Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 18


__ADS_3

Sebenarnya Rayn hanya menebak pikiran Nita, dia mengalihkan pandangannya. Pipinya juga merah seperti tomat. Rayn mengedipkan sebelah matanya saat Nita meliriknya. Nita langsung masuk ke dalam selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut itu. Dia sangat malu saat ini. Rasanya Nita ingin bersembunyi ke dalam lubang semut saat ini juga.


"Matamu bisa saja berbohong dengan mengalihkan pandanganmu. Tapi, pipimu itu tidak akan pernah bisa berbohong hahaha." Rayn terkekeh. Dia menyusul Nita ke dalam selimut.


"Pait pait pait, jangan mendekat." Batin Nita.


Rayn bukanlah lebah yang jika diberi mantra 'Pait pait pait' tidak mendekat. Rayn sudah berbaring di ranjang yang sama dengan Nita, dan di bawah selimut yang sama juga. Meskipun hari ini bukan pertama kalinya mereka tidur seranjang, tetapi mereka tetaplah gugup. Jantung mereka berdegup kencang, hari ini mereka tidur di ranjang ini sebagai pasangan suami istri. Jika mereka mendekat 5 sentimeter saja pasti mereka bisa mendengar detak jantung yang tak beraturan itu.


"Berapa umurmu?" Tanya Rayn memecah keheningan di antara keduanya.


"18 tahun, Tuan."


"Istri kecil rupanya. Kau tahu berapa umurku?" Rayn terkekeh.


"Tidak tahu." Jawab Nita pura-pura tidak tahu.


"Aku rasa kau hanya berpura-pura tidak tahu, semua pegawai di hotel tahu pasti bahwa bosnya ini berumur 28 tahun."


"Atau kau memang benar-benar tidak tahu? Karena wajahku ini terlihat seperti masih sepantaran denganmu hahaha." Sambung Rayn yang tidak tahan melihat ekspresi lucu dari Nita.


"Saya sudah tahu, Tuan. Saya tidak terlalu terkejut mempunyai suami tua sepertimu." Nita membungkam mulutnya seketika, kedua matanya melotot menyadari apa yang dia katakan.


Pletak,


"Beraninya kau memanggilku suami tua." Sahut Rayn saat menyentil kening Nita.


"Aauuuwww, sakit tuan. Kau sudah dua kali melakukan KDRT kepadaku." Nita mendengus kesal.


"Aku ini suamimu, jadi kau harus menghormatiku." Jawab Rayn dengan tatapan dingin menusuk sampai ke tulang Nita.


"Ma...maaf tuan." Ucap Nita sambil menunduk takut.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan 'Tuan'. Panggil aku dengan panggilan seorang istri kepada suaminya."


"Sa...saya tidak tahu, Tuan." Jawab Nita.


"Berhentilah mengatakan 'Saya'. Katakan 'Aku' dan jangan katakan 'Kau' lagi. Tapi katakan 'Kamu'."


Deegg,


"Suami tua ini sungguh memnyebalkan, sebentar-sebentar sikapnya dingin. Dan sekarang, mulai bersikap manis seperti ini. Apa dia benar-benar tidak suka padaku?" Batin Nita.

__ADS_1


"Iya, Aku akan memikirkan panggilan yang cocok untukmu." Jawab Nita.


"Bagus." Rayn mengacak rambut Nita.


Nita memonyongkan mulutnya saat Rayn mengacak rambutnya. Rambutnya yang sudah ia sisir rapi. Nita berdoa agar tumbuh rasa cinta dalam hatinya untuk Rayn, dan sebaliknya. Agar kelak keluarga kecil mereka yang sebentar lagi bertambah satu anggota bisa bersama selamanya.


"Mmmm... Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Nita.


"Hemmm."


"Aku ingin jalan-jalan keluar." Ucap Nita memberanikan diri.


"Hemmm."


"Apa aku harus belajar membaca pikiranmu dulu suami tua. Dari tadi hanya ham hem ham hem aja." Batin Nita.


"Boleh?" Tanya Nita dengan semangat 45.


"Tidak boleh." Jawab singkat Rayn yang langsung membuat Nita lemas. Rayn melihat raut wajah Nita yang berubah jadi sedih. Nita terlihat sangat ingin jalan-jalan keluar dari mansion.


"Tidak boleh jika tidak ada yang menemanimu." Sambung Rayn memberi kabar baik untuk Nita.


"Aku akan pergi bersama Amira."


"Pelayan di mansion ini, tadi dia yang memasak untukku. Usianya sepantaran denganku." Jawab Nita polos.


"Kamu mau pergi jalan dengan seorang pelayan?" Ucap Rayn.


Satu detik,


Dua detik,


Nita terpana mendengar Rayn memanggilnya dengan kata 'Kamu'.


"Hey... Katakan! Kenapa kamu mau pergi jalan dengan seorang pelayan. Kamu adalah Nyonya Muda, istri dari Rayn Alexander."


"Aku... aku tidak punya teman. Temanku satu-satunya dia bekerja di hotelmu. Bagiku semua teman sama saja. Bolehkah aku pergi bersama Amira?" Ucap Nita menunduk.


"Baiklah kamu boleh pergi dengannya, aku akan menyuruh 2 orang body guard untuk pergi bersama kalian." Jawab Rayn.


"Tidak usah, kami pergi berdua saja."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menyuruh 10 orang untuk mengawalmu."


"Iya iya... suruh 2 orang saja. Tapi aku mau mereka mengawasiku dari jauh saja. Aku ingin pergi layaknya orang biasa seperti aku dulu." Nita menatap Rayn dengan puppy eyesnya.


"Ya sudah." Rayn mengalah tapi Rayn akan menyuruh 2 orang lagi tanpa sepengetahuan Nita. Dia tidak ingin Clara mendapat celah untuk mencelakai keluarganya.


"Hatinya sangat tulus. Dia juga tidak memandang uang dan jabatan seperti wanita di luar sana. Mereka sering menggodaku karena mereka menginginkan uangku. Dia berbeda." Batin Rayn.


Nita senyum-senyum sendiri karena sudah mendapat izin dari Rayn. Setelah makan malam nanti dia akan berbicara pada Amira dan meminta izin dari Bram dan Maya. Sedangkan Rayn, dia juga tersenyum sendiri saat memperhatikan sikap Nita. Hari ini Rayn menyadari hal penting yang tidak ia perhatikan selama bersama Nita. Yang ia tahu Nita adalah seorang gadis yang masih kekanak-kanakan dan sedikit bodoh. Tapi hari ini Nita menunjukkan sisi lain dari dirinya. Nita adalah gadis yang tulus dan tidak menjadikan uang sebagai dasar dari hubungannya dengan orang lain. Nita bahkan menjadikan pelayan sebagai temannya.


Nita tertidur dengan senyum yang mengembang. Dinaikkannya selimut tebal itu sampai ke bahu menutupi tangannya. Dia tidur dengan posisi menghadap ke arah Rayn. Sedangkan Rayn tidur terlentang dengan kedua tangannya ia jadikan sebagai bantal. Rayn ikut memejamkan matanya.


.............................


Pukul 8 malam,


Para pelayan berjajar rapi tak jauh dari meja makan. Mereka baru saja menyelesaikan tugas mereka untuk menyiapkan makan malam. Aroma lezat dari menu makan malam hari ini membumbung tinggi terbawa angin. Siapapun yang menciumnya pasti ingin segera menyantapnya.


Terlihat Bram dan Maya menuruni anak tangga. Tinggal dua anak tangga lagi mereka sampai di lantai satu mansion ini. Pada waktu-waktu tertentu Bram dan Maya menggunakan tangga. Mungkin mereka ingin tetap melatih dan menjaga otot-otot kaki mereka, mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi. Jadi, aktivitas seperti berjalan menuruni anak tangga akan sangat bermanfaat untuk tubuh mereka.


Bram duduk di kursi paling ujung, dan Maya duduk di kursi sebelah kanan depannya.


"Bi Siti..." Maya memanggil Bi Siti. Bi Siti adalah kepala pelayan di mansion.


"Iya, Nyonya."


"Dimana Rayn dan Nita?"


"Tuan Rayn dan Nyonya Nita belum turun, Nyonya." Jawab Bi Siti.


"Ya sudah, aku akan memanggil mereka." Sahut Maya.


"Sayang, aku ke kamar mereka dulu." Maya menatap Bram sambil tersenyum.


"Iya, Sayang." Bram membalas senyum Maya dengan senyuman termanisnya.


Maya menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia melangkah menuju lift. Suaminya itu memang sangat manis. Tetapi sikap Bram saat bersama orang lain (Bukan keluarga) sangatlah berbeda. Bram akan menampilkan wajahnya yang datar dan angkuh. Sekarang Maya sudah berada di dalam lift dan menekan tombol-tombol di depannya. Lift bergerak dengan kecepatan sedang.


.............................


Hai readers,

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novelku ini, jangan lupa like dan dukung novelku ini ya...


Thank you😍


__ADS_2