Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 9


__ADS_3

"Tuan saat saya mengantarkan sarapan ke kamar nyonya muda, nyonya muda sudah bersandar di dinding dengan wajah pucat. Nyonya muntah-muntah, Tuan." Jawab Bi Ina dengan lirih saat mengucapkan kalimat terakhir. Ia takut Rayn memarahinya karena hal ini.


"Saya pulang sekarang." Sahut Rayn dengan nada tegas, ia memutuskan telepon Dan segera menyambar handphonenya di atas meja. Tanpa menunggu lama, Rayn memacu mobilnya membelah ramainya jalanan ibukota siang ini. Dia menyetir mobilnya sendiri, karena ia tidak sempat menelpon Yoga. Rayn sangat cemas dan khawatir. Ia sudah menghubungi dokter khusus keluarga Alexander untuk datang ke apartemennya.


"Shit" Rayn mengumpat sepanjang perjalanan, lalu lintas siang ini sedikit macet.


Lalu lintas yang memang sudah padat ditambah adanya mobil yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan menambah parahnya kemacetan lalu lintas siang ini. Waktu tempuh yang seharusnya hanya 20 menit menjadi 1 jam lamanya. Sesampainya di basement apartment, Rayn langsung bergegas. Tak butuh waktu lama untuk sampai di unit apartemen miliknya, ia menekan kode keamanan apartemennya.


Ceklek,


Pintu apartemen sudah terbuka lebar, Rayn dengan langkah yang terburu-buru menuju kamar Nita mencari keberadaan sosok wanita yang tengah hamil anaknya itu. Perasaannya sedikit lega ketika melihat dokter pribadi keluarganya sedang menuliskan sesuatu di secarik kertas. Memang saat Rayn mem


utuskan pulang ia sudah terlebih dahulu menelpon dokter pribadi keluarganya.


"Ini resep beberapa obat dan vitamin untuk mengatasi mual nyonya muda. Nonya muda dan janinnya baik-baik saja, hanya masih lemas karena banyak cairan yang keluar saat muntah. Nyonya hanya perlu beristirahat, minum obat dan vitamin yang saya berikan, dan juga harus lebih banyak minum air putih. Saya pamit untuk kembali ke rumah sakit, Tuan." Dokter menjelaskan detail keadaan Nita, dokter juga memberikan resep obat dan vitamin yang Nita butuhkan kepada Rayn. Rayn menyimak dan mengangguk paham saat dokter menjelaskan kondisi Nita dan calon anaknya. Akhirnya Rayn bisa bernapas lega. Bi Ina mengantar dokter sampai di pintu apartemen. Sedangkan Rayn menatap lekat Nita yang terbaring lemah di ranjang. Rayn tersentuh melihat kondisi Nita saat ini. Jika saja dia tidak menyentuhnya malam itu, tentu kehidupan Nita yang masih muda itu tidak sehancur sekarang.


"Bagaimana keadaanmu?" Lirih Rayn saat mengelus pucuk kepala Nita. Nita dapat merasakan kehaangatan di sentuhan Rayn, ia juga dapat merasakan kelembutan Rayn di setiap kata-katanya.


"Masih sedikit pusing dan lemas, Tuan. Tapi saya baik-baik saja." Jawab Nita dengan senyum manisnya


"Aku sudah menelpon Yoga untuk kemari, dia yang akan membelikan obat untukmu. Tidurlah, Aku akan menemanimu." Sahut Rayn


"Kesambet apa nih tuan arrogant. Ah, terserah deh. Dia terlihat tampan kalau lembut seperti ini." batin Nita


"Aku tau aku itu sangat tampan"

__ADS_1


Blush,


Pipi Nita merah keduanya, ia memalingkan wajahnya menghadap ke tembok.


"Kau kenapa? Kenapa pipimu merah seperti itu?" Sahut Rayn terkekeh melihat pipi Nita yang seperti kepiting rebus.


"Ti...tidak tuan." Nita menunduk malu pipinya semakin memerah.


"Mulut mu mengkin bisa bedusta, tapi pipimu itu terlalu jujur Hahaha." Rayn tertawa melihat tingkah Nita yang menggemaskan di mata Rayn. Nita menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Ia terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya. Rasanya Nita ingin bersembunyi di lubang semut sekarang.


Ryan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang terletak di samping ranjang Nita. Rayn mengeluarkan benda hitam pipih dari saku celananya. Ia mengecek beberapa pesan dan panggilan. Sebenarnya ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Ya, Rayn memikirkan nasib Nita dan calon anaknya. Ia harus segera memberitahu mama papanya secepatnya. Rayn melirik ke arah ranjang, mencuri pandang ke arah Nita. Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. Rayn mencoba menenangkan pikirannya, beberapa saat kemudian ia sudah terlelap masuk ke dalam indahnya mimpi.


.............................


Di mansion mewah Alexander,


"Ayo masuk, Pa. Kalau lama-lama nanti masuk angin, Pa." Ucap Maya, mama Rayn dia penasaran melihat suaminya melamun.


"Anak mu yang angkuh itu kenapa tidak pulang?" Tanya papa Rayn mengatai darah dagingnya sendiri dengan sebutan 'Anak Angkuh."


"Dia anakmu juga, Pa. Dia mewarisi Sifat angkuhnya itu darimu, Pa." Maya terkekeh sambil berkacak pinggang.


"Kamu itu ya, Ma... selalu menggemaskan. Walaupun kulit kita mulai keriput tapi tingkahmu yang menggemaskan itu tak pernah menciut." Bram mentoel manja hidung Maya. Sejenak mereka bernostalgia masa-masa dimana mereka sedang dimabuk cinta.


"Aauuuwww" Pekik Bram

__ADS_1


Maya mencubit keras perut Bram yang walaupun sudah berumur tetapi masih berotot. Bram merengkuh Maya ke dalam pelukannya. Mereka berdiam dalam posisi berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Tanpa aba-aba Bram menggendong tubuh istri tercintanya.


"Turunkan aku, Pa. Terakhir kau menggendongku seperti ini pinggangmu encok." Maya terkekeh mengalungkan kedua tangannya ke leher Bram. Bram seketika menatap Maya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Para pengawal dan pelayan yang berada di sana, segera menutup telinga mereka dan menghadap ke tembok. Karena memang itulah peraturan yang dibuat Bram. Dia tidak ingin keamanan mansionnya berkurang saat dia dan istrinya. Jadi walaupun tuan dan nyonya mereka sedang bermesraan pun, mereka tidak boleh berpindah tempat walau hanya satu sentimeter. Mereka cukup menutup telinga dengan kedua tangan mereka dan berbalik menghadap tembok. Entah berapa gaji yang keluarga Alexander berikan hingga mereka betah kerja di mansion ini. Belum lagi dengan sifat Rayn.


"Bisakah kita bertemu dengan Rayn besok, Pa? Kita datang ke apartemennya." Tanya Maya sesaat setelah Bram menurunkannya Dari gendongan di dalam kamar mereka.


"Sebentar sayang, pinggangku ini sakit." Sahut Bram yang mengelus pelan pinggangnya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Tadi aku kan sudah bilang sayang. Usiamu sudah tidak muda lagi. Dan pinggangmu itu sudah sering encok seperti ini."


"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya ingin bernostalgia." Sahut Bram terkekeh


" Jadi bagaimana sayang, kau ikut denganku atau tidak?" Tanya Maya yang sudah tidak sabaran.


"Tentu sayang, kita akan pergi menemuinya. Besok pagi-pagi kita datang ke apartemennya. Kita buat dia kesal saat bangun tidur." Bram mengatakan ide untuk membuat kejuatan untuk anak semata wayang mereka.


"Rencana yang bagus sayang." Maya terkekeh dan mengangkat kedua jempolnya pertanda setuju.


......................................


Hai readers...


Terimakasih banyak sudah membaca novelku.

__ADS_1


Terus nantikan episode-episode selanjutnya, dan visual pemain yang akan segera aku upload..


Thank you 😍


__ADS_2