Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 30


__ADS_3

STOP!!!!


Sebelum membaca, silahkan like dan vote dulu ya. Jangan lupa tuliskan kesan dan pesan untuk author di kolom komentar.


Happy Reading 😍


...............................


"Biar dia aja, Nit!" Ana terang-terangan menolak keinginan Nita. Ia tidak sudi pergi bersama cowok songong seperti dia. Kalau Ana pergi bersamanya pasti nanti dia akan ditinggal seperti tadi.


"Tapi adek bayinya pengen kalian berdua yang beli," Jawab Nita yang mengelus perutnya lembut.


"Sayang, tante nemenin kamu di sini aja ya?" Ana mendekat ke arah Nita, ia sedang berbicara dengan perut Nita.


"Mau ya, Ana? Nggak tau kenapa aku seneng banget kalo lihat kalian berdua bersama," Sahut Nita yang membuat Rayn, Ana, dan Alex reflek melihat ke arahnya secara bersamaan.


"Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Nita yang merasa heran.


"Apa semua bumil kayak kamu, Nit?" Kini semua mata menatap Ana secara bersamaan.


"Kalian turuti saja keinginan istriku, apa salahnya jika kalian pergi bersama?" Sahut Rayn berusaha menyelesaikan perdebatan.


"Kalau saya sih setuju-setuju aja Pak Bos. Dia tuh yang sok jual mahal!" Ucap Alex dengan santai. Gaya bicaranya memang seperti itu ke semua orang termasuk kepada Rayn dan Nita, bosnya sendiri. Tapi baik Rayn maupun Nita tidak pernah keberatan dengan itu.


"Idih... bukannya gua sok jual mahal ya. Tapi harga diri gua emang mahal, Lo jangan sok kecakepan deh!" Ana menimpali ucapan Alex dengan gaya percaya dirinya yang tinggi.


"Emang gua cakep," Alex mendongakkan kepalanya dengan sombong, tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana jeansnya. Alex bergaya bak model iklan di depan Ana.


"Yang ada monyet pake jaket tau nggak!" Ledek Ana kepada Alex.


"Emangnya lo pernah liat monyet pake jaket?"


"Udah, nih depan gua! Mirip banget..." Tawa Ana pecah.


Pletak,


Jitakan Alex mendarat dengan kasar di dahi Ana.


"Balikin uang kembalian gua tadi! Lo kantongin, kan?" Ucap Alex dengan senyum sinis.


"Apaan sih! Sakit tau... Uang kembalian apa?" Ana pura-pura tidak tahu.


"Diam kalian!" Teriak Nita memenuhi ruangan, kedua tangannya ia letakkan di pinggang.


Ana dan Alex diam dan menunduk di posisi masing-masing. Ana maupun Alex tidak ada yang berani menatap Nita. Sementara Rayn ia berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi Ana dan Alex. Ia juga tidak menyangka Nita cukup mengerikan saat marah.

__ADS_1


"Beliin rujak sama mangganya sekarang!" Perintah Nita.


"Udah berangkat aja sana," Sahut Rayn.


Ana dan Alex saling memandang, melakukan negosiasi lewat kontak mata. Lima detik, mereka berbalik bersamaan keluar dari ruangan Rayn.


Ceklek,


Pintu ruangan Rayn ditutup rapat dari luar. Ana menghentakkan kakinya dengan kasar saat mengikuti Alex menuju tempat parkir mobil. Alex menghembuskan napasnya dengan kasar, ia kembali cuek dengan tingkah Ana.


"Ini pasti mobil Ana, nggak mungkin lo punya mobil ginian!" Lagi-lagi Ana meledek Alex.


"Mobil gua jauh lebih keren dari ini. Lo aja yang nggak tau." Ucap Alex saat membuka pintu mobil BMW hitam milik Nita.


"Idih..." Jawab Ana yang juga ikut masuk ke dalam. Ana tidak tahu kalau Alex adalah seorang pembalap dan punya mobil sport tentunya. Kalau tahu pasti udah klepek-klepek.


Alex mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia ingin memberikan pelajaran pada Ana.


"Astagfirullah... Astagfirullah..." Ana memejamkan matanya dan tidak berhenti beristigfar.


Alex tersenyum puas melihat ketakutan di wajah Ana. Alex semakin ingin mengerjai Ana, ia menyalip mobil-mobil di depannya.


"Gua belum nikah woy! Eh... punya pacar aja belum, Gua masih pengen liat cowok-cowok ganteng!" Ana berteriak tidak jelas.


"Stop! Berhenti di sini!" Teriak Ana.


"Ada apa lagi ini?" Alex menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia keluar dari mobil menyusul Ana.


"Lo kena..." Ucapan Alex terpotong.


Hoooeeekkk... hoooeeekkk...


Ana membuntahkan semua makan siangnya di atas bebatuan itu.


"Whuahahaha... Mabok lo?" Alex ikut berjongkok tidak jauh dari Ana.


"Bodo!" Jawab Ana asal.


Ana cuek dengan Alex yang senyum-senyum sendiri di dekatnya. Ia mengelap sisa muntahannya di sekitar bibirnya dengan tisu. Lalu, ia berjalan kembali ke mobil meninggalkan Alex. Alex tersenyum puas melihat kemarahan Ana, wajahnya terlihat sangat lucu. Mungkin mengggoda Ana akan menjadi hobi barunya. Ia berlari menyusul Ana yang sudah duduk di dalam mobil.


Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan, Alex mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ia membelokkan mobil ke jalan permukiman, mungkin mereka akan menemukan penjual rujak dan mangga di daerah ini. Sepuluh menit mereka menyusuri jalanan itu.


"Stop! Itu ada yang jualan rujak tuh!" Ucap Ana.


"Mana?"

__ADS_1


"Itu tuh! Deket tiang listrik itu, gerobak biru." Jelas Ana.


Alex menepikan mobilnya, tak jauh dari gerobak penjual rujak. Ana turun dari mobil lebih dulu meninggalkan Alex.


"Bang, rujak satu!" Sahut Ana.


" Iya, mbak." Abang rujak tersenyum ramah.


"Daerah sini yang jualan mangga ada nggak, bang?" Tanya Alex yang sudah berdiri di dekat Ana.


"Di ujung jalan, mas. Ini rujaknya," Ucap abang rujak.


"Terima kasih." Alex membayar rujak itu.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk membeli mangga pesanan Nita. Sampai di ujung jalan, mereka menemukan penjual mangga di pinggir jalan. Alex membeli sekilo mangga yang sudah matang, karena memang penjual mangga hanya menjual mangga matang itu. Sekarang belum masuk musim mangga, mungkin penjual mangga ini satu-satunya di sini. Beruntung Alex dan Ana dapat menemukannya.


Alex kembali memacu mobil menuju kantor Rayn dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit mereka tiba di kantor.


"Nyonya Nita udah nungguin tuh!" Sahut Yoga saat Alex dan Ana sampai di lantai ruangan Rayn. Alex hanya menjawab dengan acungan jempolnya. Sementara Ana, ia terpana dengan paras tampan Yoga.


"Ehemm.." Alex menyadarkan Ana. Ana bergegas menyusul Alex yang sudah di depan pintu ruangan Rayn.


"Lama banget," Sahut Nita saat melihat Alex dan Ana masuk dari pintu.


"Kamu harusnya bersyukur, Nit. Sahabatmu ini masih utuh." Ana menyerahkan kantong plastik berisi rujak dan mangga kepada Nita.


"Maksudnya?" Nita memiringkan kepalanya menuggu jawaban dari Ana.


"Dia tadi balapan di jalan," Ana memutar bola matanya dengan malas.


"Kok mangganya matang, sih? Aku kan maunya mangga muda!" Nita sudah tidak merespon Ana, ia sibuk mengecek semua mangganya.


"Tapi... Susah carinya, Nit. Belum musim mangga," Jawab Ana.


"Sekarang kalian cari mangga muda sampe dapet,"


"Tapi..." Ana sudah di dorong-dorong Nita.


"Aku nggak mau tau. Apa kalian tega anakku nanti ileran cuma gara-gara nggak makan mangga muda?"


Mau tidak mau, Ana dan Alex harus pergi laci mencari mangga muda yang Nita mau. Mereka berdua tidak ingin jika anak Nita nanti ileran gara-gara mereka yang tidak mau mencarikan mangga muda.


Rayn yang sedang menyelesaikan pekerjaannya di meja kerjanya terkekeh melihat ulah istri kecilnya. Ia ingin sekali mencubit pipi chubby istrinya, tapi pekerjaannya masih menumpuk. Rayn ingin semua pekerjaannya selesai lebih cepat, ia tidak tega melihat Nita lelah menunggunya bekerja.


..........................

__ADS_1


Gimana readers?


Nantikan episode-episode selanjutnya ya... Thank you😍


__ADS_2