
Di sebuah perusahaan green Alexa yang merupakan salah satu anak perusahaan Alexander group, berjajar para petinggi perusahaan di barisan kursi meeting. Di ujung meja terlihat sosok pria tampan dengan tatapan datar tanpa ekspresi yang merupakan Rayn, pemimpin meeting pada hari terakhir tugasnya ini.
Meeting ditutup dengan keputusan dari sang presdir, keputusan yang mutlak ditaati oleh seluruh staf. Semua jajaran petinggi dan staf mengangguk hormat dan satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan. Begitu pula Rayn dan asistennya.
"Mari tuan, pesawat sudah siap dilandasan." Yoga memberitahu Rayn bahwa pesawat pribadinya sudah siap untuk lepas landas menuju ke negara tempat tinggalnya.
Di sisi lain,
Nita mengemasi trolinya, meletakkan kembali pada tempatnya. Tiga hari ini Nita merasa sangat kacau. Ia tidak melihat Rayn sama sekali. Mudahnya Rayn melupakan kejadian malam itu, seakan tidak terjadi apa-apa. Ia memutuskan untuk segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
.............................
Suara ayam berkokok bersahutan, Nita yang mendengar alarm alaminya itu langsung bergegas membersihkan dirinya, tak lupa ia menyiapkan bekal makam siangnya. Nita memang selalu membawa bekal untuk makan siang, ia ingin menghemat pengeluarannya. Sehingga uangnya akan cepat terkumpul, dan akan cepat pula ia mewujudkan mimpinya.
Pagi ini Nita memilih untuk berjalan kaki, karena selain hemat jalan kaki juga sehat toh tempat kerjanya tidak begitu jauh dari kosannya. Ia berjalan dengan sedikit santai, jam di tangannya masih menunjukkan pukul 06:08 pagi. Nita menghirup dalam-dalam udara pagi yang belum terlalu tercemar dengan aktivitas ibukota. Langkahnya terhenti, Nita sudah sampai tempat tujuannya dengan selamat.
"Pagi Ana cantik." Nita menyapa Ana yang sedang duduk menatap botol air minumnya.
"Pagi juga cantik." Ucapan Ana terpotong,
"Eh lo tau ngga, gimana caranya bikin ibu-ibu marah." Sambung Ana dengan antusias.
"Kita pecahin gelas di rumah."
"Kurang berani itu mah ta." Ucapan Ana terpotong
"Kita umpetin Tupperware nya...hahaha..." Anaa terkekeh. Selera humor Ana memang receh, namun Nita sangat menyukai sifat sahabatnya yang tiba-tiba melawak tak jelas seperti itu.
"Receh banget Ckckck..." Nita menggelengkan kepalanya.
Candaan Ana menemani Nita pagi ini, sedikit mengurangi beban hidup Nita yang berat. Hingga tiba waktunya makan siang. Nita yang sudah siap menyantap bekalnya itu terpaksa berhenti karena Ana mengajaknya ke minimarket depan hotel.
__ADS_1
Deegg,
"Mobil sialan itu ada di sini." Nita menghentikan langkahnya saat ia melihat mobil mewah yang sama persis dengan mobil yang membuatnya basah kuyup tempo har, bahkan plat nomor nya sama. Nita mengambil sebuah batako disudut area parkir.
Buugg,
Nita nekat melempar batu itu ke arah kaca pintu samping mobil mewah alias mobil Rayn.
"Nitaaa...itu...itu...mobilnya... anu..." Ana yang tahu kalau itu mobil Rayn hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Siapa pemilik mobil sialan ini, Na? Asal kamu tau ya, mobil sialan ini yang udah bikin aku basah kuyup tempo hari. Sombong banget Yang punya mobil sialan ini, mentang-mentang kaya terus seenaknya gitu."
"Siapa yang sombong?" Terdengar suara yang menggelegar, Nita hanya menggenggam tanggannya di udara. Ia menyadari siapa pemilik suara sekaligus pemilik mobil itu.
"Kau bocah ingusan, mobil yang kau bilang mobil sialan ini adalah mobilku. Dan gajimu tidak akan cukup untuk mengganti kerusakannya." Rayn sudah berdiri tepat di hadapan Nita.
Pletak,
Ryan menjentikkan tangannya ke dahi Nita. Nita tampak meringis kesakitan.
"Ingat bocah ingusan. Kau berhutang padaku, suatu hari nanti aku akan menagih hutangmu." Ucap Rayn dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
"Jangan sampai kau menyesal suatu hari nanti karena semua drama ini, Tuan." Suara hati Yoga yang terdalam.
"Dasar tuan arrogant yang kejam!" pekik Nita saat Rayn dan Yoga sudah melesat membelah jalanan ibukota dengan mobil mewah yang sedikit ringsek itu.
"Lo ada hubungan apa sama pak bos, Ta? Lo berani banget ngomong kaya gitu. Gue bangga sebagai sahabat lo, Ta." Ucap Ana yang sedang menarik Nita ke arah minimarket.
"Dia bukan siapa-siapa. Dia itu cuma pria kejam yang memang sebagai wanita kita harus melawan." Sebuah kalimat bijak keluar secara spontan yang sukses membuat Ana melongo tak percaya. Ia hanya menempelkan punggung tangannya ke dahi Nita. Ana bingung Angin apa yang bisa membuat sahabatnya itu menjadi bijak dalam sekejap.
Di dalam hati kecil Nita, ia sebenarnya menangis. Perempuan mana yang bisa melupakan kejadian yang Nita alami sekarang. Nita bahkan tidak berani menelpon paman dan bibinya yang ada di kampung halaman. Ia tidak ingin membuat kedua orang yang sangat sayang kepadanya menjadi kecewa. Ingin rasanya ia pergi dari kehidupan yang sangat tidak adil kepadanya ini. Namun, Nita selalu teringat amanat mendiang ibunya yang berpesan untuk melanjutkan pendidikannya. Amanat mendiang ibunya itulah yang menyemangati Nita hingga saat ini.
__ADS_1
Hari ini Nita lalui dengan berat, karena ia bertemu lagi dengan pria kejam itu. Banyak teman kerja Nita yang memergokinya saat ia melamun. Sedangkan pria kejam itu terlihat seperti tidak ada beban sama sekali. Apakah semua orang kaya seperti itu? Apakah mereka tidak memiliki perasaan?
Bruukk,
Mimpi buruk datang kembali pada Nita. Ia tidak sengaja menabrak Rayn, tubuhnya hampir terjerembab ke lantai yang keras. Nita sudah menutup matanya, ia sudah siap merasakan kerasnya lantai marmer putih itu. Namun, belum sampai tubuh Nita terjerembab, Raym dengan sigap sudah menangkap tubuh langsing Nita. Tatapan mereka bertemu.
*Deegg,
"Wajahnya tampan sekali." Batin Nita*.
Mereka saling pandang. Bola mata biru kehijauan Rayn bertemu dengan bola mata hitam indah milik Nita. Rayn mulai tersadar, ekspresinya mulai berubah.
"Jangan jatuhkan saya lagi tuan." Nita seakan paham adegan selanjutnya yang akan terjadi.
"Cek..." Rayn berdecak.
"Kalau tidak mau saya lepasin lagi, cepat berdiri yang benar. Jangan mengambil kesempatan." Ucap Rayn dengan begitu percaya diri jika Nita mengambil kesempatan untuk memeluk tubuhnya.
"Baik, Tuan." Nita sudah berdiri tegak tepat di hadapan Rayn. Rayn meninggalkannya begitu saja. Nita menghentakkan kaki kanannya dengan keras.
"Sebenarnya terbuat dari apa hati orang itu, tidak pernah merasa kasihan pada orang lain. Bahkan tatapannya begitu dingin dan datar. Berbicara dengannya seperti bicara sama tembok saja. Wajahnya datar seperti tembok tanpa ekspresi sama sekali. Dasar pria kejam, Mr Arrogant." Batin Nita
............................
Hai readers...
Terimakasih sudah membaca novelku ini...
Nantikan episode-episode selanjutnya, yang pastinya akan ada banyak kejadian-kejadian tak terduga...
Jangan lupa dukung novel ini,
__ADS_1
Aku akan membuat visual pemeran secepatnya, agar kita semakin lancar berimajinasinya ya...
Thank you and Happy reading 😍