
Hai readers!
Sebelum lanjut membaca bab ini harus like dan vote dulu ya! Boleh juga menulis komentar sesuka kalian! Tambahkan novel ini dalam novel favorite kalian!
Happy Reading!
...........................
Terlihat Ana sedang merayu Nita untuk memakan bubur yang disuapi Ana. Tapi Nita enggan membuka mulutnya. Rayn berjalan mendekat.
"Sayang, lihat apa yang aku bawa!" Seru Rayn.
Nita langsung menoleh, ia menampakkan senyum yang terlihat dipaksa. Nita merentangkan tangannya. Rayn yang paham jika istri kecilnya meminta sebuah pelukan, langsung memeluk erat istrinya.
"Ayo kita makan bersama sayang!" Ajak Rayn.
Nita hanya mengangguk lemah. Rayn sedikit khawatir dengan keadaan Nita saat ini. Dengan telaten Rayn menyuapi Nita, Nita pun membuka mulutnya menerima suapan cinta dari suami.
"Kamu jahat, Nita!" Seru Ana yang terlihat sangat kesal.
Nita dan Rayn kompak menaikkan sebelah alisnya.
"Aku sudah bersusah payah merayumu untuk makan, kamu sama sekali tidak membuka mulut. Dan sekarang?" Keluh Ana yang membuat Rayn menggelengkan kepalanya.
"Aku memang sedang sakit. Tapi aku bukan nenek-nenek yang harus makan bubur!" Seru Nita.
"Baiklah!" Ana menyerah, ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Nita.
Ana melemparkan bemper teposnya di sofa. Ia memilih untuk memainkan ponselnya, daripada melihat adegan romantis pasangan suami istri di hadapannya. Sesekali ia celingukan melihat pintu, berharap Alex datang. Walaupun Alex menyebalkan, tapi pria itu sangat dibutuhkan di saat-saat seperti ini.
"Kapan aku bisa pulang?" Tanya Nita.
"Kamu bahkan belum boleh terlalu banyak bergerak, jadi jangan pikirkan itu dulu!" Jawab Rayn dengan nada lembut.
"Hmm," Nita memutar bola matanya dengan malas.
"Aku ingin mengunjungi makam putri kita!" Ucap Nita dengan lirih.
"Nanti akan aku bicarakan dengan Paman Kevin," Rayn mengelus pucuk kepala istrinya.
Nita langsung memeluk suaminya. Rayn paham perasaan istrinya.
"Ayo makan lagi!" Seru Rayn yang melepaskan pelukannya.
"Kamu juga makan!" Nita mengambil alih sendok dan menyuapi Rayn.
Cup,
Rayn menghadiahkan sebuah kecupan singkat di bibir Nita.
"Nasi gorengnya tambah enak!" Ucap Rayn.
"Apaan sih! Ada Ana di sini!" Seru Nita.
"Sejak kapan kamu melihat keadaan sekitar sebelum bermesraan?" Sahut Ana yang menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa.
Rayn terkekeh mengingat serangan mendadaknya. Sementara Nita, pipinya merah seperti tomat. Rayn bersyukur akhirnya ia bisa melihat pipi merah Nita lagi.
__ADS_1
"Makanya cepat menikah, agar bisa merasakan juga! Akan aku suruh Alex untuk segera melamarmu!" Seru Rayn di sela tawanya.
"Alex udah punya tunangan!" Jawab Ana dengan nada malasnya.
"Tunangan?" Seru Rayn dan Nita serempak.
"Iya," jawab Ana dengan raut wajahnya yang berubah menjadi sedih.
"Aku mau mepet Yoga aja!" seru Ana.
"Yoga?" seru Rayn dan Nita serempak.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Kamu nggak lihat dia pakai cincin kawin?" tanya Nita.
"Astoge! Mending sama Alex, ya? Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa ditikung hehehe" sahut Ana.
"Dasar!" Nita memutar bola matanya malas.
"Jodoh nggak akan kemana! Nanti juga ketemu pas udah tepat waktunya," Ucap Nita.
Ana mengangguk, lalu ia kembali fokus pada ponselnya karena Rayn dan Nita melanjutkan kemesraan mereka.
Rayn sangat telaten mengurus istrinya. Selesai sarapan, ia mengelap tubuh istrinya dengan air hangat. Ia juga mengganti pakaian Nita.
Sorenya, Rayn mengajak Nita berjalan-jalan dengan menggunakan kursi roda. Paman Kevin sudah memberikan izin. Mereka berdua berjalan menyusuri taman rumah sakit.
Nita menghirup udara dalam-dalam. Ia sangat rindu udara segar. Baru satu hari ia dirawat di rumah sakit tapi rasa bosan sudah menghampiri. Rayn menghentikan kursi roda Nita di samping sebuah bangku taman yang menghadap kolam ikan. Tidak lupa ia kunci rodanya. Ia menggenggam erat tangan Nita.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Rayn.
"Maaf,"
"Maaf untuk apa?" tanya Rayn.
"Aku tidak bisa menjaga putri kita dengan baik," ucap Nita dengan nada sendu.
Rayn terkejut dengan apa yang Nita katakan, ia berjongkok di depan kursi roda Nita. Ia menangkup wajah Nita dengan kedua tangannya. Dan ia tatap Nita dengan dalam.
"Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri dalam kejadian kemarin. Kalau ada yang harus disalahkan, itu aku. Aku tidak becus melindungi kalian. Aku gagal menjadi seorang suami untukmu dan papa untuk putri kita. Aku minta maaf!" ucap Rayn dengan matanya berkaca-kaca.
"Kamu tidak pernah gagal! Kamu adalah suami dan papa terbaik di dunia," Nita menciumi kedua tangan Rayn yang menangkup wajahnya.
"Aku sangat berterimakasih padamu, sayang! Kamu berjuang mati-matian untuk menyelamatkanku. Kemarin kamu bisa saja meninggalkanku, tapi kamu tidak melakukannya."
"Karena aku mencintaimu! Sekarang tolong sekali saja katakan kalau kamu juga mencintaiku!" ucap Nita.
"Kamu tahu kan, aku tidak pandai mengatakan kata cinta?" sahut Rayn.
"Sekali saja?"
"Aku juga mencintaimu! Sangat mencintaimu, istri kecilku!" jawab Rayn yang membuat Nita tersenyum dan memeluk erat Rayn.
"Minggu depan kamu boleh pulang, kita akan mengunjungi pusara putri kita!" sahut Rayn.
"Kenapa masih lama sekali?" keluh Nita.
__ADS_1
"Dokter masih harus memantau kondisimu, sayang! Terutama luka operasi di perutmu," jawab Rayn.
"Tapi..."
"Sudah, tidak ada bantahan lagi! Kamu harus sembuh dulu!" ucap Rayn.
Nita mengangguk, menuruti perintah suaminya. Ia mengelus perutnya sekilas. Dadanya terasa sesak kala melihat perutnya yang sudah rata lagi. Ia rindu mengobrol dengan putrinya. Tidak terasa, air matanya menetes. Rayn merasa kemejanya agak sedikit basah. Ia langsung melepas pelukannya.
"Kamu kenapa menangis lagi, sayang?" tanya Rayn dengan lembut.
Nita tidak merespon pertanyaan Rayn. Ia masih memandangi perutnya dan sesekali mengelusnya pelan. Rayn paham apa yang membuat Nita menangis.
"Sayang! Dengarkan aku!" Rayn mengangkat wajah Nita agar menatapnya.
"Ikhlaskan kepergian putri kita! Ini sudah menjadi takdirnya. Dia sudah dilahirkan ke dunia, meskipun dia tidak sempat membuka mata dan menyapa dunia ini." sahut Rayn.
Rayn menghapus air mata Nita dengan kedua ibu jarinya.
"Aku yakin dia pasti ingin melihat senyum mama dan papanya dari atas sana!" lanjut Rayn.
Nita mengangguk pelan, ia mendongak ke atas menatap langit dan memberikan senyuman terlebarnya.
Cup,
Rayn menghadiahkan sebuah kecupan singkat di kening Nita dengan penuh perasaan.
"Ayo kita masuk ke dalam! Udaranya semakin dingin," ucap Rayn.
"Iya, sayang!" jawab Nita.
Rayn mendorong kursi roda Nita dengan perlahan. Sesekali ia memberikan lelucon-lelucon untuk Nita. Walaupun terkadang garing, tapi Nita selalu tertawa. Nita pun tidak ingin mengecewakan suaminya yang selalu berusaha menghiburnya.
Drrtt...drrrtttt
Rayn melihat nama Ben di layar ponselnya. Ia meminta tolong kepada Ana untuk membantu Nita berbaring di bednya.
"Katakan!"
"Saya dan Yoga mendapatkan petunjuk mengenai dalang dari kejadian tempo hari, tuan!"
"Sungguh?"
"Yoga kemarin menyekap Salah satu orang yang menyerangnya di jalan. Dan saya berhasil membuatnya buka mulut!"
"Aku akan pulang ke mansion! Kita bicarakan di ruang kerjaku!"
Rayn mematikan teleponnya secara sepihak.
"Sayang, aku pulang ke mansion sebentar. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan! Kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?" ucap Rayn.
"Iya, sayang. Di sini kan ada Ana yang menemaniku. Kamu tidak usah khawatir! Hati-hati di jalan!" jawab Nita.
Rayn mengecup bibir Nita sekilas, lalu berjalan keluar kamar inap Nita.
...........................
Jangan lupa like dan vote ya! Rate juga! ❤️
__ADS_1