Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 35


__ADS_3

SEBELUM LANJUT MEMBACA, SILAHKAN LIKE DAN VOTE DULU YA...


HAPPY READING 😍


..............................


"Lepaskan mereka, Ben!" Sahut Rayn memecah keheningan.


"Baik, tuan!" Ben menganggukkan kepalanya mantap.


"Jadikan mereka bagian dari anggota keamanan mansion!"


Ben menjawab dengan anggukan, ia setuju dengan keputusan Rayn.


Blam,


Rayn menutup pintu dengan keras, menyisakan kesunyian di dalam ruangan itu. Wajah Rayn memerah, kedua tangannya mengepal. Dirinya masih dikuasai oleh amarahnya. Ia melangkahkan kakinya menuju lift, mungkin amarahnya akan mereda jika ia mengobrol dengan Nita.


"Liftnya kenapa jadi lelet?" Rayn mengomel sendiri saat berada di dalam lift.


Tiiinnnggg,


Rayn buru-buru keluar dari lift, ia membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci. Terlihat Nita sedang asik menonton drama Korea yang ada di ponselnya. Nita senyum-senyum sendiri, ia tidak menyadari Rayn sudah berdiri di sampingnya.


"Sayang," Rayn memanggil Nita, tapi Nita tidak merespon.


"Sayangg," Panggilnya sekali lagi.


Rayn baru sadar ada earphone putih terpasang di kedua telinga istrinya. Mau Rayn memanggil seratus kali pun, Nita tidak akan mendengarkannya. Rayn yang sudah emosi sejak tadi, langsung melepas earphone dari telinga Nita.


"Berikan!" Rengek Nita yang membuat Rayn semakin kesal.


Rayn semakin menjauhkan earphone itu dari jangkauan Nita. Nita tidak mau kalah, ia berusaha menggapai earphone miliknya.


"Dapat!" Nita berhasil merebut miliknya.


Nita memasang earphone itu di kedua telinganya, ia melanjutkan menonton drama Korea yang sempat ia pause tadi. Nita tidak memperhatikan raut wajah Rayn yang terlihat sangat kesal. Niat Rayn menghampiri Nita adalah agar emosinya mereda, sekarang istri kecilnya itu justru membuatnya kesal. Ia tidak mempedulikan Rayn yang berada di kamar mereka.


Prang,


Nita terlonjak kaget, Rayn membanting ponsel Nita ke lantai. Ponselnya hancur berkeping-keping seperti hati Nita saat ini. Rayn meninggalkan Nita sendirian di kamar, ia bahkan membanting pintu dengan keras saat keluar kamar.


Nita menangis sejadi-jadinya selama ini Rayn tidak pernah berbuat kasar, suaminya itu selalu sabar menghadapinya. Ia menyembunyikan wajahnya di antara lututnya, ia meringkuk ketakutan di atas ranjang.


Tok...tok...tok


"Nita,"


Ana berdiri di depan pintu kamar Nita, beberapa kali ia mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban. Nyonya besarnya mengatakan Nita ada dikamarnya.


"Nita?" Ana memanggil Nita tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.


"Nita tidak ada di kamarnya, Ana?" Ucap Maya yang sudah berdiri di belakang Ana.


"Saya tidak tahu, Nyonya. Dari tadi sudah saya ketuk pintunya, saya panggil namanya tapi tidak ada jawaban." Jawab Ana.

__ADS_1


"Nita sayang," Ucap Maya saat membuka pintu kamar Nita.


Nita menoleh ke arah Maya memperlihatkan mata sembabnya. Ia langsung turun dari ranjangnya dan memeluk erat mama mertuanya.


"Nita takut, mama!" Ucap Nita yang menangis di pelukan Maya.


"Ada apa sayang?" Maya melepaskan pelukan Nita.


Nita melirik ke arah samping ranjangnya, melihat ponselnya yang sudah hancur dibanting Rayn.


"Nita! Ada apa ini?" Ana memungut ponsel Nita dari lantai.


Maya menghembuskan napasnya dengan kasar, ia tahu pasti Rayn yang membanting ponsel Nita. Anak laki-lakinya itu kalau sudah marah pasti tidak jauh beda dari papanya. Buah kalau jatuh memang tidak jauh dari pohonnya.


"Sudah sayang jangan menangis lagi! Ceritakan apa yang terjadi sampai anak nakal itu membanting ponselmu!" Maya mengusap lembut pipi Nita.


Nita mengelap air matanya, ia menceritakan kejadian tadi kepada Maya. Maya mengangguk dan tersenyum.


"Nanti mama akan jewer telinga anak nakal itu!" Ucap Maya membuat Nita terkekeh.


"Iya, ma!" Nita mengangguk.


Maya meninggalkan kamar Nita, sementara Ana sedang duduk santai di ranjang Nita. Ia memandangi ponsel Nita yang hancur tadi.


........................


Setelah Rayn marah kepada Nita, ia menenangkan diri di ruang kerjanya. Ia menatap laptop miliknya, memantau istrinya lewat kamera yang ia pasang di kamar. Rayn juga melihat Nita yang ketakutan setelah dirinya membanting ponsel milik Nita.


"Maaf..." Rayn menyesali sikapnya yang kasar.


"Siapa?" Teriak Rayn.


"Saya Ben, tuan."


"Masuk dan kunci pintunya!" Perintah Rayn.


Ben menuruti perintah Rayn, ia masuk ke dalam ruangan Rayn dan langsung mengunci pintunya.


"Ada informasi baru?" Tanya Rayn to the point kepada Ben.


"Ucapan Alex tempo hari memang benar, Tuan. Pagi tadi saat Ana tiba di mansion setelah membeli bubur ayam pesanan Nyonya Nita, salah satu penjaga melihat sebuah mobil hitam. Mobil itu sempat berhenti sebentar saat Ana masuk ke dalam gerbang, sepertinya mobil itu mengawasi Ana. Penjaga baru saja melapor kepada saya." Ucap Ben.


"Mengapa orang itu mengawasi Ana? Sepertinya Ana tidak mempunyai musuh!" Sahut Rayn saat menutup laptopnya.


"Tapi Ana sahabat dari Nyonya Nita," Ucapan Ben yang membuat Rayn terkejut.


"Maksudmu musuh kita juga memgincar Ana?"


"Bisa jadi, tuan. Tapi kita harus lebih waspada, mereka bisa saja menjadikan Ana sebagai umpan!" Jawab Ben.


"Aku akan memberitahu Ana agar dia lebih berhari-hati."


"Jangan tuan, sebaiknya Nyonya Nita, Ana, maupun anggota keluarga lain tidak mengetahui situasi saat ini." Ucap Ben.


"Baiklah."

__ADS_1


"Permisi, tuan." Pamit Ben kepada Rayn.


Rayn membalasnya hanya dengan anggukan, Ben berjalan meninggalkan ruang kerja Rayn.


"Tuanmu ada di dalam?" Tanya Maya.


Ben terkejut dan hampir berteriak, ia memegangi dadanya. Baru saja ia membuka pintu sudah dikejutkan dengan kedatangan Nyonya Besarnya.


"Ada, nyonya. Silahkan masuk!" Ben membukakan pintu untuk Maya.


Setelah Maya masuk ke dalam, Ben lnagsung menutup pintu itu. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia meraba lagi dadanya, apakah jangungnya masih berada di tempatnya atau tidak.


"Dasar anak nakal!" Teriak Maya.


"Sebaiknya aku pergi dari sini!" Ucap Ben yang mendengar teriakan Maya dari luar.


"Ada apa, ma?" Jawab Rayn.


"Kamu tuh ya!" Ucap Maya yang sudah menyiapkan jarinya untuk menjewer Rayn.


"Aduh aduh...Ada apa sih ma?" Rayn memegangi telinganya yang dijewer Maya.


"Kamu kenapa kasar sama menantu mama?"


"Nita?" Tanya Rayn.


"Iyalah Nita! Emangnya kamu punya istri lain?" Maya semakin keras menjewer telinga Rayn.


"Aduh aduh...ampun ma!" Rengek Rayn.


"Ayo cepat minta maaf sana!"


"Lepasin dulu, ma!" Rayn merengek kesakitan.


"Nggak usah banyak omong! Cepet jalan!" Perintah Maya.


Reputasi Rayn sebagai bos yang dingin, cuek, dan kejam rusak karena mamanya. Yoga yang baru saja datang dari kantor mati-matian menahan tawanya saat melihat Rayn dijewer Maya. Yoga datang ke mansion untuk memberikan berkas yang harus Rayn tanda tangani.


"Lepaskan, ma! Lihatlah reputasi Rayn hancur sekarang!" Keluh Rayn yang membuat Maya terkekeh.


"Yoga!" Teriak Maya yang tadi sudah melihat Yoga berdiri di ujung lorong.


"Iya, nyonya." Yoga bergegas berlari menghampiri Maya dan Rayn yang berdiri di depan kamar Nita.


"Buka pintunya! Apa kau hanya akan menonton saja dari sana?" Maya memarahi Yoga.


"Rasakan!" Batin Rayn.


Yoga langsung membukakan pintu kamar Nita lebar-lebar.


.........................


Hai readers...


Jangan lupa like dan vote novel ini, nantikan episode-episode selanjutnya ya😘

__ADS_1


__ADS_2