
SEBELUM LANJUT MEMBACA, SILAHKAN LIKE DAN VOTE DULU YA...
HAPPY READING 😍
.............................
"Aku tidak akan menghukum orang yang sudah menyelamatkan istri dan calon anakku. Aku sudah tahu semuanya, lain kali jangan sembunyikan apapun dariku, oke?" Rayn menggandeng Nita, membimbingnya masuk ke dalam mobil.
"Oke, sayang!" Jawab Nita dengan semangat. Rayn mengacak rambut Nita dengan gemas.
Di kitchen kantor Rayn,
Alex mengupas dan memotong kecil-kecil mangga muda yang mereka bawa tadi. Ia juga memotong nanas dan melon. Sementara Ana membuat sambal untuk rujak yang sedang mereka buat. Mereka berdua memutuskan untuk membuat rujak dari mangga muda itu dan memakannya bersama karyawan lain di kantor. Sayang jika mangga yang susah payah mereka ambil di buang begitu saja.
"Lo mau kemana?" Tanya Alex yang melihat Ana mengemasi barangnya.
"Pulanglah! Nggak liat apa temen-temen gua udah pada pulang?" Jawab Ana menunjuk Cleaning service yang pulang dengan menenteng rujak pemberian Ana dan Alex.
"Hmm...Udah jam pulang ya?" Alex juga melihat karyawan yang sudah menenteng tas kerja masing-masing berjalan menuju lift dan tangga.
"Gua anterin!" Pekik Alex.
Ana meninggalkan Alex tanpa sepatah kata pun. Ia akan menunggu bus di halte depan kantor.
"Males banget satu mobil lagi sama dia! Kadang cuek, kadang baik, kadang ngajak ribut." Ana mendumel.
Ting,
"Jauhi sahabatmu itu jika kau masih sayang nyawamu!"
Ana lagi-lagi mendapat pesan ancaman, dari nomor yang sama seperti pesan yang ia dapat sebelumnya.
"Siapa orang ini? Apa dia tidak punya kerjaan? Setiap hari selalu mengirimi pesan aneh!" Ana memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
Tidak jauh dari halte, ada sebuah mobil hitam yang diam-diam mengawasi Ana sejak kemarin. Bahkan mobil itu mengikuti mobil Ana dan Alex kemarin.
"Halo bos! Target 2 sedang menunggu bus di halte depan kantor. Sepertinya target 2 akan pulang! Apa yang harus saya lakukan?" Tanya seorang pria yang duduk di belakang kemudi mobil hitam itu.
"Terus pantau dia! Jangan lakukan apapun sampai aku perintahkan!"
"Siap, bos!" Jawab pria yang berpakaian serba hitam itu.
Ia melajukan mobilnya saat melihat Ana masuk ke dalam salah satu bus.
"Ana!" Teriak Alex yang membuka kaca pintu mobilnya.
__ADS_1
"Udah niat baik-baik mau nganterin pulang, malah ditinggal!" Alex memukul setir mobil dengan kesal.
Alex tersenyum smrik, ia akan mengikuti Ana. Ia kemudikan mobil dengan jarak agak jauh dari bus. Di depannya ada sebuah mobil hitam.
Dari kejauhan Alex melihat bus itu berhenti di depan sebuah gang. Tapi Alex heran mobil hitam yang ada di depannya juga ikut berhenti tidak jauh dari gang.
"Mobil hitam itu kayaknya ngikutin Ana juga!" Alex menepikan mobilnya agak jauh dari mobil hitam itu.
Alex terkejut saat ada seorang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke dalam gang mengikuti Ana.
"Wah...ada yang nggak beres!" Alex bergegas turun dari mobil.
Alex melihat orang itu mengambil foto saat Ana membuka kunci pintu rumahnya. Terlihat jelas jika orang itu memata-matai Ana. Ia memilih untuk mengawasi dari jauh. Ia tetap diam di tempt persembunyiannya sampai orang misterius itu pergi menjauh.
Drrtt...drrtt...
"Halo pak bos!" Alex mengangkat telepon dari Rayn.
"Cepat jemput Ana, bawa ke mansion! 20 menit!"
"......"
Alex mendengus kesal, ia bahkan belum mengiyakan, sudah diputuskan begitu saja. Apakah mobilnya bisa terbang? Jarak rumah Ana dengan mansion Rayn tidaklah dekat. Alex berlarian ke rumah Ana, dan membawanya ke mansion.
"Astagfirullah... astagfirullah..." Ana beristigfar sepanjang perjalanan.
"Merem aja kalo takut! Bos cuma kasih waktu 20 menit!" Jawab Alex dengan santai.
Kemampuan Alex dalam memgemudikan mobil tidak bisa diragukan. Ia menyalip kendaraan di depannya dengan lincah, berbelok dengan mulus.
"Nih!" Alex meyodorkan kantong plastik hitam kepada Ana.
Alex sudah membawa sebuah kantong plastik hitam di saku celananya. Ia mengambil plastik di kitchen kantor tadi. Ia memberikannya kepada Ana dengan kanan kirinya, pandangannya lurus ke depan fokus memperhatikan jalanan. Ana mengambil kantong plastik hitam itu dengan raut wajah yang kesal. Tapi Ana tidak bisa menampiknya, karena memang Ana sudah merasa mual sekarang.
Hoooeeekkk...hoooeeekkk
Ana sudah mengeluarkan isi perutnya ke dalam kantong plastik hitam pemberian Alex.
Alex yang fokus mengemudi hanya memggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita di sebelahnya.
Ana bernapas lega saat mobil yang ia tumpangi memasuki gerbang tinggi.
"Turun sendiri apa gua turunin?" Tanya Alex yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ana.
"Bentar! Masih gemeteran," Ana memegangi kedua lututnya.
__ADS_1
"Gua bantu!" Alex terkekeh mendengar ucapan Ana, ia mengulurkan tangannya membantu Ana.
"Ditunggu tuan dan nyonya di dalam." Ucap Yoga di depan pintu.
Lagi-lagi Ana terpesona dengan ketampanan Yoga. Ia memandang Yoga lama, Alex yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas.
"Kenapa?" Tanya Nita yang sudah bangkit dari duduknya saat melihat Ana dipapah oleh Alex.
"Gemeteran nih kakiku!" Jawab Ana.
"Alex!!" Nita menatap tajam Alex menuntut penjelasan darinya.
"Pak bos memberikan waktu 20 menit. Rumah Ana jauh bu bos, jadi tadi sedikit ngebut. Saya nggak mau gaji pertama saya dipotong," Jawab Alex yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Sayang!!!" Sekarang Nita menatap tajam Rayn.
"Ada yang ingin aku katakan Ana!" Rayn mengalihkan perhatian.
"Iya?" Jawab Ana ragu.
"Aku memberhentikanmu dari kantorku?"
"Apa?"
"Nita tolong jelaskan pada suamimu, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini!" Ucap Ana kepada Nita.
"Dengarkan dulu Ana!" Nita tersenyum.
"Mulai hari ini aku menugaskanmu menjaga Nita. Kau harus mengurus kebutuhannya selama aku tidak ada di mansion. Kau juga harus menemani kemanapun Nita pergi." Jelas Rayn dengan wajah datar khasnya.
"Wah...terima kasih!"
"Tapi gajiku naik kan?" Tanya Ana yang secara terang-terangan menanyakan gajinya.
Semua mata memandang Ana, ia menutup mulutnya seketika. Lalu Ana tersenyum malu menunjukan deretan giginya yang cukup berantakan.
Sebenarnya Nita cukup terkejut dengan keputusan Rayn memperkerjakan Ana di mansion. Selama ini Amira lah yang mengurusi kebutuhannya. Ia merasa tidak enak dengan Amira karena Rayn mengganti posisi Amira secara mendadak.
Rayn memiliki alasan tersendiri, ia hanya ingin keamanan istri dan anaknya terjamin. Setelah kejadian tadi, ia bahkan tidak mempercayai siapapun. Bisa saja ada musuh dalam selimut. Kalau tidak ada musuh dalam selimut bagaimana bisa musuhnya tahu persis kapan Nita keluar dari mansion, dengan mobil yang mana. Tentu semua kejadian hari ini sudah direncanakan dan disusun dengan baik.
Ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya lewat dua orang yang mengerangnya di jalan tadi. Ben menyekapnya di ruangan bawah tanah. Rayn berusaha bertindak tanpa membuat istrinya khawatir dan takut.
...............
Jangan lupa like, komen, dan vote. Author tunggu ya!
__ADS_1
Thank you 😘