Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 17


__ADS_3

Nita melangkah menuju lift. Nita sudah 2 hari tinggal di mansion ini. Tapi sejak pertama kali dia tinggal di sini, dia belum berkeliling melihat mansion. Dia hanya tinggal di kamar tamu yang ia tiduri kemarin di lantai satu.


Tiiinngg,


Pintu lift terbuka, Nita keluar dari lift. Ternyata apa yang dikatakan Rayn ada benarnya. Ia bisa saja tersesat dan salah masuk kamar. Terdapat banyak ruang di lantai 2 mansion ini. Nita melangkah ke arah kiri dan menyusuri lorong itu. Di sudut-sudut tertentu terdapat para penjaga. Seperti tadi tak jauh dari lift Nita melihat dua orang laki-laki tinggi besar tersenyum dan membungkuk saat dia keluar dari lift. Nita bisa saja meminta mereka untuk mengantarnya ke kamar Rayn, tetapi ia tidak melakukannya. Nita memutuskan untuk mencari sendiri kamar Rayn, bisa sambil jalan-jalan melihat mansion.


"Haruskah aku mengecek semua ruangan ini satu persatu? Mama bilang kamar Rayn ada di ujung lorong di sebelah ruang olahraganya, Dimana ruang olahraganya? Ada banyak lorong dan kamar disini. Tidak apa, sekalian jalan-jalan." Batin Nita.


Nita masih berada di lorong yang sama. Hanya sekarang ia menghentikan langkahnya di depan jendela tinggi besar di ujung lorong itu. Sebuah meja kecil dan satu set sofa diletakkan tak jauh dari jendela itu. Siapapun yang duduk di sofa ini, akan leluasa menatap indahnya kolam renang besar dan tanaman hias yang diatur mengelilingi area sekitar kolam. Bangunan dengan pilar-pilar tinggi putih di sekitar kolam menambah kesan mewah. Terdapat pula beberapa pohon kamboja di area kolam, bunganya jatuh bertebaran disekitar kolam.


Bug,


"Bakso bakso... eh bakso." Nita terkejut saat pundaknya ditepuk seseorang. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Pletak,


"Ini aku Rayn, Bodoh." Rayn menyentil kening Nita.


"Aduh... maaf, Tuan. Saya kira tadi orang jahat."


"Mana ada penjahat berwajah tampan sepertiku." Ucap Rayn membanggakan diri.


"Ada tuan. Zaman sekarang banyak orang tampan wajahnya tetapi sikapnya sangat kejam." Nita melirik ke arah Rayn.


"Kenapa kau melirikku seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Tuan." Nita terkekeh.

__ADS_1


"Kau memang sudah seperti penjahat, Tuan. Aku sudah menjadi istrimu sekarang, tapi kau masih memanggilku dengan sebutan 'Bocah Ingusan'. Dan kau tadi memanggilku 'Bodoh'. Bahkan kau menyentil keningku. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga." Batin Nita.


Nita masih mengelus keningnya yang sedikit memerah karena ulah Rayn. Nitaa memonyongkan mulutnya, dia kesal dengan Rayn. Tetapi lihatlah, Rayn tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia masih memasang wajah cool dan sok ganteng, tapi dia memang tampan hehehe.


"Ayo aku tunjukkan kamar ku!" Sahut Rayn yang kini sudah melangkah di depan Nita. Ternyata kamar Rayn tak jauh dari tempat tadi. Nita ingat tadi mamanya Rayn berkata kepadanya bahwa kamar Rayn ada di ujung lorong.


Ceklek,


"Ini kamarku, eh maksudku kamar kita." Ucap Rayn yang selalu terdengar cool ditelinga Nita.


"Kamar Kita?"


"Kau ini bodoh sekali. Aku adalah suamimu. Semua milikku menjadi milikmu juga, termasuk kamar ini." Jawab Rayn saat menunjuk kening Nita dengan jarinya.


"Iy...iya tuan." Nita sedikit terkejut mendengar perkataan Rayn.


Sreekk,


Dan benar saja, kamar Rayn ini menghadap ke arah kolam. Pemandangan kolam yang sama seperti saat di lorong tadi, kini ia dapat melihatnya dari kamar ini.


"Semua pakaian dan barang-barangmu sudah aku pindahkan di ruangan sebelah sana." Ucap Rayn sambil jarinya menunjuk ke arah walk-in closet miliknya. Nita hanya membalasnya dengan anggukan.


"Aku mau mandi dulu, siapkan bajuku!" Perintah Rayn.


Setelah Rayn menutup pintu kamar mandi, Nita berjalan memasuki walk-in closet. Lagi-lagi Nita dibuat takjub dengan apa yang ia lihat. Dihadapannya ada beberapa almari berpintu kaca besar. Nita membuka almari itu, di pintu pertama Nita hanya menemukan jas-jas mewah yang sepertinya milik Rayn. Dia lanjut membuka pintu kedua, ternyata masih sama isinya sampai pintu ketiga. Dan sekarang dia membuka pintu keempat, Nita lega ia dapat menemukan pakaian santai milik suaminya. Nita mengambil sebuah kaos berkrah dan celana pendek selutut. Walaupun itu pakaian santai, tapi tetap saja terlihat mewah. Nita meletakkan pakaian ganti Rayn di atas meja yang terletak di dekat almari.


Meja itu terbuat dari kaca yang transparan. Nita bisa melihat jam-jam mewah koleksi Rayn berjajar rapi di laci meja itu.

__ADS_1


"Nama brand nya Rolex." Nita sempat melihat salah satu nama brand jam itu


Sekarang Nita yakin bahwa Keempat almari ini berisi pakaian dan barang-barang Rayn. Juga almari kaca besar itu, isinya sepatu laki-laki semua. Tapi seketika mulut Nita bungkam, saat ia berjalan mengitari meja tadi. Dia melihat jam untuk perempuan di laci yang berseberangan dengan milik Rayn. Dan ia kini melangkah mendekati almari yang tak kalah besar dengan milik Rayn. Nita membuka satu persatu pintu Yang juga berlapis kaca itu. Ternyata isinya semua pakaian milik Nita, dan semuanya masih baru.


"Pakaian ini masih baru semua, apakah dia memindahkan isi toko pakaian ke almariku?" Gumam Nita.


Nita membawa pakaian ganti Rayn dan meletakkannya di atas ranjang. Beberapa menit kemudian Rayn keluar dari kamar mandi.


"Mana celana dalamku?" Ucap Rayn saat mengambil pakaian itu.


"Saya... saya belum mengambilnya."


"Cepat ambilkan!" Perintah Rayn.


"Ta...tapi tuan.."


"Kau harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini."


Blush,


Ucapan Rayn membuat pipi milik Nita merah seperti kepiting rebus. Nita langsung memalingkan wajahnya dan pergi mengambil apa yang diminta Rayn.


Nita meletakkan barang itu di dekat pakaian tadi, Rayn berjalan mendekat. Tanpa malu lagi dia memakai pakaiannya di hadapan Nita. Rayn tidak bersalah karena mereka sudah sah dan sudah pernah melakukan yang lebih dari ini sebelumnya. Jadi, buat apa ia malu dengan istrinya sendiri. Lain halnya dengan Nita, ia sangat kikuk.


"Apa dia tidak punya rasa malu?" Batin Nita.


"Untuk apa aku malu, kau sudah pernah melihatku seperti ini kan. Aku juga sudah pernah melihat semua lekuk tubuhmu." Rayn menjawab seperti dia bisa mendengar suara hati Nita.

__ADS_1


Sebenarnya Rayn hanya menebak pikiran Nita, dia mengalihkan pandangannya. Pipinya juga merah seperti tomat. Rayn mengedipkan sebelah matanya saat Nita meliriknya. Nita langsung masuk ke dalam selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut itu. Dia sangat malu saat ini. Rasanya Nita ingin bersembunyi ke dalam lubang semut saat ini juga.


__ADS_2