
Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian malam itu. Tidak ada yang berubah dalam satu bulan ini. Hanya Nita yang sedikit bertambah semangat setelah menerima hasil jerih payahnya selama satu bulan. Tabungannya semakin bertambah hari demi hari.
Siang itu, seperti biasa Nita mendapat jatah membersihkan ruangan sekaligus kamar Rayn. Nita tidak keberatan membersihkan ruangan itu, karena memang Rayn sangat jarang datang ke hotel. Rayn memang hanya mengunjungi hotel dalam waktu berkala dan hanya untuk memantau keadaan hotel saja.
Takdir berpihak kepada mereka berdua, Rayn mengunjungi hotel siang ini.
Nita memulai pekerjaannya dengan membersihkan sofa dan meja yang ada di sudut ruangan. Entah mengapa sejak pagi tadi badan Nita terasa lemas. Nita berpikir dirinya mungkin masuk angin, minggu-minggu ini hotel ramai di kunjungi. Sudah pasti pekerjaan Nita menjadi lebih berat. Tubuh Nita sempoyongan, merasakan lemas dan rasa pusing di kepalanya. Nita masih berdiri dengan tangannya yang sudah memegang erat ujung sofa.
Bruk,
Nita tak mampu lagi menahan tubuhnya, ia jatuh tersungkur di lantai. Sepuluh menit sudah berlalu namun Nita masih berada di posisi yang sama, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di ruangan itu.
Ceklek,
"Hey cepat kau bantu dia!" Perintah Rayn yang melihat Nita tergeletak di lantai saat pintu terbuka. Namun, Rayn justru menghampiri Nita memdahului Yoga.
"Kau sendiri yang menyuruhku membantunya tuan, tetapi kau sendiri yang membantunya sekarang hehehe." batin Yoga
Rayn mengendong Nita ala bridge style, membawanya ke atas ranjang. Tanpa di perintah dua kali, Yoga sudah menelpon dokter. Rayn tidak membawa Nita ke rumah sakit, ia tak akan membuat citranya turun karena pegawai seperti Nita.
Tok...tok...tok
Ketukan pintu berhasil membuyarkan suasana tak tertebak itu. Yoga mempersilahkan dokter untuk masuk dan memeriksa Nita. Dokter mengeluarkan peralatan medisnya.
"Tadi saya menemukan dia sudah tergeletak di lantai, dok." Rayn memutuskan mengatakannya kepada dokter.
"Apakah keluarganya ada di sini? Mbak ini pingsan karena dia sedang mengandung." Ucapan dokter bagaikan petir menyambar di siang bolong. Perasaan Rayn campur aduk, apakah janin yang ada di perut wanita itu anaknya?. Yoga mengantar dokter keluar dari ruangan itu. Rayn menatap wanita yang sedang terbaring lemah di ranjangnya. Rayn sangat gelisah, ditatapnya wanita itu dengan tatapan teduhnya. Melihat Nita yang mulai membuka matanya, Rayn bergegas mengunci pintu ruangan tersebut. Rayn mendekat ke samping Nita.
"Kau sedang hamil. Apakah dia anakku?" Rayn menatap sendu perut Nita.
"Memangnya anak siapa lagi tuan. Hanya tuan yang menyentuh saya." Nita tak kuasa menahan air matanya, dada Nita terasa sesak. Takdir yang pahit selalu berpihak padanya. Ia mengandung anak dari pria kejam itu.
__ADS_1
"Tinggalah di apartmenku." Rayn merasa harus bertanggung jawab atas anaknya itu.
"Ta...ta...tapi..."
"Itu anakku. Aku tidak akan membiarkan anakku kekuraangan suatu apapun. Jangan berani menyakitinya, lahirkan dia. Setelah dia lahir kau bebas melakukan apapun yang kau mau." Rayn berdiri membelakangi Nita.
"Ba...baik tuan." Nita pasrah akan nasibnya. Walaupun anak ini anak dari pria kejam itu, tapi dia hanya makhluk mungil yang tidak bersalah. Jadi biarkan saja pria itu menjaga anak ini, toh setelah anak ini lahir dia pasti mengusirku. Apakah orang kaya selalu bersikap seperti ini?
Nita melangkah ke dalam mobil mewah Rayn. Rayn memutuskan untuk menyetir sendiri, ia memyuruh Yoga untuk menghandle pekerjaannya hari ini. Rayn tidak menutupi hal ini pada Yoga. Yoga sudah pasti tidak akan berani berbuat macam-macam padanya.
Mobil yang Rayn kendarai membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan hingga saat ini. Mereka memasuki lift apartmen mewah menuju lantai 10.
Tiinngg,
Mereka tiba di lantai 10. Nita menatap keadaan sekelilingnya dengan takjub. Rayn menekan password kunci apartmennya dan,
Ceklek,
"Tuan, barang-barang saya masih di kosan saya." Nita menanyakan nasib barang-barangnya.
"Aku sudah menyuruh Yoga membeli semua perlengkapan untukmu." Jawab Rayn
"Sombong sekali dia. Apakah dia mau pamer kalau dia kaya dan mampu membeli segalanya. Cih..." Batin Nita
Rayn tidak kembali ke kantor. Ia duduk di sofa menatap pekerjaan menumpuk yang ada di laptopnya. Nita mulai merasa bosan, sedari tadi ia hanya duduk memainkan ponselnya. Rayn melarangnya untuk bekerja lagi. Alasan Rayn tentu saja karena Rayn mencemaskan anaknya. Nita melihat Rayn yang terpaku pada laptopnya. Terbesit ide di kepala Nita, ia membuat teh untuk Rayn.
"Saya membuat teh untuk tuan. Silahkan diminum, Tuan." Nita meletakkan secangkir teh hangat untuk Rayn.
"Hemm..." Rayn menjawab Nita hanya dengan dehemannya.
"Apakah saya boleh bertanya sesuatu, Tuan." Tanya Nita dengan lirih
__ADS_1
"Hemm..." jawab Rayn.
"Kau kira aku ini dukun apa, ditanya jawabanya cuma hemm...hemm..." Batin Nita kesal.
"Apakah saya boleh jalan-jalan ke luar? Saya bosan jika seharian harus diam disini." Nita menundukkan kepalanya.
"Tidak boleh. Besok pagi akan ada asisten rumah tangga baru datang ke sini. Dia akan membersihkan apartemen ini dan memasak untukmu." Rayn meletakkan laptopnya di atas meja di depannya.
"Tapi saya bisa memasak dan bersih-bersih." Nita menyanggah perkataan Rayn.
"Tidak bisa, kau tidak boleh membantahku. Dan jika kau ingin sesuatu, bilang ke dia. Dia nanti yang akan mencarikannya untukmu."
"Baik tuan." Nita menundukkan kepalanya. Terbayang sudah akan sebosan apa ia besok. Bahkan dia tidak boleh melakukan apapun di apartemen ini. Apa boleh buat, akhirnya Nita memilih untuk meninggalkan Rayn yang sibuk dengan laptopnya. Nita duduk di sofa sudut ruangan tak jauh dari sofa yang diduduki Rayn. Nita mendownload drama korea kesukaannya. Nita mendownload banyak episode. Dia akan mengisi waktunya dengan menonton drama korea kesukaannya. Nita juga mendownload kumpulan komik-komik online. Walaupun Nita tidak begitu suka dengan komik, tapi setidaknya komik-komik ini bisa membantu mengatasi rasa bosannya.
Jam di dinding menunjukkan pukul 19:00, waktu untuk menyantap makan malam. Namun, sepertinya Rayn tidak lapar sama sekali. Rayn terlihat masih berkutat dengan laptopnya. Berbanding terbalik dengan keadaaan perut Nita. Perut Nita sudah keroncongan minta diberi jatah. Ia tertunduk lesu kala Rayn berjalan melewatinya begitu saja. Rasa ingin dimanja oleh Rayn melintas di pikirannya. Hal ini wajar dialami oleh perempuan yang sedang hamil. Rayn berjalan dari arah dapur tangan kirinya menenteng botol air mineral.
Kruukk...kruuukkk
"Kau lapar? Mau makan apa? Akan aku belikan." Rayn mendengar suara perut Nita saat berjalan di depan Nita. Pipi Nita sudah merah merona seperti kepiting rebus karena malu. Bisa-bisanya suara perutnya didengar oleh pria tampan seperti Rayn.
"Saya mau makan....."
............................
Hai readers....
Terimakasih sudah membaca novelku ini.
Visual pemeran akan kubuat segera ya...
Nantikan episode-episode selanjutnya.
__ADS_1
thank you 😍