
HAI READERS...
LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.
HAPPY READING 😘
...............................
"Gua ngurusin lo berhari-hari di rumah sakit, masih kurang? Gua kira lo nolongin karena bener-bener peduli sama gua, Tau bakal kayak gini kemarin-kemarin gua nggak usah ngerawat lo!" Tanya Ana yang membuat Alex terdiam, Ana bergegas meninggalkan apartemen Alex.
"Ana!" Alex mengejar Ana.
Ana berlari dengan cepat, ia bahkan tidak memperhatikan jalanan. Alex melihat sebuah mobil box melaju dengan cepat.
"Ana!" Teriak Alex berusaha memanggil Ana.
Ana langsung menoleh ke samping kanannya, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sudah pasrah jika harus tertabrak mobil dan meninggal.
"Aaaa...." Teriak Ana.
Bruk,
Alex memeluk Ana dan langsung membawanya meloncat ke pinggir jalan. Ana terjatuh di selokan, kepalanya terasa sakit hingga membuatnya pingsan. Alex jatuh terjerembab ke dalam selokan bersama Ana, syukur Alex tidak terluka. Hanya lututnya sedikit lebam, dan bahunya terasa nyeri. Alex segera membopong Ana membawanya ke apartmennya.
Luka bekas operasinya terasa nyeri saat membopong Ana, tapi ia tetap berusaha membawa Ana ke dalam apartemennya. Susah payah Alex membawa Ana, terasa ada cairan yang mengalir di tangan kanannya. Ia mengabaikannya dan bergegas masuk ke dalam lift.
Tiinngg,
Pintu lift terbuka lebar mereka sampai di lantai 8, lantai dimana unit Alex berada.
Alex membaringkan tubuh Ana perlahan di sofa ruang tengah apartemennya. Ia mengecek kepala Ana, dan menemukan benjolan kecil di sana. Ia segera mengambil air es untuk mengompres kepala Ana. Ia meringis menahan nyeri di bahu kanannya.
"Aduh, bahu gua kok tambah sakit gini!" Gumam Alex saat mengompres kepala Ana.
Perlahan Ana mengerjapkan matanya, ia mulai sadar.
"Dimana ini?" Batin Ana.
Ana mencoba merangkai potongan kejadian yang melintas di otaknya. Tadi ia berlari dari apartemen Alex, dan ia ditabrak sebuah mobil box yang melaju kencang.
"Gua pasti udah mati, badan gua udah nggak kerasa apa-apa lagi!" Batin Ana yang masih berusaha membuka matanya.
"Ini pasti surga! Tapi kok tempatnya nggak asing ya?" Gumam Ana.
__ADS_1
"Ana?" Sahut Alex.
"Wah ada pangeran di sini. Apa aku benar-benar ada di surga sekarang?" Gumam Ana yang bisa di dengar jelas oleh Alex.
Pletak,
"Ngawur ni bocah! Sadar woy! Ini apartemen Gua bukan surga hahaha!" Alex tertawa terpingkal.
"Aduh jidat gua kerasa sakit, berarti bener gua masih hidup! Syukurlah!" Celoteh Ana.
Tawa Alex terhenti karena bahunya terasa nyeri lagi. Ia meringis kesakitan. Wajah Ana berubah menjadi cemas saat melihat Alex yang meringis kesakitan.
"Lo kenapa?" Tanya Ana.
"Nggak tau, ini sakit lagi!" Alex menunjuk bahu kanannya.
"Astoge! Jangan bilang lo gendong gua sampe sini!" Ana meraba-raba bahu Alex.
"Iya jelas lah! Kalau nggak gua gendong, lo gimana bisa sampai sini? Terbang?" Alex mengomel tidak jelas.
"Sini lihat!" Ana membuka kaos lengan panjang milik Alex secara perlahan.
"Auuww," Pekik Alex.
Alex juga melihat darah yang mengalir di lengannya. Benar saja, luka Alex terbuka lagi. Ana panik tidak tahu harus melakukan apa, sementara Alex sudah lemas di sofa.
Ana segera menelpon Nita meminta bantuan. Sepuluh menit kemudian seorang supir dan pengawal sampai di apartemen Alex. Mereka membantu Ana untuk membawa Alex ke rumah sakit. Nita akan menyusul mereka setelah Rayn pulang dari kantor.
"Ngebut, pak!" Seru Ana yang semakin panik melihat Alex pingsan di pangkuannya.
Pengawal langsung turun dari mobil dan berlari memanggil perawat saat sampai di rumah sakit. Ana ikut mendorong brankar Alex sampai masuk dalam ruangan IGD. Air mata Ana menetes tanpa ia sadari. Perawat melarang Ana untuk masuk ke dalam, Ana paham dan memilih untuk duduk di kursi tunggu.
Tapi Ana tidak tahan untuk diam di kursi. Ia mondar-mandir di depan IGD karena sudah setengah jam lebih Alex di dalam.
"Nyawanya selalu terancam karena nolongin gua!" Gumam Ana merasa bersalah.
Jika ia tadi tidak marah dan meninggalkan apartemen Alex dengan terburu-buru tanpa melihat jalan, pasti Alex tidak akan berada di IGD saat ini. Ana bingung sekarang, Alex selalu menolongnya sementara ia hanya memikirkan egonya. Tapi ia juga merasa kecewa karena Alex mengharapkan imbalan darinya dengan cara memintanya berpura-pura menjadi pacar.
"Keluarga dari Tuan Alex?" Sahut dokter mengejutkan Ana.
"Iya, dok! Saya keluarganya?" Jawab Ana.
"Kondisi Tuan Alex baik-baik, tapi masih sedikit lemah. Untung saja tadi segera dibawa ke rumah sakit ini, luka di bahu kanannya terbuka lagi. Tapi kami sudah menjahit lukanya. Tolong usahakan agar pasien tidak terlalu banyak bergerak dulu dan tidak mengangkat beban yang berat! Pasien bisa rawat jalan di rumah. Pasien bisa dibawa pulang setelah sadar, nanti saya berikan resep obat untuk lukanya!" Dokter memberikan penjelasan detail kondisi Alex.
__ADS_1
"Baik, dok! Terima kasih banyak!" Sahut Ana.
"Sama-sama, saya permisi dulu!" Ucap dokter.
Ana membalasnya dengan senyum simpul dan sebuah anggukan pelan.
"Lukanya terbuka lagi pasti gara-gara gendong gua tadi! Gua kan berat!" Gumam Ana.
Ana bergegas masuk ke dalam ruang IGD dengan rasa bersalah yang memenuhi hatinya.
Ceklek,
Terlihat Alex terbaring lemah di ranjang pasien, masih belum sadar. Ana melangkah perlahan mendekati ranjang Alex, ia duduk di kursi sebelah ranjangnya.
"Sorry," Ucap Ana lirih, air matanya menetes di wajah cantiknya.
Ana mengirimkan pesan singkat untuk Nita, karena Alex akan dibawa pulang setelah sadar. Ana meletakkan kepalanya di atas lengan kiri Alex. Ia merasa lelah dan mengantuk. Ana pikir ia akan tidur sebentar sambil menunggu Alex sadar.
Belum lama Ana terlelap dalam tidurnya, Alex membuka matanya. Ia merasakan sesuatu di atas lengan kirinya.
Deg,
"Perasaan apa ini? Jantungku selalu berolahraga setiap dekat dengannya. Aroma parfumnya membuatku kecanduan!" Batin Alex.
............................
Nita bergegas bersiap setelah mendapat pesan singkat dari Ana. Rayn juga sudah sampai lima menit lalu, dan sekarang sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Sudah siap, sayang?" Tanya Rayn yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah," Jawab Nita yang sedang memakai sepatu sneakers miliknya, Rayn melarang keras Nita untuk tidak menggunakan sepatu berhak tinggi.
Melihat istrinya sudah rapi dan cantik, ia memakai cepat celana dan kemejanya di depan Nita. Untung saja Nita tidak melihatnya, jika ia melihatnya tentu ia akan berteriak keras.
Rayn memutuskan untuk mengemudikan mobilnya sendiri. Sementara Yoga dan anak buahnya mengikuti dari belakang. Mobil BMW M4 milik Rayn melaju membelah jalan. Selama perjalanan Rayn sering mengelus lembut perut istrinya yang sudah terlihat buncit.
Rayn was-was ketika tidak melihat mobil pengawal dari kaca spion. Jalan yang ia lewati sekarang sepi, karena jalan ini adalah jalan alternatif.
"Sayang, lihat didepan!" Teriak Nita saat melihat sebuah mobil hitam melaju di lajur kiri sama dengan mobil mereka.
..........................
Jangan lupa like dan vote ya❤️
__ADS_1