
Jam di dinding menunjukkan pukul 19:00, waktu untuk menyantap makan malam. Namun, sepertinya Rayn tidak lapar sama sekali. Rayn terlihat masih berkutat dengan laptopnya. Berbanding terbalik dengan keadaaan perut Nita. Perut Nita sudah keroncongan minta diberi jatah. Ia tertunduk lesu kala Rayn berjalan melewatinya begitu saja. Rasa ingin dimanja oleh Rayn melintas di pikirannya. Hal ini wajar dialami oleh perempuan yang sedang hamil. Rayn berjalan dari arah dapur tangan kirinya menenteng botol air mineral.
Kruukk...kruuukkk
"Kau lapar? Mau makan apa? Akan aku belikan." Rayn mendengar suara perut Nita saat berjalan di depan Nita. Pipi Nita sudah merah merona seperti kepiting rebus karena malu. Bisa-bisanya suara perutnya didengar oleh pria tampan seperti Rayn.
"Saya mau makan....."
"Jika ingin makan sesuatu katakan saja. Jangan takut." Sahut Rayn
"Saya mau makan bakso malang punya Mang Udin, Tuan. Dia jualan di perempatan dekat kosan saya dulu." Jawab Nita dengan malu-malu
"Akan kusuruh Yoga untuk membelinya. Ada lagi?" Sahut Rayn yang sudah siap dengan handphone nya untuk menelpon Yoga. Terdengar Rayn memerintah Yoga membeli apa yang Nita inginkan, calon anak Rayn lebih tepatnya. Sudah pasti Nita sedang mengidam saat ini. Ryan kembali terpaku pada laptopnya, sedangkan Nita memilih untuk menonton drama korea yang sudah ia download. Belum ada setengah episode, Nita tertidur di atas sofa di sudut ruangan tak jauh dari Rayn. Walaupun Rayn fokus kepada laptopnya, sedari tadi ia mencuri-curi pandang ke arah Nita. Mengetahui Nita yang tertidur pulas membuat Rayn menghentikan pekerjaannya. Rayn berjalan menuju kamar yang Nita tempati. Diambilnya sebuah selimut tebal, ia tidak ingin anaknya kedinginan.
"Baru setengah jam yang lalu perutnya berbunyi, kenapa sekarang malah tidur. Sepertinya aku harus mempelajari tentang kehamilan." Lirih Rayn
Tok...tok...tok
Yoga datang membawakan pesanan Nita, bakso malang Mang Udin. Rayn bergegas memindahkan bakso ke dalam mangkok. Memang benar perkataan Nita, bakso ini terlaihat enak bahkan aromanya saja wangi menggugah selera. Rayn mendekat dengan membawa semangkok bakso untuk Nita.
"Bangunlah... Baksonya sudah datang." Lirih Rayn mengguncang pelan pundak Nita. Beruntung Nita bukanlah putri tidur yang harus dibangunkan dengan sebuah ciuman.
"Ini beneran bakso malangnya Mang Udin, Tuan?" Tanya Nita yang menggosok-gosok matanya
"Iya, Yoga sudah membelinya tadi. Cepatlah kau makan atau akan ku buat kau memakan bakso dan mangkoknya sekaligus." Sahut Rayn diikuti ancamannya. Nita mendengus kesal.
"Tidak bisakah dia bersikap sedikit manis kepada seorang wanita yang sedang hamil" batin Nita
Dalam sepuluh menit bakso itu tandas. Nita memyenderkan badannya ke sofa sambil mengelus perut yang masih rata itu.
__ADS_1
"Masuklah ke kamarmu!" Perintah Rayn, Nita mengangguk pelan. Tidak ada gunanya membantah titah sang raja.
"Gunakan kartu ini untuk membeli kebutuhanmu." Rayn memberikan sebuah kartu berwarna hitam sesaat sebelum Nita bangkit dari duduknya. Nita tersenyum dan menerima kartu itu. Mereka memasuki kamar mereka masing-masing, tanpa ucapan selamat tidur terlelap dalam mimpi masing-masing.
.....................................
Suara gemericik air jatuh ke lantai samar-samar terdengar dari dalam kamar mandi milik Rayn. Pertanda bahwa sang empu tengah membersihkan tubuhnya. Rayn adalah orang yang disiplin waktu, walaupun ia seorang presdir di Alexander group tetapi ia tak pernah sedikitpun terlambat ataupun membuang-buang waktu. Baginya satu menit sangatlah rugi jika tidak ia gunakan untuk bekerja keras. Bertolak belakang dengan Rayn, Nita masih terlelap di bawah selimut putih tebalnya. Ia masih berada di dalam mimpi indahnya.
"Masih tidur tenyata kau bocah ingusan." Rayn sudah berdiri di samping pintu memperhatikan wajah bantal Nita. Ia juga memperhatikan perut yang masih rata itu.
"Aku ke kantor." Lirih Rayn saat mengelus lembut kepala Nita. Nita hanya menggeliat pelan, enggan untuk membuka matanya. Rayn melangkah meninggalkan kamar Nita, ia menutup rapat pintu itu. Rayn bergegas turun ke bawah, Yoga asistennya sudah menunggu di ruang tamu.
"Jangan biarkan Nyonya Muda menginjakan kakinya keluar dari apartemen ini selain aku yang menemaninya!" Perintah Rayn kepada Asisten rumah tangganya. sesaat kemudian, mobil mewah Rayn sedah melesat dan menghilang Di belokan depan apartemen. Dalam hati kecil Rayn, ia ingin memberitahu mama papanya mengenai Nita dan anaknya, tetepi Rayn berpikir bahwa wakunya belum pas. Entah apa yang terjadi nanti jika mereka tahu Rayn sudah memperkosa seorang gadis dan kini gadis itu sedang mengandung darah dagingnya. Jagat media juga akan heboh, dan berita ini tentu akan mencoreng nama baik perusahaan Alexander group. Rayn harus mengambil langkah yang tepat kedepannya.
................................
Nita mengerjap perlahaan, saat mentari yang sudah tinggi membelainya dengan sinar hangat melalui celah-celah gorden. Ia menurunkan kakinya dari ranjang, melangkah menuju toilet.
Belum sempat Nita sampai di toilet, perutnya bergejolak. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Morning sickness adalah hal yang wajar bagi para wanita yang sedang hamil. Namun, bagi Nita yang masih muda dan pertama kali mengalaminya, tubuhnya menjadi sangat lemas dan kepalanya pusing. Nita terduduk lemas di lantai.
..........................
Di dapur aptertemen mewah Rayn, seorang Asisten rumah tangga sedang menyiapkan nampan yang berisi sarapan untuk nyonya mudanya. Pagi tadi Rayn memerintahnya untuk membawa sarapan Nita ke kamarnya karena Nita terlambat bangun. Bi ina, nama asisten rumah tangga baru itu. Ia bergegas menuju kamar nyonya mudanya.
Tok...tok...tok
"Nyonya Muda saya membawa sarapan untuk nyonya." Ucap Bi Ina di depan kamar Nita. Namun, Bi Ina tidak mendapat jawaban dari dalam kamar itu.
"Nyonya muda apakah anda baik-baik saja?" Bi Ina cemas karena tidak mendengar suara dari dalam.
__ADS_1
"Apa nyonya muda belum bangun, ya?" Batin Bi Ina yang masih setia menunggu di depan pintu.
"Bi... bi tolong saya." Lirih Nita yang sedang bersandar di tembok. Bi Ina yang samar-samar mendengar nyonya mudanya meminta tolong, langsung memutar handle pintu.
"Astagfirullah... nyonya muda kenapa?" Bi Ina dengan cepat meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas samping ranjang. Ia menghampiri Nita yang terkulai lemas, dan terdapat cairan muntahan yang mengenai baju Nita dan lantai dekat toilet.
"Bagun tidur tadi tiba-tiba saya mual terus muntah. Maaf ya bi sudah merepotkan bibi." Ucap Nita yang sedang berjalan ke sofa sudut kamar dengan dibantu Bi Ina.
"Tidak apa-apa nyonya, ini adalah tugas saya. Saya akan membersihkan lantai ini, apakah nyonya kuat mengganti pakaian nyonya?." Sahut Bi Ina dengan senyum tulusnya.
"Saya masih kuat kok, Bi" Jawab Nita. Nita melangkahkan kakinya menuju toilet. Sedangkan Bi Ina membersihkan lantai kamar Nita. Bi Ina meraih gagang telepon di ruang tengah. Bi Ina menekan nomor yang akan ia hubungi.
"Ada apa? Apa nyonya muda kabur?" Sahut seseorang dari telepon. Dia adalah Rayn. Bi Ina memutuskan untuk menelpon tuan mudanya, karena Nita nyonya mudanya terlihat sangat lemas
"Tuan saat saya mengantarkan sarapan ke kamar nyonya muda, nyonya muda sudah bersandar di dinding dengan wajah pucat. Nyonya muntah-muntah, Tuan." Jawab Bi Ina dengan lirih saat mengucapkan kalimat terakhir. Ia takut Rayn memarahinya karena hal ini.
"Saya pulang sekarang." Sahut Rayn dengan nada tegas, ia memutuskan telepon Dan segera menyambar handphonenya di atas meja. Tanpa menunggu lama, Rayn memacu mobilnya membelah ramainya jalanan ibukota siang ini. Dia menyetir mobilnya sendiri, karena ia tidak sempat menelpon Yoga. Rayn sangat cemas dan khawatir. Ia sudah menghubungi dokter khusus keluarga Alexander untuk datang ke apartemennya.
"Shit" Rayn mengumpat sepanjang perjalanan, lalu lintas siang ini sedikit macet.
..............................
Hai readers...
Terimakasih sudah membaca novelku ini.
Karena aku akan mengaupload visual para pemerannya...
So, nantikan episode-episode selanjutnya ya...
__ADS_1
Thank you 😍