Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 24


__ADS_3

SILAHKAN LIKE, COMMENT, DAN VOTE YA... DUKUNGAN KALIAN MEMBERIKANKU SEMANGAT UNTUK UP EPISODE.


HAPPY READING 😍,


..........................


Dentingan sendok dan garpu mengiringi keheningan makan malam keluarga Alexander. Hanya Nita yang tidak nampak di kursinya.


"Nita tidak makan malam, Rayn?" Maya memecah keheningan.


"Sore tadi dia makan banyak sekali, Ma. Sepertinya masih kenyang, dia tidur."


Maya mengangguk paham, suasana makan malam kembali seperti semula. Rayn menyelesaikan makan malamnya lebih cepat dari Bram dan Maya.


"Ma... Pa... Rayn kembali ke kamar dulu." Bram dan Maya menjawab dengan anggukan. Rayn berjalan menuju kamarnya, dia mengetik sesuatu di ponselnya.


................................


Ting


"Atur jadwalku besok. Aku akan mengantar Nita untuk pemeriksaan rutin kandungannya."


Yoga merasa sesak napas saat membaca pesan dari Rayn. Susah payah dia mengatur jadwal dengan klien untuk meeting besok. Sekarang juga ia harus mengatur ulang meeting itu.


"Bos mah bebas!" Seru Yoga saat meletakkan ponselnya sembarang di sofa.


"Hahaha..." Mendadak Yoga tertawa, dia mengingat sesuatu.


Flashback On


Hari masih pagi, Yoga mengemudikan Mobil Ferrari milik bosnya dengan kecepatan normal karena jadwal meeting masih 1 jam lagi. Rayn di sampingnya sibuk dengan ponselnya.


"Kau sudah menikah bukan?" Tanya Rayn sedikit mengejutkan Yoga.


"Apa-apaan ini Tuan? Jelas-jelas aku mengundangmu ke acara pernikahanku. Kenapa masih ditanyakan." Batin Yoga.


"Iya, Tuan."


"Jika istrimu hamil, kalian masih bisa melakukannya?" Tanya Rayn to the point.


"Itu...maksud tuan melakukan apa?" Jawab Yoga yang sok polos.


"Jangan pura-pura polos, kau tahu maksudku."

__ADS_1


"Mungkin saya akan konsultasi kepada dokter." Jawab Yoga


Rayn terdiam, benar apa yang dikatakan Yoga. Rayn akan membawa Nita untuk memeriksakan kandungan Nita sekaligus menanyakan hal itu. Rayn tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Ia terpaksa mandi air dingin karena sudah tidak bisa menahannya saat melihat Nita.


Flashback Off


.......................................


Rayn berdiri mematung di dekat ranjang menelan salivanya. Pandangannya tertuju pada Nita yang terlelap di ranjang. Namun posisi tidur Nita lah yang membuat keringat Rayn bercucuran, gaun tidur Nita sedikit tersingkap ke atas. Paha mulus tanpa cacat terpampang di depannya. Sebagai laki-laki normal Rayn merasakan gejolak di tubuhnya.


Rayn khawatir akan membahayakan Nita dan calon anaknya. Sejak beberapa hari ia menahan dirinya. Ia memalingkan pandangannya.


"Sabar... besok kau bisa menanyakannya." Rayn mencoba menenangkan dirinya.


Dia mencoba berbaring di sebelah Nita dan memejamkan matanya. Namun, usahanya kali ini gagal. Ia langsung bangkit dari ranjang berjalan menuju kamar mandi. Rayn memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dan benar saja, dia menjadi lebih relax sekarang.


Rayn berjalan menuju ranjang mendekati Nita. Ia membaringkan tubuhnya di samping Nita, namun posisinya membelakangi Nita. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang mungkin saja membahayakan istri dan calon bayi mereka.


"Selamat malam sayang." Ucap Rayn mengecup singkat pucuk Nita dan langsung berbaring membelakangi Nita.


Nita merasakan benda kenyal menyentuh dahinya, ia terbangun. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis saat rahu siapa yang melakukannya. Nita menatap punggung suaminya yang tengah membelakanginya.


"Selamat malam." Nita membalas Rayn. Rayn membalikkan badannya saat itu juga.


"Kamu bangun, ada apa?" Tanya Rayn yang menatap Nita tanpa berkedip.


"Kamu juga belum minum obatmu, sebentar aku ambilkan makanan untukmu." Rayn beringsut turun dari ranjang.


"Aku ikut!" Rengek Nita yang memegang erat tangan Rayn.


"Aku ambilkan saja sayang, tunggu di sini sebentar." Rayn mengacak rambut Nita.


"Panggil Amira atau Bi Siti saja."


"Kamu bosnya sayang." Rayn tersenyum saat berjalan mengambil gagang telepon memanggil pelayan untuk membawakan makan malam Nita. Nita tersenyum malu, pipinya lagi-lagi memerah seperti kepiting rebus. Rayn yang terkenal angkuh dan tidak suka diperintah, tunduk dengan Nita.


Tok...tok...tok


"Masuk!" Perintah Rayn dengan dingin kepada Amira begitu pintu terbuka.


"Letakkan di atas meja, kau boleh pergi." Sahut Rayn lagi. Ada kekesalan di hati Rayn kepada Amira, dia sudah lalai dalam tugasnya.


"Nyonya maafkan saya, saya sudah tidak becus." Amira duduk bersimpuh di hadapan Nita yang sedang duduk di ranjang.

__ADS_1


"Beraninya kau! Bukannya keluar dari kamarku kau....." Ucapan Rayn terpotong. Tubuh Amira bergetar ketakutan mendengar amarah Rayn.


"Sudah sayang, bukan salah dia." Nita berdiri menghampiri Rayn dan menenagkan suaminya itu.


"Ini bukan salahmu, berdirilah!" Nita meraih keduah bahu Amira, menyuruhnya untuk berdiri.


"Keluar sekarang! Aku sangat ingin menghukummu sejak tadi, tapi aku tahu istriku akan sedih jika aku melakukannya." Rayn menatap tajam ke arah Amira. Nita tersenyum ke arah Amira, Amira mengangguk lalu keluar dari kamar itu.


"Kenapa kamu membelanya, karena kelalaiannya kamu celaka."


"Karena memang bukan salah dia, aku melarangnya dan para pengawal yang akan menangkap Sonya. Aku yang memutuskan untuk menghadapinya sendiri." Nita menunduk lesu.


"Kamu tahu kan, mereka yang akan menanggung resikonya jika kamu terluka sedikit saja." Rayn mengangkat dagu Nita agar ia leluasa menatap mata hitam besar milik Nita.


"Tapi kenapa mereka yang menanggung resikonya?"


"Itulah pekerjaan mereka, aku sudah membeli nyawa mereka untuk melindungimu." Jawab Rayn dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Deg,


"Maafkan aku... aku akan lebih berhati-hati." Rayn menjawabnya dengan mengangguk pelan.


"Sekarang makanlah makananmu, kamu masih lapar kan? Atau sudah kenyang sekarang?" Rayn mennggandeng Nita membawanya untuk duduk di ranjang. Nita memonyongkan bibirnya, tentu saja ia masih lapar.


"Sayang, berapa jumlah pelayan dan penjaga di mansion ini?" Tanya polos Nita, entah mengapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Ku kira kamu sudah menghitungnya sayang." Rayn terkekeh tidak menyangka Nita memberikan pertanyaan konyol seperti ini.


"Jawab!!"


"Ada sekitar 30 pelayan di mansion ini, Bi Siti kepala pelayannya sayang. Kalau penjaga ada 12 orang, mereka dibagi menjadi beberapa shift." Jawab Rayn yang mengangkat jari-jarinya untuk menghitung.


"Pantas saja..." Gumam Nita yang masih dapat didengar Rayn.


"Kenapa sayang?" Tanya Rayn penasaran mengapa Nita sampai menanyakan jumlah pelayan.


"Tidak apa-apa." Jawab polos Nita dengan senyum seringainya.


Sebenarnya Nita ingin bertanya sejak beberapa hari lalu karena setiap kali dia berjalan di lantai dua, lantai bawah, maupun di taman Nita melihat pelayan berlalu lalang sibuk dengan tugas masing-masing. Bahkan ada pelayan yang bertugas khusus membersihkan dan merawat kolam renang, pelayan bagian dapur juga ada sendiri. Kak Rey dulu juga punya seorang pelayan di rumahnya karena orang tuanya sibuk. Tetapi pelayan itu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga hingga merawat taman. Berbeda dengan pelayan di mansion ini.


Nita kembali menyantap makan malamnya dengan lahap. Sedangkan Rayn terus memandangi Nita selama dia menyantap makananya.


..........................

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novelku, terus nantikan episode-episode selanjutnya...


Thank you 😍


__ADS_2