
HAI READERS...
LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.......................
"Ben akan membebaskan anak dan istrimu, dengan syarat kau harus memberitahu siapa orang yang menyuruhmu!"
"Baik, tuan!" Ucap pria itu.
"Sekarang katakan padaku, siapa orang yang menyuruhmu? Mengapa dia mengincar keluargaku?" Tanya Rayn yang sudah duduk di kursi depan pria itu.
"Dia adalah bagian dari masa lalumu. Aku tidak tahu pasti nama pria itu. Tapi dia mengenalmu, bahkan dia adalah teman lamamu. Dia bekerja sama dengan seorang wanita, namanya Clara kalau tidak salah. Mereka sama-sama ingin menyingkirkan istrimu, karena pria itu ingin kau hancur. Dan Clara bisa mendapatkanmu lagi!" Jawab pria itu.
"Aku sudah menduga Clara terlibat." Ryan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Ben kau urus dia!" Perintah Rayn yang sudah berjalan meninggalkan ruang bawah tanah.
Rayn bergegas kembali ke kamarnya, ia takut Nita terbangun dan melihat jika dirinya tidak ada di sebelahnya. Ia melangkah cepat masuk ke dalam lift.
Ceklek,
Rayn membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Terlihat Nita masih terlelap di bawah selimutnya. Mungkin karena kelelahan dengan aktivitas malamnya bersama Rayn, jadi ia tidak terbangun. Dengan hati-hati Rayn berbaring di sebelah Nita, ikut masuk ke dalam selimut. Nita refleks langsung memeluk Rayn dengan erat.
"Selamat malam istriku!" Rayn mencium pucuk kepala Nita dengan penuh cinta.
"Sambalnya dikit aja..." Ucap Nita mengigau.
"Sayang?" Rayn terkekeh, menepuk-nepuk pipi Nita.
Rayn menciumi pucuk kepala Nita dengan gemas. Lalu ia menyusul masuk ke dalam mimpi indah.
Keesokan hari di kamar rawat inap Alex,
Pukul 8 pagi Ana membantu Alex mengemasi barang-barangnya. Hari ini Alex sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Kondisi Alex sudah membaik, lukanya juga mengering. Yang terpenting tangannya tidak terlalu banyak bergerak.
Ana memesan taksi online untuk mengantarkan Alex pulang ke apartmennya. Alex menolak saat Ana ingin mengantarkannya ke rumah, lalu ia memberikan alamat apartemennya. Ana diam-diam terkejut karena ternyata sebagai seorang sopir, Alex mempunyai unit di apartmen yang termasuk apartemen mewah.
Ana membantu Alex berjalan keluar rumah sakit dan masuk ke dalam taksi online.
"Kenapa lo nggak mau pulang ke rumah?" Tanya Ana.
"Bukan urusan lo!" Jawab Alex dengan nada datar.
"Idih!" Protes Ana.
Dua puluh menit, mereka sampai di apartmen milik Alex. Jarak rumah sakit dengan apartemen Alex lumayan jauh.
Tapi mereka dikejutkan dengan dua orang wanita yang menunggu di depan unit apartmen Alex.
__ADS_1
"Mama!" Alex terkejut dengan kedatangan mamanya.
"Kamu masih ingat mama ternyata!" Jawab Claudia dengan datar.
Mama Alex datang bersama dengan seorang wanita seumuran Ana. Wanita itu cantik, langsing seperti seorang model. Dalam hati Ana bertanya-tanya, Siapakah wanita itu? Pacar Alex?
"Tanganmu kenapa?" Ely menghampiri Alex dan bergelayutan manja di tangan kanan Alex yang sakit.
"Lepaskan! Kau ini apa-apaan!" Alex mengibaskan tangan Ely.
Dia adalah Ely, putri tunggal dari perusahaan property terkenal. Ely dulu seorang model, sudah dua tahun ini ia berhenti. Alex dan Ely bertunangan enam bulan lalu, mereka dijodohkan oleh orangtua mereka. Tapi Alex menyetujui pertunangan itu dengan terpaksa.
"Sayang, apa kamu tidak merindukanku?" Tanya Ely pada Alex.
Deg,
"Sayang? Siapa wanita ini? Kenapa dia memanggil Alex dengan panggilan sayang? Ah sudahlah! Bukan urusanku!" Batin Ana.
Ana mundur satu langkah dari mereka, entah mengapa dadanya terasa sesak melihat semua ini.
"Tidak!" Jawab singkat Alex.
"Ana ayo!" Sahut Alex yang sedang membuka kunci apartmennya.
Ana hanya diam dan mengikuti Alex dari belakang. Tapi baru selangkah ia berjalan, ia dihadang oleh Ely.
"Lo ada urusan apa sama Alex?" Tanya Ely.
"Siapa wanita ini, Lex?" Tanya Claudia.
"Bukan urusan mama!" Jawab Alex yang sudah menggandeng tangan Ana.
"Kenapa kau mengajak wanita kere kemari?" Claudia memandang Ana dengan sinis.
Alex diam tidak menghiraukan ucapan mamanya. Ia menggandeng tangan Ana dengan erat Dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen. Jantung Ana berdegub kencang, sekilas ia melihat tangannya yang digenggam Alex. Claudia dan Ely menyusul masuk ke dalam apartemen.
"Kamu hutang penjelasan dengan mama, bagaimana tanganmu bisa tertembak dan mengapa kau membawa wanita ini kemari!" Claudia menatap Alex dan Ana bergantian.
"Mama tidak berhak ikut campur dalam masalah Alex. Mama urus saja perusahaan mama!" Jawab Alex dengan santai.
"Dan dia punya nama, ma! Namanya Ana, stop panggil dia dengan sebutan 'Wanita itu'!" Lanjut Alex.
"Jangan kurang ajar kamu!" Claudia mengepalkan kedua tangannya.
"Mama kesini hanya untuk menyanyakan itu, kan? Sudah aku jawab semua, mama boleh pergi!" Jawab Alex.
"Lex," Seru Ana, ia terkejut dengan perkataan Alex yang mengusir mamanya sendiri.
Ana tahu pasti Alex punya masalah dengan mamanya, tapi tidak sepatutunya dia mengusir mamanya sendiri. Alex hanya menatap balik Ana tanpa berkata apapun.
Claudia meninggalkan apartemen Alex dengan tatapan penuh amarah. Sementara Ely masih diam di sofa.
__ADS_1
"Apa kamu juga mau mengusirku, tunanganmu sendiri, Lex?" Tanya Ely dengan memasang senyum manis pada wajah cantiknya.
Deg,
"Tunangan?" Batin Ana.
Dada Ana terasa sesak mendengar jika wanita cantik ini adalah tunangan Alex. Entah mengapa Ana merasa sakit hati. Ana menatap Alex, Alex hanya menatapnya sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lex! Siapa wanita ini?" Tanya Ely.
"Pacarku!" Alex merangkul bahu Ana.
Ana terkejut karena tiba-tiba bahunya dirangkul Alex. Ia lalu menurunkan tangan Alex, tapi Alex menekan bahu Ana dengan keras.
"Diem lo!" Bisik Alex di telinga Ana, akhirnya Ana menuruti perkataan Alex.
"Kita udah tunangan, Lex!" Seru Claudia.
"Gua masih muda, nggak mungkin gua pikun! Gua juga tahu!" Jawab Alex dengan santai.
"Terus kenapa kamu pacaran sama dia?" Tanya Ely.
"Lo itu bukan siapa-siapa gua! Gua mau pacaran apa enggak itu urusan gua! Tunangan itu bisa batal!" Seru Alex.
"Gua selama ini nggak pernah setuju dengan perjodohan ini!" Lanjut Alex dengan menatap tajam Ely.
"Kamu jahat banget, Lex! Aku jijik!" Ely meninggalkan apartemen Alex dengan berurai air mata.
Blam,
Ely menutup pintu dengan sangat keras.
"Dia udah pergi, lepasin ini!" Ana berusaha melepaskan tangan Alex yang merangkul bahunya.
"Oke oke!" Jawab singkat Alex.
"Kenapa sih pake ngarang-ngarang kalau gua pacar lo! Gua nggak mau terlibat dalam masalah lo!" Seru Ana.
"Lo nggak mau balas budi? Gua udah nyelametin lo," Alex bangkit dari sofanya.
"Lo nolongin gua buat semua sandiwara ini?" Mata Ana berkaca-kaca.
"Gua ngurusin lo berhari-hari di rumah sakit, masih kurang? Gua kira lo nolongin karena bener-bener peduli sama gua, Tau bakal kayak gini kemarin-kemarin gua nggak usah ngerawat lo!" Tanya Ana yang membuat Alex terdiam, Ana bergegas meninggalkan apartemen Alex.
"Ana!" Alex mengejar Ana.
Ana berlari dengan cepat, ia bahkan tidak memperhatikan jalanan. Alex melihat sebuah mobil box melaju dengan cepat.
"Ana!" Teriak Alex berusaha memanggil Ana.
...............................
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya❤️