Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 34


__ADS_3

SEBELUM LANJUT MEMBACA, SILAHKAN LIKE DAN VOTE DULU YA...


HAPPY READING 😍


...............................


Rayn memiliki alasan tersendiri, ia hanya ingin keamanan istri dan anaknya terjamin. Setelah kejadian tadi, ia bahkan tidak mempercayai siapapun. Bisa saja ada musuh dalam selimut. Kalau tidak ada musuh dalam selimut bagaimana bisa musuhnya tahu persis kapan Nita keluar dari mansion, dengan mobil yang mana. Tentu semua kejadian hari ini sudah direncanakan dan disusun dengan baik.


Ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya lewat dua orang yang menyerangnya di jalan tadi. Ben menyekapnya di ruangan bawah tanah. Rayn berusaha bertindak tanpa membuat istrinya khawatir dan takut.


Nita melihat Amira yang berdiri mematung di di dekat tangga. Sepertinya ia mendengar semua ucapan Rayn yang menggantikan posisinya dengan Ana.


"Amira?" Nita menegur Amira yang masih bengong di tempatnya.


"Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Amira yang menghampiri Nita.


"Kau sudah mendengar semuanya?" Nita mengatakan pertanyaan yang membuat Amira mengangguk perlahan.


"Seperti yang kau dengar mulai hari ini Ana yang akan mengurusi kebutuhanku. Rayn memutuskan ini karena aku yang memintanya. Aku kasihan melihatmu keteteran mengurus pekerjaan di dapur dan mengurus kebutuhanku sekaligus." Ucap Nita berbohong, sebenarya ia tidak tahu jika Rayn akan memperkerjakan Ana.


Melihat Nita yang sedang berbicara dengan Amira dan juga Ana. Alex memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitahu kejadian yang terjadi beberapa jam lalu.


"Bos, ada yang mau saya katakan!" Alex berbisik membuat Rayn penasaran.


"Kita bicara di luar saja!" Ucap Ryan yang memberi kode jika ada banyak kamera CCTV di dalam mansion.


"Kau tetap di sini!" Rayn menatap serius ke wajah Yoga membuat Yoga menundukkan wajahnya.


"Mungkin buaya albino ada informasi penting," Batin Yoga.


Yoga dan Alex berteman sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Bahkan mereka kuliah di kampus dan jurisan yang sama. Tapi, Alex melenceng dan mengasah kemampuannya sebagai pembalap mobil. Berbeda dengan Yoga yang bersikap formal dan patuh saat jam kerjanya dengan Rayn, Alex bersikap santai kepada Rayn maupun Nita. Gaya bicaranya juga tidak kaku, malah terdengar seperti sedang berbicara dengan temannya. Mungkin karena lingkup pergaulan Alex yang berbeda dengan Rayn Yoga.


Alex seringakali bersikap konyol dan menyebalkan. Tapi dibalik kekonyolannya ia adalah pria yang ramah dan supel walaupun kadang sedingin es batu. Dan tak jarang ucapannya suka ceplas-ceplos. Berbanding terbalik dengan Yoga yang cenderung dingin dan cuek.


"Ada yang memata-matai Ana, bos! Tadi sebelum ke sini saya melihat seorang pria tinggi besar mengikuti Ana dari kantor sampai ke rumahnya. Dia juga memotret Ana dari jauh!" Ucap Alex setengah berbisik sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


"Hmm... kenapa orang itu memata-matai Ana? Apa Ana punya masalah dengan seseorang?" Rayn berbalik bertanya membuat Alex menepuk jidatnya.


"Apakah bos tidak curiga jika dalangnya sama?"


"Kita lihat saja senekat apa mereka!" Rayn memicingkan matanya. Dia berjalan santai meninggalkan Alex sendirian di kebun anggrek milik Maya. Tempat ini tidak terpasang kamera, tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali Rayn dan Ben kepala kemananan mansion.


"Aku akan selidiki diam-diam," Gumam Alex dalam hati.

__ADS_1


Alex sedikit heran melihat Rayn yang santai setelah kejadian-kejadian yang hampir mencelakakan istrinya yang sedang hamil, bahkan sahabat istrinya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya apakah bosnya sudah merencanakan sesuatu?


Tiga hari setelah rentetan kejadian itu,


Rayn memperhatikan sekelilingnya, ia akan menemui Ben di ruangan rahasianya di bawah tanah.


Di sana terlihat papanya dan Ben berdiri memandangi kedua orang yang diikat di kursi kayu. Sekujur tubuh mereka terlihat lebam dan berdarah di beberapa bagian.


"Lihatlah, Rayn! mulut mereka sepertinya sudah tidak bekerja dengan baik. Ben sudah memukuli mereka, tapi mulutnya tidak mengatakan apalun!" Bram tersenyum smrik.


"Berapa banyak uang yang dia berikan sampai-sampai mulutmu itu tertutup rapat?" Teriak Rayn.


Kedua orang itu tetap diam, hanya sesekali merintih karena menahan sakit.


"Sudah tiga hari kalian aku sekap! Apa kalian yakin akan tetap bungkam?" Rayn mendekati orang itu satu per satu.


Bug,


Sebuah tinju mendarat di perut orang yang diikat di kursi sebelah kanan.


Bug,


Rayn melayangkan tinju yang sama mengakitkannya di perut orang yang di kursi sebelah kiri.


"Kami belum pernah bertemu langsung dengannya!" Jawab salah satu dari mereka dengan suara yang sedang menahan rasa sakit.


Ben muncul dari salah satu ruangan dengan membawa dua buah pistol. Ben siap membidik kedua kepala yang menjadi sasaran pistol yang ada di kedua tangannya. Keakuratan tembakan Ben diakui oleh Bram dan Rayn.


"Katakan siapa yang menyuruh kalian!" Teriak Rayn.


"Arrgghh..." Rayn menggeram menahan emosinya.


"Kuhitung sampai tiga!" Teriak Bram membuat kedua orang itu gelagapan.


"Satu!"


Mereka masih belum mengatakan apapun. Kedua orang itu saling menatap satu sama lain.


"Dua!"


Rayn mengepalkan kedua tangannya, wajahnya memerah. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya.


"Ti..."

__ADS_1


"Ampuni kami, Tuan. Anak-anak saya masih kecil, mereka membutuhkan ayahnya. Kami benar-benar belum pernah bertemu dengannya! Kami hanya bertemu dengan orang suruhannya saja!" Sahut salah satu dari orang itu.


Bram melirik ke arah Ben memberikan isyarat untuk menurunkan pistol. Rayn memandang papanya dengan tatapan bingung.


"Siapa orang suruhannya itu?" Tanya Rayn menyelidik.


"Salah satu dari kami yang sudah anda bunuh di tempat kejadian!"


"Sial!" Rayn mengumpat kesal. Ia merebut sebuah pistol dari tangan Ben.


Dor,


Tembakan Rayn menembus perut orang yang diikat di kursi sebelah kanan. Kini ia mengarahkan pistolnya ke sebelah kiri orang itu.


"Mereka belum pernah bertemu dengan bos mereka! Mereka mati pun tidak ada untungnya untuk kita!" Bram menepuk bahu Rayn.


"Jangan kotori tanganmu untuk membunuh mereka!" Lanjut Bram.


"Tapi pa..." Ucapan Rayn dipotong papanya.


"Apa yang mereka ucapkan selalu sama selama tiga hari, tuan." Sahut Ben.


"Kendalikan emosimu, Rayn! Kita ikuti permainan mereka!" Jawab Bram.


"Benar, tuan. Saya akan memperketat sistem keamanan mansion!" Sahut Ben membuat Rayn menoleh kepadanya.


"Aku percayakan kepadamu! Apa mungkin ada musuh dalam selimut, bagaimana menurut papa?" Rayn menatap Bram lekat.


"Aku juga sudah menduganya!"


"Untuk sementara waktu, jangan izinkan Nita berpergian keluar dari mansion!" Bram menepuk pundak Rayn.


"Iya, pa." Rayn mengangguk paham.


Bram meninggalkan ruangan rahasia itu, menyisakan Ben, Rayn, dan kedua orang yang sudah tidak berdaya. Sesaat keheningan mengeruak di ruangan yang gelap dan pengap itu.


"Lepaskan mereka, Ben!" Sahut Rayn memecah keheningan.


"Baik, tuan!" Ben menganggukkan kepalanya mantap.


"Jadikan mereka bagian dari anggota keamanan mansion!"


Ben menjawab dengan anggukan, ia setuju dengan keputusan Rayn.

__ADS_1


.....................


Jangan lupa like dan vote ya readers! Thank you 😘


__ADS_2