
SEBELUM LANJUT MEMBACA, SILAHKAN LIKE DAN VOTE DULU YA...
HAPPY READING 😍
...............................
Nita tersenyum lebar melihat Ana dan Alex menuruti keinginannya.
"Aduh," Ana menabrak Alex yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Jalan pake mata! Lo nggak liat pintu lift masih ketutup gitu?" Keluh Alex.
"Yang namanya jalan ya pake kaki lah," Jawab Ana yang baru sadar ia sudah berada di depan pintu lift.
Ia sibuk menundukkan kepalanya membaca pesan masuk di ponselnya.
"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi aku selalu mengawasimu."
Ini adalah pesan kedua dari nomor yang sama. Kemarin ia juga mendapat sebuah pesan yang isinya sama. Terdengar seperti pesan ancaman, tapi apa maksud dari pesannya. Untuk apa dia mengawasinya kalau dia tidak ada urusan maupun masalah dengannya. Ana juga tidak mempunyai musuh, akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan pesan itu.
Ia masuk ke dalam lift menyusul Alex yang sudah di dalam. Tidak ada percakapan di antara mereka hingga mereka di dalam mobil.
Alex melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia melihat ke arah kios-kios dengan jeli begitu juga dengan Ana.
"Coba lo turun! Siapa tau ada mangga muda," Sahut Alex setelah menepikan mobil.
"Gua udah dua kali nanya sama abang yang dagang buah di jalan sana tadi, nggak ada yang punya kan? Coba sekarang lo yang turun!" Jawab Ana.
Alex memutar bola matanya malas, ia turun dari mobil. Dalam hatinya ia berdoa semoga abang buah yang satu ini punya mangga muda.
"Maaf nggak ada, mas. Kalau mau adanya yang udah matang." Jawab abang buah saat Alex menanyakan mangga muda.
Alex menghembuskan napasnya dengan kasar, tanggannya mengacak rambutnya sendiri.
"Terima kasih ya, bang." Ucap Alex yang kembali ke mobil dengan wajah lesu.
Mereka melanjutkan misi mereka untuk mendapatkan mangga muda. Alex membelokkan mobil masuk ke gang kawasan pemukiman. Ia melajukan mobilnya dengan pelan. Mata mereka jeli melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada yang menjual mangga muda, maka mereka akan memetik mangga muda dari pohonnya.
Ada banyak pohon mangga yang mereka temukan, tapi tidak ada yang berbuah.
Ciitt,
Alex menginjak pedal rem tiba-tiba, Kepala Ana hampir terbentur karenanya.
"Lihat itu!" Ucap Alex yang buru-buru turun dari mobil.
Ana melihat ke arah yang ditunjuk Alex. Di pekarangan rumah yang terlihat sepi, ada tiga buah mangga menggantung di pohon.
__ADS_1
"Kita mau ambil itu?" Tanya Ana yang sudah berdiri di samping Alex, sama-sama menatap pohon mangga itu.
Alex tidak menjawab pertanyaan Ana. Ia berjalan ke pagar pekarangan rumah itu.
"Permisi," Alex berteriak-teriak di depan pagar.
Guk...guk...guk
Seekor anjing cokelat besar terikat di tiang teras rumah.
"Rumahnya kosong," Sahut Alex yang memanjat pagar rumah itu.
"Lo mau ngapain?" Tanya Ana yang menengok ke kanan dan kiri takut ada yang melihat mereka.
"Maling mangga," Alex terkekeh.
"Kalau ada yang lihat gimana? Terus itu di dalem ada anjing gede banget gitu," Tanya Ana.
"Anjingnya di ikat. Yaudah, lo tunggu di sini aja," Alex berhasil memanjat pagar.
"Gua ikutlah..." Pekik Ana yang berusaha memanjat pagar setinggi 2 meter itu.
Alex berjalan mendekati pohon mangga, meninggalkan Ana yang sedang memanjat pagar. Ia mengambil sebuah tongkat kayu yang tergeletak di bawah pohon.
"Wah nggak sampai nih," Keluh Alex.
Bug,
Alex langsung mencari-cari mangga yang jatuh di sekitar pohon. Tapi Alex tidak menemukan satu pun buah mangga. Ia mendongak ke arah pohon mangga itu.
"Mangganya masih tiga di atas. Berarti bukan mangganya yang jatuh," Ucap Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya menyapu setiap sudut pekarangan.
"Mangga raksasa ternyata!" Alex tertawa terpingkal saat melihat Ana yang terduduk di tanah dekat pagar.
"Bantuin woy!" Teriak Ana kesal.
"Sorry sorry... gua pikir tadi mangganya yang jatuh. Taunya hahahaha..." Alex tertawa lagi sambil memegangi perutnya.
"Cepet bantuin! Anjingnya ngeliatin tuh," Ana terlihat ketakutan saat anjing itu menatap ke arah mereka.
Alex mengulurkan tangan kanannya kepada Ana. Ana menyambut uluran tangan itu dengan senyuman manisnya. Tapi saat Alex menarik tangan Ana, ia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia jatuh tepat di atas tubuh Ana, mata mereka bertemu. Jantung Ana berdetak dengan cepat, seperti hampir melompat dari tempatnya.
"Jantung gua... jatuh berasa lari maraton." Batin Ana.
"Ini kenapa gua deg-degan gini?"
Satu menit mereka terperangkap dengan pesona satu sama lain. Ana membelalakkan matanya saat sadar apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Alex buru-buru bangun juga membantu Ana berdiri. Ana mengalihkan perhatiannya dengan pura-pura merapikan pakaiannya. Sementara Alex menyembunyikan rasa gugupnya dengan kembali ke pohon mangga tadi. Ia bersiap-siap memanjat pohon mangga yang cukup tinggi itu.
"Lo bisa manjat?" Tanya Ana yang melongo saat melihat Alex sudah berada di atas pohon.
"Udah biasa," Jawab Alex dengan santai.
"Iyalah udah biasa, monyet berjaket." Gumam Ana yang terkekeh.
"Tangkep!" Ucap Alex tiba-tiba melempar tangkai yang berisi tiga buah mangga.
"Aaaaa..." Teriak Ana menghindari lemparan mangga Alex.
Alex tertawa terpingkal-pingkal di atas pohon mangga. Lalu ia bergegas turun dari pohon.
Guk...guk...guk
Anjing besar cokelat itu menggonggong dengan keras. Alex menoleh ke arah anjing itu. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. Alex meletakkan uang itu di dekat tali yang mengikat anjing itu.
"Aku tidak mencuri bro! Ini uangnya untuk membayar mangga ini." Ana melongo mendengar ucapan Alex barusan.
Alex buru-buru mengambil mangga dan menarik tangan Ana yang masih melongo menatapnya. Ia membantu Ana menaiki pagar lebih dulu, baru kemudian ia menyusul Ana.
Guk...guk...guk
Gonggongan anjing terdengar semakin keras, salah satu warga keluar dari pagar rumah dekat rumah kosong itu.
"Maling!" Teriak warga itu.
"Maling?" Ucap Ana dan Alex bersamaan.
"Lari!" Alex menarik tangan Ana menuju mobil. Ana berlari dengan kaki kanannya yang sedikit pincang karena terjatuh dari pagar tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa mereka harus lari? Dimana malingnya?
"Kenapa kita lari?" Tanya Ana saat mereka sudah berada di dalam mobil. Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Warga itu sudah tidak mengejar mereka.
Pletak,
"Aauuuwww," Ana memegangi dahinya.
"Lihat nih!" Alex mengangkat mangga yang mereka curi tadi. Walaupun Alex sudah meninggalkan uangnya di dekat anjing tadi, tapi mereka tidak meminta izin kepada sang pemilik rumah. Sama saja mereka mencuri mangga, kan?
..........................
Hai readers..
Gimana episode yang satu ini?
Jangan lupa like dan vote novelku, nantikan episode-episode selanjutnya ya...
__ADS_1