Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 39


__ADS_3

SEBELUM LANJUT MEMBACA, SILAHKAN LIKE DAN VOTE DULU YA...


HAPPY READING 😍


........................


"Rayn...tolong!" Nita menangis sejadi-jadinya, ia hanya berharap suaminya datang menolongnya.


"Dia tidak akan datang! Setelah ini dia tidak akan pernah bisa menemukanmu!" Ancam pria tinggi besar itu.


Dor dor dor,


"Aaaa..." Teriak histeris Nita.


"Lepaskan istriku!" Teriak Rayn yang mengacungkan senjatanya ke atas.


Tanpa aba-aba anak buah Rayn maju melawan anak buah pria bertopeng itu. Melihat jumlahnya, pertarungan kali ini seimbang.


Rayn melangkah mendekati Nita yang dicekik pria itu. Nita menangis sesenggukan karena Rayn datang tepat waktu untuk menyelamatkan dirinya dan calon anak mereka.


"Br*ngs*k tuh orang!" Umpat Alex yang sudah tidak sabaran.


"Kita tunggu di sini dulu! Jangan ceroboh!" Ben menahan Alex agar tidak keluar dari persembunyian mereka.


Semakin Rayn mendekat, pria itu semakin mengencangkan cekikannya hingga membuat Nita menjerit kesakitan.


"Turunkan senjatamu! Atau istri kecilmu ini akan tiada!" Ancam pria bertopeng itu.


Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Rayn menuruti pria itu. Ia meletakkan senjatanya di aspal dekat kakinya, lalu tangannya ia angkat ke atas.


"Sekarang lepaskan dia!" Seru Rayn yang hanya berjarak 3 meter dari Nita dan pria itu.


Dor,


Ben melepaskan pelurunya ke udara, pria bertopeng itu kehilangan konsentrasi. Rayn memanfaatkan keadaan ini untuk menendang pria itu. Rayn meraih tangan Nita dan langsung memeluknya.


"Aku disini sayang! Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu!" Ucap Rayn menenangkan Nita yang masih ketakutan.


Bukannya berhenti, tangis Nita semakin menjadi. Pria bertopeng itu kini menodongkan senjatanya ke arah Rayn dan Nita. Rayn memasang tubuhnya melindungi Nita. Tapi entah mengapa pria itu tiba-tiba menurunkan senjatanya. Rayn teringat sesuatu, ia menoleh ke belakang.


Ben dan Yoga berdiri di belakangnya dengan menodongkankan senjatanya ke arah pria bertopeng itu. Anak buahnya juga sudah berhasil mengalahkan semua anak buah pria itu, dan kini mereka juga menodongkankan senjatanya. Ben dan Yoga berjalan melewatinya, kini mereka ada tepat di depan pria itu.


"Beraninya kau menodongkan senjata kepada tuan kami!" Teriak Ben.


Pria bertopeng itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Ben menodongkan senjatanya tepat di kepala pria itu.


"Siapa yang menyuruhmu!" Teriak Yoga.

__ADS_1


"Kalau kau mau membunuhku, bunuh saja aku! Aku tidak akan mengatakan apapun!" Jawab pria itu.


"Tentu saja! Bosmu pasti membayar mahal nyawamu!" Seru Ben.


"Semuanya akan baik-baik saja sayang!" Rayn memeluk erat Nita, ia tidak ingin kejadian ini memberikan trauma padanya.


"Dimana Ana?" Ucap Nita di sela tangisannya.


"Kita akan segera menemukan dan menyelamatkannya." Rayn mengelus lembut kepala istrinya.


Salah satu anak buah pria bertopeng itu keluar dari mobil dan membawa seorang wanita. Ia mengacungkan senjatanya ke udara dan tangan kanannya menyeret seorang wanita. Kedua tangan wanita itu diikat, mulutnya dilakban rapat.


"Ana!" Teriak Nita yang melihat ke arah wanita itu.


"Mundur! Atau aku tembak kepala wanita ini!" Seru pria itu.


Ben menurunkan senjatanya, begitu juga dengan Yoga dan anak buahnya. Tapi dua anak buahnya sudah berhasil mengikat pria bertopeng tadi.


"Shit! Dasar pengecut! Beraninya berlindung di belakang wanita!" Umpat Rayn.


Pria itu membuka lakban yang menutup mulut Ana, tapi tidak membuka ikatan di tangannya.


"Ana!" Teriak Nita histeris.


"Nita pergilah dari sini! Rayn cepat bawa Nita pergi dari sini!" Teriak Ana.


Alex memanfaatkan situasi dengan mengendap-endap bersembunyi di pepohonan pinggir jalan. Tidak ada yang menyadari pergerakan Alex, karena obrolan Ana dan Nita memecah konsentrasi pria itu. Kini jaraknya hanya 3 meter dengan Ana. Ia membidik punggung pria itu.


Dor,


Bidikan Alex tepat pada sasaran, pria itu terjatuh ke depan. Ana yang tidak sempat menghindar ikut terjatuh juga.


"Tepat waktu!" Gumam Ben.


Dengan cepat Alex membantu Ana berdiri dan membuka ikatan di tangannya. Nita menghembuskan napasnya dengan lega melihat sahabatnya aman sekarang.


Pria yang Alex tembak perlahan menggerakkan tangannya menggapai pistol di depannya. Rayn yang melihat tangan pria itu akan menarik pelatuk pistolnya berteriak kencang.


"Lex di belakang Ana!" Teriak Rayn.


Alex langsung menarik Ana ke dalam pelukannya. Ben langsung mengambil pistolnya yang tergeletak di depannya.


Dor,


Dor,


Ben menembak pria itu hingga tewas, tapi dia terlambat. Peluru pria itu sudah menembus bahu kanan Alex. Alex kehilangan keseimbangan tubuhnya dan jatuh tersungkur. Ana tidak bisa menahan tubuh Alex sehingga tubuhnya jatuh tertimpa tubuh Alex.

__ADS_1


"Lex!" Ana berusaha menepuk-nepuk pipi Alex.


Ben menghampiri mereka, ia membantu menyingkirkan tubuh Alex dari atas tubuh Ana.


"Cepat telpon ambulans! Bawa pria bertopeng itu ke mansion!" Perintah Rayn kepada anak buahnya.


Nita berlari menghampiri Ana, ia peluk erat-erat sahabatnya itu.


"Aku baik-baik saja Nita, jangan menangis! Tapi Alex..." Ucap Ana yang meneteskan air matanya melihat Alex yang terkapar.


"Sebentar lagi ambulans sampai!" Jawab Nita.


Ana mendekati Alex, ia meletakkan kepala Alex dipangkuannya. Air matanya mengalir deras tanpa sepegetahuannya. Tangisnya semakin kencang saat bajunya menjadi merah, terkena darah Alex yang terus merembes dari bahu kanannya. Pria menyebalkan yang selalu mengejeknya hari ini berkorban untuk dirinya.


"Aku akan menemaninya!" Ucap Ana saat Nita mengajaknya untuk naik mobil Rayn.


Ana masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa Alex. Ana duduk di samping Alex bersama dua orang perawat. Sepanjang perjalanan ia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dengan Alex. Entah mengapa Ana merasa sangat takut kehilangan Alex.


"Detak jantungnya melemah," Sahut satu perawat yang membuat tangis Ana pecah.


Perawat segera medorong brankar Alex saat sampai di rumah sakit milik Keluarga Alexander. Dokter Kevin, Paman Rayn menyuruh perawat untuk membawa Alex ke dalam ruang operasi setelah mendengar penjelasan dari Rayn.


"Paman akan berusaha!" Ucap Kevin kepada Rayn sebelum masuk ke dalam ruang operasi.


Rayn dan Nita duduk bersama di kursi tunggu. Ana mondar-mandir di depan ruang operasi. Nita dapat melihat jelas kesedihan kekhawatiran di wajah Ana.


"Pria itu sudah saya ikat di ruang bawah tanah, tuan!" Ucap Yoga setengah berbisik kepada Rayn.


"Baiklah! Sekarang beli makanan dan minuman untuk Nita dan Ana!" Perintah Rayn.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya lembut Rayn pada Nita.


"Aku tidak lapar, sayang. Belikan saja jus jeruk!" Jawab Nita yang masih menangis di pelukan Rayn.


"Belikan makanan untuk Ana dan jus jeruk untuk Nita!" Perintah Rayn pada Yoga.


Tiga puluh menit berlalu Ana mondar-mandir di depan ruang operasi. Paman Kevin keluar dari ruang operasi dengan wajah cemas.


"Bagaimana keadaan Alex?" Tanya Ana dengan cemas.


"Alex kehilangan banyak darah," Ucap Paman Kevin yang membuat Rayn dan Nita mendekat.


"Alex membutuhkan darah sekarang juga, tapi persediaan rumah sakit habis!" Lanjut Paman Kevin.


.....................


Jangan lupa like dan vote ❤️

__ADS_1


__ADS_2