu."
"Lihatlah, itu anak kita sayang." Rayn menggenggam erat tangan Nita.
"Iya sayang." Mata Nita berkaca-kaca melihat monitor di depannya.
Rayn mengecup kening Nita berulang-ulang. Dadanya sesak dipenuhi kebahagiaan. Dokter tersenyum menatap pasangan yang sedang berbahagia itu, sambil tangannya membersihkan gel di perut Nita.
Sekarang mereka berdua duduk berhadapan dengan dokter, dokter menjelaskan bahwa keadaan Nita dan bayi mereka baik-baik saja. Ia juga memberikan beberapa vitamin untuk Nita.
"Terima kasih dokter." Ucap Nita sebelum mereka berjalan keluar dari ruang pemeriksaan.
"Sayang sepertinya ponselku tertinggal di dalam, sebentar aku ambil. Kamu duduk manis tunggu aku di sini jangan kemana-mana se senti pun." Rayn bergegas masuk ke dalam lagi tanpa menunggu jawaban, Nita memonyongkan bibirnya.
Ceklek,
"Ada yang bisa saya bantu tuan? Apakah ada yang tertinggal?" Tanya dokter yang sedikit terkejut.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi cukup jawab saja pertanyaanku."
"Baik tuan."
"Apakah kami boleh make love? Maksudku melakukan apa yang dilakukan suami istri." Wajah Rayn terlihat begitu gugup, dokter susah payah menahan tawanya.
"Kalau tentang hal itu tergantung pada kondisi ibu dan bayinya, Tuan. Jika tidak ada masalah pada ibu dan bayinya, boleh dilakukan. Kondisi Nyonya Nita dan bayinya baik-baik saja, jadi boleh dilakukan asalkan dengan hati-hati." Jelas dokter.
"Terima kasih." Ucap Rayn, ia langsung bergegas keluar menemui istrinya.
Nita tersenyum lebar saat melihat Rayn sudah keluar dari ruangan tadi. Badannya sedikit pegal karena ia benar-benar hanya duduk tidak pergi kemanapun bahkan bergeser walau se senti.
"Maaf jika aku terlalu lama sayang, aku lupa dimana aku meninggalkan ponselku."
..............................
Hai readers,
Terima kasih sudah membaca novelku, jangan lupa like dan dukung novelku. Terus nantikan episode-episode selanjutnya ya....
Thank you😍
__ADS_1