Stuck With Mr Arrogant

Stuck With Mr Arrogant
BAB 40


__ADS_3

WARNING:


LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.


HAPPY READING 😘


................


"Bagaimana keadaan Alex?" Tanya Ana dengan cemas.


"Alex kehilangan banyak darah," Ucap Paman Kevin yang membuat Rayn dan Nita mendekat.


"Alex membutuhkan darah sekarang juga, tapi persediaan rumah sakit habis!" Lanjut Paman Kevin.


Deg,


"Aduh! Jangan mati dulu lex! Gue nanti berantem sama siapa? Kata orang-orang benci lama-lama bisa jadi cinta, gue pengen berantem terus sama lo! Biar kita bisa saling cinta huhuhu!" Batin Ana.


"Golongan darahnya apa, paman?" Tanya Rayn.


"Golongan darah Alex O!" Seru Paman Kevin.


"Golongan darah saya juga O, dok" Jawab Ana dengan semangat.


"Mari silahkan ikut saya!" Seru Paman Kevin.


Ana mengikuti instruksi dokter dan perawat, ia senang karena ia bisa menolong orang yang rela tertembak untuknya.


Sementara di luar ruang operasi, Rayn dan Nita masih menunggu di kursi panjang depan ruang operasi. Rayn dengan sabar menenangkan istrinya, ia tahu betul kejadian tadi tidak akan mudah Nita lupakan. Rayn mengelus lembut kepala istrinya yang diletakkan di atas pahanya.


"Kita pulang saja, sayang? Kamu bisa istirahat dengan nyaman di mansion!" Ucap Rayn.


"Tidak, sayang! Aku akan tetap di sini! Semua ini gara-gara aku!" Ucap Nita dengan nada sendu.


"Dengar sayang! Ini semua terjadi bukan karena salahmu! Mereka menculik Ana untuk memancingmu agar keluar dari mansion dan menemui mereka. Mereka dibayar untuk memcelakaimu, sayang! Dan Alex tertembak Karena dia melindungi Ana. Kau jangan menyalahkan dirimu!" Rayn menangkup wajah Nita dengan kedua tangannya.


"Jika aku tidak ceroboh mempercayai pesan itu, maka..."


"Sssttt!" Rayn menggelengkan kepalanya meminta Nita untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Nita menangis sesenggukan di pelukan Rayn. Tapi sepuluh menit kemudian ia berhenti menangis karena ia tertidur di pelukan Rayn. Nita masih terlelap di pelukan Rayn hingga proses transfusi darah Ana selesai.


"Nita kenapa?" Tanya Ana yang duduk berjarak satu meter dari Nita dan Rayn.


"Ketiduran," Jawab Rayn singkat.


"Alex gimana?" Tanya Rayn.


"Aku nggak diizinin buat lihat dia. Ruangan aku tadi ada di sebelah sana!" Jawab Ana yang menunjuk salah satu ruangan.


"Hemm," Jawab Rayn.


Ana bangkit dari kursinya, ia mondar-mandir lagi di depan ruang operasi. Ia merasa lebih optimis setelah berhasil melakukan transfusi, tapi tetap saja merasa khawatir karena operasinya belum selesai.

__ADS_1


Terlihat Yoga berjalan dari ujung lorong, tangannya menenteng kantong plastik putih. Ia membawakan makanan dan minuman untuk Nita dan Ana.


"Ini tuan!" Ucap Yoga saat memberikan kantong plastik yang ia bawa.


"Berikan pada Ana!" Perintah Rayn kepada Yoga.


"Nih, makan dulu!" Yoga memberikan kantong plastik berisi makanan kepada Ana.


"Taruh aja di sana! Akan aku makan nanti, belum lapar!" Jawab Ana dengan ketus.


"Makanlah! Aku pusing melihatmu mondar-mandir seperti seterikaan seperti itu!" Sahut Rayn yang memijit pelipisnya.


"Baiklah!" Jawab Ana dengan sendu.


Ana mengambil makanan itu dari tangan Yoga. Ia duduk jauh dari Rayn dan Nita. Ia menyantap makanannya dengan tidak lahap. Ana merasa tidak selera menatap makanan di hadapannya. Sementara Rayn dengan telaten membangunkan Nita.


"Bangun, sayang!" Ucap Rayn yang menepuk pelan pipi Nita.


"Jus pesananmu!" Ucap Rayn menunjukkan bungkusan plastik di tangannya.


"Terima kasih." Jawab Nita dengan senyuman manisnya membuat Rayn merasa senang dapat melihat senyuman di wajah Nita.


Setelah makanannya tandas tidak bersisa, Ana kembali mondar-mandir di depan ruang operasi seperti tadi. Lampu depan pintu ruang operasi masih menyala, tanda operasi belum selesai. Yoga yang tadi terlihat santai, kini wajahnya terlihat cemas.


Setelah tiga jam lamanya, semua orang berdiri dari kursinya karena melihat pintu ruang operasi di buka.


"Bagaimana keadaan Alex, dok?" Tanya Ana yang sedari tadi stand by di depan ruang operasi.


"Operasinya lancar, pelurunya sudah berhasil dikeluarkan. Beruntung peluru itu tidak mengenai organ tubuh Alex. Sekarang kondisinya masih lemah, tali dia akan sadar beberapa jam lagi. Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap Paman Kevin dengan tersenyum.


"Ini tugasku!" Paman Kevin menepuk pundak Rayn lalu pergi menangani pasien lain.


Ana terdiam di tempatnya saat brankar Alex di dorong oleh perawat keluar dari ruang operasi. Terlihat pria menyebalkan itu terbaring lemah dengan peralatan medis menempel di tubuhnya.


Alex di rawat di ruang VIP sesuai dengan perintah Rayn. Rayn memutuskan untuk membawa Nita pulang ke mansion. Ia tidak ingin Nita kelelahan karena berada di rumah sakit. Sementara Ana, ia akan menjaga dan mengurus Alex di rumah sakit. Dan Yoga akan membantu Ana menjaga Alex, tapi ia disuruh untuk duduk di luar ruangan.


"Terima kasih lo udah nolongin gua!" Ucap Ana kepada Alex yang belum sadar.


"Gua bakal jagain plus ngerawat lo selama lo dirawat di sini!" Ucap Ana saat menggenggam tangan Alex.


Ana menatap lekat wajah Alex, wajahnya terlihat sangat tampat jika dilihat dari dekat.


"Lo itu cakep banget ya pas lagi tidur!" Ucap Ana yang tidak mengedipkan matanya saat memandangi wajah Alex.


"Emang gua cakep! Lo baru tau?" Sahut Alex.


Ana terkejut mendengar jawaban Alex, tapi ia juga bingung. Apakah Alex sudah sadar? Ia mendengar Alex menjawab ucapannya, tapi mata Alex masih terpejam.


"Lo udah sadar, Lex?" Ana mencoba menekan-nekan pipi Alex dengan jari telunjuknya.


"Baaa..." Alex membuka matanya lebar-lebar.


"Aaaa.." Ana terlonjak kaget.

__ADS_1


"Rese lo!" Ana memasang wajah cemberutnya.


"Ngapain lo disini?" Tanya Alex.


"Jagain lo lah!" Jawab Ana dengan ketus.


"Hemm," Ucap singkat Alex.


Alex mengalihkan pandangannya, ia seperti menahan sesuatu. Ana dapat melihat tangan Alex menggenggam keras pinggir bednya. Alex ingin mengatakannya, tapi ia malu.


"Lo kenapa?" Tanya Ana.


"Lo di sini sendirian?" Alex bertanya balik.


"Ada Yoga di depan!" Jawab Ana dengan santai.


"Cepet panggil dia!" Ucap Alex.


Ana bergegas membuka pintu, ia celingukan mencari keberadaan Yoga. Tadi Yoga duduk di depan kamar inap Alex, tapi sekarang sudah tidak ada.


"Dia nggak ada di depan!" Sahut Ana yang sudah menutup pintu dengan rapat.


"******! Mana bisa gua tahan sampe dia datang?" Batin Alex.


"Yaudah!" Jawab Alex dengan suara yang serak karena menahan sesuatu.


Ana merebahkan tubuhnya di sofa, ia merasa lelah. Ia memejamkan matanya sebentar. Alex memutuskan untuk bangun dari bednya. Bahunya terasa sangat sakit, kepalanya juga pusing, tapi ia memaksakan diri untuk bangun. Dengan susah payah akhirnya ia bisa berdiri, tangan kirinya ia gunakan untuk mendorong tiang infus. Tapi baru selangkah Alex berjalan, ia hampir terjatuh beruntung ia bertumpu pada meja.


"Lo mau kemana?" Tanya Ana yang panik melihat Alex memaksakan diri untuk berjalan.


"Gua mau kencing!" Seru Alex yang mengalihkan pandangannya, ia merasa malu dan sangat canggung dengan Ana.


"Terus ngapain minta ditemenin Yoga? Biar dipegangin?" Ana meledek Alex.


"Diem lo!" Seru Alex yang kesal dengan ucapan Ana.


Ana bergegas meraih tangan Alex dan meletakkan tangan besar itu di bahunya. Ia memapah Alex ke kamar mandi.


Deg...deg...deg


Jantung Alex berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti sedang lari maraton. Begitu juga dengan jantung milik Ana. Ana terlihat bersusah payah untuk mengatasi rasa gugupnya.


"Aduh! lo suka banget ngajak jantung gua olahraga" Batin Alex


"Tunggu di sini! Jangan curi kesempatan!" Seru Alex.


"Lo pasti kesusahan buka itu! Biar aku bantu" Goda Ana yang sesekali melirik ke tubuh bagian bawah Alex.


Blam,


Alex langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras. Terdengar suara cekikikan dari luar. Ana sengaja menggoda Alex rupanya, tapi Ana tidak tahu bagaimana tegangnya Alex saat ini.


.............................

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya😘 Nantikan episode-episode selanjutnya, stay tune!


__ADS_2