Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 45


__ADS_3

HAI READERS...


LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.


HAPPY READING 😘


..............................


Rayn was-was ketika tidak melihat mobil pengawal dari kaca spion. Jalan yang ia lewati sekarang sepi, karena jalan ini adalah jalan alternatif.


"Sayang, lihat didepan!" Teriak Nita saat melihat sebuah mobil hitam melaju di lajur kiri sama dengan mobil mereka.


Aaaaaa...


Rayn tidak sempat menghindar, mobil itu melaju dengan kecepatan penuh. Rayn membanting stirnya ke kiri.


Bruk


Mobil yang ditumpangi Rayn dan Nita menabrak sebuah pohon besar. Selang sekian detik, mobil Rayn oleng dan jatuh terguling ke sungai yang alirannya sangat deras.


Darah segar mengalir di pelipis Rayn, sekilas ia melihat Nita tapi perlahan matanya metutup tidak sadarkan diri.


Yoga dan anak buahnya mencari keberadaan Rayn dan Nita dengan melacak GPS yang dipasang di mobil bos mereka. Mobil mereka terpisah dengan mobil Rayn karena tadi ada mobil misterius yang menghadang jalan mereka. Mau tidak mau mereka harus membereskan orang-orang itu dulu. Yoga berfirasat sesuatu yang buruk terjadi pada Rayn dan Nita.


Nita membuka matanya perlahan, ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Kepalanya terasa sangat pusing dan berat. Saat membuka matanya ia terkejut karena mobil mereka sudah dipenuhi air hingga sebatas dada.


"Sayang!" Teriak Nita saat menoleh melihat Rayn, Rayn tidak sadarkan diri.


Nita berusaha keras membuka pintu mobil, tapi tidak berhasil karena arus sungai deras.


"Sayang! Bangun sayang! Kita harus cepat keluar dari sini!" Nita mencoba menggoyangkan tubuh suaminya.


Ia mengecek denyut nadi suaminya. Suaminya masih hidup. Ia harus berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari mobil ini bersama Rayn.


"Bertahan, nak!" Seru Nita yang mengelus perut buncitnya.


Nita kembali mencoba membuka pintu mobil. Keluarganya harus selamat. Hanya itu yang ia pikirkan.


Aaaaaa...


Perut Nita terasa sangat sakit. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berpikir apakah hidupnya akan berakhir hari ini. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Ia terus berusaha membuka pintu disampingnya.


Klek,


Nita tersenyum bahagia, ia bergegas membuka sabuk pengaman Rayn. Ia dorong pintu mobil dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya pintu itu terbuka, ia menarik Rayn keluar dari mobil.


"Kita akan selamat, sayang!" Seru Nita saat mengeluarkan Rayn dari dalam mobil.


Bukan hal yang mudah untuk mengeluarkan Rayn yang postur tubuhnya lebih tinggi darinya dan di tengah-tengah sungai yang arusnya deras.


"Peluk erat aku!" Seru Nita yang sudah berhasil mengeluarkan Rayn.


Perjuangannya masih berlanjut karena mobil mereka berada di tengah-tengah sungai. Ia harus membawa Rayn ke tepi sungai.

__ADS_1


Aaaaaa...


Perut Nita terasa semakin sakit.


"Bertahanlah demi kami, nak!" Seru Nita.


Ia mengalungkan kedua tangan Rayn di lehernya. Ia menopang tubuh Rayn dengan punggung mungilnya.


Nita melangkah perlahan, tubuh mungilnya harus bisa bertahan dari arus. Atau mereka akan hanyut terbawa arus. Perlahan tapi pasti Nita semakin dekat dengan tepi sungai.


Bibir munginya terlihat membiru dan sedikit bergetar, ia kedinginan.


Aaaa....


Tubuhnya dan Rayn terbawa arus sungai. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Nita meraih dan memegang erat sebuah batu sungai yang besar. Tangan kirinya memegang erat tangan Rayn. Ia hanya berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa mereka. Yang Nita bisa lakukan sekarang adalah bertahan selama mungkin di batu ini.


"Mereka ada di sini!" Teriak salah satu anak buah Rayn.


Yoga terkejut melihat mobil Rayn yang sudah berada di tengah-tengah sungai. Yoga langsung berlari menghampiri salah satu anak buah yang melihat Rayn dan Nita.


"Ayo cepat kalian turun!" Teriak Yoga.


Yoga dan beberapa anak buah mereka turun ke sungai. Terlihat Nita yang berpegangan erat pada sebuah batu.


"Syukurlah kau datang tepat waktu!" Seru Nita dengan suara lemahnya.


Rayn dan Nita berhasil di bawa naik dari sungai. Yoga mereka ke rumah sakit terdekat seceoat mungkin, ia tidak peduli dengan pengendara lain yang memakinya. Nita tampak menahan rasa sakit, ia memangku kepala Rayn yang masih belum sadar.


"Kita akan segera tiba di rumah sakit, nyonya!" Sahut Yoga.


Nita menyenderkan badannya di jok belakangnya. Ia mengelus lembut kepala Rayn. Ada darah yang mulai mengering di pelipisnya.


"Aku disini, sayang!" Jawab Nita yang meneteskan air matanya karena melihat orang yang dicintainya sadar.


Rayn langsung duduk dan memeluk istri kecilnya. Ia sangat bersyukur masih bisa melihat istrinya, Rayn pikir ia tidak akan selamat. Lalu ia menatap lekat Nita yang ada di dalam pelukannya. Ia menghujani pucuk kepala Nita dengan kecupan lembut. Sungguh istri kecilnya ini sangat kuat.


"Bagaimana kita bisa selamat, sayang?" Tanya Rayn.


"Yoga datang tepat waktu, dia menolong kita saat aku sudah tidak sanggup berenang ke tepi sungai." Ucap Nita dengan lemah, pandangannya mulai kabur.


"Akan aku berikan apartemen untuk bonusmu!" Seru Rayn.


"Terima kasih, tuan!" Jawab Yoga.


Rayn merasakan pelukan Nita mengendur. Ia mengangkat kepala Nita untuk melihat wajahnya.


"Sayang?" Rayn menepuk-nepuk pipi Nita.


Rayn mengelus lembut kepala Nita, lalu perut Nita. Tapi ia terkejut saat melihat darah segar yang mengalir di kaki Nita.


"Darah!" Seru Rayn.


Yoga yang melihat ke belakang sekilas, langsung menancap gas penuh menuju rumah sakit.


"Apa yang terjadi, Ya Tuhan!" Teriak Rayn panik.

__ADS_1


Yoga langsung turun dari mobil saat mereka tiba di Alexander Hospital. Jarak rumah sakit Alexander dekat dari lokasi kejadian. Ia bergegas memanggil perawat dan membawa brankar.


Rayn tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Sampai akhirnya ia berpapasan dengan Paman Kevin.


"Nita kenapa?" Tanya Paman Kevin.


"Selamatkan istri dan anakku paman, kami kecelakaan dan sekarang Nita berdarah!" Ucap Rayn.


"Aku pasti akan menyelamatkan mereka! Sekarang obati lukamu dulu, Rayn! Kau juga butuh perawatan saat ini!" Paman Kevin bergegas mendorong brankar Nita masuk.


Di apartemen Alex,


Ana dan Alex sampai di apartemen satu jam yang lalu. Kini Ana mondar-mandir di depan Alex.


"Lo bisa duduk nggak? Pusing gua liat lo mondar-mandir kayak seterikaan!" Seru Alex yang sedang memijit kepalanya.


"Kalau pusing ya jangan lihat!" Jawab Ana dengan sewot.


"Kita udah satu jam lo di sini! Tapi kenapa Rayn sama Nita belum sampai?" Ana mondar-mandir lagi di depan Alex.


"Lo udah coba telpon mereka?" Tanya Alex.


"Ini nih yang bikin gua makin panik! Nomor mereka nggak aktif!" Jawab Ana.


"Coba telpon Yoga, secara dia itu selalu ngekorin Pak Bos." Alex memberikan ide.


"Pinter!" Seru Ana.


Ia lalu mencari kontak Yoga di ponselnya, lalu menelponnya. Jantungnya berdetak kencang saat menunggu jawaban dari Yoga. Bukan karena panik ya! Tapi Ana menyukai Yoga.


"Halo!"


"...."


"Halo?"


Lidah Ana kelu, ia tidak bisa berbicara setelah mendengar suara seksi Yoga. Alex merebut ponsel Ana dengan cepat.


"Pak bos sama Bu Bos ada dimana, bro?" Tanya Alex.


"Oh lo Lex! Kalian cepat kesini, Alexander Hospital!"


"What's wrong?" Tanya Alex penasaran.


"Kecelakaan, mere..."


Alex langsung mematikan pamggilannya dengan Yoga.


"Pak Bos dan Bu Bos kecelakaan!" Seru Alex.


Ana langsung menggandeng tangan Alex membawanya menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ana.


Rayn sejak tadi duduk di depan IGD, ia menolak untuk dibersikan lukanya. Hingga Paman Kevin keluar dari IGD dengan raut wajah membingungkan, membuat Rayn semakin takut.


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Rayn yang sudah tidak sabaran.

__ADS_1


......................


Jangan lupa like dan vote ya ❤️


__ADS_2