
"Sayang, aku ke kamar mereka dulu." Maya menatap Bram sambil tersenyum.
"Iya, Sayang." Bram membalas senyum Maya dengan senyuman termanisnya.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia melangkah menuju lift. Suaminya itu memang sangat manis. Tetapi sikap Bram saat bersama orang lain (Bukan keluarga) sangatlah berbeda. Bram akan menampilkan wajahnya yang datar dan angkuh. Sekarang Maya sudah berada di dalam lift dan menekan tombol-tombol di depannya. Lift bergerak dengan kecepatan sedang.
Tiinngg,
Pintu lift terbuka, Maya bergegas keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong menuju kamar Rayn.
Tok...tok...tok
"Rayn...Nita... sudah waktunya makan malam. Ayo turun!" Ucap Maya saat mengetuk pintu itu.
Hening,
"Rayn... Nita..." Maya memanggil nama mereka karena tidak ada yang menyahut panggilannya. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar.
"Dosa tidak ya jika aku membuka kamar pengantin baru?"
"Ah aku buka saja." Ucap Maya menepis pikiran konyolnya. Dia memutar handle pintu dengan perlahan, keringat dingin mengalir di pipinya.
Ceklek,
Pintu itu kini sudah terbuka, perlahan tapi pasti dia menutup kembali pintu itu. Maya merasa begitu bahagia melihat anak, menantu, dan calon cucunya sedang tidur bersama. Tidur mereka begitu lelap, hingga tidak mendengar ketukan pintu. Bahkan jika tadi Maya menggedor pintu itu dengan keras, mereka juga tidak akan mudah untuk bangun. Mereka berdua terlihat serasi. Maya sangat yakin bahwa Nita akan merubah Rayn menjadi orang yang hangat, Maya juga yakin Nita dapat mengikis kesombongan Rayn. Setiap hari dia berdoa meminta kepada tuhan untuk memberikan cinta di antara Rayn dan Nita.
"Nita bangun, Sayang. Sudah waktunya makan malam." Maya membelai lembut pipi Nita. Tapi Nita hanya menggeliat.
"Bumil memang sangat suka molor." Ucap Maya terkekeh melihat Nita yang enggan untuk bangun. Akhirnya Maya memilih untuk mendekati Rayn, dia mencoba membangunkan putranya itu.
"Rayn bangun!" Ucap Maya.
Berbeda dengan apa yang dia lakukan saat membangunkan Nita, Maya justru menepuk keras lengan Rayn.
"Iya iya, Ma. Ini juga mau bangun." Jawab Rayn.
"Kamu bangunkan istrimu juga ya, mama turun duluan sudah lapar." Lanjut Maya.
Rayn hanya mengangguk pelan. Dia menggosok-gosok kedua matanya yang masih lengket. Sejenak dia meregangkan otot-ototnya. Sedangkan wanita yang ada disebelahnya, dia masih tidur pulas. Tubuh langsing itu masih terbalut selimut tebal. Rayn memicingkan matanya melihat ke arah wajah Nita. Wajah ayu itu terlihat lebih lucu karena Nita tidur dengan keadaan mulutnya terbuka sedikit. Rayn meraih handphone yang ada di atas nakas sebelahnya.
Cekrik,
Terdengar suara shooter kamera handphone. Menandakan bahwa seseorang telah mengambil gambar. Ya, Rayn tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. Dia mengambil beberapa foto Nita dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Dia terlihat sangat menggemaskan.
"Dia akan kesal saat aku tunjukkan foto ini nanti hahaha." Batin Rayn.
Rayn menatap Nita, kini Rayn semakin mendekat ke arah Nita. Hingga napas hangat Nita terasa di wajahnya, Rayn yakin napasnya juga mengenai wajah Nita. Jantung Rayn berdetak lebih cepat dari biasanya. Kecepatan irama detak jantungnya sama ketika sedang lari marathon. Nita menggeliat pelan, ia merasakan napas hangat menerpa wajahnya.
__ADS_1
"Bangunlah istri kecil, apakah kamu tidak lapar lagi?" Rayn berbicara di dekat telinga Nita. Nita merinding, napas Rayn mengenai permukaan kulitnya. Nita mundur menjauh dari Rayn.
"Selamat pagi." Sahut Nita polos mengira kalau sudah pagi.
"Ini masih malam bodoh." Rayn menunjuk kening Nita dengan jari telunjuknya.
"Benarkah?"
"Lihat jam berapa sekarang!" Sahut Rayn saat menunjukkan handphonenya di depan Nita.
"Berarti sekarang sudah waktunya makan malam."
"Aku tadi membangunkanmu memang karena mama tadi kesini, makan malamnya sudah siap." Ucap Rayn
"Bersihkan ilermu dulu!" Ucap Rayn. Nita langsung berlari ke kamar mandi, Rayn terkekeh melihatnya.
"Tidak ada apa-apa di pipiku." Sahut Nita saat menatap dirinya di cermin.
Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar setelah berdebat cukup lama. Selalu ada hal-hal kecil yang mereka debatkan. Saat mereka di dalam lift pun masih saja berdebat.
"Kenapa kalian lama sekali?" Tanya Maya saat melihat kedua pengantin baru itu duduk di posisi masing-masing.
"Mereka ini pengantin baru, Sayang. Baru beberapa jam lalu mereka menikah, jadi masih anget." Bram terkekeh.
Maya dan Bram terkekeh melihat Nita melotot kepada Rayn saat Rayn mencoba merangkul bahu Nita. Pasangan baru ini sangat unik, kadang bertengkar, kadang terlihat manis, dan kadang cuek.
"Amira." Nita memanggil salah satu pelayan.
"Iya, Nyonya." Jawab pelayan yang terlihat muda tak jauh berbeda dari umur Nita, namanya Amira. Nita berkenalan dengan pelayan itu kemarin.
"Temani aku pergi jalan-jalan besok."
"Tapi saya..." Pelayan itu menunduk.
"Aku tidak punya teman Amira, tolong temani aku besok." Pinta Nita kepada Amira.
"Tapi saya tidak layak untuk pergi bersama, Nyonya."
"Jangan bicara seperti itu, aku akan sedih jika kau menolakku." Jawab Nita.
Amira melirik ke arah Bi Siti, pandangan matanya seolah meminta bantuan untuk menjawab Nyonya Mudanya itu. Bi Siti hanya mengangguk sambil melirik ke arah Maya. Maya memandang Amira, kemudian dia mengisyaratkan kepadanya untuk menerima ajakan Nita.
"Baik, Nyonya. Saya akan menemani nyonya besok."
"Besok memangnya kamu mau pergi kemana, Sayang?" Sahut Maya.
"Nita pengen jalan-jalan, Ma."
__ADS_1
"Sebaiknya untuk beberapa hari ini kamu di mansion saja, Nita. Rayn kau paham kan?" Sahut Bram.
"Dia sangat ingin pergi, Pa. Aku akan menyuruh orang untuk mengawal mereka. Setelah meeting selesai, besok aku akan menyusul mereka." Jawab Rayn.
"Tetap saja tidak aman untuk istri dan anakmu."
"Sudahlah, Sayang. Nita sepertinya ingin sekali pergi jalan-jalan keluar. Lagi pula dia tidak pergi sendiri akan ada sopir, pelayan, dan body guard bersamanya. Rayn juga akan menyusulnya setelah selesai meeting. Tidak ada yang perlu dicemaskan, dia akan baik-baik saja." Ucap Maya meyakinkan Bram untuk mengizinkan Nita pergi jalan-jalan.
"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati."
"Terima kasih, Pa. Nita akan berhati-hati." Nita menampilakan senyumannya yang paling manis.
Nita lanjut menghabiskan apel yang sudah Maya potong untuknya. Mama mertuanya sangat perhatian kepada Nita. Sering kali Nita lupa minum vitamin, Maya lah yang selalu mengingatkannya. Bagi Nita, perhatian Maya kepadanya bukan seperti perhatian mertua kepada menantu. Tetapi, layaknya perhatian seorang ibu kepada putrinya. Dia sangat bersyukur menjadi bagian dari anggota keluarga Alexander. Walaupun hubungan ini diawali dengan kejadian yang tidak seromantis sinetron di televisi.
Maya menyuruh Nita untuk segera kembali ke kamarnya, karena jam menunjukkan pukul 9.15 malam. Tidak baik untuk kesehatan Nita dan calon cucunya jika terjaga hingga larut malam. Apalagi kehamilan Nita masih trimester pertama.
Sedangkan Rayn, sekarang sedang bermain catur dengan papanya di bangku dekat kolam renang. Bangku ini adalah tempat untuk bermain catur favorit mereka. Mereka berdua bermain catur dengan ditemani segelas kopi dan beberapa snack. Sesekali mereka tertawa saling melontarkan gurauan dan ejekan.
"Skak mat, kau kalah lagi Rayn." Bram tertawa puas. Rayn meneguk kopinya dengan kesal. Dia sudah kalah dua kali berturut-turut dari papanya.
"Sebagai hukumannya, kau harus jawab pertanyaan papa." Tantang Bram.
"Hukuman macam apa ini, Pa?" Rayn protes.
"Sebagai seorang laki-laki perkataan kita harus dapat dipegang, sangat penting untuk berkata jujur. Jadi, sekarang jawab saja pertanyaanku jika memang kau laki-laki sejati yang bisa dipegang ucapannya." Jawab Bram.
"Alright, katakan pa." Rayn setuju.
"Apakah sekarang kau sudah mencintai Nita?"
Uhuk... uhuk,
Pertanyaaan Bram membuat Rayn tersedak saat dia meminum kopinya.
"Sebenarnya Rayn..." Ucapan Rayn terpotong, dia mengalihkan pandangannya ke arah langit malam yang cerah di atasnya.
"Jawab Rayn."
"Aku...aku belum tahu pasti, Pa." Rayn memejamkan matanya, merasakan hembusan angin malam menerpa kulitnya.
..............................
Hai readers...
Terima kasih sudah membaca novelku ini, jangan lupa like dan dukung novelku ini ya...
Thank you😍
__ADS_1